Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Permintaan Pak Dandi 2


__ADS_3

"Sudah lama ya.. suasanya tidak berubah ternyata. Udara segar memang terbaik di kampung."


Dion membuka jendela kamarnya sembari menghirup udara segar, samar-samar ia mengingat semua kepedihan yg tertampar jelas di desa ini. Semua hal yg ia lakukan di Jakarta hanya untuk menghapus jejak luka yg tercipta di tempat ia di lahirkan ini.


Dion kecil yg sedang bahagianya akan masuk Sekolah Dasar harus menerima kenyataan pahit harus melihat dengan mata kepalanya sendiri ibunya merengang nyawa saat berusaha mengelakan anak kesayangannya dari tabrakan dengan mobil bermuatan.


Mereka sedang asiknya bernyanyi riang mengendarai sepeda motor, bersemangat sang ibu tak menyadari di depannya ada mobil bermuatan yg melaju kencang dan tabrakan tak bisa terhindarkan.


Ibunya sempat meraih Dion, tapi tuk menghempaskannya pinggir jalan. Tak disangka dari arah berlawanan mobil yg lain melindas Ibunya.


Kenangan yg tak bisa hilang terekam, Dion kecil merekam hal yg bahkan sulit di saksikan orang dewasa. Dion jadi lebih pendiam, tak banyak bicara. Semakin dewasa ia menjadi lebih tak terkontrol, mencoba banyak hal tuk membuat hatinya lebih baik walau melakukan hal yg cenderung negatif.


Di manja sang Ayah, keuangan tercukupi. Ia seenaknya melakukan banyak hal tanpa berfikir panjang terlebih dahulu.


Hingga terjadi hal yg di luar kendalinya, masa SMA sedang asik-asiknya bermain main dengan Miras. Dion tak kala itu sudah bisa mengontrol kadar kesadarannya, tapi teman temannya yg sudah bertindak di luar kesadaran melakukan hal yg tak terpuji. Dion berusaha melarang tapi kalah oleh 7 orang temannya yg bergilir melecehkan wanita.


Naasnya ia pun terseret masuk ke penjara. Tinggal di kampung yg kental akan tradisi tak ada satu pun orang yg mempercayainya. Dion keluar setelah 3 bulan berkat keuangan Pak Dandi yg bisa menyokongnya.


Dion muda akhirnya di pindahkan ke Surabaya menghapus jejak masa kelamnya.

__ADS_1


****


"Apaa!!!??????"


Mata Dion membelalak raut tak percaya tergambar jelas di wajahnya.


"Sekali saja turuti Bapak Dion!"


"Tapi mengapa harus menikah Pak? Dion belum siap."


"Bapak dulu menikah juga belum siap Dion, kamu juga harus berusaha seperti Bapak."


"Jamannya sudah berbeda Pak, Dion belum mampu."


"Beginilah yg Dion tidak suka sama Bapak selalu sesuka hati, tidak mempertimbangkan keinginan Dion."


"Bapak atau Dion yg selalu sesuka hati??? Bapak sudah tua, hanya tinggal kamu yg tak ada habisnya Bapak urusi. Kalau kamu mampu bersikap dewasa seperti Mas mu, Bapak mungkin tidak perlu turut campur dengan pilihan mu."


Suasana menjadi hening sesaat, suasa tegang tak terelakan.

__ADS_1


"Bapak selalu menuruti dan menyelesaikan segala keributan yg kamu buat, sampai kapan kalau Bapak mati siapa yg mengurusi kamu..?"


"Pak!!!!" Dion mulai luluh tak bisa mendengar lagi soal kematian.


Pak Dandi pun mengambil beberapa map disampingnya, meletakannya ke arak Dion.


"Itu map berisi kondisi kesehatan Bapak sekarang, setiap tahun semakin memburuk. Bapak punya sakit Jantung Dion, Bapak gak tau sampai kapan bisa bertahan. Sampai kapan bisa menghadapi tingkah mu nak."


Dion membuka map dan membaca lembaran demi lembaran, tak percaya melihat semua catatan-catatan yg tertulis. Menelan saliva baru menyadari orang tua satu satunya yg ia miliki tidak dalam kondisi yg sehat lagi.


"Pak!!? Kapan Bapak cek semua ini, kenapa Mas Doni gak pernah cerita?"


"Sekarang kamu baru cemas, baru peduli sama Bapak mu ini?"


"Dion gak bermaksud begitu pak, Dion cuma ...?"


"Bapak gak minta di khawatirkan sama kamu Dion, Bapak cuma minta kamu fikirkan permintaan Bapak tadi. Barang kali ini jadi permintaan pertama dan terakhir."


"Pak!!!!! Jangan bicara sembarangan...! Dion pasti pikirkan permintaan Bapak tadi.. sekarang kita pikirkan kesehatan Bapak."

__ADS_1


"Sudah masanya Dion, Bapak memang sudah tua mengurusi semua bisnis dan membesarkan anak sendirian sudah membuat Bapak terlalu lelah. Harapan Bapak cuma 1 kamu sudahi kesenangan yg tidak pernah akan berakhir itu, binalah sebuah keluarga bersama wanita yg nantinya Bapak pilihkan."


Dion tertunduk entah karna terlalu terkejut dengan kesehatan Pak Dandi orang tua satu satunya, entah karena harus berdamai dengan egonya menuruti pernikahan yg tak pernah ia inginkan.


__ADS_2