Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Bagaimana cara membuat mu bahagia?


__ADS_3

"Hallo Buk... gimana keadaan Bapak?"


"Udah sehat Nduk, ini lagi main sama Bintang. Bapak terlalu kangen Bintang kayaknya ya? Bintang disini langsung sehat mau makan."


"Alhamdulillah buk, jadi Bintang biar disana dulu?"


"Kalau boleh disini dulu ya biar Bapak mu puas dulu kangen-kangenan sama cucunya. Bapak mertua mu udah pulang Nduk?"


"Udah Buk, baru aja tadi pagi sekarang lagi istirahat."


"Suami mu lagi ngapain? sehat kan?"


"Lagi...! Anu buk... lagi nonton Tv, Mas Dion sehat alhamdulillah."


"Oh ya udah Ibuk tutup dulu ya telfonnya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Dah pinter bohong ya?" Ucap Dion yg sedari tadi memeluk istrinya dari belakang.


"Mas ini ih malu lo kalau di lihat Bapak!"


"Bapak kan td dah bilang sebelum masuk kamar, mau mandi abis tu tidur di pesenin juga gak boleh diganggu kalau ada yg nyariin."


"Yakan bisa aja Mas, ngeyel ih Lian mau nyiapin nyusun piring dulu."


"Yaudah disiapin Mas kan gak gangu, kamu selesain nanti kita ke kamar ya..?"


"Ya gimana mau selesai kalau dari tadi di pelukin gini...?"


"Mas pengen selalu nempel sama Lian gimana dong?"


"Gak malu sama Bintang, Bintang aja malu kalau nempel mulu sama Ibuknya."


"Biarin lah... Bintang kan dah tiap hari sama kamu kita baru aja kemarin mulai deket."


"Mas ini! Padahal waktu kemaren awal-awal diem terus, jawab kalau penting aja. Sekarang Lian masih bertanya-tanya, Mas tu sikap aslinya gini ya?"


"Kenapa emang sikap Mas sekarang?"


"Manja ngalahin Bintang."


Dion terkekeh.


"Mas tu mau Manja gini ya sama kamu aja, sama Bapak ya gak mungkin Mas kayak gini bisa-bisa di tinju Mas nanti."


"Pffffftttt......" Lian geli menahan tawa setelah mendengar ucapan dari suaminya.


"Lian mau Mas kayak gitu? nguwel nguwel Bapak?"


"hahaha.... Udah Mas Lian gak kuat kalau ngebayangin hal itu kejadian di depan mata Lian." Lian semakin tertawa lepas.


Dion pertama kalinya melihat istrinya itu tertawa renyah membuat hatinya terasa hangat.


"Cantik banget istri Mas ini kalau ketawa, mana renyah banget ketawanya."


"Ih apa sih Mas." Lian tersipu.


"Beneran istri Mas ini paling cantik."


"Massss.....!" Lian tak bisa menahan lagi rasa malunya berontak melepas pelukan sang suami.


"Lah kok malah pergi?"


"Lian mau nyapu, ngepel beberes rumah. Pokoknya Lian sibuk." Ucap Lian sembari menghindar pergi.


"Lahhh kapan ke kamarnya ini?" Bisik Dion geli melihat reaksi malu dari istrinya.


****


Di kost-an di Ibukota terlihat seorang perempuan tengah tidur bersama lelaki, ketika itu suara alarm dari sebuah gawai membangunkan si perempuan yg tampak tak satupun kain melilit tubuhnya.


"Zack! Zack!!!! Bangun udah pagi cepetan pergi."


"Hmmm.... Jam berapa?" Lelaki yg sama halnya tak mengenakan pakaian hanya terbungkus selimut itu pun terjaga.


"Jam 9 cepetan, Mumpung kost masih sepi."


"Biasanya juga gak apa apa."


"Iya hari ini anak anak mau ngumpul disini,"


"Saaayank!!! Aku masih pengen." Ucap lelaki itu sembari menyapukan tangannya ke punggung sampai ke arah bawah si perempuan dengan gerakan erotis.

__ADS_1


"Zack, kan udah semalaman."


"Gak bisa puas sama kamu... Ta..."


"Yaudah cepetan mandi."


"Sekali lagi aja ya? nanti aku janji langsung pulang." Tangan Zack menyusuri area sensitif.


"Ahh.... Zack Udah, besok lagi masih ada waktu."


"Mana bisa jagoan ku udah terlanjur pengen."


"Zack!!!!! ssshhhhhh....."


"Langsung aja ya biar cepet."


"Za....ckk...... Shhhhhhh....."


"Gitu dong sayaank... nurut."


"Awas aja kamu gak teransfer nanti ya...Aw! pelan pelan!!!"


"Amannn berapa sih 10 juta? Mau belan..ja apa emangnya. Ahh...."


"Kuranglah...!Mau beli I-phone, aaaaaaww..."


"Oke, 30 cukup?"


"cu..kup !!!"


"Okehh Permata ku.. Ta...Ta.....!"


Sepasang kekasih itu larut dalam pertarungan, seperti tak kunjung usai.


****


"Udah selesai, yuk!"


"Hmmm.. di ajak ke kamar malah ngajak belanja!"


"Ya semuanya habis, gak belanja gimana Mas?"


"Iya.. iya...! Naik mobil aja ya bisa borong semua, biar nanti kamu gak nyari nyari alesan terus."


"Lah Mas gak pernah belanja."


"Yaitu makanya jangan rewel." Lian cemberut.


"Hmmm sekarang udah pinter marah ya?"


"Lian gak marah, Lian cuma gatau ih...!" Lian membuang wajahnya ke arah lain, kesal tapi tak bisa.


"Hahaha... Iya iyaa yaudah jangan ngambek ayok keburu kesorean." Dion mulai ciut saat Lian tak mau menatap kearahnya.


Dion membukakan pintu mobil, Lian masih memasang wajah Badmood.


"Udah jangan ngambek lagi, ini Mas anterin mau kemana sampe ke bulan juga Mas anterin."


Lian akhirnya tak tahan melempar senyum.


"Gitu kan cantik, jangan ngambek lagi."


Walau Lian tak kesal lagi ia masih tak mau menjawab ucapan suaminya itu.


Sesampainya di Minimarket terbesar di daerahnya, Lian memasukan satu persatu barang yg di perlukan, Dion yg tak sabar melihat istrinya memasukan 1 pcs barang per item mengambil inisiatif menambah kan 2 pcs/item kedalam troly.


"Kebanyakan gak sih Mas?"


"Gak apa apa buat stok."


Lian hanya menurut pasrah.


"Jangan lupa keperluan kamu juga di beli, cemilan Bintang juga ya jangan lupa."


"Oke..!" Jawab Lian tersenyum.


Waktunya pembayaran Lian terkejut dengan total yg lebih besar dari pada biasanya.


"Kan jadi banyak Mas totalannya."


"Gak apa apa, sini Mas yg bayar."


"Tunai atau...?" Tanya kasir.

__ADS_1


"Debit." Dion memberi kartu debitnya pada kasir.


"Silahkan tunggu sebentar ya Pak.!"


Lian hanya menggelengkan kepala.


"Coba aja kalau nurut belanja di grosir dekat pasar gak habis segitu." Bisik Lian di hati.


"Makan apa? mumpung di kota." Tanya Dion sambil membawa mendorong troly yg sudah full dengan barang.


Kota kecil yg berjarak 20 menit perjanan dari kampung Lian itu dengan jarak tempuh 13km menggunakan mobil itu adalah pusat keramaian yg menjadi tempat perbelajaan dan wisata daerah sekitar. Kampung Lian masih termasuk kampung yg lumayan terjamah oleh fasilitas pemerintah dengan jalan yg sudah rapi di aspal.


"Mas pengen apa?"


"Lah Mas nanya malah balik di tanya ni gimana."


Lian terkekeh.


"Lian jarang ke kota Mas, kepasar aja cuma makan bakso jadi bingung kalau di tanya makan apa."Jawab Lian Polos.


"Kamu ini memang cupu apa gimana?"


"Cupu apa Mas?"


"Katrok hahahah...."


"Katrok apa?'


"Dahlahh... ayok Mas makan yg belum pernah kamu makan aja di sini."


Akhirnya mereka sampai di sebuar outlet ayam goreng yg sudah ternama. Dion membawa makanan ia pesan menuju tempat istrinya yg duduk menunggu.


"Nih... Ayok cobain."


"Mas?" Wajah Lian terlihat tak excited.


"Hmm kenapa kamu gak suka ayam goreng?"


"Suka, cuma mana kobokannya?"


"Hahahaha! Pffffttt...." Dion mencoba menahan tawanya yg sudah terlanjur terlepas.


"Ayok, Mas anter kalau mau cuci tangan."


Lian akhirnya membuntuti Dion dari belakang.


"Walahh... coba di sediain kobokan, gak capek mondar mandir ya Mas?" Ucap Lian yg sekembali dari tempat cuci tangan.


Dion terkekeh tak tahan mendengar ucapan dari istrinya.


"Jadi Bapak gak pernah ajak kamu ke kota?"


"Bapak aja gak pernah ke Kota, eh pernah! waktu mau nganter Lian waktu kebandung, trus nganter Tata waktu mau ke Jakarta."


"Bapak kalau belanja dimana?"


"Di pasar Mas... kan Selasa sama minggu ada pasar di dalem."


Dion mengangguk mengerti, Kini ia faham betapa polosnya seorang Lian.


"Mas belikan HP baru ya nanti, HP kamu tu udah gak jaman."


Lian melihat Samsung J1 yg ia beli 5 tahun yg lalu hasil dari tabungannya dan tambahan dari Bapaknya."


"Masih bagus kok Mas, sayang belum rusak. Kalau lecet-lecet ini karna di mainin Bintang tapi dalemnya masih bagus, belum ada yg error buat nelpon suaranya masih jernih."


Dion memandang Lian penuh haru, berbanding terbalik dengan gadis gadis yg ia kencani dulu Lian sama sekali tidak perduli dengan kata ketingalan jaman. Walau semua hal yg di pakainya terbilang sudah terlihat usang dan sangat ketinggalan jaman.


"Mas pengen bahagiain Lian gak tau caranya." Ucap Dion dengan serius.


Lian tersenyum.


"Lian udah bahagia kok, makan di sini yg Lian gak pernah. Belanja di toko yg Lian gak pernah bisa milih-milih barang, yg paling penting di temenin sama Mas Lian udah bahagia. Makasih ya Mas."


"Kamu gampang Puas ya?" Dion semakin mengagumi sosok perempuan yg ia nikahi itu.


"Maksudnya gimana Mas?" Lian mengerenyitkan dahi.


"Ahhh sudahlah... nanti kita ngobrol lagi sekarang makan dulu."


Lian mengangguk dan mereka pun lanjut menghabiskan makanan yg tersaji.


****

__ADS_1


__ADS_2