
Ditraktir memang menyenangkan, bahkan bagi Kaivan yang bisa membeli banyak hal. Poin sistemnya sudah sangat banyak karena Kaivan sendiri jarang menghabiskannya. Namun, dibayari makan sampai kenyang adalah sesuatu yang berbeda.
Kaivan menarik ucapannya jika pernah mengatakan Jaden tidak menyenangkan, karena dia membelikan Kaivan es kelapa muda juga saat perjalanan pulang.
Kira-kira sampai di villa sudah sore, mentari terbenam terlihat jelas dari villa.
"Istirahat lah, aku akan pergi" ucap Jaden.
"Kau tidak ingin tinggal? Mungkin kenalan dengan teman-teman ku?" Tanya Kaivan.
Jaden menggeleng pelan, "tidak, aku akan kembali besok, jika ingin berkeliling, aku akan ikut kalian, aku tahu kamu belum pernah ke kota ini, kan?"
"Oh, baiklah... Sebenarnya aku membawa teman yang pernah tinggal disini," sahut Kaivan. Padahal dia membawa Jisung agar ada yang memandu saat pergi keliling, bisa pamannya Jisung juga, lagipula pamannya Jisung masih muda, masih umur 28 tahunan dan belum menikah.
"Itu tidak cukup, pokoknya aku akan kembali besok! Jika ada sesuatu yang kau inginkan, katakan saja."
"Oke..."
Jaden pun pergi dengan mobilnya yang mencolok itu. Jihun keluar villa, berdecak kagum dengan mobil Jaden.
"Keren banget ya mobilnya," gumam Jihun.
"Kenapa? Kau ingin naik juga? Kursinya sangat nyaman sampai aku ketiduran," sahut Kaivan.
"Kau berkata begitu untuk membuatku iri?"
"Eh? Enggak -"
"Tapi itu berhasil!" Jihun merangkul bahu Kaivan dan mengajaknya masuk, lebih tepatnya agak mencekik sih.
"Lepasin!"
"Enggak, kamu senang-senang sendiri dengan dia, emang ngomongin apa sih?" Tanya Jihun, terdengar sangat kepo.
"Kaivan!!" Rose dan Vicky turun dari tangga, mereka berdua sudah memakai pakaian lebih tipis. Udara di Jakarta sedang bagus saat itu, tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin juga.
Kaivan sendiri lega karena udaranya tidak dingin lagi, udara Indonesia bagaimanapun juga lebih familiar baginya.
"Kamu tadi ngapain aja sama kakak adopsimu?" Tanya Vicky.
"Ngapain aja?" Rose ikut bertanya.
Kaivan tidak mengerti kenapa mereka sangat kepo dengan dia dan Jaden.
"Kami pergi ke puncak Bogor, tempatnya bagus, dingin dan asri, kami makan -"
"Kok kita gak diajak?" Keluh Rose, dia tadi sudah sempat melihat pikiran Jaden, tidak ada rencana mengajak Kaivan ke tempat bagus, jadi Rose tidak kepo lagi dan tidak mau ikut. Karena makan nasi Padang lebih menggoda, tapi ternyata Jaden mengajak pergi ke tempat bagus. Rose bisa melihat pikiran Kaivan, bagaimana tempat yang tadi dia kunjungi, dan apa saja yang dia makan.
Karena itu Rose kesal sekali.
"Kapan-kapan aja ke sananya, atau besok mau kesana? Ku rasa ada banyak tempat bagus juga, aku sendiri cuma ke restoran itu, masih restoran milik Harlan, lalu pulang, gak keliling kok" ucap Kaivan.
"Aku jadi penasaran juga" sahut Jihun.
__ADS_1
Kaivan dan Rose menggunakan bahasa Korea. Entahlah, Kaivan bisa otomatis berganti bahasa saat menghadapi lawan bicara yang berbeda.
Setelah selesai diinterogasi, Kaivan menemui penjaga villa, dia kembali berbahasa Indonesia, lalu beralih ke bahasa Jawa saat ternyata pengurus villanya dari daerah Malang.
Dengan kemampuannya sendiri, saat ini Kaivan menguasai bahasa Indonesia, Jawa, Inggris dan Korea. Selain itu, dia cukup memahami Bahasa Thailand, Vietnam, dan Filipina berkat di kurung di gudang bersama sindikat jahat itu.
Oh iya, yang Kaivan dengar dari Hanbin terakhir kali, para sindikat yang ditangkap itu sudah dijatuhi hukuman berat, namun mereka belum puas, karena dalang aslinya belum tertangkap.
Berita tentang sindikat itu juga menjadi perbincangan hangat di platform berita manapun, di negara manapun, tidak hanya Asia, bahkan Amerika dan Eropa pun juga turut memberitakan hal tersebut.
Villa di dekat pantai memiliki angin yang lebih kencang. Kaivan yang duduk di balkon sehabis mandi saja merasa kedinginan lagi, jadi dia membawa minuman hangat berupa kopi dengan gula aren. Kopi itu dibuatkan oleh pengurus villa untuk Kaivan dan yang lain.
"Besok kita kemana?" Tanya Dohyun, ada Dohyun dan Jisung yang menemani Kaivan. Sedangkan Junghyun, Jihun, Vicky dan Rose sedang main game di ruang keluarga dekat dengan balkon. Jadi ketiganya bisa mendengar keributan yang mereka hasilkan.
"Enaknya kemana ya? Rose malah ngajak ke puncak Bogor, padahal aku ingin melihat Monas atau Ancol, belum pernah ke sana sih," ucap Kaivan.
"Aku pernah ke Ancol dan semuanya mahal disana, hampir dua kali lipat harga biasa, padahal harga di Jakarta lebih mahal dari kota lain," keluh Jisung.
"Ada apa aja di Ancol?" Tanya Dohyun.
"Apa ya? Ada pantai, wahana, gitu deh pokoknya, mungkin menarik bagi yang belum pernah kesana, gimana kalo ke Monas di pagi hari, lalu ke Ancol di siang hari, terus ke puncak sore hari? Atau besok aja?" Usul Jisung.
Kemudian Jisung dan Dohyun menoleh pada Kaivan, untuk meminta pendapat, tapi Kaivan malah sibuk dengan ponselnya.
"Kai!"
Kaivan baru mendongak saat Dohyun berteriak di depan telinganya.
"Aku denger kok! Aku ini lagi minta pendapat kak Jaden!"
Menurut Kaivan, Dohyun itu sopan dan kelakuannya manis sekali pada orang lain, apalagi pada kakaknya atau kakak sepupu. Tapi dengan Kaivan berubah jadi makhluk tengil.
"Aku gak akrab! Cuma dia mau ikutan kita sekalian membantu kita! Katanya meski ada kak Jisung gak cukup" bantah Kaivan, dia kesal disebut sudah akrab dengan Jaden, padahal kenyataannya memang sudah cukup akrab.
"Pasti dia ingin lebih dekat denganmu ya? Kelihatan sekali dari gelagatnya kemarin," ucap Jisung, dia dan Dohyun pun terkikik menertawakan Kaivan yang terlihat kesal.
Kaivan yang tidak ingin menyahuti pun beralih minum kopi hangat saja. Itu bukan kopi yang berat, hanya ringan saja. Karena kalau kopi hitam nanti mereka tidak bisa tidur. Meski begitu, Kaivan pikir dia memang tidak akan bisa tidur, berhubung dia sudah banyak tidur di pesawat dan juga di mobil Jaden.
Pada akhirnya, keputusan besok mau kemana dipikir besok saja. Mereka sangat lelah dan ingin istirahat.
Kaivan kebagian tidur sendirian, padahal dia ingin ditemani. Tapi Dohyun memilih tidur dengan kakaknya, sementara Jisung dengan Jihun. Rose tentu dengan Vicky, ada di kamar sebelah kamar Kaivan.
Meski sendirian, Kaivan menempati kamar paling besar dan luas.
Dia benar-benar tidak bisa tidur, jadi memilih main game, melanjutkan game zombie agar cepat naik level.
*-*
Nama: Kaivan Harlan
Umur: 17 tahun
Status: level 4
__ADS_1
Pemandu: Roseta
Poin: 418.980.876
*-*
Skill penguatan mental level 4
Skill penguatan tubuh level 3
Skill belajar cepat dan tepat
Skill beladiri taekwondo
Skill memasak
*-*
Jam satu dini hari, akhirnya Kaivan menyerah, dia belum menamatkan game zombienya karena sudah kelelahan. Dia minum ramuan tidur sebelum tidur dengan nyenyak.
Pagi harinya, Kaivan terbangun karena dia merasa seseorang sedang memeluknya, seseorang yang tubuhnya dingin. Mau tak mau Kaivan pun membuka mata meski dia merasa berat.
"HUWAAAA!!" Sontak Kaivan berteriak saat mengetahui siapa yang dia pegang, yang tubuhnya sangat dingin itu.
Bukan hantu kok, tenang saja.
Akan tetapi itu Jaden, yang sekarang juga harus terbangun karena teriakan Kaivan.
"Ada apa sih?" Tanya Jaden sambil menguap kecil, dia menatap Kaivan bingung dengan muka bantalnya.
"Ada apa gimana? Kok kamu ada disini?" Tanya Kaivan bingung, matanya berkeliling lalu mengambil ponsel setelah menemukannya.
"Aku datang jam enam tadi, kamu ketiduran padahal yang lain udah bangun, mereka kayaknya lagi jalan-jalan di pantai, mungkin renang juga, gak tahu lah, aku juga ngantuk semalem nyiapin sesuatu - hoaaahm! Tidur lagi lah yuk, nanti agak siangan baru ke Ancol atau puncak, bisa diatur."
Sudah sekitar jam delapan pagi, tidak heran Kaivan kesiangan, dia juga tidurnya terlalu larut. Jaden juga terlihat kecapekan, dilihat dari matanya yang lesu dan kulit wajah semakin pucat.
Kaivan pikir, dia memiliki kulit yang sama dengan Jaden, yah maklum saja, ayahnya sama.
Jaden kembali merebahkan dirinya di ranjang, merebut boneka sapi jumbo yang Kaivan bawa dari Korea. Boneka itu bisa masuk kantong khusus di koper, seperti dikempiskan otomatis di dalam sana, tidak terlihat jika membawa benda jumbo itu dari luar.
Benda itu juga yang membuat Vicky cemburu semalam, menurut Kaivan itu hanya boneka saja, tapi bagi Vicky karena yang memberi Dasha jadi Kaivan memperlakukan boneka itu spesial. Entah yang mana yang benar, bisa jadi dua-duanya benar, tapi Kaivan tidak akan mengatakannya.
Kaivan tidak tidur lagi, dia turun dari ranjang, berjalan menuju balkon kecil yang ada di kamarnya. Dia bisa melihat Jisung yang dikejar oleh Jihun di pantai sana.
"Disini juga ada pantai, apa perlu pergi ke Ancol ya? Tiba-tiba aku jadi gak minat," gumam Kaivan.
Karena sudah tidak mengantuk, Kaivan memilih untuk olahraga sebentar, sesuai misi yang dianjurkan sambil menonton kelas guru Herkules. Itu guru yang mengajari cara nge-gym yang baik dan benar, berhubung ada gym juga di villanya dan peralatan gym juga cukup lengkap. Tidak mungkin Kaivan nge-gym tanpa penjelasan ahli, takutnya kenapa-kenapa.
Jam sembilan Kaivan selesai olahraga, sudah mendapatkan poin hadiah juga, tinggal sarapan sesuatu.
Ternyata sudah ada Jaden lagi di dapur, memasak nasi goreng dan telur ceplok.
Kaivan jadi berpikir, apakah Jaden akan tetap memperlakukan dia seperti itu jika tahu cerita tentang mereka yang sesungguhnya?
__ADS_1
.
.