
Gerimis jatuh dengan perlahan di kediaman Pak Dandi mertua satu-satunya dari seorang Lian. Penuh air mata Lian tak kuasa meninggalkan mertua yang seumuran dengan orang tua angkatnya itu, bagi Lian sosok Pak Dandi adalah orang tua yang sesungguhnya di hatinya. Kasih sayang mertua yang melebihi kasih sayang yang ia peroleh dari orang tua angkatnya.
Pak Dandi terlihat sangat tegar walau di hatinya sedih akan jauh dengan menantu dan cucu, yang telah mewarnai hari-hari baru dalam beberapa bulan ini. Ya genap memasuki bulan ke 5 pernikahan Dion anaknya.
Akhirnya ia harus melepas keluarga baru dari anaknya itu untuk mandiri, sesuai keinginannya yang sudah lama ia rencanakan. Walau pada bagian akhir dari hasil rencana itu menjadi penuh dengan haru biru.
Ia tak menyangka gadis berparas teduh itu, yang ia idam-idamkan menjadi menantu melebihi ekspektasi yang ia harapkan. Perubahan dari sikap Dion yang semakin matang jelas terlihat, tak menyangka baru seminggu lewat akhirnya anak bungsunya itu menjelaskan proposal tentang bisnis barunya. Bisnis yang terlihat matang dan sangat menjanjikan. Tentu saja Pak Dandi sangat bersyukur, karna beberapa tahun terakhir Dion hanya berfoya-foya saja.
Progres inilah yang sangat di harapkan oleh seorang ayah kepada anak lelakinya, seorang suami harus penuh tanggung jawab. Tak ada yang tau bagaimana pengorbanan seorang Ayah singel parent mengurus dua orang anak sendiri setelah kehilangan seorang istri yang sangat dicintainya.
Pak Dandi tak tertarik menikah lagi, baginya selain hatinya yang tak bisa mencintai wanita lain, tanggung jawabnya sebagai orang tua dari dua anak lelaki lebih penting dari apapun. Ia tau goncangan mental Dion setelah kepergian Ibunya, berbeda dengan Doni yang sudah kelas 1 SMA saat itu yang sudah bisa sedikit memahami Dion berbeda, selain kondisi Dion yang masih sangat membutuhkan sosok Ibu, Dion juga melihat di depan matanya sang Ibu meregang nyawa.
Dion butuh perawatan khusus, dan saat kondisinya mulai stabil di bangku SMA Dion salah pergaulan. Kasus pelecehan yang di lakukan oleh teman-temanya berimbas besar pada kehidupannya. Ketar-ketir yang dirasakan orang tua tunggal saat anaknya kembali ke masa terpuruk itu pun tak terelakan.
Dion kembali ke masa suram, saat itu Pak Dandi hanya masyarakat biasa walau lumayan berada tak bisa membendung mulut tetangga dan lingkungan yang terus mencercanya. Hingga ia bertekad menjadi Kepala Desa bagaimanapun caranya. Agar ia lebih di hormati, dan keluarganya lebih disegani dan mulut-mulut yang mencercanya bisa diam.
Saat itu Pak Dandi yang mendorong motor pun tampak kelelahan, entah mengapa hari itu Pak Dandi ingin menyapa Masyarakat kampung dengan membawa motor tua yang penuh kenangan bersama istrinya itu untuk bersosialisasi. Tiba-tiba dari arah belakang anak berumur tanggung melaju dengan motornya nyaris menabrak tubuh Pak Dandi, walau tak tertabrak tubuh Pak Dandi tetap terjatuh karna terkejut motornya pun otomatis menimpah kakinya.
Seorang gadis tiba-tiba muncul dengan wajah panik, sekuat tenaga mengangkat motor berkompling yang menimpah kedua kaki Pak Dandi.
"Ya Allah Pak!! Gimana ini tunggu saya coba angkat ya Pak...!" Tubuh mungil itu terus berusaha, sesekali melihat sekitar barang kali ada yang di mintai tolong. Sayang waktu itu gang tampak sepi dan gadis itu tak menemukan siapapun yang bisa di mintai tolong.
__ADS_1
"Angkat sedikit saja Nak, asal kaki Bapak bisa keluar dulu." Ucap Pak Dandi sembari meringis.
"Iya Pak saya coba dulu ya Pak!!" Gadis belia itu berusaha mengeluarkan seluruh tenaganya dan bisa sedikit menggerakan motor agar kaki dari Bapak itu bisa keluar.
Setelah keras berusaha akhirnya kaki Pak Dandi bisa keluar, sayang ia cidera otot dan tak bisa berdiri.
"Pak kalau Bapak mau nunggu sebentar saya mau panggil warga biar bantu."
Pak Dandi mengangguk, masih sangat kagum dengan seorang gadis yang begitu baik dan sopan seperti malaikat yang menolongnya. Sekilas ia pun teringan Almarhum istrinya yang tindak tanduknya sangat mirip dengan gadis ini.
Tak berselang lama bantuan dari warga pun datang, Pak Dandi pun merasa bersyukur. Tak pernah ia melupakan kejadian hari itu hingga saat sembuh ia mencari siapa gerangan gadis baik hati yang membantunya. Pada suatu saat barulah ia tau kalau gadis itu bernama Lian anak dari pemilik warteg atau warung nasi di desanya.
Berulang kali datang ke warung itu, hanya sekadar makan atau menyapa dan akhirnya ia bertekad bila Tuhan berkehendak harus menjadikan gadis ini menantunya suatu saat nanti.
Dengan bekal masa lalu yang sama-sama rumit, pasti Dion dan Lian sama-sama bisa lebih kuat dan mampu menyebrangi lautan rumah tangga bersama dan angan-angan itu pun menjadi kenyataan Dion dan Lian menjadi sepasang suami istri seperti apa yang di harapkan Pak Dandi.
****
Dion membuka horden kamar saat istri dan anaknya masih tertidur. Hari pertama di rumah baru bersama Lian dan Bintang, Ia ingin bangun lebih cepat merencanakan banyak hal sebagai seorang Suami dan Ayah.
Di bukanya Laptop dan mengolah website yang membuat pundi-pundi rupiahnya bertambah, di bukanya e-mail dari Mba Aulia dan melihat beberapa sekolah terbaik yang di tawarkan, Ya! Dion ingin yang terbaik buat Bintang. Walau dendamnya tak pernah hilang dari Tata, tak bisa mempengaruhi rasa sayang yang sudah kian menebal di hatinya untuk bintang.
__ADS_1
Kling!
Suara gawai Lian menciptakan rasa penasaran di hati Dion, perlahan ia berjalan menghampiri dan entah mengapa perasaannya tepat. WhatsApp dari Tata, ia membuka dan membaca isi dari pesan itu.
"Kak? Sudah sampai di Jakarta, Kakak bawa Bintangkan? Tata pingin banget ketemu Bintang."
Wajah Dion tiba-tiba berubah, kesal dan geram melihat tingkah Tata. Dion pikir ini hanya alasan Tata untuk menemui Lian, Dion tau Tata tak benar-benar merindukan anaknya. Ia cepat bergerak dari kursi kerjanya beranjak dari kamar, mencari tempat yang agak jauh agar suaranya tak membangunkan istri dan anaknya.
Dion menelfon Tata menggunakan Ponsel milik istrinya.
"Halo? Kak Lian!"
"Ini aku!"
Suara di ujung sana langsung tergagap.
"K...kamu?? Ngapain kamu telpon pakai hp Kak Lian?"
"Aku cuma mau ingetin kamu, jangan ganggu keluarga ku. Bintang sekarang anak ku tidak ada hubungannya lagi dengan kamu! Jalani saja kehidupan kotor mu, dan jangan usil. Aku bisa menghancurkan mu dalam hitungan detik tapi aku tau Lian begitu percaya dengan tipuan mu, aku menghormati Lian. Sekali lagi aku tau kamu ingin mengusik kehidupan Bintang, aku akan buat perhitungan. Faham!"
Tut! Dion langsung memutuskan panggilan. Entah mengapa firasatnya begitu kuat terhadap Tata tentang Bintang. Anak tanpa dosa itu tak layak menderita karna ulah dari ibu yang tak bertanggung jawab seperti Tata, pikir Dion.
__ADS_1
"Mas?" Suara Lian yang tiba-tiba muncul mengejutkan Dion.