Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Sang Dewi


__ADS_3

"Kak Lian!!" Teriak Tata melihat Kakaknya yg baru datang, berjalan mendekati ke arah sosok yg sudah lama tak ia temui itu.


"Tata!!" Lian pun langsung memhampiri dan memeluk adiknya.


"Tata sehat aja kan?"


"Iya Kak, Loh mana suami Kak Lian." Ucap Tata penasaran.


"Masih parkir mobil, Kakak disuruh duluan takut kamu kelamaan nunggu."


"Oh, yaudah yuk Kak udah Tata pesenin makanan." Ajak Tata pada Kakaknya.


Kedua saudara tak sekandung itu pun menuju meja yg sudah di pesan.


" Kayaknya Tata kurusan? Lagi banyak kegiatan ya?"


"Iya Kak lagi banyak kesibukan di kampus, tolong bilang juga sama Bapak dan Ibuk bukan Tata sengaja jarang nelpon tapi memang lagi banyak tugas." Ucap Tata beralasan.


"Kamu tenang aja dek, Bapak sama Ibuk pasti ngertiin namanya kamu lagi sekolah. Walau sibuk jangan lupa jaga kesehatan ya!"


"Dek? Cih!" Umpat Tata dalam hati.


"Iya kak..." Tata tersenyum.


"Semangat ya kuliahnya Bapak, Ibuk, juga Kakak selalu mendoakan kamu cepet Lulus. Kamu kebanggaannya keluarga Ta..."


"Najis, sok perhatian! " Umpat Tata sekali lagi dalam hati.


"Doain Tata cepat lulus ya Kak."


"Pasti, selalu kakak Doain." Ucap tata sambil mengusap usap bahu Tata.


Selang berapa menit Dion pun datang.


"Maaf ya Mas lama, agak susah tadi nyari tempat." Ucap Dion yg berdiri tepat di samping istrinya Lian pun langsung menoleh dan mengangguk.


"Gak apa-apa Mas, ini Tata Mas." Lian pun langsung memperkenalkan Tata yg sedanh fokus dengan gawainya.


Dion dan Tata sama-sama terkejut,


Deg!

__ADS_1


Jantung Tata serasa di tusuk, lelaki yg berdiri tepat di samping kakaknya ini sangat ia kenal.


"Alvin?" Ucap Tata dalam hati.


"Ini suami Kakak Ta! Mas Dion?" Lian memperkenalkan.


Mereka pun berjabat tangan, tampak tergambar raut canggung dan rasa panik Tata melihat Dion. Raut dingin dan datar dan tak suka pun tergambar di wajah Dion.


"Ayok Mas makan, udah dipesenin Tata." Tawar Lian pada suaminya yg baru saja duduk di sampingnya.


Dion mengangguk patuh pada ucapan Lian, tak banyak bicara mereka menghabiskan makanan yg sudah tersaji.


"Jadi ini Tata?" Ucap Dion tapi sama sekali tak melihat ke arah yg punya nama.


"Ia Mas, Tata ni kebanggaan kami. Selesai sebentar lagi lulus S2." Jelas Lian penuh sumringah.


Kebalikan dari ekspresi si kakak, Tata tampak tak nyaman dan salah tingkah. Bolak balik iya mengambil tisu menyapu keringatnya, dan tak henti mengecek layar gawainya. Tata pun menjadi tak banyak bicara.


"Apa aja kegiatan selain kuliah Ta? Tanya Lian.


"Hmm... Anu, itu Kak cuma di kost aja."


"Owh, di Kost?" Dengan nada remeh Dion mengangguk anggukan kepala.


"Tata mau main kerumah Kakak gak? Kalau mau biar sekalian bareng Kakak sama Mas."


"Eh? Hari ini gak bisa Kak, Tata harus nyelesain tugas yg belum selesai. Mungkin besok, Tata minta alamat aja Kak! Ini pun udah di tunggu temen di kost Tata harus cepet pulang."


"Loh kok udah mau pulang, belum ngobrol banyak Ta."


" Iya tapi mendadak temen udah terlanjur ke kostan Tata."


"Oh gitu? Mau dianter?"


"Gak Kak, ini tadi dah pesen gojek kok, eh ini gojeknya dah nunggu di depan."


"Ohh udah buru-buru ya Ta."


"Iya Kak emm.. Mas, Tata pamit dulu."


"Eh Ta, tunggu!!! Ini titipan dari Bapak sama Ibuk, juga sedikit dari Kakak sama Mas mu." Lian menyalami adiknya sebuah amplop yg lumayan tebal.

__ADS_1


"Makasih ya Kak Lian." Tata memeluk Lian dan pergi begitu saja.


Sedang Dion masih menatap sinis ke arah Tata yg berjalan semakin menjauh.


"Kamu yakin itu adik mu Tata kan...?"


"Kok gitu nanyanya Mas? Bener Mas!" Lian merasa aneh dengan pertanyaan Dion.


"Gak, Mas ngerasa Tata yg selalu kamu ceritain sama yg Mas Liat tadi berbeda. Yaudah! Kita pulang udah kenyang kan atau mau cari makan lagi?"


"Udah Mas, Lian udah kenyang banget." Lian tersenyum walau masih bingung dengan ucapan suaminya, ia mengambil Tas dan berjalan bergandengan dengan Dion.


Di hati Dion mengganjal sesuatu yg besar, tapi ia merasa perlu memastikannya agar semua benar-benar jelas.


****


Sesampainya di Apartemen, Tata langsung membanting Vas bunga kelantai hingga berhamburan.


"Aaaaaaggrrhhhhh!!!!!! Sial!!! Siaaaaaaaaaaa!!! Hancur sudah!!!Kurang ajaaaarrrrrrr!!!"


Tata mengacak acak rambutnya panik setengah ketakukan.


"Itu Alvin!!! Pasti Dia Alvin!! Bagaimana dia bisa nikah sama Kak Lian!? Gimana kalau dia cerita ke Bapak tentang aku disini?? Aaaaaarrrrghhhhh!!!!!!! Siaaaalllll!!!!!!"


Tata meracau seperti orang gila, Ya! Tata mengenal Dion, lebih tepatnya sangat mengenal Dion. Lelaki yg membuatnya patah arang, karna menolak cintanya.


Siapa yg tidak mengenal Dion di dunia malam lelaki dingin dan tampan. Lelaki yg selalu memesan meja yg sama, sulit di dekati oleh wanita. Ia hanya mau dan membayar jika wanita itu benar-benar cocok dengan hatinya. Isu berhembus kalau Dion tajir melintir karna setiap di club ia kerap mentraktir siapapun teman minumnya.


Dia membuat sang dewi sebutan Tata di club karna Tata selalu bisa menyenangkan semua orang yg bertemu dengannya, Tata tak sungkan di ajak berjoged dan minum dengan pria mana pun di club trutama yg berdompet tebal. Ia juga tak berkeberatan tubuhnya di jamah asal mau menraktirnya minum.


Hanya satu pria yg berani menolak tubuh sintalnya, Alvin! Nama Alvin begitu terkenal bagi wanita-wanita yg menghabiskan malamnya di Club. Bisa terhitung siapa saja yg bisa menyenangkan hati seorang Alvin hingga bisa di ajak ke hotel. Alvin akan membayar dengan memuaskan.


Hingga siapa pun yg bisa menarik perhatian Alvin akan jadi perbincangan di Club. Pesona Alvin dan cerita tentang kelihayannya di ranjang membuat siapapun wanita ingin menghabiskan malam dengannya.


Karna itu Tata sang dewi pun ingin merasakan hal yg sama tidur dengan seorang Alvin. Tapi, Tata sangat sulit mendekatnya. Alvin sama sekali tak menggubris kehadirannya, Tata semakin penasaran melakukan banyak hal untuk mendapatkan tempat di hati seorang Alvin tapi sia-sia, Alvin sama sekali tak perdulim


Entah karna kekaguman dan rasa penasaran yg tinggi, Tata pun mulai tergila-gila pada Alvin dari penasaran menjadi suka, dari suka mulai menghayal Alvin mencintainya. Tata tak sungkan lagi memamerkan tubuhnya pada Alvin bahkan ia rela memberi tubuhnya gratis asal Alvin mau tidur denganya. Tapi, lagi-lagi Alvin tak perduli.


Dimata Alvin tata seorang binal yg selalu mengataskan uang dalam segala hal. Walau Alvin tau semua wanita di dunia malam sama, tapi hatinya hanya akan tergerak pada wanita yg pure pekerja Se* Komersil dengan beberapa kriteria. Bukan wanita yg munafik seperti Tata, yg mengaku hanya bersenang-senang di Club tapi mau tidur dengan siapa pun yg bisa membayarnya mahal.


Bahkan pelac*r pun masih jujur dalam mencari uang. Dion hanya menerima PSK yg sudah ia kenal, Alih-Alih pemilih dalam memuaskan hasratnya ia bahkan lebih sering memberi wanita itu uang dan akhirnya PSK itu tak pernah datang lagi ke Club mana pun. Berembus kabar PSK itu sudah membuka usaha kecil dan berhenti dari pekerjaan malamnya.Cerita itu begitu famous hingga nama Alvin menjadi bintang, tapi lagi-lagi seorang Alvin tetap sulit di dekati.

__ADS_1


****


__ADS_2