
Beberapa hari berlalu, Kaivan sudah berhasil membangun istana level satu di game kingdomcraft. Karena terlalu memikirkan masalah pesan teror dan sindikat, jadi Kaivan merasa stress. Obat stressnya tentu saja bermain game.
Ternyata sangat asyik bermain game sambil belajar arsitektur. Kaivan bahkan sempat berpikir, apakah dia kuliah arsitektur saja, ya? Tapi setelah dipikir-pikir lagi, dia lebih ingin kuliah bisnis manajemen saja.
Karena Kaivan bercita-cita ingin menjadi pengangguran banyak uang, dia harus mempelajari bisnis juga. Sebenarnya ada skill bisnis jika mau mengeluarkan 50 juta poin sistem. Tapi Kaivan tidak mau dan tidak Sudi melakukannya.
Itu uang yang sangat banyak, dan lagipula belajar manual jauh lebih terasa. Kaivan juga suka belajar, jadi tidak masalah. Kadang yang instan juga tidak bagus.
Selain main game untuk menaikkan level sistem, Kaivan juga beberapa hari ini jadi rajin memeriksa kebun dan ternak di royal farm. Bahkan Kaivan juga mendapatkan game baru tapi masih ada di dalam royal farm, yaitu royal garden.
Royal garden tentunya bisa menanam berbagai bunga yang cantik dan aromanya wangi. Beberapa dari bunga juga unik sekali.
Ada bunga langka bernama bunga kristal, kelopaknya terlihat seperti kristal, bening, berkilauan dan transparan. Jika bunga sudah berubah menjadi buah, buahnya itu bulat seperti anggur atau Cherry, warnanya transparan dan kenyal seperti jelly.
Pokoknya unik sekali.
Tapi tentu saja bunga biasa seperti mawar, Lily, anggrek, Krisan, dan lainnya juga ada. Bedanya dengan bunga biasa hanyalah masa bertahan setelah dipotong. Jika bunga dipotong untuk menjadi pajangan, bisa bertahan sampai satu bulan sebelum layu.
Jika bunga biasa umumnya bisa bertahan sampai tiga atau empat hari, ada pula yang lebih awet hingga bertahan sampai dua Minggu dengan penanganan yang tepat.
Rose bahkan sudah memenuhi apartemen dengan bunga-bunga tersebut, paling banyak mawar sih. Sampai Kaivan merasa apartemennya berubah menjadi kebun bunga mawar.
"Capek banget, aku minta ya?" Dohyun datang langsung menyambar Tumbler atau wadah minuman milik Kaivan. Isinya hanyalah jus mangga.
Kaivan memanen banyak mangga berbagai jenis di royal farm. Sebagian tentunya dijual di toko buah dan sayurnya, sebagian lagi dikonsumsi pribadi. Sebenarnya yang membawakan bekal jus mangga adalah Rose.
"Enak banget, aku habisin, ya?" Pinta Dohyun.
"Habisin aja, aku udah bosen soalnya. Rose suka banget sama mangga, kita makan mangga tiap hari, sampe bikin sambel mangga segala," keluh Kaivan.
Sejak Kaivan mengenalkan Rose pada rujak, Rose jadi suka sekali makan rujak, dia juga mengajak Dania, Dasha, Kayla, sampai Jake pun dia ajak rujakan. Kaivan hanya pasrah saja melihatnya.
"Sambel mangga tuh gimana rasanya?" Tanya Dohyun bingung.
"Jangan dicoba deh."
"Aku lihat di medsos banyak sliweran mango sticky rice gitu, dari Thailand kayaknya, cobain yuk!"
Sticky rice itu ketan, sepertinya seru juga.
"Oke deh! Nanti ke apartemen ku ya? Buat mangga ketannya."
"Oke! Aku kesana dulu ya? Bye!"
Seperti biasa, Dohyun itu aktif sekali anaknya, beda jauh dengan Kaivan yang mageran.
__ADS_1
"Kai!!" Dohyun kembali lagi, "katanya kamu dipanggil guru tuh, di UKS!"
Kaivan tentu saja merasa aneh, untuk apa seorang guru membutuhkannya, apalagi di UKS? Tapi Kaivan yang penasaran dan sedang bosan pun pergi juga.
UKS ada di lantai tepat dilantai bawah kelasnya Kaivan. Jadi tidak terlalu jauh.
Sampai UKS, ternyata sepi. Maklum saja sih, UKS berada di sebelah lorong angker. Para remaja kan suka sekali cerita seram begitu, jadi banyak yang percaya. Itulah kenapa tidak banyak siswa siswi yang mau pergi ke UKS jika tidak terpaksa.
"Permisi..." Kaivan masuk UKS, tapi sepi.
Seharusnya UKS ada dokternya yang berjaga. Tapi di meja dokter ada tulisan (dokter sedang pergi untuk membeli obat yang kurang), begitu.
Jadi, guru mana yang memanggil Kaivan di UKS? Dohyun bukan tipe yang suka iseng berlebihan, jadi tidak mungkin dia mengerjai Kaivan. Jika dia mengerjai Kaivan, berarti Kaivan yang mulai duluan.
Bugh!
Kaivan yang ingin pergi pun merasakan tengkuknya dipukul oleh benda tumpul. Karena dia cukup kuat berkat peningkatan tubuh, Kaivan baru pingsan setelah dipukul kepalanya tiga kali.
Hanna tersenyum puas sekaligus kesal, karena Kaivan butuh dipukul beberapa kali sebelum tumbang.
Benar, Hanna yang mengerjai Kaivan dan membuatnya pergi ke UKS. Hanna bahkan sudah memastikan orang-orang yang dekat dengan Kaivan sedang sibuk. Dania dan Kayla sedang asyik mengobrol dengan anak-anak perempuan di kelasnya, Dohyun juga sedang membantu seorang guru. Vicky? Tidak perlu diperiksa, dia sudah sangat sibuk, lagian Vicky itu kelas tiga, bukan kelas dua seperti mereka.
Hanna segera membopong tubuh besar Kaivan agar berbaring di ranjang UKS. Gadis itu juga sudah mengunci pintu UKS.
Dohyun itu sangat baik dan tidak pernah berburuk sangka, jadi dia pasti percaya jika ada guru yang memanggil Kaivan ke UKS.
Lalu, gadis itu menyeringai.
"Kau sangat hebat ya, bisa lolos dari maut dengan mudah. Harusnya kau dipotong-potong seperti yang lain juga. Setelah bebas, kau malah sombong sekali dan mengabaikanku. Jika tahu begini, aku akan menjadikanmu budakku saja, iya kan? Yang membuatmu bertahan sampai berbulan-bulan itu aku! Karena kau tampan, jadi sayang jika dipotong," Tangan lentik Hanna bermain diantara dada Kaivan, matanya sibuk menatap Kaivan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Hanna meraih dagu Kaivan, lebih tepatnya mencengkram hingga kukunya menimbulkan bekas pada kulit wajah Kaivan yang putih, bekasnya agak memerah.
Gadis itu menundukkan wajahnya, semakin dekat... Semakin dekat hingga dia bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
"Kau mau apa?"
Hanna terkejut, tapi dia tidak mundur sedikitpun.
"Ternyata kau sudah bangun, ya?"
Jika kalian pikir penguatan tubuh level empat bisa mudah tumbang dengan beberapa pukulan gadis, maka itu salah besar. Kaivan pura-pura pingsan agar bisa mengetahui apa yang sedang terjadi saja.
"Apa kau ingin melakukan yang aneh-aneh terhadapku?" Tanya Kaivan, dia mulai waspada dan merasakan jika tangannya diikat kuat.
Sepertinya Hanna sudah mahir mengikat orang, tidak ada celah dari ikatan itu, jadi sia-sia saja jika Kaivan mencoba melepaskannya, bisa-bisa pergelangan tangannya lecet.
__ADS_1
"Aku tidak ingin aneh-aneh kok, Kai sayang, aku hanya ingin merebutmu dari Dania saja. Dia dari dulu selalu lebih cantik dan mendapatkan banyak perhatian, dia bahkan bisa mendapatkan pacar sempurna seperti mu! Aku kan iri!"
Kaivan mengernyitkan dahinya tidak percaya. Hanna hanya berpura-pura genit, dia tidak sungguhan menginginkan hal itu. Dari ucapan sebelumnya yang Kaivan dengar saat dia pura-pura pingsan, bukan itu yang Hanna inginkan.
Hanna mengatakan harusnya dia menjadikan Kaivan budak saja, begitu kan, tadi? Apa Hanna ada hubungannya dengan sindikat itu?
Kaivan melihat Rose dalam bentuk peri kecil sedang terbang dengan panik.
Kaivan mengisyaratkan pada peri itu untuk membantunya melepas ikatan di tangan saja dan Rose pun setuju. Karena Rose tidak bisa mengatakan apapun tentang Hanna ataupun sindikat, jadi pasti Rose hanya bisa membatu dengan terbatas.
"Kamu bohong, Hanna! Katakan saja yang sejujurnya!"
"Hmm? Kamu ngomong apa sih, sayang?" Hanna mengalungkan lengannya di leher Kaivan, lalu menarik belakang kepala Kaivan agar menciumnya.
Ikatan pun terlepas, Kaivan segera mendorong gadis itu menjauh darinya.
"Ayolah, Kaivan! Kamu suka berciuman denganku, kan?"
"Tutup mulutmu! Kau tadi mengatakan sesuatu yang aneh, apa kau ada hubungannya dengan sindikat -"
BRAK!
Ucapan Kaivan terhenti saat pintu UKS berhasil dibuka dari luar. Terlihat Dohyun dan Dania.
Hanna berdecak malas, dia juga menggumam, "pengganggu datang."
"Apa yang kau lakukan? Astaga!" Teriak Dania.
"Tidak Dania, kau harus percaya padaku! Kita jauh lebih lama saling mengenal, Kaivan yang mengajakku kemari, dia juga sudah melecehkan ku!"
Baru kali ini Kaivan melihat langsung orang yang playing victim terang-terangan seperti itu.
"Kau pikir aku tidak melihat dari jendela jika kamu berusaha mencium Kaivan dan Kaivan berusaha melepaskan ikatan di tangannya? Aku melihat semuanya! Kenapa kau melakukan itu, sih?" Tanya Dania, dia terlihat sangat terpukul, karena teman yang dia percayai mengkhianati dia dan tega melakukan hal buruk pada kekasihnya.
Hanna tidak menjawab, dia malah pergi sambil menyenggol bahu Dania agak keras.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir," ucap Kaivan, dia menghampiri Dania dan berusaha untuk tersenyum.
Kemudian Dania meraih pergelangan tangan Kaivan, ada bercak merah bekas ikatan disana.
"Ini akan segera hilang Dania, aku baik-baik saja."
"Hanna itu kayak psikopat aja ya," celetuk Dohyun, "aku jadi merinding, kalo suka bilang aja yang normal gitu kek, ngapain kayak gitu segala," tambahnya.
"Dia tidak menyukaiku, ada alasan lain, tapi aku setuju, dia psikopat." Sahut Kaivan yakin.
__ADS_1
.
.