
Kaivan tahu Rose itu seumuran dia, artinya masih belasan tahun. Anak remaja memang suka aneh, bisa sangat labil, suka memberontak, atau ngambek seperti - yah, begitulah.
Di sekolah, Rose sengaja duduk di bahu Dohyun hanya untuk membuat Kaivan kesal, dan dia berhasil. Apa itu yang namanya cemburu? Kaivan tidak akan paham dengan itu, dia tipe yang tidak peka.
Akan tetapi Rose itu tidak bisa jauh dari Kaivan, jadi sepulang sekolah dia menempel lagi dengan Kaivan.
"Ku pikir kau akan ikut Dohyun pulang" sindir Kaivan.
"Hmm, apa ini? Kau cemburu?" Rose malah semakin menjahili Kaivan, dia senang melihat Kaivan kesal.
"Enggak!"
Untungnya saat itu Kaivan sudah di rumah, dia pulang menggunakan taxi karena tidak sabar untuk rebahan di ranjangnya sendiri. Ranjang Dohyun sih empuk dan nyaman, tapi entah kenapa lebih nyaman ranjang sendiri, walau sedikit keras. Maklum saja, ranjang Kaivan kan bekas pak polisi, tidak mempedulikan kenyamanan ranjang.
"Lalu kenapa wajahmu merah gini? Heum?" Rose menoel pipi Kaivan dengan tangan mungilnya, malah membuat Kaivan tambah kesal, biasalah, Kaivan juga masih remaja. Hormon remaja suka meledak-ledak, dijahili begitu tambah kesal.
"Aku gak cemburu!"
"Apa kau bahkan tahu bagaimana perasaan cemburu itu? Itu mirip dengan perasaan iri, kamu tidak suka milikmu dekat dengan orang lain, iya kan?"
Rose benar, tapi Kaivan tidak mau mengakui itu. Jadinya dia memilih mengalihkan perhatian dengan bermain game. Kalau main game kan dapat poin dan poin itu uang. Sedangkan meladeni Rose hanya dapat rasa amarah yang aneh.
"Dasar remaja, dia malah main sekarang!"
"Peri yang suka ngambekan gak pantes ngomong gitu!"
"Idih! Ya udah aku pergi aja!"
"Iya, pergi aja sana!"
Kemarin Kaivan tidak sempat memeriksa statusnya, padahal kemarin dia sempat main game juga. Saat di rumah Dohyun, dia diajari main game pertarungan oleh Jihun. Junghyun juga main, tapi setelah kalah dia menyerah dan pergi. Jadilah Kaivan yang main dengan Jihun dan Dohyun, tapi karena pemula, dia jelas kalah. Jadinya Kaivan main gamenya sendiri saja, hitung-hitung dapat poin.
Masih dengan game bubble bomb yang belum tamat juga, padahal Kaivan lelah dengan sistem level tiganya.
Kaivan pun bermain game, rencananya sampai tamat dulu baru cek status. Namun baru saja Kaivan lega dia sudah sampai level 99, pintu kamarnya diketuk.
Dia buru-buru menghentikan permainannya lalu berjalan membukakan pintu.
Terlihat Dasha, seorang teman perempuan, Jihun dan Junghyun yang menguap malas. Mereka terlihat kecapekan.
"Kalian -"
"Permisi!"
Belum juga Kaivan selesai mengatakan sesuatu, Jihun sudah menyeret Junghyun untuk masuk kamar Kaivan.
Kaivan ingat mereka berdua itu teman Dasha, tapi tidak kepikiran sama sekali jika akan datang bertamu.
"Aku kemari hanya untuk memberikan ini, aku banyak salah padamu, jadi ku harap boneka ini bisa membuatmu senang" Dasha memberikan boneka sapi lucu jumbo, yang ukurannya setengah tubuh Dasha.
__ADS_1
Kaivan yang bingung hanya menerimanya saja, "terimakasih kak."
"Kamu kebangetan ya, masa minta maaf pake boneka gratisan" sahut Jihun, dia menemukan toples permen penyemangat dan memakannya satu, sedangkan Junghyun sudah tidak peduli dengan dunia, dia ketiduran. Sepertinya kakak Dohyun itu kecapekan sekali.
Entah apa yang telah mereka lakukan.
"Jadi kami dari event perusahaan yang memiliki produk susu segar dan olahan susu terbaik, ada seminar gitu," ucap Aeri, satu-satunya teman Dasha yang ramah dengan Kaivan.
"Ada permainan juga, kebetulan ada cowok juara satu dapet boneka itu, dikasih ke Dasha, terus dikasih ke kamu" sahut Jihun.
Kaivan tersenyum, tidak tahu harus menyahut seperti apa. Ternyata itu boneka turun temurun.
"Kalian malah bilang-bilang! Kan aku jadi malu! Kita dapat susu segar juga lho, ada di lemari es yang ada di bawah, ambil saja jika mau, aku punya banyak boneka seperti itu, kamu kan gak ada disini" ucap Dasha malu-malu.
"Yah! Cowok ga butuh boneka!" Sahut Jihun jengkel, dia sudah lelah mengatakan pada Dasha jika Kaivan tidak akan suka boneka, tapi Dasha yang bucin tidak mau mendengarkan. Alasan Jihun kesal juga karena Dasha ternyata menyukai Kaivan, dia bukan cemburu, bagi Jihun Kaivan itu terlalu muda untuk Dasha.
"Kamu gak suka?" Tanya Dasha.
"Aku suka kok!" Kaivan buru-buru menyahuti, suka tidak suka, dia akan tetap menerima.
"Jihun bilang kamu bisa masak ya? Aku penasaran" ucap Aeri.
"Tentu saja bisa, dia itu cepat belajar, belajar bahasa Korea saja cepat sekali padahal tidak ada yang membantunya, Kaivan juga pertumbuhan fisiknya cepat," Dasha adalah yang paling semangat membeberkan kehebatan Kaivan, membuat yang dibicarakan jadi malu.
"Tidak sehebat itu! Aku masih belajar" sahut Kaivan.
"Tuh kan, dia sangat rendah hati" ucap Dasha.
Dasha mendekati temannya itu lalu memukul lengannya kesal, "tahu malu dikit dong di rumah orang! Kamu ngrepotin Kaivan aja tau gak?"
"Kamu repot Kai?"
Kaivan menggeleng pelan, "enggak kok, Sukiyaki kan? Akan ku buatkan, kebetulan aku juga lapar."
"Wah, aku tungguin disini ya!" Jihun ikutan rebahan di ranjang Kaivan seolah itu rumahnya sendiri, Dasha melirik temannya yang tidak tahu malu itu jengkel.
Kaivan pun pergi ke dapur, mengatakan pada pelayan jika dia mau masak makan malam untuk semuanya. Pelayan pun senang mendengarnya, dia sudah akrab sekali dengan Kaivan, padahal dulu takut sekali hanya dengan melihat Kaivan.
"Kalau butuh bantuan bilang ya, Kai!" Ujar pelayan sebelum pergi istirahat.
"Saya baik-baik saja ahjuma!"
Kaivan pun memeriksa apa semua bahan ada disana. Masih ada satu pak daging sapi Korea kualitas tinggi A++ di lemari pendingin. Itu daging dari Hanbin, Hanbin sendiri dapat hadiah.
Dagingnya masih banyak, jadi cukup. Daging itu sudah dipotong tipis-tipis, membantu sekali, jadi Kaivan tidak perlu memotongnya lagi.
Ada pula bahan lainnya, jamur Enoki dan Shitake pun ada disana.
"Sukiyaki ya? Aku belum pernah makan itu" gumam Kaivan.
__ADS_1
"Aku juga! Sisain buat aku ya?" Tiba-tiba Rose sudah muncul saja.
"Bukannya kamu ngambek ya?"
Rose membelalakkan matanya, lalu membuang muka, "enggak kok! Gak ngambek! Aku cuma marah bentar aja, aku bantuin deh masaknya!"
"Hahaha" Kaivan terkekeh lalu menyentuh Rose dengan jarinya yang besar, tentu Rose menangkap jari tersebut. Lucu sekali.
"Dengan kamu diam itu lebih membantu, duduklah, biar aku yang masak."
"Oke!"
Kemudian entah muncul dari mana, Rose duduk di kursi mini yang dia letakkan di atas meja.
Melihat Rose yang kecil itu lucu sekali, Kaivan terhibur hanya dengan melihatnya saja. Mungkin benar dia cemburu saat Rose berpaling pada Dohyun, padahal dia tidak membenci Dohyun. Entahlah, itu perasaan yang rumit.
Resep Sukiyaki entah mengapa sudah melekat di otak Kaivan padahal dia baru sekali melihat resepnya.
Oh iya, Kaivan melihat resep dari salah satu Chanel yutup yang terkenal, dia adalah chef asli Jepang. Awalnya Kaivan tidak paham dengan bahasa Jepang, dia saja belum belajar bahasa itu. Mungkin berkat skill belajar cepat dan tepat juga, benar-benar memudahkan.
Tiga puluh menit kemudian semuanya selesai, Kaivan memanggil orang yang ada di rumah. Hanya ada anak-anak disana, orangtua Dania dan Dasha pergi untuk urusan penting. Kaivan sengaja membuat banyak, dia bagikan pada pelayan dan satpam juga. Sementara bagian Rose sudah dibawa ke dunia peri.
Kaivan jadi penasaran, bagaimana dunia Rose itu? Apa semuanya kecil juga?
Dohyun menelfon Kaivan, protes kenapa dia tidak diberi makanannya. Kaivan pun mengatakan akan membungkusnya dan meminta Junghyun membawa pulang, baru Dohyun tidak marah lagi.
Kaivan heran kenapa mereka suka sekali makanan buatannya. Padahal ya biasa saja, tapi bahkan Aeri yang keturunan Jepang memuji masakan Kaivan. Aeri bilang itu mirip Sukiyaki dari restoran Jepang terkenal.
Kaivan sih senang, itu artinya masakan dia berhasil.
"Bukankah kamu sebaiknya jadi koki saja?" Celetuk Junghyun setelah mereka selesai makan. Kini Kaivan membungkus kan Sukiyaki untuk Dohyun di tempat makan yang bisa menahan panasnya makanan seharian. Makanan masih akan tetap segar meski dilupakan satu hari. Jelas itu tempat makan ajaib yang dia beli di toko sistem. Kaivan juga berpesan untuk tempat makannya harus dikembalikan lagi.
Mahal soalnya, satu poin.
Akhirnya semua selesai juga, Kaivan bisa rebahan jug - "Kaivan!"
Ah, sepertinya tidak, karena Dania memilih untuk masuk kamarnya. Kaivan pun duduk, tersenyum pada gadis cantik itu.
"Iya? Ada apa?"
Sepertinya rebahan dan main game harus ditunda dulu.
Padahal sudah jam sepuluh, bukankah pelajar jam segitu sudah harus tidur ya? Kok Dania masih bangun saja?
"Aku ingin bicara, boleh kan?"
"Tentu saja."
.
__ADS_1
.