Berlian Tak Suci

Berlian Tak Suci
Begadang


__ADS_3

Mata Dion sembab tak bisa terlelap, Tidur satu kamar dgn perempuan dalam mode menahan diri itu sangat menyiksanya. Entah karna kebiasaan, Lian selalu mencoba memeluknya berkali-kali, tak lupa nama Bintang juga selalu terucap beberapa kali.


"Ibuk..., sa..yang Bint..ang"


Dan beberasa saat kemudian,


"Bin..., Bo..bok" Dengan tangan yg sesekali menepuk nepuk badan Dion.


Dion yg tak habis akal mengambil guling membuat pembatas.


Tangan Lian juga masih sesekali menepuk nepuk guling.


Dion menahan tawa, entah mengapa hatinya luluh. Mengigat Almarhum ibunya yg selalu melakukan hal yg sama kepadanya sebelum tidur.


"Kamu pasti sayang banget sama Bintang."


Dion merunut lagi ingatannya selama mengenal Lian, hatinya sedikit tergoyah. Gadis yg selalu berpakaian apa adanya, tak pernah barang sekali pun meminta apapun padanya. Selalu berusaha tersenyum disaat bersamanya. Perempuan yg selalu tampak alami dan sederhana, yg selalu mencurahkan kasih sayangnya pada Bintang.


"Apa mungkin perempuan seperti ini, tergila gila dengan uang?"


Dion menatap Lian lekat-lekat.


"Tidak mungkin! Aku pasti termakan gosip."


****


Pagi pun datang saat Lian langsung terbangun dari tidurnya, duduk di pinggir ranjang mengumpulkan kesadaran. Ia melangkah seperti biasa dan membuka jendela.


"Bin... Bangun nak, udah terang."


Lian mengusap usap matanya baru tersadar saat menyadari hiasan kamar pengantinnya, sontak membulatkan mata langsung memutar badannya ke arah ranjang dan Dion sudah duduk bersender dan membalas tatapannya.


"Kenapa?" Tanya Dion yg melihat reaksi Lian yg tiba-tiba membeku.


"Ah.. eh, anu.. Ehhe kamu tadi malam tidur disini?"

__ADS_1


"Jadi dimana?"


"Bukan gitu maksudnya kita tidur satu ranjang?"


" Gak usah ge er, aku gak ngapa-ngapain kamu. Lagian kalau aku ngapai-ngapain kita juga udah sah. Tapi tenang itu gak terjadi, tidur kamu aja kayak kucing lagi berantem aku jadi gak bisa tidur semalaman."


"Ku...kucing lagi berantem?"


"Harusnya aku iket kamu tadi malem."


"Ma.. maaf, aku gak sadar." Jawab Lian dengan mimik bersalah.


"Ya iyalah gak sadar, kalau sadar kamu gak tidur namanya."


"Biasanya aku gak gitu kok, mungkin karna aku kecape..an." Ungkap Lian sambil meremas ujung bajunya.


Dion dengan serius menatap Lian tapi saat berbalik badan ia menahan senyum, kemudian membuka pintu kamar berjalan menuju kamar mandi.


Wajah Lian terlihat kikuk dan sedikit ketakutan, masih tidak percaya tadi malam ia ketiduran. Ia tak menyadari sepanjang malam tidur bersama Dion yg telah sah menjadi suaminya.


****


"Bintang mo nambah lagi?" Menawari anaknya yg terlihat makan dengan lahap.


"Lagi, enak buk."


"Sini piringnya..." Lian menambah satu sendok nasi ke piring Bintang.


"Eh Om ganten juga udah belsih pirinnya buk."


sontak semua mata menuju ke arah piring Dion.


"Mau nambah lagi nak Dion...?" Ucap Buk sum.


Dion mengangguk dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Ayo Lian tambah lagi kepiring Dion, makan yg banyak nak Dion."


Lian mengisi piring Dion lagi,


"Lian itu memang enak masakannya... kamu kalau mau di masakan apa bilang aja sama Lian pasti gak kecewa sama rasanya." Tukas Pak Har.


"Iya Pak, Dion lapar sebenarnya tadi malam begadang."


Lian yg sedang minum pun langsung terbatuk, disambung Pak Har dan Buk Sum yg lantas langsung saling liat dan menahan senyum.


Huk huk huk!!!!


Dion melihat ekspresi wajah kedua mertuanya baru menyadari apa yg salah dari ucapannya, yg bisa saja membuat ambigu.


"Bu..bukan begitu maksud Dion..."


"Sama kok Om........" Bintang nyeletuk memotong pembicaraan Dion.


"Ibuk tidul ndak bisa diem, pelnah sampe bangun malam tangan Ibuk di kepala Bintan, kadang pukul pukul sakit sampe susah bobok, Bintan makanya suka bobok sama mbah aja.


"Bintang kok ngomongnya gituu...? biasanya juga selalu tidur sama Ibuk kok."


"Bintan tu kasian ibu bobok sendili, bintankan mau jagain Ibuk."


"Iya Bintang, Ibuk mu memang lasak om jadi gak bisa tidur."


Dion cepat cepat menyela, menjelaskan maksudnya. suasana yg tadi sedikit canggung berubah menjadi sedikit cair.


"Ya kan Om.... ibuk lasak.!"


"Hiih Bintang, kok gak belain ibuk..." Bibir lian pun menjadi manyun.


"Hahahaha.... Sudah sudah diselesaikan dulu makannya, malah jadi pada ngobrol gak baik." Sela Pak Har.


"Iya Mbah kung..." Balas Bintang dengan nasi penuh di mulut kecilnya.

__ADS_1


Wajah lian memerah dan sedikit mencuri pandang ke arah Dion yg terlihat menahan tawa.


__ADS_2