Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Kebahagian itu datang (Part 1 lanjutan)


__ADS_3

"Gimana sayang, makin sakit?"


Lian yang terlihat semakin pucat, keningnya penuh dengan peluh. Ia tak lagi bisa menjawab pertanyaan sang suami, tak kalah pucat Dion yang sedari tadi gelisah melihat rasa sakit yang di pikul istrinya.


Ini kali pertama kedua pasutri itu mengalami moment yang tak akan terlupakan seumur hidup itu, ya Lian akan melahirkan buah cintanya dengan Dion. Sedari pagi kontraksi tiada henti, Lian bahkan kesulitan untuk makan karna sakitnya kontraksi yang semakin intens.


Mereka sudah berada di rumah sakit semenjak Lian mengeluh merasakan nyeri setelah menyiapkan sarapan tadi pagi, syukurnya selain sang suami yang setia menemaninya, sang Ibu juga sama merasa khawatir dan selalu berusaha menenangkan sang putri agar tetap rileks.


"Makan sedikit ya? Biar tambahan tenaga yank." Ucap Dion selagi mengusap usap perut buncit sang istri.


Lian hanya menggeleng sesekali meremas bahu sang suami.


"Makan sedikit toh nduk..." Bujuk sang Ibu.


Lian tetap menggeleng.


"Bentar Ibuk mintakan teh anget, kamu sama suami mu dulu ibuk tinggal bentar." Ucap sang Ibu yang kemudian meninggalkan ruang persalinan.


Setelah melihat ibu mertuanya pergi Dion menghela nafas panjang berusaha mengurangi rasa paniknya.


"Sayang anak Ayah, jangan lama-lama bikin Ibuk sakit ya?" Bisik Dion lagi sambil terus mengusap perut Lian.


Bulir bening keluar di ujung matanya, tak sanggup melihat perjuangan sang istri.


Tak lama seorang Bidan datang lagi setelah beberapa waktu yang lalu terus memantau pembukaan dari sang pasien partus.


"Gimana ibu... Makin terasa berat ya kontraksinya, kita cek lagi ya pembukaanya."


Dion pun sontak membimbing sang istri perlahan menuju kasur persalinan. sedari tadi Lian mengurangi rasa kontraksi dengan berjalan perlahan di dalam ruangan persalinan.


"Mudahan sebentar lagi ya, Ibu baring aja dulu ya. Pembukaan sudah hampir penuh, nanti kalau sudah terasa ingin mengejan boleh di ejan pelan-pelan jangan di paksa ya bu.. Nanti saya kembali dengan dokter."


Lian menggangguk lemah,


"Sayang semangat sebentar lagi kita ketemu bayi kita.."


"Ma..Massss....."

__ADS_1


"Kenapa... Kenapa.. sakit banget?"


Dion semakin panik melihat Lian yang sedari tadi diam bertahan menahan sakit tiba-tiba sedikit berteriak.


"Kayak ada yang mau keluar..."


"Aduh.. gimana ini, Mana Ibuk di luar. Bidan dokternya juga belum datang."


"Panggil Bidannya Mas..." Ucap Lian lagi.


"Iya Mas pergi sebentar..."


"Mas... Jangan tinggalin Lian." Rengek Lian lagi.


"Aduuuuh.. Jadi gimana?"


"Cepet Mas cepeet... Sana panggil Bidan."


Dion di ujung rasa panik dan bingung, tiba-tiba Dokter dan Bidan pun masuk kedalam ruangan. Mendadak rasa panik Dion sedikit mereda.


Sang dokter sumringah.


"Sudah mau keluar ini bayinya, atur nafas perlahan.. Kalau ada rasa ingin mengejan lagi bilang atau kasih kode ya bu Lian. Jangan di paksa hembuskan nafasnya perlahan saja." Ucap sang dokter selagi memasang sarung tangan karet berwarna putih.


Dokter mengatur posisi kaki Lian, terlihatlah hal yang tak biasa bagi Dion. Seketika airmatanya berkucuran. Di tengah perjuangan sang istri ia pun menangis deras, tapi berusaha mengusap air matanya terus menerus.


Lian berusaha sekuat tenaga, meremas lengan sang suami beradu nasip dengan kematian.


Setelah perjuangan yang lumayan panjang, suara tangis bayi memecah ruangan. Bayi perempuan telah lahir kedunia, menyusul isak tangis kedua orang tuanya. Dion gemetaran melihat perwujudan bayi dengan warna kulit yang masih kemerahan itu.


Airmata bercampur peluh, di letakanlah bayi dengan hidung yang sudah tampak mangir itu ke dada sang Ibu.


Menggeliat tangan kecilnya menjamah wajah Lian tak kuasa menahan haru biru anugrah Tuhan yang kuasa telah datang kedunia KANYA NAESWARI. Anak perempuan nan anggun bak permasyuri.


Hati Dion di liputi kebahagiaan yang tak akan bisa di ungkapkan oleh kata termanis di dunia sekalipun.


Dion menciumi wajah Lian, mengucapkan rasa terimakasih berkali-kali.

__ADS_1


"Makasih sayang, makasiih... makasih sudah berjuang untuk anak kita."


Lian dengan senyum harunya menyentuh wajah sang suami.


"Selamat ya Mas sekarang sudah jadi Ayah yang sesungguhnya."


"Kamu juga sayang, selamat sudah jadi Ibu yang sesungguhnya dan jadi istri yang luar biasa untuk Mas."


Pasangannya yang telah melewati fase terberat dan terindah itupun di liputi kebahagiaan yang tiada tara.


...........


Perbedaan waktu 3 jam dari jakarta dan Melbourne, Australia. Jerit tangis rengekan wanita yang meminta ampun, tubuhnya penuh dengan luka lebam kebiruan.


Tangisnya meminta ampun berulang kali terabaikan, ia melemah rasa ingin mati setiap kali pria yang tengah menenggak miras itu melimpahkan rasa kesalnya. Ia akan di pukuli, di paksa melayani dengan kasar.


Pria yang ia kenal dulu sangat memanjakannya, sekarang berubah seperti iblis. Di kala sadar pria itu meminta ampun dan maaf sampai bersujud di kakinya, dan melakukan hal yang keji lagi setelah ia meminum barang haram itu lagi.


Seperti putaran penyiksaan yang tiada henti, wanita itu merintih menangis menyesali waktu yang telah berlalu. Menyesali keputusan yang telah ia ambil dan berharap ada keajaiban yang mengangkatnya dari lumpur kenistaan yang di laluinya saat ini.


Ia meminta ampun pada Tuhan, namun jerit tangisnya di negri orang tak tau harus berbuat apa. Tak tau harus mengadu kemana? Bagaikan puing-puing hancur sudah mimpi-mimpinya yang ia rajut sebelum melankahkan kaki ke Australia.


"Ibuk...Pak... Tolong, aku mau pulang!!"


Kucuran air mata berlinangan, membalut luka-luka di badan.


Sedang Pria itu tertidur pulas setelah hilang kesadaran, bau alkohol seperti pewangi ruangan. Barang-barang di dalam rumah berserak terhambur seperti habis di sapu badai.


Wanita itu menyeret tubuhnya gemetaran, menyentuh jari kaki si pria yang tertidur lelap, mencoba memastikan apakah pria itu benar-benar sudah hilang kesadaran. Di ambilnya tali dari bufet, di ikatnya kaki dan tangan pria itu.


Ia takut di pukuli lagi dan mengikat pria ini lagi dan lagi seperti biasanya, seperti hari-hari yang lalu ia menyimpan tali itu dan berharap pria tak melakukan hal yang sama lagi.


Nyatanya kali ini pun ia masih mengikat pria ini lagi dengan tangan gemetaran penuh lebam. Bibirnya pecah, rambutnya acak, tubuhnya kurus tak terawat. Matanya kadang fokus kadang kosong, wanita itu telah kehilangan jiwanya.


Disaat seperti ini sebenarnya ia ingin kabur ia ingin pergi, tapi ia tak bisa. Ada janin yang tak pernah ia harapkan bersemayam dalam kandungannya, Ia tak bisa membuangnya juga dan menciptakan dosa yang sama lagi.


Wanita itu tak kuasa berpasrah tak juga juga kuasa menahan. Ia hanya berharap Tuhan mengampuni dosanya, memberikannya waktu untuk menebus kesalahannya dan mengangkatnya dari neraka kehidupan yang sedang di laluinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2