
Azka mengantarkan Sekar pulang. Baik Andra ataupun Azka sama-sama belum mendapatkan balasan perasaan dari gadis itu.
Bukan karena ia sedang belajar jadi buaya darat versi betina, ataupun sengaja hanya ingin tebar pesona. Jika Andra, sudah pasti Sekar akan menolaknya. Tapi jika Azka, sungguh seperti pemuda itu memiliki magnet tersendiri untuknya. Yang jadi masalahnya adalah, ayah dan teman-temannya.
Entah karena hanya menyatakan perasaan menggunakan bahan seadanya, membuat Azka kini digantung Sekar. Seumur-umur, baru kali ini Azka menyatakan perasaan pada seorang gadis namun perasaannya digantung seperti jemuran basah. Mungkin ajian peletnya mulai luntur, pikir Azka. Sepertinya setelah ini ia akan mandi dan menyempurnakan ajian semar mendemnya di gunung Gede biar hati Sekar luluh.
"Hati-hati di jalan," Sekar mengerutkan dahinya. Bukan apa-apa, jalan mana yang ia maksud karena kini Sekar sudah berada di depan pintu rumahnya.
"Jalan ?" tanya nya.
"Jalan menuju kamar, takut ada kecoa lewat terus kamu suka lagi sama dia," jawab Azka.
"Ngaco ! Kamu hati-hati di jalan," ujar Sekar sama dengan Azka.
"Ihh jiplak kalimatku,"
"Ga boleh nih ?" tanya Sekar.
"Kalo disogok boleh lah," jawab Azka.
"Pake apa ?"
"Pake segelas cinta, dan semangkuk kasih sayang !" jawab Azka, mereka tertawa. Meskipun belum ada kejelasan tentang hubungan keduanya. Azka tetaplah Azka, yang tak pantang menyerah dan bersahaja.
"Iya, nanti saya kasih kamu seember rindu, rindu suara adzan !" suara bariton dari ambang pintu rumah Sekar. Ternyata pak Agus sudah menunggu mereka disana seperti pager bagus di kawinan.
Sekar menutup mulutnya, menahan tawa.
"Eh, bapak !" Azka meraih punggung tangan pak Agus lalu berpamitan.
"Nanti aku telfon kamu jam setengah sepuluh," bisik Azka.
"Mau apa ?!" tanya Sekar tak kalah berbisik.
"Mau nuntun kamu buat do'a tidur, itung-itung latihan !"
"Latihan apa ?" bisiknya lagi.
"Nuntun kamu ke jannahnya Allah,"
"Ekhem !" deheman pak Agus mengakhiri acara gombal menggombal anak si raja gombal abad ini. Sekar kembali tertawa, tak dapat ia hitung sudah berapa banyak Azka membuatnya tertawa hari ini, mulai dari ocehannya, aksinya yang mengamen, dan menyatakan perasaannya menggunakan lalapan sisa makan. Oh ya dan sekedar informasi, daun kemangi pemberian Azka, Sekar simpan di tas selempang gadis itu.
"Masuk, sudah malam."
"Iya yah," Sekar melambaikan tangannya pada Azka.
Sekar merebahkan badannya di ranjang dengan memegang setangkai kemangi yang sudah layu sambil cekikikan sendiri.
"Ga modal !"
Dan benar saja, tepat pukul 21.30 WIB si pangeran gembel menelfon Sekar.
"Hallo,"
"Hai,"
"Udah ganti baju ? cuci muka, cuci kaki, gosok gigi ?" tanya Azka.
__ADS_1
"Ih, detail banget ! Kaya anak tk,"
"Biar boboknya ga dikerubutin semut."
"Udah," jawab Sekar.
"Kalo gitu do'a bareng !"
"Emang kamu udah mau tidur ?" tanya Sekar.
"Iya," jawab Azka.
"Ya udah yu bareng !" ucap Sekar bersemangat.
Keduanya membaca do'a tidur bersama seperti anak tk yang akan tidur berjamaah.
"Ya udah gitu doang, aku tutup telfonnya ya !" ujar Azka.
"Gitu doang ?" tanya Sekar.
"Terus mau apa lagi ? Berharap bilang have a nice dream kaya orang-orang ?" tanya Azka.
"Engga juga sih,"
"Ya udah, semoga nyenyak boboknya." Azka menutup telfon dengan ucapan salam. Sekar tersenyum simpul, jika biasanya pemuda kebanyakan menelfon hanya akan menyalurkan rasa rindu yang menggebu dengan sejuta kegombalan yang hakiki seakan tidak bertemu setahun, beda dengan Azka.
"Selamat malam Azka," gumam Sekar menutup matanya.
Di sisi lain.
"Ceweknya anak TK."
"Sekar A ?" tanya Adam diangguki Azka.
"Orang lain mah sweet dream A, semoga mimpiin aku gitu, ini malah do'a tidur !" ujar Rizal. Sementara Yoga asyik menyesap vapenya.
"Daripada dibacain dua kalimat syahadat ?!" jawab Azka.
"Wah itu mah alamat langsung ditutup telfonnya !" imbuh Dion.
Azka mematikan daya hidup ponsel miliknya lalu memasukkannya ke dalam saku. Ia beserta segerombolan gengnya tengah bersiap-siap untuk olahraga malam. Dampak kejadian penyerangan salah satu temannya dari geng motor rival, berujung buntut panjang perseteruan antar geng motor. Sebagai orang yang dipercaya jadi kaki tangan ketua geng motor, Azka merupakan salah satu anggota yang diandalkan untuk memimpin setiap penyerangan.
"Ketemu di jalan Sukajadi, kita giring sampai Dago, abis itu kita sikat di lapangan ********* !" Azka mengikat scarfnya menutupi hidung dam mulut, lalu menutup kaca helmnya.
"Siap !" seru teman-temannya.
Kang Yuda datang dengan motor gede miliknya.
"Aman Ka ?"
"Aman kang, Kiki gimana sekarang ?"
"Masih kritis. Belum sadar, Gugun sudah dapat orangnya, kemarin beberapa dari kita sudah balas, tapi rupanya mereka tidak terima, dan merencanakan ingin balas dendam."
Kang Yuda melirik jam tangannya, "Kata pak Sentot, tim Prabu tidak melakukan patroli malam ini. Kita gerak malam ini ! Mereka jual kita beli !" Kang Yuda menutup kaca helmnya.
"Sekarang !" sebagai pemimpin, ia melajukan motornya lebih dulu, Azka dan yang lain menyusul. Oke untuk hal ini, Azka memang berbohong. Tak ada sosok manusia atau pangeran tampan yang sempurna disini. Azka hanyalah seorang pemuda biasa yang sedang asyik menjajal dunianya.
__ADS_1
Pulang larut malam sudah terbiasa untuk seorang Azkara. Tapi malam ini perasaan seorang ibu, mengusik Nara.
"A, si mboy ko belum pulang ya ?!" ia duduk cemas.
"Biasanya juga pulang jam berapa yank ?" Rama yang baru saja pulang, dan bersih-bersih menggosok rambutnya dengan handuk kecil.
"Ko hati aku ga enak ya A, ada apa ya ?!" Nara bertanya dengan gelisah.
"Perasaan aja meren (mungkin), udah solat isya belum ?" tanya Rama, Nara mengangguk.
"Mboy pergi dari jam berapa ?" tanya Rama mulai meraih ponsel miliknya.
"Dari pagi A, sampai jam segini belum pulang !" Nara melirik jam sudah pukul sebelas.
"Biasanya juga kalo pulang malem, perginya paling sore atau abis isya," kembali Nara mencoba menghubungi putra sulungnya tapi hasilnya nihil.
Rama melirik Nara, lalu keluar dari kamar.
"Kang, Yuda mana ? Azka ada sama Yuda ?" tanya Rama pada Miftah, Yuda adalah adik sepupu dari Miftah.
"Setau gue Ram, barusan Yuda keluar. Tapi feeling gue, tuh anak-anak lagi mau olahraga malam," jawab Miftah dari ujung telfon sana.
Rama menghela nafasnya, "makasih kang,"
"Gimana A ?" tanya Nara menghampiri Rama yang belum sepenuhnya kembali.
"Kayanya sama Yuda,"
"Yuda lagi ?! mau tawuran lagi ? Mau serang-serangan lagi ?!" seru Nara bersungut. Dari jaman Rama dulu, Nara tak suka dengan kegiatannya yang terlibat dengan geng motor. Karena tak ada yang diuntungkan disana, menang jadi arang kalah jadi abu.
"Sabar atuh yank, namanya juga anak muda, dulu aku juga gitu. Aku yakin mboy bisa jaga diri,"
"Kamu bisa ya santai gitu. Kalo mboy amit-amitnya...." Rama menggeleng dan memeluk Nara.
"Jangan ngomong gitu, ucapan ibu adalah do'a."
"Kang Miftah tetep mantau," jawab Rama meyakinkan.
"Kang Miftah bukan jaminan keselamatan," kekeh Nara mendebat.
"Nanti ku cari," usul Rama lainnya.
"Sampai Azka belum pulang, kamu ga boleh masuk kamar !" Nara mendorong Rama keluar kamar.
"Ko jadi aku yank ?" Rama mengerutkan dahi.
"Karena ajaran kamu yang bikin mboy sama kaya kamu dulu, terlalu membebaskan dengan dunia malam dan jalanan."
Rama menggaruk kepalanya tak gatal.
.
.
.
.
__ADS_1