
Pagi di kediaman Zack Moreno dan istrinya Marisha Tanuwijaya.
"Yank! Weekend besok kita ke villa puncak ya, kasian anak-anak pengen liburan." Ucap Risa nama pangilan seorang Marisha.
"Besok aku sibuk ada janji dengan klien." Balas Zack acuh.
"Yank, udah lama sekali anak-anak pengen liburan bareng Papanya. Kamu gak kangen liburan bareng anak-anak?" Imbuh Risa lagi.
"Ya aku mesti kerja! Jadi gimana? Apa kamu gak bisa seperti biasa ajak mereka, mereka bakal ngertilah kalau Papanya kerja. Kamu kan harusnya pinter nyari alasan." Zack terdengar mulai kesal.
"Bukan gitu maksud aku Yank, aku cuma pengen kita liburan bareng-bareng sama kamu. Kamu gak kangen liburan bareng Chiko dan Zio." Ucap Risa Lirih, selalu tak bisa meyakinkan suaminya dalam banyak hal membuatnya tak berdaya.
"Udah aku bilang berkali-kali kalau aku harus kerja, anak kamu yang urus!!! Bukannya ini kemauan keluarga kamu, aku harus nunjukin keseriusan aku dalam berkerja. Setiap hari ketemu klien kamu kira itu gak capek!!! Belum lagi dengar ucapan miring dari keluarga kamu yang selalu meremehkan kinerja aku di perusahaan.
Jangan tuntut aku lagi harus punya waktu untuk keluarga, aku udah stres sama kerjaan!!! Kamu bisa gak sih Risa memahami kondisi suami mu!??" Zack melampiaskan kekesalannya pada istrinya kekesalan yang selalu ia tahan setiap bertatap muka dengan Roy Tanuwijaya, mertuanya.
Zack mengambil tas kerja dan tidak menyelesaikan sarapannya, pergi berlalu begitu saja meninggalkan istrinya yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Sudah setengah tahun belakangan, Zack berubah. Baik dari ucapannya yang selalu bernada tinggi atau sikapnya yang selalu bertambah dingin kepada Risa. Risa tak bisa berupaya banyak, karna ia tau tekanan yang di hadapi suaminya. Risa juga tak bisa melawan ucapan Roy Tanuwijaya Papanya yang terus menekan Zack, karna yang bersikeras menikah dengan Zack adalah kemauan dirinya.
Di dalam mobil Zack terlihat kesal, ia pun membanting stir menuju apartemen dimana madunya berada. Tak perduli dengan perusahaan atau bisnis, hatinya sedang kesal dan panas. Zack ingin melampiaskan sejenak amarah yang menjalar di tubuhnya.
"Zack?????" Tata terkejut melihat Zack datang di pagi hari.
Zack tak berkata apa pun, Ia menarik tubuh dari penangkal kemarahannya itu. Mendekap dengan erat, mencium bahu dan leher jenjang milik Tata simpanannya itu dengan penuh gairah membabi buta.
"Zack? Kamu kenapa? Tumben kesini pagi-pagi? Kok langsung begini????" Tata masih tak mengerti mengapa Zack bertindak tidak seperti biasanya.
Zack masih tak menjawab, mendorong Tata ke dinding, menarik kedua tangan Tata keatas lalu mencengkram kuat, menyudutkan dan membuat tubuh kecil itu tak bisa melawan. Zack melampiaskan segala emosinya pada madunya itu dengan cara erotis. Hingga mereka berakhir pada pergumulan yang panas dan panjang.
Sesaat kemudian Zack yang sudah berada di atas tubuh Tata pun meleguh panjang, gairah dan emosinya tersalurkan. Tata yang lemas kewalahan hanya bisa bertanya-tanya, mengapa lelaki yang terlihat selalu manis dan manja di hadapannya ini bisa berekspresi seperti iblis.
Tata membelai rambut Zack, terlihat wajah yang lelah dan tenang itu balik menatapnya.
"Kamu kenapa Zack? Ada masalah di rumah?" Tanya Tata penuh penasaran.
"Hmmm..." Zack mengangguk.
__ADS_1
" Abis berantem?" Imbuh Tata tapi Zack hanya terdiam, Zack tak menjawab malah menenggelamkan wajahnya di dada madunya itu.
"Kalau kamu banyak masalah, aku selalu ada buat kamu Zack!" Ucap Tata.
"Rasanya aku pengen cerai dari Risa, wanita bodoh itu ikut menuntut ku seperti Papanya. Orang tua dan anak tidak ada bedanya, hanya memikirkan tentang diri mereka saja." Keluh Zack pada Tata.
"Zack, kalau kamu stres sama istri mu datang ke aku ya? Aku seneng kamu kesini kapan pun! Aku siap melayani kamu kapan pun."
"Iya Tata, Permata ku. Yang selalu mengerti aku, aku sayang banget sama kamu Ta."
"Aku juga sayang kamu Zack, aku pikir nasip kita gak jauh beda. Kita selalu di tuntut jadi seperti yang orang lain mau." Tata meluapkan kesedihannya mengingat kakaknya yang akan pindah ke Jakarta, itu sama dengan hidup Tata akan penuh dengan drama kebohongan dengan menutupi segalanya dari kakaknya, belum lagi ia harus membungkam Dion agar tak menceritakan apapun pada istrinya.
"Kamu juga lagi ada masalah?" Ucap Zack melihat Tata yang terlihat sedih.
"Iya, aku belum bisa cerita tapi ini juga bikin aku cemas beberapa hari ini. Aku jadi susah tidur Zack."
"Kamu gak boleh stres, Sayang aku harus happy!" Zack meraih dompetnya mengambil credit card dan menyerahkannya pada Tata.
"Zack, untuk apa ini?"
"Beneran Zack???" Mata Tata membulat sempurna, tak menyangka apa yang di pegangnya adalah Credit card.
"Tapi tolong jangan lebih dari 100juta ya?"
"Haaa? Se,seratus Juta????" Tata tergagap.
"Iya sayang, kamu bisa kesalon. Beli Tas, makan enak,apapun lah yang kamu mau."
"Huaaa....Makasiih sayang!!! Aku sayang banget sama kamu Zack!" Tata langsung memeluk Zack dengan erat.
"Iya sayang aku juga, apa pun yang bikin kamu sedih semoga cepat hilang."
Tata kegirangan di mabuk kasih sayang seorang Zack, merasa di atas angin ia akan melakukan banyak hal hari ini. Sudah banyak list belanjaan yang berbaris rapi di otaknya, tak sabar ingin memulai dari Mall mana ia akan menggunakan Credit card pertama yang ia pegang itu.
......................
__ADS_1
Dion tak bisa melepas senyumnya saat memandangi istrinya yang sedang sibuk dengan gawai yang sedari tadi menempel di telinganya.
"Yaudah Ibuk tutup dulu ya Bin telponnya, assalamuaikum?"
Tata pun menekan tombol merah di mode panggilan itu.
"Apa kata Bintang?" Ucap Dion penuh penasaran.
Lian membuang nafas, dan tertunduk lemas.
"Lian di cuekin Mas..." Balas Lian membuat ekspresi sedih.
"Di cuekin gimana?" Dion tersenyum melihat mimik wajah Lian.
"Mbah Uti sampe pegel megangin hape ke Bintang cuma di jawab ya ya aja. Bocahnya sibuk nonton TV, gak peduli ibuknya nelpon."
"Hahaha... Kebablasan ini ceritanya kalau Bintang bakal nyandu sama Tv."
"Kesel ih, kirain bakal kangen minta ibuknya pulang, malah gak di perdulikan sama Bintang."
" Kemaren Bapak juga telfon bilang gitu, Bapak kesana nengokin dia malah di cuekin."
"Haduh bisa gawat ni Mas dampak Tv sama Bintang."
"Biarin dulu lah, nanti kalau disini kita atur berapa lama liat Tv nanti kita alihkan sama yang lain. Disini juga ada area kusus taman bisa main disitu Mas nanti sama Bintang, nanti beli sepeda jadi bisa sepedaan bareng."
"Iya ya Mas, ternyata jadi orang tua pusing juga. Bintang-Bintang! Ibuk kangen, kamunya malah cuek!"
Dion terkekeh melihat ekspresi dari istrinya.
......................
Maaf ya readers kuh udah beberapa hari baru bisa up, jadi si hape jatoh rusak layarnya deh,hiks! Semua draft tu di notes hp hilang ;( Rasanya mau nangis sambil guling-guling. Sukur ada hape lain ;(
Akhirnya mulai lagi dari sisa-sisa memori yang ada, rasanya juga beda gak dapet feel di eps kali ini. tapi udah di notic sama NT supaya up dah walau mood belum kembali;( ada yg pernah ngerasain hal yang sama??
__ADS_1
jangan lupa like dan komen ya biar author dapet vibe positif dari kalian.. :)