
Serasa tak punya pilihan Pak Har pun memutuskan menerima tawaran Pak Dandi, Pak Har mencoba berdiskusi lagi dengan istrinya.
"Bagaimana nanti pikiran Lian Pak, Lian sudah banyak mengalah demi keinginan kita..."
"Mau bagaimana lagi buk, 60jt juga bukan jumlah yg kecil tuk di dapat saat ini. Uang segitu kita buka full warteg sebulan juga dapat Buk."
"Bagaimana nanti tanggapan Lian pak? Ibuk sudah gak mau ikut bantu bicara sama Lian... Ingat dulu saking kecewanya dia sampai kabur ntah kemana sukur mau pulang, pikiran Ibuk sudah kemana mana."
"Ya kita jelaskan Buk, nanti Bapak pikirkan bagaimana caranya..."
****
"Bintang sudah tidur nduk?"
"Sudah pak, kecapean tadi main seharian jadi cepat tidurnya."
"Bapak mau bicara penting sama Lian."
"Mau bicara apa Pak?"
"Dulu Bapak pernah bilang sama Lian mau mencarikan Lian suami, Lian tau kondisi Lian dan isu yg warga tau mengenai Bintang. Bapak kesulitan mencari suami buat Lian..."
Sejenak suana menjadi hening tanpa tanggapan dari mulut Lian.
"Begini nak, ada... yg melamar Lian untuk anaknya."
Lian sontak berfokus pada wajah Bapaknya.
"Mungkin Lian sudah pernah dengar beritanya dia seperti apa, tapi aslinya anaknya baik. Bapaknya sangat kepengen Lian jadi menantunya."
__ADS_1
"Bapak kan tau Lian sedang disibukan sama Bintang, Bintang lagi membutuhkan perhatian Lian Pak. Lian rasa sekarang menikah bukan lagi fokus dalam hidupnya Lian."
Hati Lian cemas tak menentu, siapa yg tak tau isu tentang dirinya saat ini, siapa yg mau menikahinya tanpa embel embel.
"Lian Bapak mau terus terang saja, sejujurnya sedang terdesak masalah keuangan sekarang. teman Bapak itu menawarkan membantu Bapak kalau Lian mau jadi mantunya."
Deg!!!
"Lagi pak??? Lian mohon pak!!!! Cukup!!"
Lian mulai berurai air mata, tak sangka dirinya lagi lagi jadi tumbal keegoisan Bapaknya.
"Lian sudah sangat berusaha menerima Bintang benar benar seperti anak Lian sendiri, Bapak tau kan itu berat?
Awalnya Bapak bilang Bapak ibu yg merawat Bintang, tapi Lian akhirnya mengurusi semua padahal Lian tidak mengerti sama sekali cara mengurus anak.
Lian masih berusaha menerima Pak karna Kasih sayang Lian tulus untuk Bintang.
"Tapi pada akhirnya nanti Lian juga pasti menikah nduk?"
Ibu Sum menyela keluar dari kamar.
"Ibuk Lian mohon buk? Kasihab Bintang masih butuh Lian 100%"
"Lian Ibuk jg gak setuju awalnya sama Bapak, bukan Ibuk gak mengerti Lian nduk. Tapi Bapak kelilit hutang yg lumayan banyak, mau ibu pontang panting jualan di warteg juga gak bisa bayar. Adek mu Tata juga S2nya belum selesai, masih butuh biaya banyak."
"Iya nduk, dengar Ibuk mu... Calon suami mu juga orang punya kamu gak bakal susah percaya sama Bapak."
"Siapa pak yg melamar Lian...?"
__ADS_1
"Pak Kades."
"Mas Doni udah lama menikah di Jakarta pak...!" Lian bersikeras.
"Bukan, bukan Doni...Anu Dion, Dion anak yg bungsu!!"
"Dion...???"
"Iya Dion yg lama di Jakarta nduk."
"Yang isunya mantan Napi pak??" Lian memasang mimik memastikan.
Kedua paruh baya itu pun sontak bertatapan, dan mengangguk ke arah putrinya.
"Jadi Bapak ibuk mau menikahkan Lian dengan mantan Napi??"
"Kejadian itu sudah lama nduk, kata Pak kades dia di fitnah kawannya."
"Tapi pak, kok yo harus Lian...?"
"Bapak berhutangnya sama Pak Kades nduk."
"Karna Lian juga di isukan hamil di luar nikah ya Pak? Jadi yg mau cuma anak Pak Kades yg punya isu jelek juga????"
Pak Har terdiam, tak mampu menjawab ataupun menatap mata putri angkatnya itu.
"Yang legowo nduk ambil hikmahnya, nanti hidup Lian bakal seneng." Ibuk Sum mencoba menenangkan.
"Bapak Ibuk Kok tega...!!!" Tangis Lian pecah.
__ADS_1
****