Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Hilang


__ADS_3

"Buk katanya nanti ada nanggep kuda lumpin buk, Bintan mau ke sana bareng Izel."


" Siapa yg nemenin? ibuk masih mo beres beres rumah, mbah masih di warung."


"Ya sama Ibuknya Izel lah buk, mana belani anak kecil main sendili. Nanti ada culik bagaimana hayo?"


"Lah yg harus ngomong gitu kan ibuk toh Bin..!"


"hehe... Bintan duluan bial ibuk ndak capek nomongnya."


"Berarti nanti di jemput Ibuknya Izel ya?"


"Iya buk, Ibuk gak usah antel lah jemput aja nanti."


"Iya yaudah sekarang Bintang ganti baju dulu biar makin ganteng."


"Baju Muslim buk?"


"Ya bukan, kalau baju muslim tuk ngaji. Nanti dikira kamu mau kendurian."


"Kata Ibuk Bintan pake baju muslim makin ganteng..."


"Ya pake baju apa aja juga ganteng, tapi mau liat kuda lumping ya ganti baju dulu yg Bintang pake udah bau acem kan abis main."


"Tapi gak mandi kan buk, tadi udah mandi!"


"eh eh kalau soal mandi pasti paling males ya! Gak, gak cuma ganti baju biar wangi sedikit."


"Pake pewangi buk palpum kaya yg Ibuk pake."


"He eh iyaaa iyaaa bawelnya anak Ibuk."


Sebuah ciuman mendarat di pipi gembul Bintang, membuatnya mengusap usapkan tangan bermaksud menghapus.


"Udah dibilang Bintan udah besal masih cium-cium malu nanti kalo diliat Izel buk."


"Halahh wong Ibuknya Izel juga belum Ibuk telpon kok...!"


"Yaudah gak boleh cium lagi ya Buk.."


"hee eeeummm....!"


Lian menahan gemas tak kala melihat Bintang memajukan bibir.

__ADS_1


****


"Mba Lian... Bintang ku bawa yo...!!"


"Iya Mba Riri sejam lagi ku jemput ya... Itu di kantongnya ada sangu kalau-kalau rewel minta mainan."


"Ohhh iya mba...pamit ya."


"Iya mba."


Motor matic yg membawa Bintang pun mulai samar samar menghilang dari penglihatan Lian.


"Fiuuuuuhhhhh... "


Lian melepas nafas panjang, ada waktu sebentar tuknya melepas penat. Lian kurang tidur, perdebatannya tadi malam tak membuahkan hasil.


Walau iya tau ujungnya seperti apa, ia hanya ingin berusaha menyampaikan isi hatinya. Harapan tak pernah putus kepada orang tua angkatnya agar menyadari ia sangat menyayangi mereka, berharap mereka juga mendahulukan Lian seperti Tata.


"Ya Tuhan kalau ini jalan Mu, kuatkan hati ku untuk menerima... Pasti ada hal yg engkau rencanakan lebih indah nantinya."


Lian pun akhirnya bergegas tak sempat baginya terlalu berlarut apa lagi kini ia punya Bintang. Menyiapkan perkerjaan rumah yg tidak ada akhirnya, bergegas menyusul Bintang kalau-kalau nanti Bintang tidak mood di sana.


****


Mencoba berkali kali menghubungi nomor Mba Riri tapi Lian berujung kesal karna tak di angkat.


"Ini Bintang bikin rusuh kayaknya ya sampai Mba Riri gak sempat angkat telfon." Bisik Lian dalam hati.


Sedang disisi ujung gedung bocah kecil sedang berjoget joget kegirangan melihat tarian para penari.


"Weehh mantep oom nya jelek jelek di colet mukanya yakan Zel...?"


"Zel...?"


"Zel...?"


Bintang kebingungan karna Izel tak lagi di sampingnya. Langkah kecilnya mencari cari wajah yg ia kenal tapi tak kunjung ia temui.


Rasa takut pun mulai menciutkan nyalinya.


"Ibukkk....!"


"Ibuuuuuuukkkkk.... Bintan takut bukk..!!"

__ADS_1


Ia berjalan sambil menangis berharap ada yg ia kenali hingga tak sadar menabrak seseorang.


"Kok nangis mana mama mu?"


"Huaaaa.... Oom culik bukan?"


Pria yg di tabrak bocah menggemaskan itu pun tertawa geli.


"Oom bukan culik, masak tampang begini mirip culik?"


"Kata Ibuk kalau sama oran ndak di kenal nanti ada culik."


"Kita memang gak kenal, tapi oom bukan culik."


"Iya oomnya ganten ndak milip culik..."


"Nah tu tau, mau om antarkan cari Ibuk mu?"


Bintang pun lekas menurut dan berhenti menangis.


"Tadi Bintan ndak sama Ibuk, Bintan sama Izel sama Ibuk Izel."


"Oohh gitu, kita cari ya janji kamu jangan nangis."


Beberapa saat Mba Riri pun terkejut melihat Bintang tak di tempatnya tadi. Terburu buru rewelan Izel yg meminta buang air kecil Mba Riri pun hanya berkata sekenanya agar Bintang menunggu, tak menyadari Bintang mendengar atau tidak.


"Halo.... Mba Lian?"


"Iya Mba sebelah mana?"


"Aku di dekat spiker Mba Lian, cepat kemari Bintang gak tau kemana waktu ku tinggal anterin Izel pipis?"


"Walah jadi gimana mba, aku cepet kesana tunggu disitu mba!"


Lian panik sejadinya, menyesal mengapa tak ikut bareng saja tadi.


"Tadi disini mungkin dia panik gak lihat Mbak sama Izel, Lian. Udah Mba Bilang tunggu mungkin dia gak dengar."


"Ayok mba cepet kita cari mba aku ksana duluan Mba..!!!"


Lian mempercepat langkahnya menajamkan penglihatannya. Isi hatinya semeraut, Harap-harap cemas Bintang cepat di ketemukan.


****

__ADS_1


__ADS_2