Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Bertemu


__ADS_3

"Bapak Tadi kenapa gak Bilang?"


"Tapi kan Bapak sudah ajak, Bapak udah nanya Beneran gak mau ikut? salah Bapak dimana?"


"Iya tapi kan Bapak cuma bilang mau pergi, gak bilang sama mereka."


"Yaudah kalau mau kesini ya tinggal nyusul..."


"Bapak sama mereka dimana ?"


"Kami cuma ke kota jalan jalan."


"Kirim alamatnya Dion mau nyusul."


"Ya nanti Bapak kirim, Bapak tutup dulu telfonnya."


Pak Dandi tersenyum sehabis menerima telfon dari anaknya, tak menyangka ada pertanda bagus dari Dion.


"Ayok ayok masuk, kita makan dulu didalam.."


Seru Pak Dandi yg melihat Pak Har sekeluarga yg berdiri menunggunya di depan sebuah restoran.


Sehabis makan Pak Dandi mengajak ke sebuah wahana yg ternama, berniat menyenang kan Bintang yg sebentar lagi resmi jadi cucunya.


"Bintang mau main apa Le?"


"Itu naik kuda..."


Bintang menunjuk ke arah permainan kudaan yg berputar.


"Ayok sama Kakek kesana."


"Kakek?"


"Iya kakek! panggil saya kakek sekarang, kan anaknya kakek mau jadi Bapaknya Bintang."


"Mbah ini belalti Bapaknya Om ganten yan tadi malem?"


"Lah iya, biar gak bingung nanti panggil Mbahnya jadi dua, jadi panggil saya kakek saja oke."


"Sini Kek tak bisikin..."


Bintang menarik lengan Pak Dandi hingga membungkuk, mencoba membisikan ke arah telinganya.


"Beneran Oom yan itu mau jadi Bapak Bintan?"


"Lah iya, Bentar lagi kalau Bintang gak nakal, Oom itu mau kesini main sama Bintang."


"Bintan anak baik lo kek, ndak pelnah nakal..."


"Kalau gitu Bintang nanti bisa main sama Oom itu...! Nanti panggilnya Bapak jangan Om lagi ya."


"Oke!" Ujar Lian sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah calon Kakeknya itu.


Pak Har, Buk Sum dan Lian hanya bisa terheran-heran melihat apa yg mereka saksikan, Bintang memang anak ramah dan mudah disukai siapa pun.


Beberapa saat kemudian Dion pun sampai di wahana permainan yg di tujukan oleh Pak Dandi.


Mata Dion menyapu sekeliling dan berhenti pada seorang wanita berkemeja krem dan rok prisket berwarna Hitam. Tangannya kanannya menenteng bungkusan makanan dan minuman, lengan kirinya terlihat membawa tas yg terlihat lumayan berat. Ia berdiri samping bangku yg sudah penuh terisi oleh orang-orang termasuk Pak Har dan Buk Sum, sedang Pak Dandi tengah fokus mengawasi Bintang.

__ADS_1


Grep! tangan Dion mengambil Bungkusan yg sedari tadi di tenteng oleh Lian.


"Sini aku bantu pegang."


Sontak Lian yg tengah terfokus pada Bintang terkejut, pria yg berdiri di sampingnya itu ternyata Dion tunangan sekaligus calon suaminya.


"Eh, kamu?" Dengan Ekspresi terkejut.


Dion hanya tersenyum membalas reaksi tak terduga dari Lian yg kini sudah resmi jadi tunangannya itu.


"Sudah lama disini..?" Tanya Dion membuka perkacapan.


"Belum nyampe setengah jaman kok.." Jawab Jawab Lian canggung.


"Eh nak Dion, kapan sampai?" Tegur Pak har yg baru menyadari kehadiran calon menantunya.


"Baru aja ko pak... Baru sampai."


"Oh iya... iya." Jawab Pak Har sambil mengangguk angkuk.


"Jadi siapa nama anak kamu..?" Dion bertanya lagi pada Lian.


"Bintang..." Jawab Lian masih canggung.


"Oh Bintang, gemesin banget anak itu. Pertama kali ketemu juga dia kelihat pinternya."


"Eh iya, Kamu yg nolongin pas Bintang hilang di GOR waktu itu ya, saya belum sempat ngucapin makasih. Makasih banyak ya sudah nolongin."


"Sama sama, gak masalah cuma kayaknya dia bingung waktu itu jadi nangis. Di ajakin makan eskrim langsung diem."


Lian langsung tersenyum tanpa sadar mendengar cerita Dion.


Wajah Dion sedikit bersemu merah mendengar ucapan Lian yg tanpa sadar itu terdengar seperti memuji.


"Memang lucu banget anak itu, ah namanya Bintang ya...?" Jawaban Dion yg seperti kehabisan kata kata.


"Tu anaknya lagi main sama Pak Kades eh, maksudnya Bapak..." Lian menunjuk ke arah Bintang dan Pak Dandi yg tengah mengawasi sambil tersenyum senang.


"Mau kesana...?" Ajak Dion.


"Ayuk...!" Jawab Lian seiringan dengan langkahnya yg langsung terbuka.


Mereka berjalan beriringan sudah sangat seperti pasangan yg resmi.


"Pak Kalau capek biar Dion Gantian yg jaga..."


"Eh sudah datang? yaudah biar bapak duduk disana, lumayan pegel juga berdiri terus ya. Lian juga pasti capek ya nonstop menjaga Bintang setiap hari."


"Eh Sudah keharusan, Pak." Jawab Lian dengan senyum Canggung.


"Begitulah jadi ibu ya harus kuat, Kalau begitu Bapak kesana dulu." Ucap Pak Dandi sambil berjalan meninggalkan calon pasangam itu.


"Om ganteeeeennnn.....!" Sorak Bintang sambil melambaikan tangan dengan semangat.


"Hai Bintang....!!" Dion mencoba menyapa Bintang lebih akrab.


Sejenak waktu putaran habis dan Bintang meminta untuk turun.


"OooM ganten!!! mau main sama Bintan?"

__ADS_1


"Boleh, Bintang mau main apa lagi."


"Itu main mobil mobilan....!"


"Oke...!"


Lian pun terkejut akan daya tarik Dion, entah dirasanya itu memang akting di depan Lian dan keluarga atau memang asli sifat Dion yg menyenangkan langsung disukai Bintang. Lian menaruh simpati lebih pada Dion pada saat itu.


****


Akhirnya Dion punya waktu ngobrol bersama Lian calon istrinya.


"Hmm jadi kita belum kenalan secara pribadi sebelumnya, nama ku Lian."


Lian mengulurkan tangan.


"Yah pasti kamu sudah tau juga kan nama aku Dion." Sembari menjabat tangan Lian.


Lian tersenyum,


"Yah, tau dari Bapak." Jawab Lian singkat.


"Lian, maaf aku harus to the poin. Jujur aku belum siap manikah, aku menuruti permintaan Bapak."


Lian menanggapi dengan tenang, walau kalimat itu sebenarnnya terdengar lumayan frontal di telingannya.


"Aku menghargai kejujuran kamu Dion, apa pun yg kamu rasakan tidak jauh beda dengan apa yg aku rasakan sebenarnya."


"Jadi kamu juga tidak siap?"


"Siapa yg pernah siap dengan perjodohan? apa lagi yg seperti kita, belum saling mengenal sebelumnya."


"Makasih sudah mau mengerti posisi ku..."


"Sebelumnya aku yg terlebih dulu berterimakasih, sudah baik sama Bintang. walau aku tau kamu gak siap, tapi kamu mau berusaha."


"Dari awal aku suka Bintang, aku suka anak-anak. Jujur masalah Bintang dan posisi kita punya porsinya sendiri di pikiran ku, Bintang hanya anak-anak yg gak tau apa-apa."


Lian kembali menarik bibirnya, sikap Dion sekali lagi membungahkan hatinya.


"Tadinya aku merasa tidak nyaman, seharusnya Bapak sudah menjelaskan bagaimana posisi ku pada mu. Aku seorang perempuan yg punya masa lalu, siapa yg tidak tau di kampung cerita ku, seorang prempuan yg punya anak tanpa Bapak. Tapi, kenapa kalian masih bersikeras dengan pernikahan ini...?"


Ungkap Lian penuh mimik tanda tanya.


"Aku juga sama siapa yg tidak tau kisah ku, aku yakin kamu juga tau. Mengapa masih menerima ku...?" Dion membalikan pertanyaan.


Lian tak menjawab, ia tak mungkin menjelaskan tentang hutang Bapak dan asal cerita Lian harus menerima Dion.


"Aku akan berusaha kedepannya... kita sama-sama punya masa lalu."


Dion melekatkan padangannya ke pada Lian, mencari hal yg tak bisa ia temukan.


"Aku hanya punya satu pesan yg harus kamu ingat, jangan terlalu cepat menilai bagaimana aku. Yg kamu tau baru sedikit, aku jelas bukan orang baik. Aku tak mau kamu menyesal."


"Biarkan waktu yg menilai." Jawan Lian singkat dengan mata yg tersirat penuh keyakinan.


Dion pun tertegun.


****

__ADS_1


__ADS_2