
3 Hari kemudian setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya Lian pun di bawa oleh sang suami kerumah mertua. Karna tradisi yg masih kental Lian pun harus tinggal di kediaman orang tua dari suami.
Lian di sambut dengan hangat oleh keluarga Dion, Kakak lekaki satu satunya dari Dion bernama Doni Ferdian Nugroho dan sang istri Aulia putri Dinata lan1gsung menyambut kedatangan pengantin baru itu.
"Sini masuk, alhamdulillah akhirnya Dion punya pawang." celetuk Doni.
"Apa sih Mas Doni?" Dahi Dion langsung berkerut.
"Hahahaaa... kok kesel kamu? kan bener ya yank? gimana pusingnya Mba mu Aulia mengurus mu di Jakarta. Kalau pergi gak ngomong, pulang subuh. Bandel banget." Ucap Doni sambil melirik kearah istrinya.
Mba Aulia hanya senyum senyum mendengar sang suami meledek adiknya sendiri.
"Lah mana Bintang?" Tanya Pak Dandi memecah suasana.
"Belum mau ikut Pak, mau dirumah Mbah aja katanya." Jawab Lian.
"Padahal Bapak sudah siapkan mainan ini untuk Bintang. Mas Doni juga sudah bawakan dari Jakarta."
"Sudah ditaruh itu di kamar Bintang semua mainannya, kamar bintang juga sudah di siapkan." Kata Mba Aulia menimpali.
"Jadi ngerepotin semua karna Bintang, anaknya malah gak belum mau ikut." Jawab Lian sedikit tak enak.
"Ya gak apa-apa semua senang kok, apa lagi Bintang anaknya gemesin. Pinter banget." Ucap Mba Aulia dengan mata yg berbinar-binar.
"Iya semua senang menyambut Bintang di rumah ini, kamu santai saja Nduk." Ujar Pak Dandi yg kini sudah resmi menjadi mertuanya.
__ADS_1
"Iya Pak, termakasih karna semua sayang dengan Bintang." Ucap Lian dengan tersenyum.
Dion yg sedari tadi hanya jadi pengamat percakapan antara keluarganya dan Lian, diam-diam merasa di dalam dadanya ada perasaan hangat yg sudah lama tak ia rasakan. Tak sadar bunga bunga harapan mulai bertumbuh di hatinya terhadap Lian.
Mba Aulia pun menghantar Lian ke kamar Dion yg sekarang sudah menjadi kamar pengantin baru.
"Semoga Lian suka ya dengan dekornya masih sederhana, selama Dion masih di sana Mba sama Mas Doni membenahi kamar ini. Tadinya kamar ini isinya kacau banget, selera Dion beneran payah plus berantakan bukan main. Maklum kamar lajang."
"Hihi, bagus kok mba Lian suka."
"Nanti selanjutnya Lian yg dekor sesuai selera Lian. Sekarang kamar dan rumah ini juga punya Lian." Ucap Mba Aulia sambil merangkul bahu adik iparnya.
"Makasih ya Mba, sudah perhatian sama Lian."
"Harus dong, sekarang kita kan udah jadi kakak adik. Mba anak tunggal jadi seneng banget akhirnya punya adik ipar."
"Astaga kamar ku kok jadi begini Mbak!!!!?????" Pekik Dion.
****
"Ma... Mas Dion..?" Ucap Lian memberanikan diri.
Sontak Mata Dion langsung metatap Lion dengan tajam.
__ADS_1
"Itu, anu... Kita kan udah tinggal disini. Ada Bapak, Mas Doni dan Mba Lia. Rasanya Lian gak nyaman aja masih manggil aku kamu, nanti di kira gak sopan sama suami."
"Pfffftt...(Dion menahan tawa) Ya, terserah kamu aja. Apa perlu kamu aku panggil Dek Lian juga???"
"Eh gak usah panggil nama aja, Lian belum terbiasa."
"Curang kamu, harusnya adil kalau kamu panggil aku Mas ya aku panggil kamu adek."
"Maksud Lian ingin menghormati Mas Dion karna sekarang sudah jadi suami."
"Ya okelah, kamu atur aja gimana baiknya."
Wajah Lian sudah seperti kepiting rebus sedari tadi, membuat Dion tak kuasa menahan gemas.
"Itu,Hmm Lian mau ke kamar mandi dulu."
Lian tak bisa menutupi rasa canggungnya dan menghindar, dan Dion hanya bisa bergeleng melihat tingkah laku istrinya itu.
Sejenak Dion berfikir, Lian selalu berusaha menghindari Dion. Setelah malam pertama yg menyiksa Dion itu malam selanjutnya Lian selalu mencari alasan agar tak seranjang dengan suaminya, alasannya karna Bintang dan alasan yg dibuatnya sendiri.
Dion tak merasa keberatan, karna Dion belum menginginkan hal itu dan juga walau seburuk apa pun masa lalunya ia hanya akan tidur dengan wanita sama sama menginginkan hal itu, bukan karna keterpaksaan.
Dimata Dion Lian sama sekali seperti wanita yg di bayangkannya,
"Bagaimana wanita seperti bisa melakukan kesalahan di masa lalunya, bahkan saat ku tatap saja wajahnya sudah memerah. Pasti pacarnya dulu lelaki bejad."
__ADS_1
Rasa penasaran Dion akan masa lalu Lian sebakin membesar.