
"Karena hati tidak perlu memilih, ia tau kemana harus berlabuh."
Jangan pernah mencari kemana cinta bisa di dapatkan, karna saat ia datang cinta tak pernah memberi tanda atau isyarat.
Jangan pernah berkata cinta itu mudah di dapatkan, karna seluruh waktu dan uang yg kau keluarkan tidak bisa mendatangkan sebuah hati yg penuh dengan ketulusan.
Dion melingkarkan tangannya ketubuh Lian, setelah lama menatap tubuh kecil yg memunggunginya itu.
Hanya angan-angan kecil yg menggelayuti hatinya.
"Bisakah sampai tua bersamanya?"
sekejap Dion ingin menganggu istrinya, tapi juga iba pasti Lian sangat lelah.
Pagi mulai bergumul dengan sinar mentari, Dion gelisah ingin mencumbu perempuan yg sedang pulas terlelap itu. Memain-mainkan ujung rambut dan terkadang mengecup bahu istrinya.
"Kamu tidur pules gini aja aku udah kesepian, gimana sampai gak melihat kamu ada disamping ku yank... Bangun dong aku kangen." Ucap Dion tak menentu.
Lian yg samar-samar mendengar suara pun terbangun, ingin bergerak tapi tertahan tangan besar yg memeluknya.
"Mas...?"
Dion langsung sumringah, melepas tangannya membiarkan istrinya bergerak.
Lian akhirnya bisa membalikan badan menatap kearah suaminya. Masih sulit membuka mata, rasa kantuknya sangat berat.
"Masih ngantuk?" Tanya Dion.
Lian mengangguk pelan.
"Capek ya?"
Lian mengangguk lagi.
"Jam berapa ?" Tanya Lian dengan suara khas bangun tidur.
" Masih jam 8..."
"Mba Aulia belum bangun?"
"Belum ada yg bangun kecuali Mas,"
"Mas kok udah bangun? gak capek?"
Dion mengeleng, mengulurkan tangannya ke dalam tengkuk istrinya menggeser badan mereka agak lebih dekat saling bersentuhan.
"Kalau masih ngantuk sini tidur di pelukan Mas, jangan munggungin Mas lagi. Mas pusing banget gak bisa liat wajah istri Mas."
__ADS_1
Lian tersenyum, menyenderkan kepala pada bahu suaminya lantas Dion langsung mengecup dahi istrinya itu. Mendekap lebih kencang seperti takut kehilangan.
"Jangan pernah tinggalin Mas ya?"
"Lian mengangguk." Menikmati kelembutan yg di suguhkan oleh lelaki yg sudah meluluhkan hatinya itu.
Lian merasa ada yg menengang dan menyentuh pahanya.
"Mas!!!" Sontak ia pun bergerak mundur.
Dion terkekeh geli, tapi tak membiarkan istrinya itu menjauh darinya malah semakin mengeratkan perlukannya.
"Jangan menghindar, lagian Mas belum mau makan kamu. Kalau berdiri gitu tandanya Mas lelaki normal, dia pengen kenalan sama kamu."
Wajah Lian merona bersembunyi di balik dada suaminya. Dion tau betul sikap malu istrinya itu, dan semakin semangat menjahilinya.
****
Setelah sarapan dan bersiap mereka beserta Mas Doni dan Mba Aulia pun berangkat menuju rumah yg akan di huni oleh pasangan baru itu. Hanya berjarak 15 menit perjalanan karna mereka sampai kerumah yg di tuju.
Lian turun dan terkejut menatap rumah berlantai 2 yg berdiri megah di hadapannya.
"Suprise!!!" Ucap Dion.
"Ini rumah kita Mas?" Ucap Lian masih tak percaya.
"Iya, Mas sengaja gak ngasih tau gimana modelnya buat ngasih kejutan ke kamu." Jelas Dion pada istrinya.
"Sebernarnya Mba ragu Dion masrahin ke Mba nyari rumah buat kalian, tapi Mba coba dan ternyata Dion suka. Cuma di renov dikit beberapa bagian, sukurnya ini rumah masih termasuk baru. Penghuni yang dulu harus pindah keluar negri."
"Lian nggak ngerti apa-ap soal rumah Mba, ini udah luar biasa untuk Lian. Makasih Mas Doni dan Mba Aulia sudah mau repot ngurusin rumah buat kami."
"Mba malah senang kalian mau ngerepoti Mba, besok dan seterusnya selalu ya repotin Mba. Mba seneng Dion dan Lian mau tinggal di Jakarta."
"Iya Mba..." Lian tersenyum.
"Ayok masuk, mau berdiri sampai kapan ini disini!?" Ucap Mas Doni.
Semua terkekeh dan berjalan bersama menuju ke dalam rumah dengan gaya semi minimalis itu.
Mereka berkeliling, Mba Aulia sesekali menjelaskan desain bak tour guide. Lian tak berhenti terpukau dan semakin bertanya-tanya dalam hati seberapa kan kekayaan keluarga suaminya. Berbanding terbalik dari rumahnya serba seserhana rumah yg akan di tempati olehnya ini sangat-sangat di luar ekspektasinya.
Setelah berkeliling mereka pun duduk di sofa ruang tengah di desain dengan estetik dan simpel.
"Jadi Mba milih fornitur yg sesimpel mungkin, Mba sesuaikan dengan selera Lian yg simpel-simpel. Soal Kamar Mba gak terlalu banyak dekorasi jadi kalian aja nanti yg tentuin modelnya gimana... Oke?"
Dion dan Lian kompak mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
"Yon? Ini kalau di hitung Mbak Mu bisa besar ni bayarannya?" Celetuk Mas Doni.
"Amaann Mba mau apa? Tas? nanti Dion transfer." Jawab Dion dengan sombong.
Mba Aulia terkekeh,
"Hadiahnya cepet bawa Bintang kemari aja deh, gak sabar Mba tu."
"Setelah pulang dari sini secepatnya kami bawa Bintang Mba." Jawab Lian.
"Oh iya, Mba juga udah cari-cari sekolah bagus buat Bintang... Nanti kalian Mba kirim E-mail buat kalian lihat ya, ada 2 sekolah yg Mba kira bakal cocok Buat Bintang. Jadi kalian selaku orang tua aja yg pilih mana bagusnya."
"Makasih banyak ya Mba." Ucap Dion pada kakak Iparnya itu.
"Oh ya Yon, Tugas Mas sama Mba udah selesai. Ini kuncinya, Bapak sebenarnya tranfer banyak sama Mas tapi Mas cuma pake separuh itung-itung hadiah pernikahan Mas dan Mba mu untuk kalian. Sisanya Sudah Mas tranfer ke rekening mu, Mas juga mau ingatkan pesan Bapak. Sering ke kantor entah kamu mau iseng atau belajar, hitung-hitung cari pengalaman. Mas kira ucapan Bapak ada benarnya kamu sudah punya keluarga sekarang kamu harus lebih serius lagi menata masa depan."
"Baik Mas, setelah pindah kesini Dion bakal ke kantor. Ada hal lain juga mengenai Bisnis Dion yg butuh saran Mas. Mas sudah berhasil ngembangin Bisnis Bapak, kalau ada waktu Dion ingin jelaskan tentang Bisnis Dion."
"Tentu, tentu Mas senang kalau kamu sudah pikiran ke arah itu. Kalau Bisnis mu itu bagus nanti bisa kita kembangkan bersama, Mas tau kalau kamu gak minat di perusahaan. Kalau kamu sudah punya Bisnis yg menurut mu sesuai dengan taste kamu, Mas dukung 100%."
"Makasih Mas," Dion senang.
"Kalau gitu Mba sama Mas mu kerja dulu ya, Mba harus ke Butik. Kalian seneng-seneng disini, Mba juga gak mau ganggu pengantin baru hihihi." Ejek Mba Aulia.
"Apaan sih Mba?"
"Alah Mba tau kok, kalian mau sekalian Honeymoon kan?" Tambah Mbak Aulia.
Dion dan Lian tersipu.
"Yon, Nanti Mba kirim ya ke wa mana hotel yg keren." Ucap Mba Aulia sambil mengedipkan mata.
Terbaca sudah rencana seorang Dion, wajah Dion sontak memerah.
"Yaudah Mas pergi dulu ya?" Ucap Mas dion sambil menahan senyum.
"Oh iya, nanti Mba kirim mobil kesini kalian yg semangat ya bikin adik Bintang!!! Dahh!!"
Wajah Lian main memerah, menatap kearah Dion yg juga melirik kearahnya .
Setelah Mba Aulia dan Mas Doni pergi, suana di rumah baru itu pun menjadi canggung. Dion yg malu rencananya terbongkar jadi salah tingkah.
"Dasar Mba Aulia, kebiasaan mulutnya!" Ucap Dion kesal.
"Hmm rumahnya juga sudah bersih Mas, Lian gak tau mau ngapain?"
Dion melihat ke arah istrinya dengan pandangan nakal.
__ADS_1
"Ayok nurut kata Mba Aulia, kita bikin adek Bintang?" Ucap Dion dengan nada merayu.
"Masss....!?" Wajah Lian semakin merah.