
Lian tak mengatakan apapun sedari tadi, baik di mobil dan setelah sampai langsung masuk kekamarnya. Dion hanya diam dan memperhatikan tingkah laku istrinya. Dion masih menduga-duga apa yang ada dalam pikiran sang istri setelah bertemu dengan Tata dan Zack.
"Kalau gak enak badan ayo kita ke Rumah sakit, wajah mu kelihatan makin pucat yank." Suara Dion memecah kebisuan.
"Lian beneran gak sakit Mas."
Lian yang tadinya berbaring di peraduan langsung duduk menghadapi tatapan cemas sang suami.
"Terus kenapa? Cerita dong sama Mas?"
Dion yang sedari tadi menyederkan punggungnya di bangku kamar, menghampiri sang istri dan duduk mendampinginya.
Lian langsung memeluk Dion, merebahkan kepalanya pada pundak sang suami. Dion membalas pelukan istrinya, mengusap usap punggung dan menciumi tengkuk favoritnya itu. Wangi sang istri membuatnya merasa nyaman.
"Lian cuma sedikit cemas tadi, fikiran Lian entah kemana-mana."
"Cemas kenapa? Apa yang membuat bidadari ku ini sampai pucat begini? Tadi kita begitu senangnya semangat karna mau jalan-jalan dan belanja. Apa karna bertemu Tata dan pacarnya?"
Lian melepas pelukannya dan menatap ke wajah Dion.
"Apa pacar Tata tadi Ayah kandung Bintang ya Mas?"
Bulir-bulir air mata menetes satu persatu dari mata sendu Lian.
"Kalau ia, berarti ucapan Tata yang akan membawa Bintang mungkin karna Ayahnya sudah ingin bertemu Bintang."
Lian menutup wajahnya dan menangis sesegukan.
Dion langsung memeluk Lian dengan erat, "Hey, kenapa berfikir sampai jauh begitu?"
"Lian cuma ketakutan Mas, kekhawatiran Lian yang berandai andai Lian hanya bisa pasrah saat Tata dan Ayah biologis Bintang datang mengambil Bintang. Rasanya sakit sekali Mas hati Lian."
"Kamu cemas tanpa alasan, kalau benar dia Ayah biologis Bintang maka Mas akan meninju mukanya terlebih dahulu. Laki-laki tak tau malu kalau ia benar-benar datang dan mengambil Bintang maka ia harus langkahi mayat Mas dulu."
"Mas kenapa bilang begitu... Jangan ucapkan kata-kata yang gak baik begitu Mas."
Dion menarik wajah Lian,
"Lian, sejak Bintang lahir sampai sekarang apakah laki-laki itu pernah muncul?"
Lian menggeleng.
"Dari awal dia tak pernah bertanggung jawab ataupun sekali saja ingin melihat bagaimana wajah anaknya? Maka dia gak berhak atas Bintang sama sekali. Dia hanya laki-laki pengecut dan tak bertanggung jawab."
__ADS_1
Tangis Lian mereda, menarik nafas panjang mencoba mengontrol emosinya.
"Lian, sekarang Lian punya Mas. Mas akan melakukan apa saja demi kamu dan Bintang. Bahkan Tata pun tak akan bisa merebut Bintang dari kita, Mas pastikan itu."
"Mas itu..."Lian tampak tak setuju.
"Sttt... Kamu percaya saja sama Mas, Mas tau yang terbaik buat kita semua sayank."
Lian tak menjawab lagi ucapan sang suami, memeluk Dion mencari kehangatan yang menenangkannya.
****
Dion berajak dari peraduan saat memastikan Lian sudah pulas tertidur, di selimutinya wanita yang menjadi tujuan hidupnya kini itu.
Ia beranjak ke ruang kerja, membuka beberapa e-mail, mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Bukti sudah cukup terkumpul, langsung unggah saja."
"Tapi Bos tau kita akan berhadapan dengan siapa kalau kasus itu pecah."
"Aku tak peduli, Zack sendiri yang sudah main api. Kita hanya perlu memercikan sedikit minyak, sisanya kalau itu terbakar dan merembet kemana mana tujuan ku hanya membakar hidup satu wanita saja. Aku mau semuanya tetang wanita itu harus terblow up ke media. Sedetail- detailnya."
" Baik Boss!"
Dion mematikan ponselnya, keinginannya setelah betindak jauh seperti ini hanya ingin membuka lebar mata wanita yang ia cintai supaya melihat sisi yang sebenarnya dari adik yang di bangga-banggakan oleh keluarganya.
****
"Kenapa kamu gak pernah cerita tentang keluarga mu?"
"Kenapa juga kamu harus tau??"
"Kenapa aku harus tau kata mu?"
"Ya??? Kenapa Zack? Aku kan cuma simpanan kamu? Apa aku harus berharap lebih untuk sesuatu yang akan meninggalkan aku juga nantinya?"
"Apa maksud ucapan mu Ta???"
"Apa ini cinta apa ini bukan, Faktanya kamu adalah suami orang!! Aku juga harus sadar diri Zack! Aku juga mati-matian menutupi kehidupan ku yang begini di mata keluarga ku. Aku juga punya keluarga, bukan kamu saja!"
" Kamu menyalahkan aku Ta?"
" Aku?? Aku menyalahkan mu? Kamu yang main api Zack, tapi aku bisa apa aku gak bisa menolak perasaan ini karna aku butuh sosok lelaki yang mengerti aku. Kamu adalah orang yang memahami ku Zack, yang menerima diri ku apa adanya. Makanya aku bertahan sampai sejauh ini walau aku tau resikonya."
__ADS_1
Tata memainkan air matanya mengaduk-aduk perasaan seorang Zack Moreno.
"Please baby jangan menangis, aku hanya gugup kalau-kalau keluarga mu meminta lebih. Aku juga takut kalau mereka mengenali ku dan hubungan kita tercium media, walau aku bukan seorang artis terkenal di dunia entertain pasti tidak sedikit juga yang mengenaliku. Kalau kita ketahuan aku pasti hancur sehancurnya, segala bisnis ku juga pasti runtuh. Aku baru akan mandiri dan itu rasanya sulit sekali."
" Aku mencintaimu Zack!"
"Aku juga My Tata.. My Love.."
Zack menarik dagu Tata, mencium dan menarik tubuh wanita yang di gilainya kepelukannya. Seakan candu yang tak bisa ia singkirkan, tubuh Tata adalah madu sekaligus racun baginya.
Tata melegus panjang saat bibir Zack mulai menari di leher jenjangnya, tangan kekar itu mulai memainkan seninya dalam bercinta. Tata hanya mengikuti alurnya, ia tau Zack akan luluh padanya.
Zack semakin menuntut, menarik paksa tubuh sintal kekasihnya ke atas sofa mendudukan diatas pankuannya menarik dan mengangkat bagian belakang tubuh kekasihnya itu mengikuti ritme yang semakin cepat. Tatapun melakukan keahliannya mende*ah dengan manja, suaranya mengikuti ritme dan di ciptakan oleh Zack, membuat nafsu seorang Zack semakin memburu menuju *******.
setelah bersimbah keringat, mereka pun kelelahan dan Zack memutuskan untuk tidak pulang.
****
"Sepertinya Tuan tidak pulang nyonya?"
Risa tersenyum getir membaca pesan dari fredy.
"Trimakasih Fred."
"Ya, nyonya."
Risa menarik nafas dengan kencang, menghembuskannya dengan perlahan harap dengan itu emosinya sedikit berkurang.
"Mamii..." Suara Chiko anak pertamanya bersama Zack datang menghampiri.
"Ya honey."
" When my dad coming home?"
" Your Daddy is still working honey!"
"Yes of course, but when exactly is he coming home?"
"Your dad will come home when the work is done, honey."
"Hmm, okey!" Chiko menekuk wajahnya dan undur pergi.
Risa tentu tau bagaimana perasaan Chiko anaknya yang tahun ini genap berusia 11 tahun itu, hatinya pun teriris melihat kerinduan dari anak-anaknya. Chiko sudah mulai mengerti sangat sering ia terlihat diam dan sedih. Sedangkan Zio yang masih 8 tahun walau sering bertanya mengapa Daddynya semakin jarang pulang Zio masih mudah di bujuk.
__ADS_1
Keragu-raguan silih berganti melanda perasaan Risa, adakalanya ia ingin balas dendam dan merusak reputasi suaminya sampai hancur dan meninggalkannya. Tapi saat melihat anak-anaknya merindukan sang Ayah hatinya pun melemah selemah-lemahnya.
****