
Selama berada di perkemahan, Kaivan hanya diam memandangi pemandangan yang indah, merasakan angin sepoi-sepoi yang bertiup menerpa kulitnya hingga rambutnya ikut berkibar perlahan. Rambut Kaivan masih agak panjang, semua orang berkata dia lebih cocok dengan rambut panjangnya. Kadang rambut itu menghalangi matanya tapi Kaivan orang yang cuek, jadi dia tidak merasa terganggu.
Kaivan sedang berada di menara, tidak terlalu tinggi, menara itu terbuat dari kayu, agar dapat melihat pemandangan lebih jelas. Dari menara kayu, Kaivan bisa melihat teman-teman yang sedang bermain dengan bola. Mereka terlihat senang sekali. Mereka sangat ceria.
Sedangkan Kaivan sudah tidak ada mood untuk melakukan apapun, mungkin moodnya hanya memikirkan banyak hal saja.
Seperti tentang ibunya, haruskah dia pergi menemui ibunya? Ada sebagian dalam dirinya yang tidak menginginkan hal itu, tapi sebagian lain dia ingin bertemu. Ada banyak hal yang ingin Kaivan tanyakan pada ibunya. Kaivan masihlah anak dari ibunya bagaimanapun perlakukan ibunya, bagaimanapun Kaivan menolak kenyataan itu.
Kaivan yang selama ini diam dan menerima perlakukan ibunya, dia ingin tahu alasan kenapa ibunya melakukan itu, ingin mengungkapkan semua perasaannya selama ini.
Tapi, apakah Kaivan sanggup melakukannya?
"Kai!"
Kaivan tersentak saat mendengar suara Dohyun, temannya itu sedang menaiki tangga untuk menuju tempat Kaivan berada.
"AKH!" tiba-tiba Dohyun berteriak dan terdiam setelah sampai di tempat Kaivan, dia memegangi telapak tangan kanannya.
Tentu saja Kaivan segera menghampirinya, "kau baik-baik saja?"
"Ku rasa tanganku terkilir..."
Tanpa banyak berpikir, Kaivan meraih tangan kanan Dohyun, tapi dia tidak tahu harus bagaimana. Karena Dohyun teman baiknya, tentu dia panik, apalagi setelah melihat ekspresi kesakitan Dohyun.
Tunggu! Pasti ada skill untuk membantu Dohyun, Kaivan pernah melihat satu skill yang dia pikir remeh dan tidak mungkin mau dia beli. Kaivan pun memeriksa ponselnya, lebih tepatnya toko sistem yang menjual skill-skill mahal berharga jutaan poin.
Itu dia! Skill yang aneh, namanya skill pijat pengobatan, harganya satu setengah juta poin. Kaivan membelinya dengan cepat.
Setelah skill itu berhasil dia beli, dia kembali meraih tangan Dohyun lebih tepatnya telapak tangan kanannya. Tiba-tiba saja dia tahu dimana titik yang harus dia sentuh dan tekan untuk mengembalikan beberapa saraf yang salah.
"Udah gak sakit! Apa yang kamu lakukan tadi?" Tanya Dohyun, dia sudah terlihat lebih baik.
"Aku hanya memijat tanganmu saja, udah gak sakit beneran?"
"Iya! Kamu ngapain nglamun disini aja sih? Yang lain pada main itu, Aku jadi menghawatirkan mu."
Kaivan kembali menatap lurus ke depan, lalu menjawab, "aku hanya menenangkan diri. Selama ini, banyak hal yang ku sembunyikan darimu dan banyak orang, mungkin yang tahu hanya Rose dan keluarga Dania saja. Hal itu membuatku mengalami banyak hal sulit, mendapatkan banyak uang bisa dibilang sebagai pengalihan saja, agar aku merasa lebih baik. Tapi kenyataannya uang banyak tidak bisa menyembuhkan luka di hatiku."
"Aku tidak tahu masalahmu, tapi kau tidak akan bisa merelakannya sampai kamu sudah berhasil menghadapinya. Aku sudah pernah bilang dulu aku gendut kan saat kecil, tentu teman-teman di sekolah ada saja yang mengejekku, kau tahu apa yang ibuku ucapkan padaku? Dia bilang, aku harus kuat dan menghadapi semuanya, jika aku kabur, masalah serupa akan datang, kabur tidak akan menyelesaikan masalah, aku masih ingat ucapan ibuku sampai sekarang, jadi Kai, mungkin kamu memang harus menghadapinya, walaupun itu sulit."
Ucapan Dohyun benar juga, Kaivan harus bisa menghadapinya, bukannya terus menerus menghindar, itu tidak akan menyelesaikan masalah.
Berkat ucapan Dohyun, Kaivan sudah bertekad. Dia menemui Jaden dan mengatakan dia sudah siap bertemu ibunya, tidak masalah juga jika Harlan mau mengantar.
__ADS_1
Karena di dekat tempat itu ada rumah makan yang masih milik keluarga Harlan, jadi mereka makan malam disana. Rumah makan itu menjual berbagai masakan khas Indonesia dari berbagai daerah. Jadi mereka tidak perlu masak segala, meskipun ditempat itu tersedia tempat untuk memasak.
Keesokan harinya Jaden sungguhan mengajak Kaivan pergi ke tempat ibunya berada, lapas khusus wanita yang berada tidak jauh dari puncak. Sementara yang lainnya diajak jalan-jalan oleh pamannya Jisung.
Tidak ada perasaan khusus yang Kaivan rasakan, dia hanya diam, pikirannya kosong terutama jika Jaden tidak mengajaknya bicara. Sebenarnya semalam Kaivan tidak bisa tidur di tenda, meski kantung tidurnya sudah empuk dan hangat.
Kaivan malah bermain game, membeli toko baru di game tap and be rich. Atau bisa dikatakan membeli saham, itu adalah saham perusahaan kecil yang sedang berkembang, bernama LoeShoe, perusahaan sepatu lokal yang kualitasnya tidak main-main. Bahkan perusahaan itu mengubungi Kaivan sebelum Kaivan pergi dengan Jaden, mereka akan mengirimkan beberapa sepatu untuk Kaivan secara gratis, jadi Kaivan beri mereka alamat villanya saja.
Akhirnya mereka sampai di tempat ibunya Kaivan ditahan. Tempat itu cukup sepi dan sedikit terpencil, tapi masih tidak jauh dari kota.
Harlan sudah berada disana, dia menghampiri Jaden dan Kaivan yang baru sampai.
"Kaivan saja yang menemui wanita itu, Jaden ikut papa dan menunggu Kaivan selesai ya? Waktu Kaivan hanya satu jam, kamu sudah siap bertemu ibumu?" Tanya Harlan.
Kaivan mengangguk pelan, dia masih belum sanggup memandang wajah Harlan. Kaivan membawa satu tas ransel bersamanya. Meski dia membenci ibunya, dia tetap membawa oleh-oleh untuk ibunya. Beberapa diantara oleh-oleh adalah makanan. Rose memasukkan suplemen yang menurut dia itu akan membantu menenangkan diri, menghilangkan rasa lelah, stress berlebihan, menjaga stamina tubuh agar tidak mudah sakit juga.
Kaivan tidak menyangka peri itu akan memberikan benda semacam itu untuk ibunya, padahal Rose sendiri tidak menyukai ibunya.
Kaivan harus menunggu sekitar dua menit di ruangan khusus. Ruangan itu kecil, berukuran sekitar dua kali dua meter, ada dua kursi kayu dan satu meja disana, selain itu tidak ada apa-apanya lagi.
"Kaivan!"
Ibunya datang dari pintu lain. Namanya aslinya Sherlyn. Memang ibu Kaivan masih sangat cantik untuk ukuran wanita berumur 40 tahun, kulitnya kuning Langsat dan masih mulus, meski beberapa bagian sudah terdapat luka goresan. Wajah cantiknya itu pucat, tapi sudah terlihat lebih cerah setelah melihat putranya datang.
"Ibu tahu kamu akan menemui ibu nak! Ibu rindu padamu..."
Kaivan bisa merasakan air mata ibunya mengalir di bahunya, rasanya hangat. Tapi Kaivan tidak tahu apakah itu airmata sungguhan atau palsu. Namun, tangisan ibunya berhasil meluluhkan hatinya.
Sekeras apapun Kaivan mencoba bertahan, dia tetap goyah juga. Bagaimanapun itu adalah ibunya yang selama ini dia kenal, dia rawat ketika sakit, dia masakkan saat dia mengeluh lapar. Bahkan, saat ibunya dipukuli pacarnya, Kaivan yang bergerak melindunginya dengan tubuh kurus dan ringkih.
Akan tetapi jika mengingat perbuatan ibunya, Kaivan juga marah dan ingin mengamuk.
Dia masih ingat ibunya yang menjualnya pada sindikat kejam itu hanya demi ratusan juta rupiah saja.
"Duduklah, ibu."
Ucapan Kaivan yang begitu dingin, membuat Sherlyn terdiam, dia melepaskan pelukannya lalu mendongak menatap wajah putranya.
Kaivan yang dulu cengeng sudah berubah menjadi remaja yang berwajah dingin.
"Kaivan, kenapa kamu berubah seperti ini? Kamu sudah terlihat lebih baik daripada ketika masih ikut aku."
"Duduklah, ada banyak pertanyaan yang ingin ku sampaikan, jadi jawab saja dengan jujur."
__ADS_1
Sherlyn pun duduk di kursi, Kaivan juga duduk di kursi lainnya, yang menghadap pada ibunya tersebut.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Jika kamu bertanya untuk Alvon Harlan, aku tidak akan mau menjawabnya!"
Kaivan menggeleng, "tidak, aku bertanya untuk diriku sendiri, ada banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu secara pribadi."
"Kenapa nada bicara mu kaku begini, ayolah, aku ini ibumu...."
"Kau masih ingin dianggap ibu setelah menjual ku pada orang-orang kejam itu? Apa kau tahu aku berjuang mati-matian hanya agar tetap hidup?"
Sherlyn terlihat sedih, entah apa itu asli atau palsu, tapi Kaivan memberikan tisu padanya.
"Kamu salah sangka, Kai! Ibu kira mereka akan mempekerjakan mu, mereka memberiku uang banyak karena kamu sangat pandai, ibu bahkan menunjukkan jika kamu selama ini sekolah dengan beasiswa!"
"Jadi anda pikir saya akan percaya dengan semua itu?"
"Kaivan..."
"Tidak perlu membela diri, aku sudah bisa menerima jika anda memang kejam, anda pikir aku sudah melupakan kekerasan yang selama ini anda lakukan pada ku? Anda juga menculik bayi-bayi orang kemudian dijual kan?"
Sherlyn menggeleng dengan cepat, "itu tidak benar! Suamiku yang melakukannya, dia bilang itu anaknya, atau keponakannya, aku bahkan tidak tahu apa-apa!"
"Sudahlah, katakan sejujurnya saja, aku tidak akan menghakimi, aku sudah tidak peduli dengan semua itu, aku sudah tidak mau peduli."
"Kaivan! Percaya pada ibu ya nak! Kamu pasti dipengaruhi Harlan kan? Apa yang dia katakan padamu? Apa dia sekarang ingin merebut mu dariku? Setelah dulu dia menganggap ku berbohong sekarang dia ingin mengambil mu satu-satunya milikku!"
"Jadi, apa dia memang ayahku?"
Sherlyn membekap mulutnya sendiri, tidak seharusnya dia berkata seperti itu.
"Tidak! Dia bukan ayahmu! Jangan ikut dia, ku mohon..."
Kaivan membuka tas ranselnya, mengeluarkan dokumen yang dia dapat dari sistem, yaitu bukti kelahiran dan tes DNA di masa lalu.
"Darimana kamu mendapatkan semua ini?"
.
.
Rambut panjang Kaivan tuh kek gini lho, gak panjang banget gitu, sekolah Kaivan juga gak masalah, kalo di indo mungkin udah digundulin.
__ADS_1