
Dion nampak semangat menunggu istrinya yg sudah 10 menit di kamar mandi, sebagai seorang lelaki ia sudah tak sabar mencurahkan apa yg sudah tertahan seharian penuh.
Jglek! Suara pintu kamar mandi yg berada di dalam kamar itu berbunyi sontak membuat Dion langsung tersenyum.
"Mas?" Kepala Lian muncul dari balik pintu.
"Ya!!?" Dion bersemangat.
"Itu... boleh minta tolong ambilkan pembalut di lemari, laci bawah yg paling kanan?"
"Kamu bocor?" Dion tak menyangka.
"Ia ni baru tau, sukur deh tadi gak tembus di jalan."
"Ya... Sebentar ya..." Suara Dion lemas.
Kakinya melangkah malas menuju ke arah lemari.
"Udah sabar seharian malah harus nunggu seminggu lagi...." Kesal Dion dalam hati.
Dion menyerahkan roti bantalan itu pada istrinya. Malam yg panjang dah menyiksa akan di mulai lagi.
Beberapa saat kemudian Lian yg sudah selesai membersihkan diri, menghampiri Dion di pembaringan.
"Mas kok cemberut?"
"Mau mesra sama kamu malah gagal."
"Yaudah mesra aja loh, ni Lian udah nyiapin keberanian."
Dion yang tadinya agak badmood terkekeh geli mendengar ucapan istrinya.
"Terus gimana kamu lagi menstruasi."
"Eh, emang kalau lagi gak mens gitunya harus malam ini ya Mas?"
"Lah tadi katanya udah nyiapin keberanian."
"Lian kirain mas pengen cuma ciuman."
Tak! Dion menyentil dahi istrinya.
"Aduh, sakit mas!!"
"Mana bisa cuma ciuman sayang....! Mas ni dah puasa lama, ya pengen langsuk makan kamu lah."
"Jadi... gimana? Pasti Mas kecewa ya?"
"Mana bisa kecewa sama kamu, Mas malah kecewa sama diri Mas sendiri yg gak bisa nahan diri."
"Lian ngerti kok soal kemaren pas Mas nya mau, lagian Ibuk juga pesen kalau suami mau jangan nolak nanti dosa. Cuma Lian gak bisa bohongin diri Lian sendiri, iya! Lian takut, panik, Lian gak punya pengalaman apa-apa. Lian gak tau mesti ngapain. Terus rasanya aneh ngelakuin kayak gitu, tapi Lian juga takut dosa kalau nolak suami."
Dion tak bisa memalingkan pandangan dari wajah istrinya itu, gadis yg suci, belum pernah di jamah. Gadis yg polos, mengutarakan apa pun yg di pikirkannya tanpa ragu. Sebenarnya keberuntungan dari Tuhan ada di depannya.
"Tau gak? Mas tu gak kecewa sama Lian karna apa pun. Mas kecewa karna Mas ini begitu bodoh, kenapa berlama lama membiarkan keadaan jadi begini, harusnya di awal Mas selesaikan kekeliruan Mas sama kamu. Kalau seandainya waktu itu sudah selesai seperti sekarang, pasti Mas bisa lebih cepat mengenal Lian. Dan sekarang pasti kita udah gak canggung lagi dengan hal ini."
"Lian cuma berharap saat kita udah bisa ngelakuin itu, Lian juga dalam posisi yg udah siap. Supaya Mas gak susah karna Lian yg selalu spontak nolak tanpa sadar."
__ADS_1
"Kamu ini pengertian banget sih...? Mas tu selalu suprise sama ucapan yg keluar dari mulut kamu, dewasa trus selalu tau mengambil posisi. Mas makin sayang... Makin merasa beruntung bisa nikah sama Lian."
Wajah Lian sontak tersipu.
Cup! Satu ciuman manis mendarat di pipi Lian, wajahnya kini semakin merona.
"Malu ya?" Ucap Dion mengoda.
Dion membelai rambut istrinya mengecup bibir tipis itu sesaat lalu mendekap membawa tubuh kecil itu dalam pelukannya untuk berbaring.
"Yaudah kita tidur... yg penting Lian disamping Mas mas udah bahagia."
Lian mengangguk, perlahan terlelap di dekapan suaminya.
****
Seminggu pun berlalu Dion membawa Lian mengunjungi mertuanya sembari menjemput anak sambungnya.
"Jadi begitu?" jawab Pak Har.
"Ia Pak, ini masih rencana rumah di sana jg masih di renovasi." Lian menjelaskan.
"Jadi nanti Lian sama Bintang bakal jarang pulang."
"Lian usahakan sebulan sekali Pak."
Pak Har mengangangguk angguk mendengar penjelasan anaknya itu, ada rasa berat yg tak bisa ia sampaikan tapi ia juga harus merelakan karna kini anaknya sudah memiliki suami.
Ya, Lian dan Dion menjelaskan tentang rencana kepindahan mereka ke Jakarta, mereka memutuskan untuk hidup disana. Tentu saja itu keinginan dari Pak Dandi, mengingat banyak hal yg mendukung rencananya membawa kedua pasangan baru itu ke Ibukota. Terlebih agar tidak mendengar segala tudingan miring tentang mereka demi masa depan Bintang.
"Dion usahakan Pak, tentu Dion sudah memikirkan segala hal kedepannya."
"Ya, memang harus begitu nak. Bapak minta nanti di sana jaga Lian baik-baik, Lian juga sesekali kunjungi kosan adik mu Tata."
"Ia Pak." Angguk Lian.
Tak berlansung lama setelah pembicaraan itu, Lian dan Dion pamit pulang serta membawa Bintang.
****
"Buk, kapan lagi Bintang bobo dilumah Mbah?"
"Ya nanti ya Bin, Kakek juga udah kangen. Oom juga."
"Sekarang panggil Oom Ayah ya Bin...!"
Lian dan Bintang langsung serentak menatap kearah Dion yg sedang menyetir setir bundar yg tengah di genggamnya.
"Ayah?" Seru Bintang.
"Boleh kan Om minta di panggil Ayah?"
Lian pun menjadi haru.
"Hmmm... Jadi Ibuk nikah sama Om, buat ngasih Ayah ke Bintan ya buk?"
"Hmmm.. Kan Bintang minta Bapak sama ibuk." Jawab Ibunya.
__ADS_1
"Buk, Pas Bintan minta Oom jadi Ayah Bintan main main Buk."
"Loh kok main main, tapi Bintang mintanya beneran waktu itu."
"Kata Izel nanti kalau Bintang punya Ayah, ibuk ndak sayan Bintan lagi. Jadi, Bintan mau bilannya Oom aja ndak mau Ayah."
"Hahaha.... " Dion tertawa renyah.
"Tu Oom aja malah ketawain Bintan."
"Mass....!!" Lian melirik ke arah suaminya.
"Kok Bintang baru bilang sekarang gak mau punya Ayah." celetuk Dion.
"Izel balu bilan malen sama Bintan, kalau punya Ayah nanti Ibuk ndak sayan Bintan lagi...!" Ucap Bintang memimbik kan bibir setengah ingin menangis.
"Bintang berarti gak percaya ya sama Ibuk Bintang?" Ucap Dion lagi.
"Pecaya itu apa om?"
"Percaya itu artinya Bintang gak boleh mikirin yg gak baik tentang Ibuk."
"Bintang Pecaya Ibuk Om!" ceplos Bintang.
"Kalau percaya harusnya lebih dengerin Ibuk, pernah gak Ibuk gak sayang sama Bintang?"
"Iya Om Ibuk sayan Bintan banyak banyak..."
"Oom juga sayang Bintang kan?"
Bintang mengangguk.
"Jadi yg sayang Bintang jadi banyak.. ada kakek juga, Malah jadi banyak yg sayang kan?"
"He eh.." Bintang faham.
"Kalau Bintang panggil Om Ayah nanti Om makin sayang sama Bintang."
"Coba panggil Oom Ayah Bin." Ucap Lian pada anaknya.
"A....ahhhh yaaaaaa...hhhhh." Bintang memainkan intonasi suaranya dari pertama tinggi hingga tak terdengar sama sekali.
"Lahh malah main main." Dion terkekeh.
Bintang nyengir.
"Yaudah kalau belum mau gak apa apa, nanti kalau bintang udah mau panggil Ayah Om kasih hadiah.
"Hmmmmm... Oke! janji ya om."
"Janjiiii...."
"Yeee...!!!!" Bintang bersorak.
Lian hanya mengeleng melihat reaksi anaknya dan usaha dari suaminya.
Tanpa sadar mereka pun sampai, keluarga kecil itu tanpak bahagia. Sorak tawa Bintang saat Dion mengangkatnya keatas bahu serta mimik panik Lian yg takut anaknya terjatuh, seperti mimpi Lian tak menyangka musim semi menerpa kehidupannya.
__ADS_1