Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Terbang ke Jakarta


__ADS_3

"Bintang sama Mbah dulu ya... Ibuk sama Om mau Liat rumah baru kita nak."


Ujar Lian pada anaknya sambil mengemas beberapa stel pakaian anaknya itu kedalam tas.


"Lama Buk?"


"Ibuk usahakan cepet ya Bin, Bintang mau nitip apa?"


"Hmmm... Bintan ndak mau Buk, Bintan sama kakek aja boleh?"


"Kakek gak dirumah terus nak, harus kerja."


"Iya Buk."


"Bintang gak mau Ibuk pergi ya?"


Bintang terdiam.


"Sini sama Om Bin." Dion yg sedari tadi mendengarkan obrolan ibu dan anak itu pun ikut ambil suara.


Bintang berjalan perlahan menuju Ayah sambungnya.


"Nanti kalau kalau Om sama Ibuk udah pulang kita langsung ke rumah kita bareng-bareng. Ya Bin!"


"Kalo ikut ndak boleh ya Om."


"Bukan gak boleh, tapi Om sama Ibuk cuma sebentar. Takutnya nanti Bintang kecapean di jalan."


"Tapi janji Om sama Ibuk pulan kan? Bintan di jemput kan?"


"Iya dong, kita kan mau pindah kerumah baru bareng-bareng. Om cuma Liat rumah sebentar bersih-bersih terus pulang jemput Bintang."


"Yaudah Om..."Bintang mengangguk pelan.


"Yok Om antar kerumah Mbah,"


"Ibuk gak ikut..???"


"Bintang berani kan sama Om aja?" Lian mendekati Bintang mencium dan memeluk anaknya.


"Hmm Yaudah belani..." Bintang tampak sedih.


Dion mengedipkan mata ke arah istrinya, ada kejutan yg mereka siapkan untuk Bintang.


Seperjalanan Bintang yg biasanya begitu cerewet hanya diam. Dion pun tersenyum tak sabar melihat ekspresi Bintang nanti berubah menjadi sumringah.


Sesampainya di rumah Mbahnya Bintang berlari hendak memeluk Mbah Uti terkejut dengan Tv layar datar dengan size yg besar sudah terpajang di ruang tamu. Beberapa main mainan lainnya pun sudah berbaris menunggu.


"Waaaaaaaahhhh.... Mbah beli Tv."


"Bukan Mbah yg beli Bin, itu Ayah mu." Ucap Pak Har.


"Ayah?" Raut Bintang kebingungan.

__ADS_1


"Itu!" Pak Har menunjuk ke arah Dion yg berdiri di depan pintu.


"Makasih ya... O, eh Ayah!"


Dion terkesiap mendengar panggilan Bintang padanya, dan kemudian tersenyum sambil mengangguk pelan.


Bintang pun bersorak riang melihat acara Tv yg diatur seusianya. Pak Har sebenarnya punya Tv tapi karna jarang di pakai Tv itu pun rusak, mengingat sibuknya kegiatan Pak Har dan istri di wartegnya. Mereka memutuskan untuk tidak mengganti Tv yg baru.


Setelah Lian menikah, tak mungkin membantu orang tuanya lagi di warung dan Pak Har sering sekali sakit. Karna itu Pak Har memutuskan membayar jasa 2 orang kariawan di warungnya, walau harus mengeluarkan uang lebih setidaknya mereka tak kewalahan lagi di usianya dan kedua paruh baya itu akhirnya sering meghabiskan waktu dirumah.


Dion mohon pamit dan meninggalkan rumah mertuanya. Hatinya masih berdebar mengingat Bintang memanggilnya Ayah untuk pertama kali. Ia ingin cepat sampai kerumah bercerita pada Istrinya.


Dion sampai dirumah tak kala 1 koper sudah berdiri di depan rumah. Pak Dandi pun sudah pulang dari Kantor Desa, menunggu kedatangan Dion untuk bicara.


"Gimana Yon, gimana reaksi Bintang tadi sampe sana?"


"Dion sempet kawatir Bintang sediu, syukur dia seneng sama hadiahnya sampe gak peduli Dion pamit pulang Pak."


Pak Dandi terkekeh.


"Nanti Bintang bakal sering Bapak liat, kalian pergi aja gak usah mikirin yg disini. Habiskan dulu waktu berdua baru pulang, pokoknya apa yg kurang untuk rumah di beli terutama kebutuhan Bintang."


Dion menggangguk,


"Kalau gitu Dion cek persiapan Lian dulu Pak sambil siap-siap."


"Jangan lupa Mas Mbak mu di belikan oleh-oleh Yon, Bapak titip salam buat mereka."


Dion masuk ke kamar melihat Lian duduk di ujung ranjang dengan mata sembab.


"Yank! Kamu kenapa?" Dion sontak panik.


"Gak apa-apa Mas, cuma kepikiran Bintang tadi. Pertama kalinya Lian Bakal berpisah jauh sama Bintang."


Air mata Lian semakin mengalir, walau sebisa mungkin menahan suaranya yg sesegukan.


"Kamu gak usah kawatir, Bintang tadi seneng banget dapet kejutan Tv di sana. Langsung sorak kesenengan, Mas juga sempet kepikiran soalnya Bintang kayak ngambek awalnya. Tapi begitu lihat Tv sama mainan langsung ketawa. syukur Mas udah antisipasi."


"Beneran Mas?"


"Iya sayank...Terus satu lagi, Bintang mau manggil Mas Ayah, sampe deg-degkan Mas."


"Serius Mas!"


"Iya... Mas gak bohong."


"Alhamdulillah akhirnya." Lian tersenyum bahagia.


"Yaudah makanya kamu gak usah sedih, lagian kita paling lama cuma seminggu disana begitu semua selesai langsung pulang "


Lian mengangguk, hatinya kembali tenang.


"Kamu siap-siap ya Mas mandi dulu, sejam lagi kita berangkat."

__ADS_1


Lian mengangguk lagi.


****


Setelah menghabiskan waktu kurang dari 1 setengah jam di pesawat Dion dan Lian sampai di Bandara Sukarno-Hatta kedatangan mereka pun telah di sambut oleh Mas Doni yg sudah menunggu untuk menjemput.


"Mas Doni," Lian langsung mencium tangan Kaka iparnya itu.


"Pasti capek kan, ayok langsung aja Mbak mu Aulia juga udah dari tadi sibuk masak, gak sabar nungguin kalian datang."


Lian mengangguk dan mengikuti langkah kedua laki-laki yg terikat hubungan darah itu. Dion tak banyak bicara, tapi memang begitulah hubungan Kaka beradik itu, Dion yg cenderung cuek dan Kakak laki-lakinya yg sangat ramah.


Lian hanya melihat ke luar jendela mobil, kota yg baru pertama kali ia datangi seumur hidupnya. 1 jam lebih dari Bandara ke Kebayoran baru, Jakarta Selatan. Bersyukur tidak banyak titik kemacetan, mereka pun sampai ke perumahan elite yg cukup ternama disana.


Mata Lian tak bisa berhenti menatap rumah yg akan di masukinya, Melihat rumah perkampungan yg dimiliki orang-orang kaya disana saja Lian sudah merasa takjub. Melihat rumah yg di huni oleh Mas Doni dan istrinya terlalu besar untuk di huni 2 orang saja.


"Ayok Yank," Panggil Dion mengajak istrinya masuk.


Lian yg tersadar langsung mengikuti langkah suaminya, baru masuk langsung di sambut oleh Mbah Aulia dengan sambutan hangat langsung memeluknya.


"Liaaaaannnn, Mba udah kangen banget. Akhirnya Dion ngajak kamu kesini lebih cepet dari perkiraan Mba."


"Iya Mba... Alhamdulillah Lian bisa kerumah Mba, MasyaAllah kayak istana."


Dion tersenyum dan menggaruk kepala melihat sikap polos istrinya.


"Mana ada istana kayak gini Lian... Lian..." Ucap Mba Aulia.


Mba Aulia pun mengajak adik iparnya itu masuk ke dalam rumah.


"Yuk makan dulu... Pasti udah kelaparan di jalan. Mba sengaja masak biar kalian langsung kerumah gak mampir di jalan."


Sesampainya di meja makan mereka di sambut berbagai hidangan yg menggiurkan mata untuk segera di santap.


"Mba bikin rendang?" Ujar Dion sumringah.


"Iya tu kesukaan kamu." Saut Mba Aulia.


"Mba Aulia ni asli padang Yank, Rendang bikinan Mba Paling juara."


Lian mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Sedang Mba Aulia membisikan sesuatu ke telinga suaminya.


"Udah panggil Yank sekarang." Bisik Mbak Aulia pada Mas Doni.


Mas Doni pun memalingkan wajah, tak bisa menahan senyum gelinya menyaksikan adik satu-satunya itu tertangkap bersikap manis pada istrinya.


Mas Doni tau betul siapa Dion, sangat dingin pada perempuan. Sempat beberapa kali di perkenalkan pada kerabat dan teman dari Mba Aulia Dion bahkan tidak merespon sama sekali.


Mba Aulia bahkan sempat berfikir kalau Dion tak akan menikah karna sama sekali tak pernah mengajak gadis mana pun kerumah.


"Ayok dimakan, di kenyangin Yon kalau kangen masakan Mba." Ucapan Mba Aulia memecah suasana.


Mereka pun menjamu makan malam dengan saling membicarakan beberapa hal dan memutuskan langsung istrirahat setelah makan.

__ADS_1


__ADS_2