
"Ini Pak kopinya..." Lian menyuguhkan kopi panas tuk mertuanya yg baru datang.
"Nduk, kok tangan kamu gemeteran?" Ucap Pak Dandi memperhatikan tangan menantunya yg memegang cangkir kopi.
Lian nampak gugup, bingung hendak menjawab apa. Baru saja jantungnya seperti ingin meledak karna ulah suaminya tiba tiba semakin ingin copot karna kedatangan mertuanya.
"Kamu sakit nduk? itu muka mu juga pucat, lah Dion mana masih tidur?"
"Eh anu udah bangun Pak, itu... Ma,Mas Dion mungkin di kamar mandi,Lian sehat sehat aja kok Pak. Mungkin karna belum sarapan." Jawab Lian agak salah tingkah.
Dion pun tampak keluar dari kamar menghampiri Bapaknya, ia tak bisa langsung keluar karna harus meredam titik hasratnya yg sempat terbangun. Lian yg melihat suaminya datang buru buru lengser ke dapur.
"Udah selesai urusan di kabupaten Pak?" Sapa Dion sambari duduk di dekat Pak Dandi.
" Alhamdulillah kelar, pengajuan dana Desa sudah tahap perampungan. Tinggal menunggu pencairan."
"Mau Dion panggilkan Pakde Seno buat mijitin Bapak, nampaknya kecapean."
"Nanti Dulu Yon Bapak mau nyantai dulu nanti lanjut tidur, pegel juga nyetir sendiri."
"Dion anter gak mau kemaren, apa aparat Desa yg lain gak ada yg mau ikut Pak biar gantian nyetir?"
"Kalau Bapak tau Pak Har sakit dan Bojo mu mau kesana ya Bapak mau, tapi gimana Bapak udah disana baru ngabarin kamu sendirian di rumah. Bapak juga mau ngurus surat surat tanah kita jadi gak bisa sehari dua hari, nanti kasian aparat Desa nungguin urusan Bapak gak selesai-selesai. Bapak ada sekalian urusan juga tranfer besar ke rekening Mas mu, biar Mas mu mecarikan rumah di Jakarta untuk kamu sama istri mu."
"Maksudnya Pak?"
"Yah, kamu disini gak ada kerjaan toh? Kamu udah nikah gak bagus juga dilihat istri dan anak mu cuma nyantai dirumah gak kerja. Disini kamu juga bingung mau kerja apa? Kalau di Jakarta kamu bisa bantu Mas mu di perusahaan, iseng iseng pun seenggaknya di perhatikan cara Mas mu kerja. Kalau suami kerja itu lebih di hormati sama istri, walau uang ada kita cukupan tapi kalau kerja wibawa mu ada sebagai suami."
Dion diam sejenak.
__ADS_1
"Tapi Bapak disini sendiri gimana?"
"Halah Yoon...Yon! Selama ini kamu buang buang uang di sana ya gak pernah tanya Bapak disini gimana?"
Dion terdiam malu mendengar ucapan Bapaknya.
"Bapak gak pernah cerita ke Lian dan keluarganya kelakuan kamu disana gimana, tapi Bapak mohon... Jaga marwah keluarga mu disana, kamu sekarang udah jadi kepala keluarga jangan begajulan lagi. Bintang juga sebentar lagi Paud, Bapak sudah suruh Mas mu tinjau dimana sekolah yg paling bagus. Pokoknya mimpi Bapak gak muluk muluk Le, cuma pengen kamu hidup yg bener."
Dion mencerna ucapan Bapaknya kali ini dengan sungguh sungguh, tak pernah sekalipun ucapan itu masuk ke dalam hatinya selama ini. Setelah menikah ia jadi mengerti pentingnya tanggung jawab, terlebih ia sudah menjadi seorang ayah walau berstatus ayah sambung.
"Maaf ya Pak kalau Dion selama ini terkesan gak peduli sama Bapak." Ucap Dion sembari tertunduk.
"Bapak senang kalau kamu sudah mulai mikirin Kondisi Bapak, kamu mulai ada kemajuan."
"Tapi nanti sebelum semua itu terlaksana Dion harus pastikan kondisi Bapak stabil kita cek up dulu, kalau gak Dion disini aja juga gak apa apa. Dibilang pengangguran juga gak apa apa." Ucap Dion tegas.
"Dion, Bapak masih bugar gini... Kamu gak usah mikir jauh-jauh. Kalau udah waktunya di panggil ya mau gimana lagi, yg perting Bapak sudah menyiapkan semua yg terbaik buat anak Bapak.
"Bapak harusnya gak usah kepikiran gosip Pak gak akan ada habisnya mudahan kami udah ikhlas udah biasa."
"Tapi kalau kalian di Jakarta pikiran Bapak jauh lebih tenang, lebih baik juga buat masa depan Bintang."
"Iya Pak iya, nanti Dion bicarakan lagi sama Lian. Yang penting Bapak sehat kami akan turuti."
"Tolong jelaskan sama istri mu pelan pelan ya!"
"Iya Pak."
"Pak, Mas... Sarapannya sudah jadi, ayok makan dulu." Suara lembut Lian memecah pembahasan serius Bapak dan anak itu.
__ADS_1
Mereka pun menjamu ucapan Lian dan berjalan menuju meja makan yg telah terisi oleh menu sarapan dan bermacam hidangan.
"Banyak betul masaknya nduk?"
"Biar Bapak semangat makannya, Bapak pasti capek nyetir sendiri."
"Perhatian sekali mantu Bapak ini, beruntungnya Bapak dikasih anak perempuan yg sayang sama orang tua begini. Dulu gak keturutan punya anak perempuan, sekalinya mantu dapet yg sayang semua sama Bapak. Bersyukur betul Bapak ini nduk."
"Yg Penting Bapak sehat terus, Lian Bakal masakin yg Bapak suka setiap hari."
"Amiiiinnn."
"Mas juga dong Lian di urusin jangan sayangnya ke Bapak aja." Ucap Dion cemberut palsu.
"Iya kan ini juga Lian masakin kesukaan Mas."
"Mana...?"
"Ini Nasi goreng..."
"Itu buat Bapak nasi uduk, buat mas nasi goreng aja? kan gampang buatnya." Dion terus mengusili istrinya.
"Nasi uduk gampang juga kok mas, kan masak nasi uduknya pake rice cooker jd cepet. Mas mau juga? ini...masih cukup untuk Mas, Biar Lian makan nasi gorengnya."
"Eh enak aja, katanya tadi nasi gorengnya buat Mas!"
"Iiiiih Mas ini... jadi mau yg manaa?" Lian mulai kesal.
"Hahahahaaa.... Udah udah biarin aja biarin dia mau apa nduk. Lian udah cepet makan, udah gemeteran tadi kan, Dion... sudah cukup ngusilin istrimu...!"
__ADS_1
Dion terkekeh tertangkap maksudnya oleh Pak Dandi, Lian terus menatap tajam ke arah Dion seperti ingin memakan suaminya saat itu juga.
"Sudah ada kemajuan juga dengan hubungan mereka." Bisik Pak Dandi di dalam hati sambil tersenyum menatap tingkah anak dan mantunya itu.