
Selalu ada kegilaan dalam mencintai, cinta bisa saja membuat mu salah memahami arti sejati dari cinta itu sendiri.
Cinta bisa membuat mu terombang ambing dalam perasaan yang begitu deras, terhanyut dalam rasa ingin bisa memiliki.
Cinta menciptakan rasa candu yang lebih mengerihkan dari pada morfin.
Cinta...? Cinta itu benar-benar buta dan membutakan.
..................
Flashback.
Malam itu di Club, Tata tak bisa membendung lagi perasaan sesak di hatinya. Saat Alvin selalu mengabaikannya terasa sakit yang luar biasa. Cinta yang bahkan sudah tertolak sebelum sempat tersampaikan.
"Udah gua bilang berkali-kali jangan pernah duduk di disini." Ekspresi dingin seperti gunung Es yg tak akan pernah di tembus terlihat jelas di wajah Alvin.
"Gua cuma pengen ngobrol, kenapa sombong banget sih? Gua tau lu gak tertarik sama gua, tapi kasih gua kesempatan buat ngomong sama lu?" Ucap tata kesal.
"Kita gak kenal, tolong pergi atau gua panggil satpam!"
Gigi graham Tata beradu, semakin geram dengan pria di hadapannya. Ia pun berdiri dari sofa khusus pelanggan Vip itu.
"Lu pasti bertekuk lutut di kaki gua!" Ucap Tata menantang seorang Alvin.
Alvin menatap dengan tajam ke mata gadis yang selalu tak habis mencari cara agar dekat dengannya itu.
"Penjilat pun tau kemana dia harus menjilat, sendal jepit tetaplah sendal jepit walau di poles dengan emas. Bertahan saja di posisi itu, jangan memajat pohon yg terlalu tinggi kalau kaki lu masih gemetaran. Pergi! Sekarang!"
Kalimat yang tajam cukup untuk meninggalkan luka di hati seseorang, Tata terhina bahkan menciptakan dendam dan kemarahan besar di hatinya.
Matanya merah, ia pergi menenggak vodka hanya kebencian yang tersisa dari hatinya. Cintanya tak punya tempat atau bisa berlabuh.
"Kalau aku gak bisa dapetin kamu, gak apa-apa! Tapi kali ini aku gak akan berbaik hati lagi, kamu juga harus tau apa yg bisa aku lakukan menghadapi pria sombong seperti kamu!"
Tata merobek bajunya, menghasut daddy sugarnya yang saat itu bernama Alex. Alex yang terprovokasi langsung memukul Alvin, kalah kuat Alex lah yang babak belur di hajar oleh Alvin dan kejadian itu berakhir di kantor polisi.
Alvin alias Dion saat itu tentu saja tak berhasil masuk bui, tapi sejak saat itu kabarnya tak pernah lagi muncul di Club mana pun. Berita keberadaannya tak pernah terdengar lagi, seperti hilang di telan bumi. Tapi apakah Tata senang karna ulahnya? ia hanya semakin menderita karna selalu berharap melihat Alvin kembali.
Dan saat melihat wajah yang sangat ingin ia temui itu kisah pun berganti menjadi lebih kisah pilu, saat Alvin sudah menatap penuh cinta kearah Lian kakaknya sendiri.
Malam itu di Apartemen setelah kepulangannya dari bertemu dengan Lian dan Dion.
Marah, kesal, hancur!
Kalimat yang menggambarkan perasaan seorang Permata. Kakak yang ia jadi kambing hitamkan karna kehamilannya, kini malah menikah dengan pria yang pernah sangat ia cinta dan menjadi ayah angkat dari anaknya. Begitu penuh dengan ironi.
"Kenapa!!!!!!!!!!? Kenapa harus Alvin!!!!!!!!! Kenapa Alvin menikahi Kak Lian! Kenapa!!!" Pekiknya.
****
__ADS_1
Lian membuat kopi hitam, mereka baru saja pulang dari restoran. Menyuguhkannya kepada Dion yang duduk di sofa ruang TV
dengan tersenyum senang
"Ini Mas." Ucap Lian.
Dion mengerutkan dahi, mencoba menebak apa yang istrinya pikirkan karna sepulang dari hotel tadi Lian masih terlihat lelah dan sekarang seperti ada lampu 100 watt yang bercahaya dimatanya.
"Hmm... Seneng banget abis ketemu adik kamu?"
Lian mengangguk.
"Seneng karna Tata masih kayak dulu Mas, Lian pikir kelamaan di kota Tata bakal jadi anak gaul gitu hehe!! Jadi kangen momen kami dulu masih sekolah, Tata kayak tadi gitu Mas, Kepang rambut pake sweter ke sekolah."
"Owhh..." Dion tak begitu merespon.
"Tapi kok buru-buru banget ya padahal Lian masih kangen."
"Kalau kita udah pindah kesini nanti kamu bisa sering ketemu dia." Ucap Dion datar.
"Tata cantik kan Mas? Udah punya pacar belum ya disini."
Dion menarik Lian dalam sekejap Lian sudah berada di pangkuan suaminya.
"Mas!!!!" Lian terkesiap.
"Mas? Ngomong apa sih? Lian kan cuma tanya Tata cantik kok malah jadi ke Lian."
"Ck! Gak usah bahas dia lagi kenapa sih, Mas cemburu kamu senyum terus kalau bahas dia tapi malu-malu kalau dekat Mas."
"Mas??? Kok cemburu sama Tata, ada-ada aja sih!" Lian terkekeh.
"Malah ketawa ya! Mas serius, bisa gak kalau berdua bahasnya tentang kita aja. Gak usah bahas yang lain."
"Ih, Masss?" Lian sedikit terkejut dengan tingkah suaminya.
"Mas jadi kayak anak kecil..."
"Biarin, semua laki-laki bakal jadi anak kecil depan wanita yang di cintainya. Mas pengen selalu kamu perhatikan, pokoknya sayangnya kamu harus ke Mas yang paling besar!"
"Gak bisa, Bintang nomor satu!"
"Yaudah Mas nomor 2." Wajah Dion cemberut.
Lian menahan tawa.
"Tunggu, jadi Bintang anaknya Tata?" Dion terkejut baru menyadari.
"Lah iya Mas."
__ADS_1
"Aaaa..... Jadi...?"
"Jadi kenapa Mas?"
"Ah.... Gak, gak apa-apa! Omong-omong Tata banyak uang juga ya?"
"Maksud Mas?"
"Hapenya Harganya sekitar 30juta."
Wajah Lian mendadak serius.
"30 juta???? Mas serius?"
"Iya... Itu I-phone keluaran terbaru. Mas tau karna Mas juga pake keluaran dibawahnya." Jawab Dion memancing kecuringaan Lian pada adiknya.
"Mas yakin, Mungkin kerjanya Tata gajinya besar. Lian kurang tau, dulu Lian cuma di kasih tau kalau Tata kerja di perusahaan bagus, tapi gak pernah cerita gajinya berapa. Kalau Tata bisa beli hape Mahal harusnya uangnya cukup untuk hidup disini, kenapa gak minta Bapak stop kirim uang ya?" Raut wajah Lian sontak sedih.
Dion tersenyum, pancingannya termakan. Ia berharap perlahan bisa membuka sifat asli Tata di depan keluarganya.
"Sekarang kita lihat bagaimana kamu bisa terus menyembunyikan siapa dirimu yang sebenarnya, Sang Dewi!" Bisik hati Dion yang masih sangat marah mengingat bagaimana Tata menjebaknya.
Dion mengangkat tubuh istrinya,
"Gak usah sedih, jangan cuekin aku karna kamu mikirin adik mu. Ayok lanjut bikin adik Bintang." Sambil melangkah membawa istrinya.
"Mas???" Lian tak habis pikir.
"2 hari lagi sisa waktu kita berdua, Mas gak boleh sia-siakan cuma karna kamu mikirin hal selain Mas."
Lian tak bisa menjawab ataupun melawan, tubuhnya kini di bawah kekuasaan Dion suaminya yang sedang dan selalu penuh dengan gairah.
"Hmmm Kamu mau Hape kayak punya adik mu?"
"Gak Mas."
"Mas belikan ya?"
"Gak mau Mas!!"
"Besok Mas belikan!"
"Enggak mauuuuuuu.....!"
"Kita beli sepasang ya...?"
Lian diam menyerah untuk menjawab. Dion mengedong istrinya dengan mesra.
Klek! Pintu kamar pun di tutup.
__ADS_1