
Ya, Dionlah di balik pecahnya scandal perselingkuhan Zack dan Tata. Semua sudah di susun sedemikian rupa, harapannya sederhana membuat istrinya tercinta bisa melihat sisi buruk dari Tata.
Tata yang baru datang lantas memeluk Lian, berurai air mata mengucapkan kalimat maaf dengan terbata-bata.
Dion tak mendekat apalagi berusaha melakukan hal hal yang menurutnya tidak perlu.
Lian tak bisa bereaksi banyak, selain ia juga masih bingung Lian juga sangat iba melihat kondisi adik tak sedarahnya itu. Lian membawa Tata ke kamar tamu dan membiarkan Tata tenang beristirahat.
Dion hanya mengelus-elus puncak kepala Lian yang masih memperlihatkan raut tak tenangnya. Dion pun merasa sedikit bersalah, walau bukan karna Tata ia merasa tak nyaman melihat sosok Lian yang tampak terguncang.
Pagi pun suasana kediaman Dion kembali memanas, Pak Har pun tengah berdiri tegak memandang anak kandungnya yang tanpak tertunduk tak berani menatap sang ayah. Setelah larut malam sampai di kediaman anak menantunya, Pak Har dan istri memutuskan menyelesaikan masalah keesokan harinya, menimbang sang cucu yang sudah nyenyak tertidur.
"Ayo jelaskan apa semua ini Ta?"
Tata tak bergeming.
"Apa yang sudah kamu lakukan benar-benar membuat Bapak gak punya muka."
"Maafin Tata pak."
" Maaf? kamu gak membantah perbuatan kamu Ta? Kamu!!?"
Tata kembali bungkam.
PLAK!!!
suara tamparan keras menggema di living room kediaman Dion.
"Pak!!! Sabar Pak!" Lian menyuara.
"Nduk, kamu diam saja di situ. Biar Bapak menyelesaikan ini dulu sama adik mu!"
__ADS_1
"Maafiin Tata Pak!!"
Tatapun tampak bersujud di kaki sang ayah.
"Bapak banting tulang jualan nasi setiap hari, berharap dengan itu masa depan mu cerah. Bapak korbankan masa depan mbak mu demi harapan Bapak kepada mu nduk!! Ini balasan kamu??"
"Tata salah Pak, ampuni Tata Pak."
" Setiap Bapak melihat Mbak mu ada rasa penyesalan yang dalam, ego Bapak ini sudah banyak menyusahkan dia Ta. Rasanya penyesalan Bapak tidak ada habisnya, Bapak tuntut Mbak mu dalam semua hal.
Demi kamu kuliah, Mbak mu harus mengubur mimpinya. Demi nama baik mu, Mbak mu lagi-lagi hampir kehilangan masa depan dan nama baiknya. Demi menutupi hutang Bapak, dia harus menikahi orang yang tidak dia kenal.
Mbak mu ini bukan darah daging Bapak, tapi pengorbanannya untuk keluarga tidak akan pernah bisa Bapak bayar sampai kapan pun."
Air mata Lian tumpah seketika, demikian pula Buk Har yang sudah dari awal tak bisa berkata-kata.
"Bapak malu Ta, malu bukan main sama besan Bapak, sama menantu Bapak. Karna mereka nama keluarga kita mulai baik, sekarang hancur sudah. Bapak sudah tak puka muk harus tinggal di sana, dulu karna kamu rasa malu itu Bapak tahan.
Bapak tahan, karna Bapak merasa kamu satu-satunya darah daging Bapak yang harus Bapak lindungi.
Bapak sudah tidak punya muka sama Lian Mbak mu, susah-susah dia membesarkan anak mu demi nama baik mu juga. Sekarang kamu rusak harapan dia Ta... Ta.... Ya Tuhann ampuni aku."
Pak Har memukul kepalanya sendiri karna frustasi, Dion sigap menyadarkan Pak Har memapah Pak Har untuk tenang duduk di sofa.
"Sabar Pak...!" Lian mendekati Pak Har dan menyimbahkan wajahnya di pangkuan sang Ayah.
"Oalah nduk nduk nasip mu... Maafkan Bapak ya nduk, gak bisa Bapak bersikap adil sama mu nduk. Padahal Bapak yang sudah membawa kamu ke kehidupan Bapak, kamu juga yang membawa Tata hadir di tegah kecilnya harapan Bapak. Maafkan Bapak Nduk."
"Tata juga gak minta Bapak Ibuk bawa ke dunia ini kalau Bapak sama Ibuk cintanya gak bisa 100% buat Tata Pak." Ucap Tata.
Semua orang yang tadinya tertunduk seketika melihat ke arah Tata, ucapan Tata sungguh di luar dugaan.
__ADS_1
"Tata pun capek Pak, harus jadi sesuai dengan harapan Bapak dan Ibuk. Tata punya keinginan Tata sendiri, baik Bapak dan Ibuk seolah membuat Tata harus jadi seperti yang Bapak dan Ibu Mau. Sedang dia, yang Bukan anak kandung selalu Bapak dan Ibuk prioritaskan di dekat Bapak dan Ibuk. Tata juga kesulitan disini, sedang dia bermanja-manja di pelukan kalian."
"Astaghfirullah... Tata ucapan mu itu...!!" sontak Pak har shock mendegar ucapan dari anak kandung yg paling ia harapkan itu.
Lian pun tak percaya ucapan itu keluar dari mulut adik yang ia sayangi.
"Maksud mu itu apa Ta?" Sang Ibu yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.
"Dari awal Bapak dan Ibuk mengambil Kak Lian kan untuk mendapatkan Tata, kenapa setelah Tata sudah ada Bapak Ibu tidak cukup dengan kehadiran Tata saja. Rasanya berbagi kasih sayang itu gak enak Buk, rasanya terus-terusan memakai barang bekas Kakak itu kesel Buk. Baik barang dan kasih sayang semua harus dia dulu baru Tata, yang anak kandung kan Tata."
Plak!!!
Tanpa basa basi Buk Har menampar wajah sang anak yang selama ini selalu ia prioritaskan dalam segala hal itu, tangannya pun gemetaran emosi bercampur rasa tak percaya berkecamuk dalam dadanya.
"Anak bodoh!!! Dimana pikiran kamu bisa bicara begitu!" Timpal sang Ayah.
"Lihat, baik Bapak dan Ibu hanya sayang sama dia yang bukan anak kandung kalian. Percuma, kalian gak akan ngerti rasanya prasaan yang Tata rasakan. Tata ngerti kesalahan Tata besar, tapi bukan berarti Bapak dan Ibu juga gak salah selama ini."
Tata melempar tatapan tajamnya ke arah Lian, melempar lagi tatapan kekesalannya pada orang tuanya dan pergi masuk menuju kamarnya.
Sontak Buk Har meraung, menangis sejadi jadinya.
"Aku yang salah, aku salah mendidik anak ku!" Pekiknya.
"Buk, Ibuk gak boleh bilang gitu Ibuk sudah jadi Ibu yang terbaik untuk kami." Ucap Lian dengan air matanya yang tumpah ruah.
"Maafkan Ibuk ya Nduk. Cuma itu yang bisa Ibuk katakan buat mu."
"Ibuk gak salah apa-apa Buk..."
Entah mengapa mendung meliputi hati dan perasaan siapa siapa yang ikut menyaksikan raungan seorang Ibu yang terluka hatinya.
__ADS_1
Tak lebih Dion yang sedari tadi mengurut kening, mengamati, mengiba, kesal penuh amarah dan akhirnya tak tau harus bagaimana. Hatinya sedikit puas melihat istri dan mertuanya menyaksikan bagaimana Tata membuka sifat busuknya sendiri, tapi di satu sisi ia tak menyangka akan serumit ini yang terjadi.