
"Buk, Kalau Bintan nanti punya Bapak, maunya kayak Oom yg kemalen. Ganteeeng Buk."
Lian yg sedang sibuk mengolah sayuran pun langsung mematikan kompor memandang anaknya, mendekat menghampiri Bintang.
"Bintang pingin punya Bapak?"
Bintang mengangguk dengan polosnya.
"Bintang gak seneng ya cuma punya Ibuk?"
"Bintang seneng sama Ibuk, sama Mbah kung, Mbah uti... Tapi semuaaaaa olang punya Bapak... Bintan ndak punya."
Deg!! Lian seperti tertampar, baru menyadari isi hati anaknya.
"Tapi kan Ibuk sayang banget sama Bintang."
"Iya Ibuk sayan Bintan, tapi Bintan boleh minta Bapak ndak Buk? Bintan cuma mau satu kayak Ayah Izel. Satu aja buk? Ya buk?"
Lian tak punya jawaban, dan tak tau harus menjawab apa. Tak pernah berfikir Bintang menyimpan keinginan yg di luar jangkauannya.
****
"Gimana Pak Har? Nak Lian sudah ada jawaban?"
"Sudah saya sampaikan ke Lian, sepertinya masih menolak Pak Kades. Sabar sedikit ya Pak Kades, saya sudah sependapat dengan Pak Kades tinggal merayu Lian sedikit lagi."
"Nah gitu kan enak Pak Har, hidup Lian pasti kejamin. Janji saya.. "
"Anu, soal cucu saya."
"Halaaah gampang nanti saya sekolahkan sampai kuliah."
"Buka gitu Pak Kades, Bintang itu gak bisa tanpa Ibuknya."
"Oohh begitu, iya iya.... nanti kita lihat keputusan Dion dulu bagaimana ya Pak Har."
"Iya Pak Kades, ayo di minum dulu kopinya Pak Kades nanti keburu dingin."
"Oh iya iya.." Jawab Pak Dandi sambil menyeruput kopi yg di hidangkan untuknya.
__ADS_1
****
Mataharipun kembali ke peraduannya, Suasana desa pun menjadi hening. Semarak gempita desa dengan 30RT itu pun berganti menjadi keheningan.
Lian sehabis menina bobokan Bintang pun mengambil langkah ke teras rumah, udara yg segar dengan angin yg semilir bersahabat menyapa wajahnya.
Menimbang-nimbang berfikir apa hal yg terpenting dalam kehidupannya,
"Setelah memutuskan menerima kehadiran Bintang, Bintang adalah segalanya di hidup ku. Akupun gak punya keinginan apapun lagi selain kebahagiaan Bintang.
Ya Allah, bagaimana aku belum siap menikah?
Tapi Bintang tiba tiba minta sosok seorang Bapak haruskah aku pertimbangkan lagi permintaan Bapak agar Bintang punya Bapak?ku fikir menjadi seorang ibu saja sudah cukup. Ini sungguh di luar kemampuan hamba mu ini."
Lian terisak memikirkan apa yg sudah ia alami selama ini.
"Nduk..?"
Suara Ibu sum mengagetkan lamunan Lian.
"Eh Ibuk, sini duduk buk.."
"Ada apa kok diem sendirian di luar gini?"
"Maafin Ibuk ya gak bisa ngasih kamu kebahagiaan malah ngasih beban."
"Ibuk kok ngomong begitu,?"
"Ibu mendukung keputusan Bapak mu kali ini semata mata karna Ibuk yakin kamu bakal bahagia nak, dulu kamu bilang sama Ibuk ingin kuliah tapi ibuk gak mampu kalah sama Bapak mu.
Calon suami mu nanti orang kaya, mana tau kamu boleh melanjutkan kuliah sesuai mimpi mu. Cuma itu yg Ibuk fikirkan nduk."
"Tapi Buk, apa orang itu mau menerima Lian yg punya anak begini buk?"
"Biar itu jadi urusan Bapak mu nak, yg melamar kamu kan Pak kades pasti sudah mempertimbangkan semuanya, termasuk Bintang."
"Beri waktu lagi buat Lian berfikir ya Buk, walau Lian tau hasilnya akan seperti apa Lian mau menyiapkan hati Buk."
"Yang tegar ya Nak.."
__ADS_1
Buk Sum merangkul bahu anaknya, ada perasaan yg tergambar walau sulit tuk di terjemahkan.
****
"Dion mau ketemu dulu sama calon yg Bapak usulkan..."
"Bapak gak salah dengar ini Dion, kamu setuju!??" Pak Dandi langsung sumringah mendengar perkataan anaknya.
"Dion belum yakin pak, tapi Dion mau coba ketemu."
"Bapak cuma mau kasih tau kamu kalau calon kamu itu sudah punya anak."
"Hahh?" Dion membulatkan matanya.
"Dia belum menikah, tapi ada insiden yg membuatnya punya anak."
Dion memasang wajah tak habis pikir.
"Tapi Bapak bisa pastikan dia anak yg baik,"
"Kalau dia anak yg baik gak akan punya anak diluar nikah pak!"
"Bapak bisa pastikan kamu sebenarnya anak yg baik, tapi apa kamu selalu melakukan perbuatan yg baik???"
"Dion kalah, Bapak menang." Dion memasang wajar kesal.
"Ada hal hal di luar jangkauan kita tuk mengerti nak, kamu cukup percaya sama Bapak."
"Ya ya Dion mengerti kondisi Dion yg terkenal sebagai anak nakal jadi gak bisa berharap mendapat anak yg baik baik. Itu maksud bapak kan?
Terserah Bapak sajalah kalau begitu, atur saja Dion sudah tidak ingin ketemu prempuan itu. Langsungkan saja pernikahannya."
"Kamu serius Yon?"
"Terserah Bapak saja, lagi pula Dion cuma harus menurut kan?."
Pak Dandi hanya mengangguk angguk, bukan tak tau kekesalan anaknya, tapi ia lebih takut anaknya berubah pikiran.
"Kamu gak bakal kecewa sama pilihan Bapak,"
__ADS_1
Pak Dandi pun berlalu sambil menepuk-nepuk bahu anaknya yg terlihat tak simpatik.
****