Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Rindu dan Hasrat


__ADS_3

Akhirnya ini memasuki bulan ke 2 pernikahan Dion dan Lian, rasa saling terikat mulai di rasakan Dion. Seperti saat ini istrinya minta izin menginap di rumah orang tuanya barang sehari dua hari karna Pak Har sakit, Dion mulai gelisah tak melihat Lian maupun Bintang padahal baru satu malam di lewatinya.


Dion memilih tuk pulang setelah melihat keadaan mertuanya, ia ingin Lian fokus hingga Pak Har membaik. Tapi benih-benih kerinduan sudah mulai tumbuh di hatinya, biasa kamarnya riuh akan tawa bintang dan ocehan istrinya. Tapi saat ini ia hanya bisa menatap langit-langit merasa kesepian.


Di lihatnya suasana kamar yg 90 derajat berubah setelah kedatangan Lian, hawa seorang wanita sudah memenuhi kamarnya. Kamarnya bukan kamarnya seorang diri lagi tapi sudah menjadi kamar mereka berdua.


Rasa penasaran 'ingin' pada istrinya mulai terasa sering muncul, entah beberapa kali ia tak sengaja melihat Lian keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk dengan rambut yg terurai basah.


Rasa kelakiannya kerap tak terbendung ingin merasakan tubuh istrinya seutuhnya. Tapi, lagi-lagi. Tatapan ketakutan Lian terhadapnya tak bisa di pungkiri dan bila itu terjadi Dion hanya bisa membalikan tubuh keluar dari kamar.


"Pernikahan macam apa ini?" Bisik Dion.


Setiap kali Dion tak sadar ingin mengambil keuntungan saat Lian terlelap, maka yg terbayang adalah wajah Lian yg sedang sedih hatinya pun ikut teriris. Ia terlalu takut Lian bersedih karna ulahnya, takut Lian kecewa.


Jeglek. Suara pintu terbuka.


"Mas Dion? Lian telpon gak diangkat-angkat?"


Kedatangan Lian yg tiba-tiba mengejutkannya, ia pun lantas duduk dari pembaringan.


"Lah kok udah pulang, Bapak gimana?"


"Alhamdulillah Bapak sudah turun panasnya tadi udah mau makan banyak pula, kata Ibuk Lian disuruh pulang masakin Mas dulu. Bapak Mas juga lagi pergi kan, Lian jadi kepikiran Mas makan apa? udah makan belum? mau Lian buatin apa?" Celoteh Lian sambil menaruh tas bawaannya.


Dion hanya terdiam menatap gerak gerik Lian, tersipu akan kepedulian dan perhatian yg di tujukan Lian padanya.


"Mas???"


"Hmmm.." Jawab Dion masih terpukau oleh pesona istrinya.


"Mau makan apa????"


"Eh iya maaf, apa aja asal dimasakin Lian, Mas pasti suka." Ujar Dion sembari tersadar karna pertanyaan Lian.


Wajah Lian sontak tersipu, ucapan Dion mengandung madu yg membuat hati Lian berbunga-bunga. Kalimat yg baru pertama kali ia dengar di luasnya gunung es sikap Dion padannya. Mungkin kali ini gunus es itu sedikit mencair.


"Ya..ya udah itu.. anu Lian, em.. mau, siapin dulu..." Sedikit gugup Lian jadi salah tingkah dan terbata-bata.

__ADS_1


Lian yg tak bisa menutupi rasa canggungnya cepat cepat memutar badan dan berusaha keluar dari suasana yg tiba tiba terasa kaku itu.


"Duh, kok jadi canggung banget gini sih." Bisik Dion.


Entah mengapa wajah Dion pun ikut terasa panas, baru kali ini mulutnya seringan itu berkata manis pada istrinya.Tak bisa menepis rasa senang melihat kedatangan Lian karna cemas memikirkannya. Dion pun melangkahkan ke arah Lian yg sedang asik memotong beberapa bumbu dan sayur.


"Bintang masih disana?" Tanya Dion sedikit mengejutkan Lian.


"Gak mau ikut katanya mau disana aja jagain Embah, tadi juga temennya si Izel kerumah jadi makin gak mau kesini."


"Oh ada temennya pantes, padahal udah kangen gak ada yg berisik dirumah."


"Hihi, Kan ada Lian.. eh!" Lian sontak terkejut dengan ucapannya sendiri.


Dion tersenyum menyaksikan tingkah istrinya itu tapi hanya diam menahan diri.


Beberapa saat kemudian mereka pun selesai makan siang.


"Gak keasinan kan Mas, kok agak asin ya?"


" Gak asin kok, enak banget malah." Jawab Dion dengan tersenyum.


Dion yg merasa istrinya terus mengelak, mencoba mengambil inisiatif memegang tangan Lian yg sedang mencoba menjauh darinya.


"Lian, kalau mas bilang mas kangen sama Lian gimana?"


"Eh?" Lidah Lian tercekat, terlalu terkejut untuk menanggapi.


"Mas pengen coba jadi suami yg sesungguhnya buat Lian, maaf kalau selama ini sikap Mas terlalu dingin."


"A..anu... Mas Dion, maaf... karna Lian juga belum faham gimana jadi istri yg sesungguhnya buat Mas Dion. Maaf kalau Lian terkesan selalu menghindari Mas Dion, tapi semenjak resepsi Mas banyak Diam. Lian jadi gak tau mesti gimana sama Mas Dion."


Dion menarik Lian untuk duduk di sampingnya.


"Maaf, Mas yg salah. Waktu itu Mas sempat mendengar hal yg gak enak dari orang tentang kamu. Mas bener-bener ngerasa ragu dengan pernikahan kita, tapi selama sebulan mengamati kamu sepertinya Mas yg salah."


"Mas denger apa?"

__ADS_1


"Mas denger kalau Lian mau menerima pernikahan ini karna melunasi hutang."


Lian tertunduk, pun tak bisa memungkiri apa yg di dengarnya.


****


1.Berlian (Lian) 26Thn.




Dion. 29Thn.





Bintang. 3Thn.




4.Permata (Tata). 25Thn.




Mas Doni dan Mba Aulia



__ADS_1


6.Pak Dandi.



__ADS_2