Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Pulang ke Kampung


__ADS_3

"Jadi kapan kalian pindah ke sininya?" Ucap Mba Aulia.


"Secepatnya Mbak." Balas Dion.


"Oke deh hati-hati ya, selamat sampai tujuan. Mba titip salam sama Bapak, tuk Orang tua Lian juga ya... Cepet bawa Bintang kesini."


"Iya Mba...Lian pamit dulu ya?" Ucap Lian sembari mencium tangan kakak iparnya itu, mereka pun menaiki mobil yang di supir oleh Mas Doni menuju bandara.


......................


2 Hari setelah di rumah Lian menjalani rutinitas seperti biasa, kemarin mereka seharian tertidur karna lelah yg dirasa semasa perjalanan. Kali ini Lian yang sudah bangun sedari pagi menyiapkan sarapan dan bersiap-siap untuk mandi, Lian melihat Dion yang masih terlelap bergumul dengan selimutnya.


"Mas, Mas bangun! Sarapannya udah siap, kopinya juga udah. Ayok kita mau jemput Bintang." Ucap Lian berusaha membangunkan sang suami dari tidurnya.


"Hmmm.... Jam berapa?"


"Udah Jam 8."


"Bapak udah bangun?"


"Bapak tadi buru-buru, udah bilang gak sarapan dirumah sebelum pergi. Kayaknya ada rapat sama orang kecamatan apa gimana tadi Lian gak begitu ngerti."


Dion menarik Lian dalam pelukannya.


"Massss!!! Ih di suruh bangun kok malah gini."


"Teriak aja yang kenceng Bapak gak dirumah kan?"


"Ohh jadi ini kenapa nanyain Bapak?"


"Iya dong, disini kan gak kayak di Jakarta. Mas harus liat kondisi kalau mau nguyel-nguyel kamu."


"Dih! Pantesan dari kemarin tiba-tiba jadi kalem banget, sampe heran Lian tu!"


Dion terkekeh.


"Gimana ya udah kangen Bintang, tapi masih belum siap ada pemisah di antara kita." Dion menciumi pipi istrinya.


"Tapi Lian udah kangen, kangeeen, kangeeen banget sama Bintang Mas." Rengek Lian.


"Kamu seneng ya kalau Mas kesusahan mau meluk kamu kayak gini."


Lian tersenyum.


"Ya Mas sih! Nikahnya sama perempuan yang udah beranak."


"Mas suka kok yang udah beranak nagihin." Goda Dion.


"Tapi tadi katanya susah mau meluk karna ada anak?" Balas Lian.


"Iyalahh!! Susah, tapi seneng lebih menantang." Tangan Dion mulai nakal, menjamah bagian sensitif dari tubuh istrinya.


"Masss!!! Lian mau mandi udah ih lepasin...!"

__ADS_1


"Nah! Kebetulan kan mau mandi jadi sekalian, Mas juga nanti abis ini langsung mandi. Barengan nanti mandinya." Imbuh Dion tak mau kalah.


"Nanti kopi sama sarapannya dingin." Lian mengelak lagi.


"Ya kalau dingin tinggal dipanasin, apa sih susahnya." Dion semakin menjadi saat mulai menjejali wajahnya ke dada istrinya.


"Lian nyesel ni, pernah bilang ke Mas kalau nolak suami itu dosa." Ucap Lian pasrah sudah tak bisa melawan.


Dion terkekeh mendengar ocehan gemas dari istrinya.


"Nah tu tau, gitu kan pinter! Pahalanya gede lo." Imbuh Dion yang sudah berhasil melucuti atasan istrinya.


Dengan sisa tenaga yang sudah Lian habiskan menyiapkan sarapan dan beberes rumah ia pun melayani suaminya. Walau awalnya tak ingin, kini Lian malah tak bisa mengendalikan diri sudah terhanyut, bahkan tenggelam akan buaian dari sang suami.


"Sekali lagi ya?"


"Udah Mas...!!!"


"Plis???"


"Udahh!!!"


"Sinii!!!!"


"Stop Mas udah gak sanggup."


2 jam berlalu, Lian bangun menitah dari ranjangnya. Kakinya gemetaran,pinggangnya terasa nyeri.


Lian melirik tajam penuh aura menakutkan ke arah sang suami. Sedang dion tersenyum melempar arah pandangan kesana kemari dengan raut tak bersalah.


"Kenapa-kenapa!??? Masih nanya lagi Lian kan dah bilang gak sanggup, Lian belum sarapan Mas,hiks!!! Awas aja kalau ikut ke kamar mandi, gak bakal Lian kasih mas jatah seminggu!!!!" Raut wajah Lian penuh kekesalan.


"Ampuuun Iya-iya Mas janji tapi kasih kesempatan ya Mas gendong ke kamar mandi kalau Lian gak sanggup." Dion sigap bangkit ingin membantu sang istri.


"Stop!!! Plis jangan deket lagi Mas..!" Lian tertitah mundur beberapa langkah.


Dion terkekeh memukul dahinya dengan satu tangan, ia tahu betul istrinya kehilangan tenaga.


"Ia Mas janji gak bakal ngapa-ngapain, atau Mas pegangin aja gimana?"


"Gak Mas Lian bisa kok, Mas tenang aja disitu Lian cuma butuh berdiri sebentar nanti juga baikan."


Dion menggeleng, tak percaya ucapan sang istri dan langsung menggendong Lian dalam dekapannya.


"Masss!! Kan!!" Pekik Lian bertambah kesal.


Dion mengabaikan kepanikan yang terlihat jelas di wajah istrinya, mengangkat Lian ke dalam kamar mandi.


"Mau Mas mandiin?" Goda Dion lagi.


Lian tak bersuara lagi, mimik kesalnya tak bisa terbendung, pundung. Membuat sang suami menciut nyalinya.


"Iya iyaa... Mas cuma bercanda sayank! Mas gendong karna gak tega. Maafin Mas ya.. Harusnya Mas bisa ngontrol diri." Ucap Dion setengah malu.

__ADS_1


"Besok jangan di ulang ya." Celetuk Lian masih kesal.


"Iya sayank ku..." Balas Dion sembari mengusap pucuk rambut istrinya.


Beberapa saat berlalu Lian dan Dion pun telah berada di rumah kediaman Pak Har orang tua Lian, Lian memeluk anaknya tiada henti karna rindu yang telah tertahan selama pergi ke Jakarta.


"Ibuk kangen banget Le...!" Ucapnya sembari memeluk Bintang di dekapannya.


"Ibuk kangen Bintang, tapi Bintan ndak kangen Ibuk." Ucap Bintang ketus.


"Lahhh?? Kok gak kangen, Ibuk sedih loh dengarnya."


"Bintan dah besal Buk, malu sama Dino nanti kalau cengeng manggil Ibuk. Ibuk kan urusan penting kata Mbah Uti."


"Oowhh... Iya-iya!! Bintang udah besar kok ya?_


"Iyalah Buk, Bintang bentar lagi mau sekolah."


"Ehh iya, pinter Bintang ya! Bintang gak kangen tu sama Ayah. Ayah bawa mainan lo di rumah Kakek banyak tuk Bintang."


Bintang akhirnya melirik ke arah Dion yang sedari tadi tersenyum memandang polah lugu bocah imut itu.


"Emm... Ayah." Ucap Bintang yang terlihat masih kaku.


"Iya Bin, Kangen gak sama Ayah?"


Bintang mengangguk pelan.


"Kalau kangen sini dong! Peluk Ayah."


Bintang perlahan menghampiri Dion dan mendekatkan badannya dengan malu-malu, Dion langsung menyambut bocah menggemaskan itu dengan sebuah pelukan hangat.


"Ayah bawa mainan banyak dirumah! Ada Dino ada tirex, ada mobilan besar banyak pokoknya Bin."


"Waaahh Bintan mau main Dino sama Tirex yah!"


"Ayok kita pulang, Ayah juga udah kangen main sama Bintang. Yuk pulang."


"Emm.. Tipinya boleh bawa kan Mbah?"


Semua terkekeh melihat tindak polos Bintang.


" Tv Embah ya biar disini nanti kalau Bintang kesini gak bisa nonton kalau di bawa kesana." Ucap Mbah Uti.


"Jadi Bintan nonton kamal Kakek lagi Buk?" Ucap bintang melempar wajah ke arah sang Ibu.


"Lah iya nonton sama Kakek sama aja kan rasanya, sama nonton bareng Mbah."


Bintang mengangguk lagi.


"Yah!!!!" Panggil Bintang ke arah Dion, mengarahkan gerakan tangannya agar sang Ayah mendekat. Dion pun mengikuti keinginan Bintang, Bintang mengatakan beberapa hal dan membuat semua orang di situ benar-benar penasaran. Tapi sampai akhirnya Bintang ikut bersama sang Ibu dan Ayah, Bisikan Bintang masih menjadi rahasia.


****

__ADS_1


__ADS_2