
"Lian manut Bapak, kalau Bapak mau menikahkan Lian pak."
"Lian mau nduk?"
Lian mengangguk pelan.
"Selama calon Lian itu mau menerima Bintang, Lian gak ada syarat apa pun Pak."
"Syukur Alhamdullah, tadi Pak Kades sudah telfon Bapak tidak ada masalah dengan Bintang, anaknya Pak kades setuju-setuju saja."
Lian mengerutkan kening merasa janggal, ini terasa terlalu mudah untuk dirinya di terima dengan segala permasalahan yg terjadi dalam hidupnya.
"Apa Lian gak perlu ketemu dulu sama anak Pak kades Pak,?"
"Kata Pak kades kalau kamu sudah oke, langsung di adakan lamaran. Begitu saja pesan mereka, kita manut pihak sana ya nduk."
Lian mengangguk walau sedikit ada rasa bimbang.
****
__ADS_1
Acara lamaran pun di adakan 2 minggu kemudian, Lian harap-harap cemas karna belum pernah sekalipun melihat calon suaminya.
Sederhana, sesuai keingan Lian hanya mengadakan syukuran biasa. Lian pun hanya menggunakan kebaya simple berwarna nude, rambut yg di gelung dengan giwang kecil yg menambah nuansa manis menghiasi telinganya. Pada dasarnya apapun yg dikenakan Lian tidak akan membuatnya terlihat tidak istimewa, kecantikan alaminya selalu terpancar.
Bertolak belakang dengan perasaan Dion yg serba acuh tak acuh, datar dan terlihat sangat tidak antusias.
Di rumah Pak Har di ruangan yg cukup luas dan sederhana, para keluarga inti dari kedua belah pihakpun berkumpul. Acara pun berlangsung hikmad, hingga acara inti yaitu penautan cincin ke jari masing masing.
Lian yg akhirnya di izinkan keluar memperkenalkan diri, sedikit gugup dan canggung. Memberanikan diri mengucapkan namanya memperkenalkan diri kepada sanak saudara. Dalam hatinya bertanya tanya di mana sosok calon suaminya.
Tiba saat acara penyerahan cincin pun dimulai seorang pria tak asing berdiri, sepasang mata mereka pun beradu. Lian mencari cari ingatan tentang sosok ini, tapi siapa? dimana mereka pernah bertemu.
Suara Bintang memecah keheningan. Dion sontak melihat ke arah empunya suara, terkejut dan tanpa sadar tersenyum.
"Anak itu..?" Dion sedikit terkejut tak menyangka.
Semua mata tertuju menyaksikan hal yg tak biasa,
"Itu Om, yan di depan Oom Ibuknya Bintang."
__ADS_1
Dengan polosnya suara Bintang membuat suasana yg tadinya kaku mencadi mencair, di ikuti senyum Lian yg tampak begitu memukau.
Ntah seberapa detik Dion sempat terpukau, tapi pikirannya cepat cepat kembali sadar. Ya, anak yg menangis dengan menggemaskan waktu itu anak dari prempuan yg akan menjadi istrinya.
Ingatan Dion tiba tiba terputar lagi pada kejadian beberapa tahun yg lalu saat ia sedang begitu banyak masalah dan duduk sendirian di tepi jalan saat sekitar jam 10 malam, bertemu seorang gadis yg menangis sendirian. Matanya terbelalak dan tak bisa menahan sesuatu yg ingin keluar dari mulutnya.
"Kamu kan.....!!?" Dion menatap Lian dengan wajah penuh tanya.
Lian kebingungan dengan sikap Dion. Membuat para tamu dan keluarga turut kebingungan.
"Hayo nak Dion, dipasangin cincin ke jarinya. Ngobrolnya di lanjut nanti setelah acara pasang cincin nanti bisa lanjut ngobrol yg lama.." Celetuk Pak Rt sekaligus yg membawa acara.
"Cieee....cieeee....!!!" Suasana pun menjadi riuh sautan para tamu.
Wajah Dion memerah, tak bisa mengontrol lagi ekspresinya. Cepat-cepat ia pasangkan cincin simbol penautan mereka. Dan disusul dengan Lian yg melakukan hal yg sama.
Entah mengapa Dion yg tadinya tak peduli menjadi kikuk di depan Lian. Lian pun berusaha melempar senyum walau merasa ada kecanggungan yg sama.
Kedua pasangan itu pun akhirnya menyelesaikan acara dan berpisah tanpa sempat mengutarakan apa-apa.
__ADS_1
****