
Tata yang melihat Zack masih tertidur dengan lelap, menempelkan bekas kecupannya di kemeja Zack. Ia tau Zack akan pulang hari ini ke rumah istrinya.
"Sedikit aku buat istrinya curiga gak apa-apa kan? Biar makin panas rumah tangga mereka. Kalau sering berantem kan Zack bakal sering kesini,sering-sering deh di tambah uang jajan."
Bisik picik Tata dalam hati.
"Sayang! Bangun dong, katanya kamu mau pulang. Nanti Istri mu bertanya-tanya lagi kalau telat, aku gak pengen kamu berantem lagi sama dia. Bangun dong Yank!"
"Iya Yank, pengertian banget sih kamu Yank." Ucap Zack sambil mencubit ringan pipi madunya.
"Harus dong! Aku kan sayang kamu."
"Selalu sayang aku ya apapun yang terjadi?"
"Pasti sayaaang…" Balas Tata sambil menggelayut manja.
****
Di kediaman orang tua Lian yaitu Pak Har tengah sibuk mengobrol via telfon dengan anak bungsu sekaligus satu-satunya anak kandungnya Tata.
"Gimana Nduk sekolahnya?"
"Lancar-lancar aja pak meskipun banyak kegiatan."
"Ya di tekuni ya Nduk... Mudahan bulan ini Bapak bisa ngirim lebih banyak, soalnya Mba mu Lian rutin ngirim uang jadi hasil warung gak kesentuh sama sekali kalau buat makan."
"Ya Pak apalagi Tata banyak keperluan di sini."
"Iya doakan Bapak ya banyak rezki tuk biaya sekolah mu Nduk."
"Harusnya kan Bapak udah seneng gak perlu lagi capek-capek jualan, udah punya mantu kaya raya harusnya Bapak sama Ibuk gak usah kerja. Kak Lian seneng disini waktu ketemu Lian pakai mobil Pak, katanya juga udah rumah sendiri. Rumah di Jakarta itu mahal lo Pak...!"
"Ya gak boleh gitu Nduk, kalau Mba mu dah seneng Bapak sama Ibuk ikut bahagia. Alhamdulillah kehidupan kakak mu baik di sana, suaminya juga sayang sekali sama Bintang. Bapak sudah gak pingin apa-apa lagi selain nungguin kamu lulus terus cari kerja yang mapan terus nikah sama lelaki yang kamu suka, tinggal itu aja harapan Bapak."
"Enak ya jadi Kak Lian... gak perlu susah-susah sekolah, gak perlu ngerasain susahnya hidup di perantauan ngekost sambil kerja sambilan eh tau-tau jadi orang kaya. Bapak selalu ngutamain Kak Lian ketimbang Tata ya Pak, kenapa Tata harus di tuntut jadi orang sukses sedang Kak Lian Bapak jodohkan sama orang kaya. Enak banget jadi Kak Lian!"
__ADS_1
Deg! Pak Har shock mendengar ucapan anaknya.
"Kok kamu bisa bicara gitu Ta?"
"Kan memang kenyataannya Pak!"
"Yang Eling Nduk.....!!! Kamu lupa Mbak mu harus puas di bangku SMA karena Bapak pengennya kamu yang kuliah. Kamu juga lupa anak yang di besarkan sama Mbak mu itu anak mu Ta! Bapak juga gak ngira anak Pak kades mau menerima Mbak mu yang sudah jelek namanya di disini Nduk semuanya demi kamu."
"Kalau Tata tau anak Pak kades mau menerima Bintang, Tata pinginnya Tata aja yang Bapak jodohkan sama anak Pak Kades Pak!"
"Ngucap Ta... Ngucap...!"
"Bapak memang dari dulu selalu lebih mengutamakan Kak Lian ketimbang Tata, padahal Tata yang anak kandung Bapak!"
Tut,sambungan di matikan.
"Astaghfirullah, aku mohon ampun Ya Allah!" Ucap Pak yang sudah berebes air matanya.
"Kenapa Pak?"
Buk Har yang mendengar suaminya tersedu lantas menghampiri.
"Kenapa toh Pak, Tata ngomong gimana?"
Tanya sang istri mulai cemas.
"Kayaknya Tata ngiri sama Lian... Sampe tega bilang harusnya Dion yang harusnya nikah sama Dia Buk... Buk! sakit rasanya dada ku Buk, kok ya jadi begini Buk!!?"
"Walah Pak masak Tata ngomong gitu Pak? Kayaknya Ibuk gak percaya!"
"Ini Lo Buk liat di hp abis nelpon anak mu Buk...!"
"Mungkin Tata cuma asal ngomong Pak, atau lagi banyak tugas jadi kebawa emosi. Bapak yang tenang dulu nanti kalau udah sama-sama reda emosinya kita ajak ngomong bagus-bagus, kalau tetap gak ada jalan keluar kan Mbaknya Lian ada di sana biar di omongin yang bagus sama Lian."
Pak Har masih memasang raut sedih bercampur shock, walau istrinya mencoba membujuknya sedari tadi.
__ADS_1
Di Apartemen Tata sedang kesal sehabis memutuskan sambungan telfon dari Bapaknya. Hatinya masih dengki dengan kehidupan Lian Kakak tak sedarahnya itu. Di tambah suami Kakaknya adalah lelaki yang paling ia idam-idamkan.
"Aku pengen kuliah harus mati-matian bujuk Bapak, semua serba usaha susah buat dapetin yang aku pengen.
Eh dia, segala hal dengan mudah dia dapetin.
Suruh siapa lagi dia mau aja disuruh ngerawat anak yang bukan anaknya, kalau dia gak mau waktu itu pasti tu anak juga bakal masuk panti asuhan kok, susah-susah buat dia di cap jadi perempuan yang gak bener di mata orang eh hidupnya malah makin bahagia.
Lah aku yang susah-susah supaya hidup kelihatan baik eh malah berakhir jadi simpanan orang.
Gak bisa gini!! Kalau kehidupan aku gak bahagia, kehidupan dia juga harus gak bahagia dong! Enak aja, masak kehidupan anak angkat lebih enak dari kehidupan si anak kandung!!! Tuhan memang gak adil!!!
Gimana pun aku harus rebut kebahagiaan yang harusnya jadi milik ku.
Aku harus dapetin Bintang, Bintang kata kuncinya untuk semua ini. Aku harus rebut hak asuh Bintang, kalau Bintang ada dalam genggaman ku Alvin pasti milih aku. Pasti ini semua karena rasa peduli Alvin yang terlalu tinggi dia gak bisa liat perempuan besarin anak sendirian jadi dia nikahin Lian, pasti itu sebabnya."
Merasa tak menganggap kehidupan ini adil baginya, rasa iri Tata makin membuncah pada Lian. Ia ingin mencapai semua yang keinginannya dengan cara yang di anggapnya paling benar.
****
"Lah Kok malah cemberut gitu Bin mukanya di tekuk?" Lian mengusap puncak rambut Bintang anaknya.
"Ayah bilang mau belajar sepeda, tapi dari tadi nda pulang-pulang."
"Ayah kan dah bilang mau kerja, gimana to? kan dari tadi juga ibuk pegangin sepedanya bintang tinggal dayung."
"Nda enak main sama Ibuk, Ibuk sedikit-sedikit gak boleh, kesana nda boleh. Di ladang-ladang Bintang bosen main sini aja."
"Lah ini kan luar nak pelatarannya, masak Bintang hawanya mau main kejalan aja ya gak boleh to!"
"Bintang mau coba ke taman Buk."
"Ya nanti tunggu Ayah pulang Bin, Ibuk gak ada motor gak bisa naik mobil. Kalau ada motor juga gak bisa bawa sepeda barengan bonceng Bintang kan?"
"Ah.. Gak asik!" Raut Bintang kecewa.
__ADS_1
Tin Tiiiin!!! Tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi.
"Ehhh siapa Bin, itu kan.....?"