
2 hari yang lalu, Tata yang memesan taxi online kerumah Lian. Sesuai apa yang sudah di rencanakannya di awal Tata ingin mulai sedikit demi sedikit mengusik kehidupan Lian. Tak benar kalau Tata benar-benar menginginkan Bintang, hidup di kota besar sendirian dengan gaya hidup seperti dia saja kadang tak mencukupi apa lagi harus mengurus satu anak lagi, belum lagi itu juga bisa mengganggu hubungannya dengan Zack.
Melihat kehidupan Lian sekarang sangat bahagia dan berkecukupan membuat Tata semakin tak tenang, rumah besar 2 mobil berjejer di garasi belum lagi interior rumah yang memanjakan mata. Foto pernikahan yang terpampang di ruang tengah membuat Tata semakin kesal.
Mencoba bermain dengan Bintang membuatnya sedikit teralihkan, Bintang benar-benar tumbuh menjadi anak yang menggemaskan serta pintar.
"Tante..."
"Nah gitu panggil Tante ya?" ucap Tata yang berusaha mengajari Bintang sebutan untuk memanggilnya.
"Bintang ganteng banget ya?"
Bintang hanya diam tanpa respon, tak nyaman dan tampak enggan menanggapi. Baginya perempuan dihadapannya hanya orang yang baru ia kenal.
"Bintang mau diajak main dek?" Ucap Lian yang datang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Kayaknya masih belum mau Kak, masih jaga jarak sama Tata."
"Biasanya dia lumayan ramah lo, mungkin pertama kali ya?"
"Mungkin iya..." Jawab Tata sambil memasang wajah sedih yang di buat-buat.
Lian turut sedih melihat upaya adiknya tapi Tata terus berusaha keras mendapatkan perhatian dari Bintang, ia ingin membuat bintang menyukainya terlebih dahulu. Setelah Bintang suka mau tak mau Alvin alias Dion tak punya alasan untuk melarang Tata lebih sering berkunjung pikirnya.
Upaya seharian membujuk Bintang seharian tak kunjung berhasil hingga Tata pun kesal hingga berujung ucapan yang sengaja di lontarkan agar terdengar dan menusuk di hati sang Kakak.
"Bintang, nanti Tante mau lebih sering main biar kita makin deket ya. Tante sayang banget sama Bintang. Suatu hari nanti kalau Bintang sudah lebih dekat sama Tante, Tante mau Bintang tinggal bersama Tante ya..." Sambil memasang wajah sedih yang merupakan akting semata.
Lian yang mendengar ucapan itu terasa nyeri hatinya tapi tak bisa mengekspresikan keresahannya, setelah Tata pulang dan Bintang tertidur barulah ia menangis sesegukan. Ia ingin segera berbagi dengan suaminya berharap apa yang menjadi beban di hatinya menemukan titik terang. Di satu sisi tak tega melihat adiknya Tata merasa sedih, disatu sisi tak mau kehilangan buah hati yang selama ini siang dan malam ia urus dengan sepenuh hati harus meninggalkannya, ia tak sanggup.
****
Sudah 2 Hari saling diam Dion merasa mulai gelisah, biasanya panggilan dari sang istri selalu terdengar dengan lemah lembut di telinga. Tapi Lian belum juga memanggilnya, Dion yang semakin tak tahan karna Lian tak kunjung bersuara dan tidur di kamar Bintang dari kemarin malam.
__ADS_1
Tak ada bedanya dengan Lian yang hanya bisa menangis seharian suntuk dengan mata yang tampak membengkak. Beruntung Bintang kemarin sore di jemput Tantenya Aulia dan menginap disana, melihat mata Lian yang sembab mungkin Mba Aulia faham ada yang tidak beres dengan Dion dan Lian dan menawarkan agar Bintang beberapa hari menginap disana, Lian pun mengizinkan.
Jam menunjukan jam 3 sore tapi Dion tak melihat Lian keluar kamar, makanan yang di letakan didepan pintu pun masih dalam posisi seperti semula pertanda tak di sentuh sama sekali, resah, gelisah, khawatir dan kesal melanda di hati Dion.
"Keras kepala! Kenapa gak mau dengerin omongan suami, toh demi kebaikan bersama. Kenapa sih kekeh sama pikiran sendiri udah tau gak bisa kehilangan Bintang tapi masih aja mikirin Tata, Berengsek juga tu perempuan! Tunggu sebentar lagi, saat yang tepat kamu pasti bakal nyesel udah usik kehidupan kami."
Jiwa Dion yang masih kuat ego juga tak ingin serta merta melunak hanya karna Lian yang diam, tapi tak menyangka Lian bahkan tak keluar dari kamar dan makan barang sedikitpun. Itu membuat Dion cemas setengah mati, hati gelisah tak karuan. Mondar-mandir di depan kamar dan bolak-balik melirik ke arah kamar Bintang yang di tempati istrinya.
Dion tak tahan lagi ia pun memaksa masuk kekamar yang ternyata tidak di kunci, melihat istrinya yang meringkuk di tempat tidur. Perlahan ia duduk di tepian kasur dan hatinya merasa lebih buruk.
"Lian? Ayok makan, dari kemarin kamu gak makan. Mas ngaku kalah, mas nyerah kalau harus dieman gini makan yuk."
Lian tak bergeming,
"Sayang... Jangan gini dong, kita cari solusinya, kenapa harus sampe kayak gini? Mas gak tenang."
Lian tak kunjung menanggapi, membuat Dion semakin cemas.
"Mas,"
Suara Lian yang akhirnya terdengar mengurangi kecemasan sang suami.
"Ya sayang?"
" Mas kok tega diemin Lian?" Tangis Lian pecah kembali.
"Sayaang... Mas minta maaf, Mas gak maksud diemin Lian, Mas cuma butuh menenangkan pikiran biar gak makin emosi dan malah nyakitin hati kamu..."
Dion langsung memeluk Lian dari belakang, menciumi bahu wanita yang kini baginya adalah segalanya.
"Lian sedih banget...!" Tangis Lian semakin menjadi.
"Maaf sayaang... Udah dong jangan nangis, Mas jadi serba salah nih." Jawab Dion mulai panik.
__ADS_1
"Huhuhu..." Lian bertambah sesegukan.
Dion pun menyesal karna kalah dengan egonya hingga semakin menyakiti perasaan istrinya, ia merasa salah mengambil keputusan. Seharusnya tak pergi meninggalkan Lian dalam kelalutan dan menenangkan kegelisahan sang istri.
30 menit berlalu, Lian sudah duduk di meja makan dengan wajah yang kusam dan mata yang bengkak. Sedang Dion sedang memasak nasi goreng untuknya, segelas teh hangat sudah bertengger di dekat Lian yang juga Dion buatkan untuknya.
Dion dengan perlahan menghidangkan masakan buatannya kepada sang istri,
"Maaf Mas cuma bisa masak seadanya, yang cepet cuma ini mau pesan antar takut kelamaan. Di abisin ya, pasti Lian laparkan?"
Lian hanya menatap ke arah piring dan sedikit tak menyangka Dion bisa memasak dan tampilan nasi goreng buatan Dion terlihat menarik dan sedap.
"Kenapa? Kok cuma di liatin? Gak selera ya mau Mas suapin?" Tanya Dion yang agak gugup karna perdana masakannya akan di makan oleh sang istri.
Lian menggeleng pelan.
Lian memakannya dengan perlahan, rasanya tak mengecewakan enak dan gurih sesuai kesukaan Lian, tak berapa lama nasi goreng itu pun tandas.
"Enak atau lapar?" Ledek Dion.
"Enak, cuma kurang..." Jawab Lian jujur.
"Kurang asin ya?"Tilik Dion penasaran.
"Kurang banyak dikit, Lian masih laper."
Dion pun terkekeh, bisa-bisanya ia sudah menanggapi dengan serius sang istri malah terlihat melawak dengan mimik wajah yang datar. Gemas ia pun mencubit pipi Lian dengan semangat.
"Maas!! Sakit!!!"Lian menepis tangan Dion yang masih menyangkut dipipinya.
"Mas udah serius kamu malah ngelawak, mana muka kamu jadi mirip panda begini Mas jadi makin gemes."
Lian masih sedikit kesal, dan tak bergeming walau setelah melihat suaminya yang sedari tadi terkekeh oleh ulahnya.
__ADS_1