
"Yang Mas denger itu ada benernya kok, Lian memang serakah. Lian pengen meringankan beban Bapak dan pengen ngasih Bintang Bapak juga. Lian bukan orang baik maaf mas."
"Mas berfikir Lian menikahi Mas hanya karna uang, Maaf kalau salah menilai Lian dan keluarga."
"Maafin Lian dan keluarga Mas, Lian cuma gak bisa bantu Bapak dengan cara lain. Bapak sudah tua dan banyak tanggungan, mungkin ini cara terbaik Lian untuk balas budi. Lian cuma anak angkat Lian harus tau caranya berterimakasih. Lian minta maaf kalau sudah memanfaatkan kebaikan Mas dan Bapak."
Dion terkejut mendengar pengakuan Lian yg seorang anak angkat. Dion semakin bersalah telah menaruh prasangka buruk pada istrinya.
"Mas yg bersalah karna gak langsung bertanya padamu dan percaya sama omongan orang, pasti berat juga untuk mu menerima pernikahan ini. Maaf Mas salah sikap."
"Mas gak salah kok, dari dulu Lian udah biasa mendengar rumor yg gak enak tentang Lian dan keluarga. Wajar tuk kita yg baru kenal saling mencurigai, Lian juga pernah ketakutan sama Mas. Tapi alhamdulilah Mas ternyata baik trus sayang sama Bintang."
"Takut kenapa? karna dengar mas begajulan ya?"
"Gak kok, gak gitu maksud Lian cuma pikiran Lian aja. Pas pertama liat mas ternyata wajahnya gak senyeremin itu, malah ganteng."
Dion sontak tersipu menutup wajahnya dengan satu telapak tangan.
"Kamu ini Lian, jangan sering bilang gitu bahaya."
"Eh, Bahaya gimana Mas? Lian salah ngomong ya?"
"Memangnya Mas seganteng itu?" Ucap Dion menimpali.
Lian tersipu, lalu mengangguk.
"Mas Dion, memang ganteng." Ucap Lian polos.
"Eh? kamu ?" Lion menatap tajam ke arah Dion.
"Kan Lian jawab jujur mas." Ucap Lian sambil terkekeh.
" Hmmm ternyata gitu ya aslinya karna mas ganteng??"
"Ya gak begitu juga Mas, kelihatan Mas Dion itu juga Baik. Lian gak pernah salah kalau menilai orang."
"Ganteng, Baik? Kamu jadi pinter ngerayu ya?"
"Eh??? bukan gitu!"
"memang gitu?"
"Gak Mas, kan mas yg tanya tadi!"
"Iya.. iya..." Ucap Dion dengan mimik mengejek.
Lian dan Dion pun terkekeh.
****
Jam menunjukan arah ke angka 10 malam, sepasang suami istri itu saling gelisah tak bisa tidur. Baik Lian dan Dion saling tak nyaman dengan ranjang mereka malam ini, Dion yang biasanya mencoba acuh tak acuh menanggapi istrinya yg tengah tidur sekarang seakan gelisah seperti ada gejolak dalam dirinya yg membuat ia tak tenang.
Demikian pun Lian yg masih tak percaya sikap suaminya yg seakan dingin dan tak pernah menunjukan kepedulian padannya tiba-tiba hari ini seperti lumer dan hangat, ya! ia baru merasa begitu canggung malam ini. Seperti saat awal awal setelah menikah di rumahnya, begitu serba salah dan kikuk di tambah lagi Bintang tidak ada di sebelahnya.
"Belum tidur?" Ucap Dion memecah keheningan.
"Belum..." Balas Lian yg cepat menanggapi.
__ADS_1
Kedua pasutri itu pun saling membalik badan yg tadinya saling memunggungi. Saling menatap, kadang juga tampak canggung dan melempar pandangan ke segala arah.
"Kenapa karna gak ada Bintang?"
"Gak juga... Bintang pasti lagi kangen kangenan sama Mbahnya udah lama gak tidur disana. Mas sendiri kok belum tidur?"
"Entahlah, jadi salah tingkah."
"Eh? kok sama!" Mata Lian pun langsung berpejar menatap Dion.
Dion langsung tersenyum.
"Kamu masih semangat gini, gak kelihatan ngantuk."
Lian membalas nyengir.
"Gak tau biasanya gak mikir apa apa langsung tidur, malam ini kok rasanya kepala Lian penuh banyak yg di pikirin."
"Emang mikirin apa?" tanya Dion.
" Banyak!"
"Salah satunya?" Dion penasaran.
"Hmmm... Pengen tau Mas Dion itu gimana aslinya? selama ini kan kebanyakan diem, ramahnya cuma sama Bintang. Trus, ngebayangin gimana ya kedepannya hubungan kita. Eh tiba tiba jadi deg degkan sendiri abis mikir begitu." Jelas Lian sambil membuang pandanganya, seutas senyum pun menjadi akhir dari kalimatnya.
Dion yg menghikmati semua ucapan Lian pun tiba tiba mengambil inisiatif meraih wajah Lian dan mendekati wanita yg sudah menjadi istrinya itu.
"Makin deg degkan gak kalau Mas sedekat ini?"
"Ma...Mas kedeketan!" Lian sontak menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Emang kenapa?"
"Lian malu."
Dion menarik kedua tangan istrinya, menyibak wajah yg merah merona itu.
"Kok malu?" Dion semakin semangat menjahili istrinya.
"Kan gak pernah sedeket ini Mas?"
"Mas kangen sama Lian, pengen deket pengen ngelakuin hal yg lebih sama Lian."
Jantung Lian seperti semakin terpompa mendengar ucapan yg setengah ia tak mengerti itu.
"Boleh Mas cium Lian?"
Lian membelalakan mata tak tau harus menjawab apa, ia tau hari ini pasti datang dan ia harus siap.
Karna Lian yg tak menjawab Dion langsung mengecup bibir yg tampak mulai mengoda hasratnya. Tubuh Lian seperti membatu, tak bisa bergerak semua terasa lemas tak bertenaga. Dion tak bisa berhenti dan terus memangut bibir yg tak melawan itu.
"Lian!!!!" Bentak Dion yg lansung menghentikan lumatannya.
"Bernapass!!!!!" Wajah Dion sontak panik karna melihat tersadar istrinya yg tak bergerak sama sekali.
"Haaaaaaaaahhhhhhh" Lian Sontak mengambil nafas panjang, seperti baru saja kehilangan nyawa.
__ADS_1
"Lian, kamu belum pernah ciuman??"
"........" Suara Lian tercekat pandangannya pun terlihat kosong.
Dion tak menyangka melihat ekpresi wajah Lian yg begitu tampak pucat dan sangat terkejut.
"Baru.. per, pertama kali...!" Ucap Lian sedikit gemetaran.
"Kamu dulu gak di perkosa kan, apa ini karna trauma mu?"
Wajah Dion sangat panik entah apa yg difikirkannya sampai kalimat itu terlontar, ia sontak bangkit dan menatap Lian penuh kepanikan.
"Gak mas, Lian gak pernah di perkosa!!!!" Jawab Lian sontak terkejut mendengar ucapan suaminya dan ikut bangkit dari pembaringannya.
"Tapi tubuh mu menjelaskan hal yg berbeda?"
"Demi Tuhan Mas! mengapa pikiran Mas sejauh itu! Apa karna Lian belum pernah ciuman? Ya, Lian akui belum pernah! Bahkan Lian belum pernah di sentuh laki-laki!!" tegas Lian sangat gugup.
Dion semakin shock mendengar ucapan yg keluar dari mulut istrinya. Lian pun yg baru menyadari ucapan dari mulutnya pun panik.
"Bukan, maksud Lian..." Lian begitu panik sampai tak bisa meneruskan ucapannya.
"Maksud kamu apa?? Pasti ada yg sesuatu kan yg kamu tutupi dengan Mas? Lian jawab Mas. Apa???? Apa...???
Mas dulu pernah begitu bangsat sampai tau mana perempuan yg pernah dan tidak, kamu begitu bodoh sampai tak tau cara ciuman. Jelaskan bagaimana sampai kamu hamil??
Tubuh Lian gemetaran, tangannya menutupi wajahnya karna gugup yg terlalu besar.
"Lian,Lian gak pernah hamil Mas!!!" Ucap Lian sambil terisak.
Dion semakin tak habis pikir, dan semakin tak mengerti apa yg sudah terjadi hingga Bintang ada di dunia ini.
"Maksud kamu apa Lian! Mas gak ngerti sama sekali."
"Bintang... Bintang bukan anak biologis Lian, Lian gak pernah melahirkan Bintang...!! Jawab Lian sambil terisak isak.
"Jadi Bintang anak siapa???"
"Bintang anak Tata,"
"Tata adik kamu!!!!!???" Dion tak percaya.
Lian menggangguk tak kuasa menjawab.
Dion berusaha mencerna informasi yg tiba tiba begitu mengejutkannya.
"Tata masih kuliah dan dihamili oleh pacarnya, Bapak meminta Lian ke Bandung selama Tata hamil besar sampai akhirnya Bintang lahir, dan Lian lah yg menjadi ibu Bintang. Tata harus meneruskan kuliahnya." Lian berusaha menjelaskan apa yg terjadi sambil terisak.
"****!!!!!!!!!" Dion bertambah shock.
"Lian gak pernah berhubungan sama lelaki manapun Mas, gak pernah." Tangis Lian semakin menjadi, ia singkat berfikir Dion mempertanyakan harga dirinya.
Dion lantas memeluk Lian,
"Bukan itu maksud Mas, Mas tau... Mas tau, hanya dengan satu ciuman Mas tau Lian masih bersih, istri Mas masih suci. Mas tau, Mas hanya bertanya-tanya mengapa perempuan yg bahkan kesulitan saat berciuman bisa punya anak. Mas gak menuduh Lian di perkosa, Mas hanya takut itu yg terjadi.."
Lian menangis semakin menjadi bebannya dan segala rahasianya yg ia simpan terlepas begitu saja, ia ketakutan dan sekaligus merasa lega.
__ADS_1