Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Gara-gara satu wanita


__ADS_3

Sehat Nduk?"


"Sehat Buk, Ibuk gimana sama Bapak?"


"Alhamdulillah sehat, Dion sama Bintang gimana sehat to?"


"Sehat Buk..."


"Kamu sering ketemu Tata gak Nduk?"


"Gak sering tapi Lian sering kontak lewat hape, minggu kemaren juga baru dari sini Buk."


"Oh iya? Gimana adik mu sehat?"


"Sehat Buk Alhamdulillah..."


"Anu, Tata gak ada ngomong yang macem-macemkan sama kamu?"


"Ngomong yang macem-macem gimana maksud Ibuk?"


"Gak gimana-gimana tapi kalau ada omongannya yang nyeleneh jangan di masukan hati ya Nduk, adik mu itu mungkin lagi banyak pikiran atau ada tekanan di kuliahnya jadi kalau memang ada yang sekiranya yang gimana-gimana jangan di jadikan beban pikiran ya Nduk?"


Lian sudah tanggap apa yang di maksudkan oleh Ibunya itu, tapi ia mencoba semaksimal mungkin untuk tidak memicu hal yang semakin membuat sang Ibu kawatir.


"Tata gak ada ngomong apa apa kok Buk, pokoknya Ibuk sama Bapak gak usah mikir gimana-gimana, Lian sama Tata gak ada masalah. kalaupun memang ada yang membuat Ibuk sama Bapak kawatir, Ibuk bisa cerita barangkali Lian bisa bantu."


"Ibuk cuma agak khawatir sama adik mu itu, entah kenapa terakhir kali nelpon omongannya ngalor-ngidul. Kalau seandainya sama kamu Tata masih baik-baik aja tolong awasi adik mu ya Lian."


"Ibuk jangan cemas nanti Lian bakal lebih sering ketemu sama Tata dan lebih perhatian sama dia Buk."


"Ah begitu ya, makasih ya Nduk. Ibuk doakan selalu anak-anak Ibuk menantu dan cucu selalu sehat dan bahagia disana, kami sudah tua gak punya kuasa lagi untuk mengatur kehidupan kalian, kalian sudah besar. Ibuk berharap kalian bisa akur dan saling menyayangi."


"Inshaallah buk, Ibu doain Lian terus ya mudahan berkat doa Ibu kehidupan Lian sekeluarga langgeng gak ada masalah yang terlalu berarti."


"Amiiinnn, yaudah segitu dulu ya Nduk Ibu tutup dulu. Kirim salam sama suami mu sama cucu Ibuk, lain kali Ibuk VC sama Bintang ya."


"Iya Buk, sehat-sehat ya buk."


"Iya Nduk, yo wes Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Lian mengehela nafas cukup panjang, bukan cuma membuat dirinya gelisah karna omongan adikmya ternyata Tata juga membuat orang tuanya gelisah. Entah apa yang ada dalam benak Tata, pikir Lian.


"Gimana kabar Ibuk yank?"

__ADS_1


Suara Dion membuyarkan lamunan istrinya,


"Eh Mas, sehat Mas Alhamdulillah."


"Hmm, tapi kok kamu malah kelihatan gak happy gitu abis telponan sama Ibuk."


"Iya Mas, kayaknya Ibuk lagi gelisah mengenai Tata. Kayaknya Tata ada omongan yang buat Ibuk jadi khawatir sampe nelpon Lian. Tapi Ibuk gak mau cerita gimana detailnya."


"Huffttt.... Pasti udah jelas ada yang gak bereskan?"


Lian mengangguk.


"Yaudah, kamu gak usah jadikan beban. Oh ya, Mas udah mandiin Bintang dia lagi makan buah sambil nonton Tv. Mas ada kerjaan bentar mau nelfon klien ya ?"


"Oh Mas udah mandiin? Gemes banget sih padahal Lian gak minta tolong." Ucap Lian sambil tersenyum lebar.


"Gak papa Mas juga harus bantu dong sekali-kali, kamu gak mau pake asisten rumah tangga. Nanti kalau kecapean makin lama lagi prosesnya dapetin adek Bintang."


"Lian juga gak ngoyoh kok Mas, lagian kalau masak sering dikirimin sama Mba Aulia. Bintang juga lebih sering main di rumah Mba Aulia, Lian malah sering leyeh-leyeh gak tau mau ngapain."


"Bagus malah, banyak makan buah ya jangan di anggurin tu Mas liat di kulkas masih banyak. Susunya juga ya jangan lupa udah Mas carikan yang paling bagus khusus program kehamilan."


"Mas belum hamil aja udah bawel, buah sebanyak itu baru juga Mas beli 2 hari yang lalu. Emang Lian monyet bisa makan buah langsung sekali banyak habis."


"Hehehe, Masak istri aku yang cantik gini nyamain diri sendiri kaya monyet sih, iya sayank ku! Dimakan pelan-pelan ya yang terpenting harus dimakan."


Dion mengusap-ucap puncak kepala dan menghadiahi satu kecupan manis di kening istrinya.


"Yaudah Mas ke ruang kerja dulu."


Lian mengangguk dan kemudian berjalan menuju living room tempat dimana Bintang tengah asik menyantap buah.


Memastikan istrinya sudah tak kelihatan lagi, Dion pun langsung menuju ruang kerjanya dan lanjut menelfon.


"Gimana?"


"Sudah ketemu Bos!"


"Bagus, sudah kamu ikuti kemana saja dia pergi."


"Setelah pindah dari kost-nya dia jarang kelihatan Bos, saya hampir kehilangan jejak. Tapi sukurnya setelah melacak dari taxi online saat mengunjungi rumah Bos, sudah dengan mudah kami dapatkan lagi informasinya. Tapi Bos,"


"Kenapa?"


"Sepertinya mulai dari kemarin bukan cuma kami yang membuntuti prempuan itu. Ada orang lain, sepertinya juga profesional."

__ADS_1


"Maksud kamu ada orang yang sedang mengintai dia juga?"


"Iya Bos, begitu maksud saya."


"Ikuti terus jangan sampai kalian ketauan. Apapun gerak-geriknya laporkan, terutama saat menuju kerumah saya. Langsung laporkan jangan sampai meleset lagi saya sampai tidak tau kalau dia kesini."


"Baik Bos, detailnya kegiatan dan fotonya saya kirim lewat email."


"Oke, terus kabari saya."


Dion mencekram geram handphonenya,


"Jangan main-main dengan ku Tata, sudah ku peringatkan tapi kamu malah menantang. Hanya tinggal waktu yang tepat semua kebobrokan kamu akan terungkap."


****


Risa membuka lembaran demi lembaran bukti rekening koran ATM milik suaminya, hal seperti mudah di dapat kalau kita punya kekuasaan. Risa bahkan tak terkejut dengan berapa saja aliran uang yang sudah mengalir ke satu rekening yang ia sudah tau pasti siapa pemiliknya.


"Dasar sampah, perempuan bodoh. Hanya dengan uang segini yang di beri Zack ke kamu, lantas kamu sudah berfikir akan menjadi ratu. Mengelikan! entah Zack atau perempuan ini yang bodoh. Kalian fikir bisa bermain api dibelakang ku."


"Fred, sudah dapat apa yang ku minta?"


Fredy yang sedari tadi duduk berhadapan dengan Nyonya-nya itu langsung mengeluarkan sebuat amplop coklat besar.


"Saya tidak tau ini cukup atau tidak, katakan saja kalau Nyonya butuh lebih banyak informasi, tim profesional saya akan bekerja lebih keras."


Risa mendengarkan sambil membuka amplop besar itu membuka lembaran demi lembaran informasi yang sangat ingin ia ketahui tentang prempuan simpanan suaminya.


"Hahahahaa.....!"


Suara tawa Risa mengejutkan Fredy,


"Kenapa Nyonya tertawa, adakah yang tidak memuaskan dalam kinerja saya."


"Tidak Fred, kau tenanglah ini bukan tentang mu tapi tentang wanita bodoh ini. Bagaimana dia bisa begitu bermimpi menjadi kaya raya tanpa ia tau kalau pria yang di gaitnya aslinya sama miskinnya dengannya. Ya Tuhan, bahkan ia berhenti dari kuliahnya dan bekerja di diskotik. Orang tuanya pasti tidak tau apa-apa tentang kelakuan anaknya."


Fredy hanya bisa menatap wajah sumringah dari wanita yang telah ia ikuti sejak lama itu, wajah Risa terlihat penuh tawa tapi matanya tak bisa menyembunyikan kepedihan. Bagaimana tidak, perempuan mana yang bisa begitu bahagia melihat perempuan yang jauh di bawah levelnya bisa merebut pasangannya. Itu pasti lebih menyedihkan.


***


Jangan lupa!!


Like


komen

__ADS_1


favorit


please❤️


__ADS_2