
Dion menyelimuti istrinya yg terlelap dengan mata yg sembab. Satu jam berlalu setelah berusaha meredakan tangisan Lian. Tak menyangka angan indahnya malam ini harus berakhir sedikit teragis.
Dion pun terduduk di pinggir ranjang, menekuk wajah mencoba mencerna informasi yg sedemikian pelik tak mudah baginya. Rasa iba dan marah juga menyelimuti pikirannya, iba atas apa yg dialami Lian dan marah pada keegoisan mertuanya.
"Walau anak angkat apa layak di perlakukan begini? Bahkan setelah itu, bagaimana bisa masih memperlakukan Lian seperti ini. Memaksakan lagi untuk menikahkan karna hutang. Bagaimana kalau orang itu bukan aku, bagaimana kalau ia menikah dengan duda tua atau pria beristri, apa orang tuanya masih akan memaksa Lian untuk melakukan itu? shiiiiitttt benar benar gak habis fikir!"
Setelah beberapa umpatan keluar dari mulutnya hingga emosi dan fikirannya tenang, akhirnya Dion menghampiri istrinya memeluk seakan tak ingin di lepaskan, saat itu juga Dion merasa sangat menyayangi istrinya itu.
Pagi pun menyapa, Lian tersadar dari mimpinya yg indah merasa begitu hangat dalam pelukan seseorang yg menyayanginya, Lian baru menyadari Dion lah yg memeluknya dengan hangat sampai meresap kedalam mimpinya.
Hal yg baru pertama kali ia rasakan,
"Begini ya rasanya di peluk suami?" Bisiknya dalam hati.
Lian menjamah wajah Dion dengan lembut, masih tak percaya rahasia yg ia tutupi selama ini terungkap pada lelaki yg tidur di sampingnya ini.
"Udah bangun?" Ucap Dion mengagetkan istrinya.
"Eh..?"
"Dari tadi Mas nungguin Lian bangun sampai Mas rasanya ngantuk lagi."
"Mas udah bangun dari tadi?" ucap Lian dengan suara serak, akibat tangisnya tadi malam yg lama pecah.
"Suara kamu jadi seksi..." ucap Dion menjahili istrinya.
"Ihhh Mas ngomong apa?"
Cup, satu ciuman mendarat di pipi Lian yg membuat si empunya langsung tersipu.
"Mass!"
"Kenapa?"
"Lian malu!"
"Kan cuma kita berdua disini, kenapa malu."
"Gak tau, pokoknya malu aja."
"Jadi sekarang Mas harus sering-sering bikin kamu Malu ya? Biar kamu tau cara nyenengin suami."
__ADS_1
"Ihh Mas ni, udah dong gak bahas-bahas gitu Lian beneran Malu."
"Karna masih pertama Mas maklumin ya, besok besok gak boleh malu lagi."
Lian tak menjawab, tambah tersipu.
"Kalau Mas tanya soal masa lalu Lian keberatan gak?"
"Mas mau tanya apa?"
"Jadi Lian tamatan SMA?"
"Iya, Bapak gak punya biaya tuk nguliahin 2 anak sekaligus karna Lian dan Tata cuma beda setahun. Tata lebih berprestasi dari pada Lian, Tata pinter, jadi sayang kalau gak kuliah. Lian gak begitu berprestasi jadi Lian juga gak apa apa kalau gak nerusin, lagian lihat Ibuk yg kecapean di warung Lian gak tega minta kuliah."
Dion mengangguk mendengar kalimat akhir istrinya.
"Hmmm... Gimana persaan Lian waktu diminta jadi ibunya Bintang?"
Lian menarik nafas panjang seakan sulit memulai kisahnya.
"Awalnya sulit, sesak pengen cerita gak tau sama siapa. Boro boro mau jadi Ibu, nikah aja Lian belum kepikiran. Lian juga berontak mau kabur, tapi Lian gak tau mau kemana? disaat Lian lagi frustasi gak tau Lian ketemu orang yg kasih Lian semangat..."
"Lian gak tau gak kenal! Lian lagi nangis malam malam di pinggir jalan, terus..."
"Laki laki atau perempuan?" Dion memotong cerita Lian.
"La..laki-laki.."
"Dia bilang gimana?"
"Eh, Dia cuma bilang Kalau ada masalah di hadapi jangan di tangisin, trus ngasih minum eh sama Lap karna Lian nangis gak berhenti berhenti."
"Itu scarf namanya bukan Lap, sekarang mana scarf nya?"
"Eh tunggu Mas kok dari tadi buru buru terus nanyanya."
Dion tersenyum.
"Kamu gak inget ya?"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Malam itu Mas yg ngasih kamu scarf sama air mineral.. kamu plek nangisnya kaya tadi malam gak berhenti henti, Mas sampe mikir..."
"Ehhh tunggu Mas!!" Lian langsung bangkit dari tidurnya duduk menatap ke arah Dion suaminya.
"Gimana-gimana Mas??? beneran malam itu Mas yg pake kupluk?"
"Hahahaa.. kok bisa kupluk sih Lian?? itu hoodie namanya!!"
"Ya pokoknya itu, kok Mas gak cerita di awal???"
"Waktu malam lamaran Mas juga kaget, gak percaya itu kamu, tapi seterusnya Mas gak berani mau tanya kan gak mungkin juga nanya hal pribadi kamu ngapain malam itu, kita baru kenal."
"Maaf Lian gak ngenalin Mas, soalnya malam itu gelap. Lian juga takut waktu itu gak berani liat wajah Mas." Jawab Lian dengan wajah menyesal.
Dion terkekeh geli melihat mimik wajah istrinya,
Ikut duduk dan membelai rambut wanita yg mulai memenangkan hatinya itu.
"Gak nyangka ya kita malah jadi suami istri, kayaknya dunia terasa sempit."
"Lian juga bersyukur suami Lian ternyata laki-laki itu, yg buat Lian tersadar kalau masalah harus di selesaikan bukan malah kabur atau putus asa."
Dion tersenyum memandang keajaiban dari Tuhan untuknya.
"Makasih udah datang di kehidupan Mas, maaf atas segala sikap Mas yg mengecewakan."
"Mas gak pernah sekalipun ngecewain Lian, makasih udah mau nerima Lian apa adanya."
"Mas pengen cium kamu..." Pinta Dion.
Lian mengangguk pelan tanda setuju, Dion mengecup dengan lembut. Berusaha mengimbangi Lian yg masih membaca suasana, perlahan bergrilya menyusuri setiap rongga mulut istrinya. Lian mulai terengah engah merasakan sensasi tak biasa, tangan Dion mulai meraba ke bagian sensitif membuat Lian ingin menyudahi tapi kalah dari segi tenaga.
Dion semakin ingin dan ingin lagi, semakin Lian berusaha melepas diri semakin terhanyut akan permainan suaminya.
"Diooon!!!! Bapak pulang!! Buka pintunya?"
Dion dan Lian terkesiap bubar barisan, Lian langsung merapikan piyamanya dan berlari keluar kamar.
"Sial!!" Umpat Dion kesal.
****
__ADS_1