Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Dilamar kakak seksi


__ADS_3

Akhirnya Kaivan bisa rebahan juga. Dia ada di apartemen sendirian, Rose sudah diajak Dania dan Dasha, katanya mau shoping. Kaivan juga sudah membekali Rose dengan kartunya, agar bisa ikut shoping.


Kaivan tidak ada niatan untuk makan malam sama sekali, dia sudah malas makan setelah di sekolah dia ditantang oleh Seon. Ada restoran baru buka, restoran itu menyediakan ramyeon dan ada semacam challenge gitu. Tantangannya adalah menghabiskan porsi jumbo disana, jika menang akan dapat voucher gratis dua hari makan di restoran itu.


Yang memberi tantangan, yaitu Seon tidak kuat setelah habis setengah porsi, lalu Kaivan menang.


Porsi jumbo itu sangat gila, seperti memakan lima bungkus mie Samyang buldak.


Sekarang tinggal kenyangnya saja, dan perasaan begah yang mengganggu. Untungnya Rose sebelum pergi dia membuatkan teh madu untuk mengatasi sakit perut, jadi sekarang Kaivan baik-baik saja. Tapi Kaivan masih dendam pada Seon karena membuatnya menghabiskan mie pedas jumbo itu. Rasa pedasnya itu pedas yang panas, jadi agak gimana gitu, untungnya enak.


Kaivan yang bisa itu membuka media sosialnya yang hampir berdebu karena jarang dibuka. Dia mengernyitkan dahinya setelah melihat vidio dirinya makan mie tantangan jumbo itu sedang viral.


Memang saat itu ada banyak yang merekam, Kaivan tidak mau ambil pusing karena mereka tidak mengganggu.


Tapi berkat vidio itu, restoran dekat sekolah tempat Kaivan menerima tantangan jadi viral juga, banyak yang ingin mencoba.


"Hmm, gampang banget bikin viralnya ya?" Gumam Kaivan.


Kaivan pun ingin memanfaatkan situasi itu untuk memposting produknya sendiri. Hanya tinggal berfoto dengan produknya, lalu posting saja.


Selesai.


Tidak berapa lama kemudian orang-orang berdatangan, satu menit, likes sudah mencapai 500.000 dan komentar sudah dua ribuan.


"Jadi gini rasanya jadi terkenal, ya? Tidak buruk, tapi agak ngrepotin."


Bosan dengan media sosial, Kaivan pun pergi menuju game baru untuk meningkatkan level sistem ke level tujuh. Dia yakin sekali gamenya akan sulit.


Dan benar saja, game yang muncul adalah kingdomcraft. Itu adalah game untuk membangun istana. Dimulai dari rumah kecil, menjadi agak besar, lalu lebih besar lagi hingga menjadi istana. Kaivan dipaksa menjadi arsitek, karena bagian dalam juga harus detail sesuai yang diminta oleh game.


Hanya ada 50 level disana, level pertama kelihatannya istana yang dibangun sangat mudah. Tapi ternyata Kaivan yah tidak ada kemampuan arsitektur tersebut salah pilih bahan, istana dengan mudah roboh karena angin ****** beliung.


Rasanya Kaivan ingin menangis dipojokan.


"Game macam apa ini?" Keluh Kaivan, dia memukul-mukul boneka sapi jumbonya karena kesal, tidak mungkin dia membanting sesuatu karena semua barangnya mahal.


Kaivan berhenti kesal setelah mendengar suara bel apartemen berbunyi, ada tamu.


Biarlah nanti saja gamenya, Kaivan harus belajar arsitektur dulu dan bahan-bahan bangunan sebelum main game.


Sebelum membuka pintu, terlebih dahulu Kaivan melihat pada intercom, ingin tahu siapa yang datang jam setengah delapan malam disaat orang lain sudah istirahat.


Tapi setelah melihat siapa yang datang, buru-buru Kaivan membuka pintu.


Ternyata kakak kantoran seksi yang tadi pagi dibantu Kaivan.


"Halo... Aku datang untuk berterimakasih, kamu tadi pagi sudah menolongku, kan?" Ucap wanita itu.


"Oh, iya kak, ayo masuk!"

__ADS_1


Kaivan mempersilahkan wanita itu masuk dan duduk di ruang tamu.


"Kakak mau minum apa?" Tanya Kaivan.


"Tidak perlu repot-repot, duduklah dulu, aku tidak haus kok. Ehem - aku datang kesini untuk minta maaf, aku sudah merepotkan mu. Aku sebagai orang dewasa dan melakukan hal seperti itu - aku malu sekali, jadi mohon terima ini! Aku membawakan kimchi yang dibuat oleh nenek dan ibuku, meski mungkin kau tidak suka kimchi, kau akan menyukai yang satu ini, karena bahan-bahannya spesial. Kau tahu ada festival kimchi tahunan, disana ada semacam lomba membuat kimchi, nenek dan ibuku adalah juara bertahan disana, kamu wajib cobain ya?"


Wanita itu menyodorkan paper bag berisi kimchi, ada dua macam, yang satu sawi seperti biasa, satunya kimchi timun. Kaivan tidak masalah dengan kimchi timun, tapi jika itu kimchi sawi... Tapi karena ucapan wanita itu tentang kehebatan kimchi buatan nenek dan ibunya, Kaivan jadi penasaran juga.


"Makasih ya kak, aku sebenarnya tidak terlalu terbiasa dengan kimchi, aku ini pendatang disini, aku disini hanya untuk sekolah," ucap Kaivan.


"Oh gitu ya? Tapi kamu emang kayak orang asing sih, asalnya dari mana? Amerika? Rusia? Eropa?"


Kaivan tersenyum miris, "aku masih orang asia kak, dari Indonesia."


"Oh! Hehe, kamu kelihatan kayak ras kulit putih, kayak anak mix gitu lho. Indonesia itu dimana ya?"


Kaivan ingin menangis mendengarnya, "kalau Bali kakak tahu?"


"Bali? Tahu dong! Siapa juga gak tahu Bali? Aku lulus SMA liburan kesana dengan temanku."


"Nah, Bali itu masih bagian dari Indonesia kak."


Wanita itu tersenyum malu, "maaf ya, ketahuan deh aku gak pinter-pinter amat, hehe. Oh iya, aku belum kenalan, kan? Namaku Kim Yuna, panggil aja Yuna, ya?"


"Baiklah kak Yuna, kakak udah makan malam?"


"Eh? Eum - belom sih..."


"Gak ngrepotin?"


Kaivan menggeleng, "tentu aja enggak, kakak tunggu disini ya? Aku masakin dulu."


"Eh? Lho, kami masak sendiri? Orangtuamu mana?"


Yuna mengikuti Kaivan ke dapur meski Kaivan sudah mengatakan tunggu saja.


"Orangtuaku gak ada kak, aku tinggal sendirian disini, tapi tengah aja, aku punya wali kok disini, pak polisi, dia sibuk banget gak bisa tinggal sama aku."


"Oh gitu, aku bantuin masaknya ya, Kai?"


"Boleh, kakak bisa pake apron ini."


Kaivan memberikan apron merah muda renda-renda pada Yuna. Itu apron buatan Rose, pernah Rose memaksa Kaivan memakainya, tentu Kaivan tidak mau.


"Apronnya cantik banget!"


"Buat kakak aja kalo mau, aku gak bisa make itu."


Mereka pun mulai memasak. Ada daging Wagyu yang menganggur di lemari pendingin, jadi Kaivan memasaknya, digoreng tepung, lalu disiram dengan saus khusus rasa bawang putih. Saus itu dibeli dari toko sistem, yang menjualnya adalah toko di Jepang sana. Karena Kaivan penasaran jadi dia beli. Ada macam-macam rasa, tapi menurut Kaivan yang bawang putih lebih enak.

__ADS_1


Akhirnya selesai!


Karena terlihat menggiurkan, jadi Kaivan ikut makan, tapi sedikit saja. Yuna sempat pulang ke apartemennya untuk megambil sesuatu yang cocok untuk makanannya.


Setelah datang, Yuna malah membawa bir kalengan.


"Aku boleh sambil minum kan? Soalnya ini cocok pake bir, please?"


"Iya, aku gak masalah kok kak."


Kaivan sudah maklum dengan kebiasaan orang-orang disana. Tentu budayanya beda dengan Indonesia. Orang dewasa di Korea, Jepang, itu biasa makan sambil minum alkohol. Kaivan tidak bisa melarang dong, dia hanya perlu menghormati budaya mereka saja.


"Karena kamu masih dibawah umur aku jadi gak enak deh," ucap Yuna.


"Santai aja kak, aku gak masalah, ayo dimakan!"


"Enak banget! Kamu jago masak ya? Kalo aku jadi istrimu pasti makmur deh, bisa dimasakin tiap hari," ucap Yuna, sambil menatap Kaivan dengan senyuman manisnya.


Kaivan terbatuk-batuk karena tidak menyangka Yuna akan berkata seperti itu.


"Emang kak Yuna gak masalah punya suami kayak aku? Aku jauh lebih muda dari kakak lho."


"Aku gak masalah, kalo kamu udah legal nanti bilang ya Kai, nanti aku lamar kamu, hehe."


Kaivan hanya tertawa canggung, dia tidak menyangka akan dilamar secepat itu, oleh wanita dewasa pula.


"Bercanda kok, kamu gak perlu bawa ke hati - tapi kalo kamu tertarik sih, gak masalah ya," ucap Yuna lagi, kali ini sambil berkedip genit.


Karena ekspresi Kaivan itu lucu saat digoda seperti itu, jadi Yuna suka sekali menggodanya.


Beberapa waktu setelah makan malam selesai, Yuna sudah mabuk saja. Wajah cantiknya berubah memerah, jadi makin cantik sih, jujur saja.


Tapi Kaivan jadi bingung harus bagaimana, dia berharap Rose segara datang dan membantunya.


"Kak Yuna?" Kaivan mengguncang bahu wanita cantik itu. Tapi bukannya bangun, Yuna malah membuka kancing kemeja putih yang dia kenakan.


"Kak, jangan dibuka!"


"Gerah banget, Kai!"


"Jangan! Aku nyalain AC ya? Udah nyala nih, udah dingin kan - aku bilang jangan dilepas!"


"Panas!"


Kaivan berdiri mematung melihat wanita seksi itu sudah membuka seluruh kancing kemeja, memperlihatkan tubuh indahnya.


"Aduh, gimana ini? Harusnya aku gak bolehin minum tadi."


Memang penyesalan selalu datang belakangan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2