
Dion dan Lian berada di lift sebuah hotel terkenal di Jakarta, Dion bahkan memesan suite room untuk mereka menghabiskan malam bersama.
Seperjalanan menuju hotel Dion sempat mengajak istrinya makan dan berbelanja. Dion meminta Lian memilih beberapa Lingerie, Lian berusaha menahan malunya saat memilih tapi Dion menganggap hal itu yg lumrah.
Lian menggigit ujung jarinya perasaan tegang, gugup, salah tingkah menghantuinya. Bagaimana pun malam ini akan menjadi pelabuhan setelah pelayaran panjang yg akan suaminya rasakan. Lian ingin juga memberi yg terbaik, tak ingin mengecewakan jika tanpa sadar tubuhnya menolak.
Dion terus memperhatikan tingkah istrinya, ia tau betul ini akan terjadi. Rasa gugup seorang perempuan menghadapi malam pertama. Lumrah, tapi Dion sudah bertekat tidak akan membatalkan lagi niatnya kecuali hal jika memang gempa bumi terjadi tiba-tiba.
Lift pun berhenti pertanda mereka semakin dekat dengan kamar yg telah di pesan, jantung Lian semakin kencang berdegup rasanya ingin pulang menghindari niatan suaminya.
Tangan Dion meraih lembut tangan istrinya melempar senyum yg menenangkan, membuat nafas Lian kembali teratur.
Lian terpukau dengan servis yg di berikan hotel, dua handuk yg di bentuk menyerupai sepasang angsa yg sedang beradu membentuk hati.
Bunga mawar yg bertaburan menambah kesan romantis.
Dion memeluk istrinya dari belakang, suasana dan reaksi dari Lian sesuai dengan apa yg ia harapkan.
"Mas udah bilangkan, Mas akan membuat malam pertama kita menjadi malam paling mengesankan."
"Kamarnya cantik Mas." Balas Lian.
"Hmm kamu boleh kok mandi dulu, abis tu pake ya yg udah kita beli tadi."
Wajah Lian tak bisa menyembunyikan rasa malunya, Ia pun melepaskan pelukan Dion dan berjalan ke kamar mandi. Setelah beberapa saat ia pun telah mengenakan Lingerie pilihannya sendiri, ini paling tertutup di bandingkan semua yg terpajang di toko tadi. Tapi tetap sangat terbuka bagi Lian dan masih merasa risih.
"Kamu bisa Lian!!! Suami mu pasti sudah sangat bersabar selama ini. Kamu pasti bisa!" Suara hari dari seorang perempuan dengan kaki yg sudah gemetaran.
__ADS_1
Lian keluar dari bathroom dan langsung syok melihat suaminya yg sudah bertelanjang dada duduk bersender di ranjang size king itu. Memperlihatkan siluit garis otot sixpacknya bak model yg sedang berpose.
Lian langsung menunduk tak sanggup lagi melihat hal berbahaya itu. Sedang Dion yg menatap lekuk tubuh istrinya yg sudah di balut dengan lingerie tipis langsung menengguk saliva.
"Kesini dong dekat sama Mas, malah berdiri kayak patung." Ucap Dion yg sebenarnya juga merasa gugup.
Lian pun melangkah maju dengan wajah yg masih di tekuk. Dion meraih tangan istrinya dengan perlahan, lalu meraih pinggang dan membawa Lian pada pangkuannya.
Lian benar-benar mati gaya, tak tau harus berbuat apa. Aroma parfum Dion pun lembut menerobos masuk kedalam penciuman Lian, membuatnya sedikit merasa nyaman.
"Lian..."
"Iya Mas?"
"Mas tau betul Lian gugup dari tadi."
Lian menggigit bibir tak bisa menjawab.
"Plis, jangan bilang gak mau!!!" Ucap Dion dalam hati.
"Lian cuma gugup tapi Lian sudah siap kok Mas, apa lagi Mas sudah sudah seberuhasa ini menyenangkan Lian."
Dion tersenyum dalam hati.
"Sini dong liat Mas?"
Lian memalingkan wajahnya ke arah suaminya hingga kedua mata itu saling bertemu.
__ADS_1
"Mas cuma mau bilang, Mas Cinta sama Lian. Mas Gak akan bisa bertahan hidup tanpa kamu."
"Lian juga Mas, makasih udah hadir dalam kehidupan Lian."
Dion mendekap istrinya lebih erat mengecup bibir tipis itu dengan lembut, perlahan tapi pasti suasana pun menjadi panas dan tak terkendali.
Dion kehilangan akal saat itu, melampiaskan apa yg sudah sangat berusaha ia tahan. Lian berusaha bertahan walau setiap jengkal tubuhnya terasa bergetar, setelah pergumulan panjang dan melelahkan Lian akhirnya merasakan sakit di bagian sensitifnya, sakit yg teramat sangat sampai ia memohon untuk berhenti.
Tapi sangat terlambat untuk menyesal gairah suaminya tak terbendung, Lian menangis terisak saat Dion meleguh nafas panjang.
Tak bisa berkata, Lian hanya menangis menggambarkan rasa sakitnya.
Sejam berlalu, Dion mengusap-usap pucuk rambut sang istri yg baru terlelap setelah lama menangis.
setiap sudut ranjang sudah berantakan, Lingerie Lian pun sudah meloncat jauh kebawah kasur.
"Mas gak tau kamu setengang itu, seandainya kamu rileks mungkin gak sesakit itu yank." Ucap Dion berkata sendiri.
Dion merasa sudah terpuaskan, tapi hatinya pun ikut sakit melihat Lian kesakitan. Menyelimuti sang istri mendekapnya dengan lembut.
Perasaan Dion campur aduk bahagia dan iba, lantas terharu akan usaha Lian yg memberanikan diri.
Di kenangnya saat Lian bersikeras berkata kalau ia belum pernah melakuhan apa pun dengan lekaki mana pun, dan saat terungkap teka teki lahirnya Bintang. Saat itu Dion sangat syok walau ia percaya tapi tetap ingin mengetahui kebenarannya, dan malam ini sudah menjawab apa yg ingin ia ketehui.
Biarlah rumor berkata Berlian tak suci, tapi hanya ia yg tau Berlian miliknya sangat suci. Hanya menyerahkan miliknya yg berharga pada suaminya yg sah. Dion akan mengingat setiap detik malam ini dengan kuat. Malam yg akan ia kenang untuk selalu setia dan menghormati istrinya.
Walau keperawanan bagi beberapa perempuan di luar sana tak berharga. tapi ia membuktikan ada seorang wanita yg merelakan tudingan merenggut kehormatannya, tapi kehormatan yg sebenarnya masih utuh ia jaga.
__ADS_1
Kebaikan hati seorang Berlian akan menjadi hal paling berharga yg kini menjadi milik Dion seorang. Bukan Lian yg beruntung memiliki Dion tapi Dion yg sangat beruntung mendapatkan kesucian seorang Berlian.
****