Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Wanita mabuk menyedihkan


__ADS_3

"Haaah haaaahhh" Kaivan mengatur nafasnya yang memburu. Dia pagi ini sudah melakukan olahraga rutin, bedanya dia mencoba berlari sampai satu kilometer, jadi jika dihitung dengan kembali ke apartemen menjadi dua kilometer.


Tidak terasa hari ini sudah waktunya untuk masuk sekolah. Meski Kaivan suka belajar, dia juga sama seperti murid kebanyakan, yang lebih senang liburan.


Itu adalah dua hari sejak pergi ke pantai dan membantu keluarga Filipina. Kaivan sudah memainkan game hingga naik level. Membutuhkan waktu jauh lebih lama dari sebelumnya memang. Makin lama gamenya makin susah, Kaivan ingin menyerah tapi dia juga penasaran.


Bagaimana jadinya jika dia sudah sampai level sepuluh? Bagaimana dengan level dua puluh? Jangan-jangan Kaivan sampai level dua puluh, dia sudah umur 30 tahun.


Sekarang saatnya melihat hadiah.


Sebelum olahraga, Kaivan diberi misi menolong orang lagi - maksudnya hewan. Yaitu untuk menurunkan kucing yang terjebak di pohon. Kaivan heran dengan kucing, mereka bisa manjat, turunnya pasti gak bisa, sampai pemilik kucingnya menangis takut kucingnya kenapa-kenapa.


Ternyata hadiah menolong kucing adalah tambahan poin saja sebanyak 100, jadi pagi ini Kaivan sudah dapat 600 poin, ditambah poin mengerjakan olahraga.


Oh iya, hadiah naik levelnya adalah 10% saham dari bank central, itu adalah bank paling ternama di Korea. Sahamnya selalu naik tiap bulan, turun pun tidak pernah banyak. Sebenarnya bank itu bisa dibeli sahamnya lewat game tap and be rich, tapi harus membayar banyak sekali, sekitar 15 juta poin. Bukan 15 juta won ya, tapi poin. Hitung sendiri berapa ke rupiah jika kalian mau, Kaivan sih tidak mau, bisa shock dia.


Lagipula profit dari saham 10% itu udah banyak banget.


"Halo, tampan!"


Kaivan baru saja ingin naik lift, seorang wanita seksi memakai pakaian kantoran menghampirinya. Wanita itu langsung memeluk lengan Kaivan, dia merapat sangat dekat dengan Kaivan. Sampai Kaivan bisa mencium aroma alkohol dari wanita itu.


Keadaan wanita itu cukup mengenaskan, wajahnya sembab seperti habis menangis semalaman, rambutnya juga sudah acak-acakan, pakaiannya kusut.


Kaivan jadi kasihan, sekaligus bingung harus bagaimana.


Mereka pun naik lift berdua, wanita itu masih saja menempel pada Kaivan, sampai Kaivan bisa merasakan sesuatu yang empuk di lengannya. Kaivan jadi berdebar-debar aneh, entah dia berdebar karena apa dia juga bingung.


"Anda tinggal di lantai mana ya?" Tanya Kaivan.


"Sembilan! Kamu ganteng banget, udah punya pacar belum? Aku baru putus, jadi udah jomblo nih! Hehe."


Sepertinya jika boleh sok tahu, Kaivan sudah paham apa yang terjadi dengan wanita itu. Dia baru putus, lalu galau, terus minum sampai baru pulang pagi ini. Omong-omong masih sekitar jam enam pagi saat itu.


Wanita itu masih mabuk, bisa jadi dia sadar dengan yang dia ucapkan. Jika dia bertemu dengan pria jahat, bisa lain ceritanya. Tapi karena bertemu dengan Kaivan, akan Kaivan antarkan dengan selamat.


Mereka telah sampai di lantai sembilan. Unit di lantai itu memang lebih murah dari apartemen milik Kaivan, tapi tetap saja mahal. Biasanya unit yang itu bagi orang yang tinggal sendiri atau berdua, karena kamarnya ada dua.


"Ini rumahku!" Wanita itu menarik Kaivan mendekati pintu apartemennya, lalu membuka pintu itu. Dia masih saja memaksa Kaivan untuk masuk.


"Maaf, tapi saya harus pulang," ucap Kaivan, berusaha menolak wanita itu, tapi apa daya, wanita itu memaksa sekali. Dia menarik Kaivan dengan kuat.

__ADS_1


Kemudian mendorong Kaivan untuk duduk di sofa warna marun, sementara wanita itu naik ke pangkuan Kaivan.


Ini benar-benar gawat!


Wanita mabuk itu bisa melakukan kesalahan-kesalahan besar! Dia wanita yang sudah dewasa, kelihatannya sih berumur sekitar 25 tahunan. Kalau dia berbuat yang aneh-aneh pada Kaivan, bisa dipenjara, karena Kaivan masih dibawah umur.


"Anu... Anda tidak boleh seperti ini!"


"Kenapa? Apa aku jelek? Hiks!"


"Bu-bukan kok... Anda cantik, tapi tetap saja tidak bisa seperti ini. Saya siap mendengarkan cerita anda, tapi tidak boleh begini."


"Bahkan kau menolak ku juga? Aku tahu aku kurang cantik, mantan pacarku bilang, wanita itu lebih cantik dariku! Wanita murahan itu! Apa bagusnya dia sampai pacarku - maksudku mantan, sampai selingkuh darinya! Padahal mantanku gak punya duit, dia aja kalo mau beli kuota minta ke aku!"


Wanita itu memeluk Kaivan, menangis dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kaivan.


Awalnya Kaivan ragu, tapi kemudian dia mengusap pelan kepala wanita itu, sekalian merapihkan rambutnya.


"Tenang saja, lelaki di luar sana masih banyak kok yang bisa menerima anda apa adanya."


"Hiks hiks! Aku... Hanya belum siap berhubungan ranjang saja, aku takut sekali! Apa itu salah ya? Pernah waktu SMP ada kakak kelas berusaha melecehkan ku, meski tidak sampai berbuat lebih karena keburu ketahuan anak OSIS, tapi itu membuatku trauma. Aku menerima pria itu menjadi kekasih karena dia baik sekali padaku awalnya, aku jadi luluh. Aku bilang, aku mau berhubungan setelah menikah, tapi dia - hiks, malah selingkuh! Huwaaaaaa!"


Tangisan wanita itu makin kencang saja. Kaivan yang kewalahan pun berpikir keras, bagaimana caranya agar wanita itu terdiam.


"Coba anda minum ini biar tenang, ya?"


Untungnya wanita itu menurut saja, mungkin karena dia masih mabuk, dia langsung saja meminum ramuan itu.


Setelahnya wanita itu sudah tenang, Kaivan membantu membersihkan bekas air mata pada pipi wanita itu.


"Kamu baik banget, namamu siapa, ganteng?"


"Kaivan."


"Kayak pernah denger, kamu yang anak muda banyak saham itu kah?"


"Iya..."


Wanita itu mengalungkan lengannya pada leher Kaivan, "kalo gitu, ayo nikah sama aku aja! Hehe."


"Tapi saya masih umur 17 tahun, kak."

__ADS_1


Wanita itu melongo tidak percaya, "jadi masih dibawah umur? Yaaahh... Gak apa-apa kok, Noona bisa nungguin kamu, dek!"


Entah kenapa Kaivan terkekeh mendengar pernyataan itu, mana pernah dia berpikir jika wanita kantoran seksi akan melamarnya.


"Baiklah, saya akan memikirkannya."


Wanita itu memeluknya dan meletakkan kepalanya di bahu Kaivan, dengan wajahnya menghadap leher Kaivan. Membuat Kaivan merasa geli karena nafas hangat wanita itu menggelitik kulit lehernya.


"Bau mu wangi banget dek, kamu pake parfum apa?"


"Aku gak pake parfum kok - eh?"


Wanita itu sudah tertidur.


Kaivan hanya tersenyum kecil, lalu dia menggendong wanita itu menuju salah satu kamar.


Kamar wanita itu tertata cukup rapih dan estetik, seperti kamar yang muncul sebagai contoh di pinterest.


Kaivan merebahkan wanita itu di ranjang, lalu dia diam menatap wanita itu sebentar.


"Anda hanya bertemu pria yang salah, semoga anda menemukan pengganti yang lebih baik, anda itu cantik sekali, tidak perlu minder."


Suara telfon mengagetkan Kaivan. Rupanya ada orang yang menelfon si wanita. Kaivan bingung harus apa, tapi Rose muncul dalam bentuk peri kecil yang melayang di udara.


"Coba angkatin telfonnya, sekalian ijinin cewek itu ke perusahaan, kasihan dia," meski Rose kelihatan ngambek, tapi dia kasihan juga dengan wanita yang Kaivan bantu.


Kaivan pun menuruti ucapan Rose. Yang menelfon adalah manager di kantor si wanita, Kaivan menceritakan jika wanita itu tidak enak badan dan tidak bisa datang ke kantor. Manager memaklumi, karena sebenarnya manager menelfon karena khawatir dengan keadaan karyawan teladannya itu.


Setelah semua selesai, Kaivan dan Rose pun pergi. Peri itu mengomeli Kaivan sepanjang jalan.


"Enak banget ya ditungguin di rumah malah bareng cewe! Berduaan doang lagi!"


"Harusnya kamu udah tahu masalahnya dong, gimana mungkin aku ninggalin dia, kan kasihan!"


"Kasihan apa mau modus!"


"Ya dua-duanya lah!"


Rose memukuli lengan Kaivan dengan tangan mininya itu, jelas tidak sakit, tapi Kaivan mengaduh kesakitan agar Rose puas.


.

__ADS_1


.


__ADS_2