
"Zack aku kangen!!"
"Aku juga Honey!!!"
Sepasang kekasih gelap itu saling bercumbu melepas hasrat yg sudah mereka tunda karna sulitnya untuk bertemu.
"Tau gak susahnya mencari alasan tuk bisa ketemu kamu honey." Ujar Zack sambil meraba tubuh selingkuhannya itu.
"Kita makin susah ketemu, jangan-jangan sekarang kamu lebih berat keistri mu Zack!" Tata mendorong tubuh Zack.
"Mana mungkin honey... Kamu tau Marisha gak bisa muasin aku kayak servis kamu ke aku. Marisha gak sebanding dengan kamu."
"Tapi aku juga butuh perhatian kamu Zack, beberapa hari ini aku sepi banget!"
Zack meraih pinggang Tata menariknya lebih dekat ke sisinya.
"Aku tau honey, harus gimana? Aku masih hidup di bawah tekanan keluarga Marisha, kalau ketauan selingkuh bukan hanya kehilangan jabatan tapi aku bakal jatuh miskin. Sekarang aku lagi ngumpulin uang sampai saat aku bisa mandiri, aku bakal cerai dari Marisha."
"Dasar laki gak guna!!!" Umpat Tata dalam hati.
"Aku ngerti kok Zack, cuma aku mulai boring aja di kost sempit itu. Kamu taukan sekarang barang aku makin banyak, kost itu bikin aku begah gak betah. Jadi pengennya ada hiburan, cepet bete pengen sama kamu terus."
"Bilang dong honey.. Aku bakal carikan apartemen buat kamu, apartemen yg dekat buat kita ketemuan juga."
"Beneran Zack???"
"Ia dong honey.... Pacar aku gak boleh susah hidupnya. Selama masih ada aku, kamu pasti terjamin."
Tata langsung memeluk Zack.
"Aauu so sweet Zack... kamu kayak malaikat di kehidupan aku."
"Kamu juga Honey, kamu tempat melepas segala masalah aku. Semua stres ku hilang kalau ketemu sama kamu."
Tata langsung ******* bibir Zack, bayangan mempunyai apartemen membuatnya bergairah, tak ingin kalah Zack pun membalas hingga mereka terhanyut dalam Nafsu yg terlarang.
Zack Moreno awalnya seorang model dengan tampang rupawan, menikah dengan Marisha Tanuwijaya seorang anak dari pemilik perusahaan retail terbesar. Dengan mendompleng keluarga istrinya Zack pun berhak ikut serta menjalankan perusahaan menjadi seorang direktur di sebuah cabang di Jakarta.
Sebagai seorang model yg hanya mengandalkan tampang untuk menikah dengan seorang Marisha Tanuwijaya, di dalam perusahaan ia hanya sebagai Direktur boneka agar orang tak memandang rendah keluarga Tanuwijaya, Zack dianggap tak mampu dan tak cakap dalam berbisnis, keluarga Tanuwijaya hanya menghargai hati putri mereka.
Marisha sangat mencintai Zack, mereka sudah di hadiahi 2 orang putra. Tapi Zack sama sekali tak merasa bahagia akan pernikahannya, Marisha yg lemah kondisinya setelah melahirkan anak kedua tak bisa lagi memuaskan Zack di ranjang, itu membuat Zack kerap ke club sampai akhirnya bertemu dengan Tata.
***
"Bin yuk bobo!"
"Bintan ndak mau bobo sama Om, Om suka peluk belat lo buk."
"Jadi gimana?"
"Bintan mau bobo sama Kakek aja boleh Buk?"
__ADS_1
"Ya boleh banget... " Sambut Pak Dandi.
"Bintang beneran gak mau bobo sama Ibuk?"
"Hmm nda mau Buk, itu... Kamal Kakek ada Tv, kamal Ibuk ndak ada."
"Hoalaah jadi karna Tv?"
"Hehe..." Bintang nyengir.
"Tadi seharian main di kamar Kakeknya betah yo Bin?" Imbuh Pak Dandi.
"He em ada Tv besaaal."
"Lah ayok kalau mau tidur sama Kakek." Ajak mertua Lian itu.
"Yok...yok Kek, tapi mau nonton dino ya Kek..."
"Lah ayok!!"
Bintang langsung berjalan mengekor kemana arah Kakeknya itu pergi. Sang Kakek pun senang malam ini ada yg menemaninya tidur.
Sesaat kemudian,
Klek! Pintu kamar terbuka mengalihkan pandangan Lian ke arah empunya suara.
"Loh,Bintang mana Yank?"
"Udah tidur di kamar kakeknya, Mas kok lama?"
"Maaf tadi ketemu Joni! temen Mas, di warung. Jadi, ngobrol sampe lupa waktu. Ni snacknya Bintang, malah udah tidur ya hehe. Eh!!! .....!!? Kok mau tidur sama kakeknya?"
"Iya, bosen nunggu Mas gak pulang-pulang keliatan ngantuk, Lian ajak tidur malah minta tidur sama Kakeknya, di kamar kakek ada Tv katanya."
"Oalah mau nonton Tv, Tvnya memang cuma satu di kamar Bapak. Kan tadinya Bapak cuma sendiri dirumah."
"Seharian kan nonton disitu jadi nagih kayaknya Mas."
"Mas cek dulu ya, mana tau gak betah biar di pindahin kesini."
Lian mengangguk.
Selang beberapa saat kemudian Dion kembali.
"Gimana Mas?" Raut wajah Lian penasaran.
"Malah Tvnya yg nontonin mereka tidur. Bapak juga udah tidur, Mas sekalian Matiin Tv, kunci pintu depan udah jam 10 jg ya.... Maaf ya Mas kelamaan ngobrol sama Joni sampe lupa snacknya Bintang."
"Yaudah gak apa-apa Mas, besok juga pasti dimakan."
Jgerrr!!!! Suara petir yg tiba menyambar disusul suara angin dan hujan, gemuruh suara hujan yg tiba tiba turun sangat deras.
__ADS_1
"Syukur Mas udah dirumah." Ucap Lian yg tengah menyusun lipatan pakaian kedalam lemari.
Dion tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Ada yg khawatir ni sama Mas?"
"Yaiyalah Mas khawatir! Kalau Mas tadi kehujanan di jalan gimana? Bisa sakit kan."
Dion yg sadar akan keadaan, mendekap istrinya dari belakang.
"Mas...?" Sontak Lian terkesiap.
"Apa...? Kan Bintang gak disini."
Wajah Lian tersipu.
"Tenang, Mas masih sabar kok. Janji Mas bakal buat saat itu akan jadi hal yg Indah pasti Mas tepatin."
"Kk..kalau Mas mau sekarang juga gak apa apa kok, Bintang juga gak disini."
"Kamu ni mulut sama hati gak sejalan."
Dion meraih tangan Lian yg gemetaran, memperlihatkan di depan mata si empunya.
"Beneran mau malam ini...?" Meledek istrinya.
"Iiiihh Mas ini..!!" Lian berbalik badan menyembunyikan wajahnya di balik dada sang suami.
"Padahal Mas tadi udah mulai tergoda lo! Tapi yg punya badan aja gak sadar kalau badannya sampe gemeteran. Gimana nanti pas waktunya tiba ni, kalau belum apa apa aja reaksi dah begini."
"Udahlah Mas, gak usah godain Lian terus. Malu!" Lian masih dalam posisinya tak berani memperlihatkan wajahnya yg sudah seperti kepiting rebus.
"Masnya coba sabar tapi istrinya model begini nempel bikin gemes, Mas minta hadiah di muka boleh lah ya kan?"
"Hadiah?" Lian mendongakan wajahkan menatap Dion dengan mimik penasaran.
"Hmm.... Mas nyicil di muka, mau ini! ini! ini!" Dion menunjuk bibir, leher dan dada istrinya.
"Sekarang!?" Lian mendadak panik, ingatan pagi itu di kamar mandi langsung tergambar. Menyaksikan bagaimana suaminya menjadi sangat tak terkendali.
"Ya! Sekarang!" Dion mengangkat Lian ke pembaringan, tak melepaskan sedikitpun tatapannya pada istrinya itu.
"Mas...Lian..." Lain masik tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.
"Tenang, Mas gak bakal bikin kamu syok lagi."
"Huuuuuffff....." Lian membuang nafasnya mencoba menenangkan dirinya, tak ingin menolak kewajiban yg memang harus ia terima.
Malam itu menjadi hal yg baru bagi seorang perempuan yg masa lalunya tak pernah punya kesempatan mengenal cinta. Malam yg menjadi sedikit lebih panjang baginya untuk bekal nanti menerima kewajiban seorang istri yg sesungguhnya.
****
__ADS_1