
Sampai villa Kaivan disambut oleh Omelan Rose. Itu karena Kaivan tidak mau makan, padahal dari pagi dia belum makan, dan sampai rumah dia bilang dia tidak nafsu.
"Aku tahu apa yang terjadi padamu kok! Tapi bukan berarti kamu bisa mengabaikan kesehatan mu sendiri, udah sekarang harus makan, katakan kamu mau makan apa!" Omel Rose, yang diangguki teman-temannya.
Jisung, Jake dan Dohyun sudah diberitahu apa yang terjadi di rumah sakit, termasuk tentang Dimas itu, meski tidak detail.
"Kalau begitu, aku mau makan bebek."
Rose pun berhenti mengomel, "bisa tidak kau meminta yang biasa saja?"
"Ya udah kalo gitu gak mau makan," Kaivan masih kukuh tidak mau makan, karena kenyataannya dia memang tidak merasakan lapar sama sekali.
"Bebek itu bisa dimakan ya?" Tanya Jisung bingung, meski pernah tinggal di Indonesia, tapi yang dia makan itu palingan ayam, sayur, atau daging-dagingan. Dia saja baru tahu bebek dan kelinci juga dimakan. Kalau saja dia tahu ada orang yang makan trenggiling dan tokek pasti langsung shock.
"Aku jadi penasaran," gumam Dasha, yang juga belum makan dari pagi, dia hanya makan kue di pagi hari, yang dia beli dari jalan.
"Kalau begitu, kita pesan saja, biar bisa makan disini," usul Dohyun, Kaivan setuju dengan usul itu, karena dia malas sekali untuk keluar.
Meski awalnya sempat menolak untuk makan, tapi saat memilih menu untuk dipesan secara delivery, Kaivan malah kalap dan berakhir memesan banyak makanan.
Ada restoran yang menjual olahan bebek, jadi ada yang digoreng, dibakar, dan lainnya. Lalu mereka juga memiliki sambal untuk menemani makan bebek, dan sambalnya ada berbagai macam, ada sambal terasi, sambal matah, sambal mangga, sambal ijo dan lainnya.
Tanpa terasa semua pesanan ditotal menjadi lima juta rupiah.
Kaivan melongo melihat harga tersebut, tidak menyangka akan jadi sebanyak itu, jadi dia meminta mereka membayar sendiri untuk makanan mereka. Kaivan tidak peduli meski dikatai pelit, karena untuk kali itu dia mau pelit.
Akan tetapi, ternyata penyumbang besar kenapa harga bisa mahal adalah Kaivan dan Dohyun, karena sisa yang harus dibayar untuk keduanya adalah tiga juta, jadi masing-masing satu setengah juta.
"Kamu sih pesen banyak banget!" Omel Kaivan pada Dohyun setelah mereka selesai membayar.
"Kok aku? Makanku dikit, tau! Mungkin menunya salah pilih yang mahal... Lagian satu menu mahal banget ada yang sampe tiga ratus ribu!" Sahut Dohyun tidak terima.
__ADS_1
"Ya inikan restoran mahal, lagian gak banyak makan darimana, kamu pesen tiga menu!"
"Aduh, kalian berdua itu makannya sama-sama banyak! Bedanya Dohyun makan lemot, kalau Kaivan cepet banget, kalian sama aja, jadi gak usah berantem!" Jisung akhirnya melerai kedua bocah itu, sementara yang lain hanya tertawa menikmati keributan tidak jelas itu.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka kembali pada aktivitas masing-masing. Dasha pergi ke kamarnya untuk mandi dan berendam sebentar, agar tubuhnya rileks, dia merasa tenaganya terkuras habis karena banyak menangis.
Sementara Jake pergi menelfon temannya, lalu Rose ke dapur untuk membuat jus mangga. Dia menggunakan mangga yang Jake dan Dasha bawa dari Australia, mangganya besar dan terlihat menggiurkan, tapi ternyata agak kecut, jadi lebih baik di jus saja.
Lalu sisanya kini sibuk membahas bisnis mereka. Jisung dengan dibantu Dohyun sudah memindahkan game dari Kaivan ke toko aplikasi. Kini game sudah bisa diakses, game itu bisa di install secara gratis, bisa dimainkan offline juga. Meski begitu, mereka tetap mendapatkan semacam royalti dari seberapa banyak orang yang mendownloadnya.
Karena gratis, banyak orang yang mendownload, tapi tidak bisa dibilang banyak juga. Masing-masing game kira-kira ada seribuan orang yang mendownload, kecuali game zombie, karena sudah sampai tiga ribu download.
"Ku rasa kita harus mengiklankan game ini, tapi kita harus keluar uang lagi, iklan biayanya juga tidak murah" ucap Jisung.
"Apa bisa dipromosikan dengan media sosial?" Tanya Kaivan.
"Ku rasa bisa, orang-orang akan heboh jika tahu kau bisa membuat game itu," ujar Dohyun semangat.
"Aku tidak mau mengatakan jika Aku yang membuat, karena kan bukan aku yang membuat... Lalu, kalau aku mengaku membuatnya, orang yang membuat akan kesal padaku dan dia tidak akan menjual gamenya pada kita lagi" ucap Kaivan.
"Bisa dipromosikan tanpa mengakui jika itu milikmu kok, kamu bisa bilang kamu hanya punya saham disana. Perusahaan gamenya memang baru dibuat, tapi jika investor lain melihat potensi kita, kita bisa semakin besar!" Jisung terlihat sangat senang, matanya berkilat menunjukkan semangat yang membara.
"Kak Jisung ngerti ginian sekarang kuliah jurusan apa sih?" Tanya Dohyun.
"Aku? Computer sains and engineering, sebenarnya aku lebih suka belajar astronomi, mempelajari luar angkasa, tapi yah... Orangtuaku bilang aku tidak boleh membuang-buang uang untuk sesuatu yang tidak pasti, jadi aku pilih jurusan itu secara acak, dan ternyata aku cukup ada bakat" ucap Jisung.
"Aku masih tidak tahu harus memilih jurusan apa... Aku tidak mau menjadi dokter" gumam Dohyun, dia terdengar sangat galau. Maklum saja, hal itu cukup penting bagi sebagian besar orang Korea. Karena jika tidak kuliah dan tidak mendapatkan nilai bagus, akan sulit mendapatkan pekerjaan nantinya.
Orang yang sudah kuliah saja masih susah mencari pekerjaan. Di Indonesia juga sama saja, apalagi jika syarat mendapatkan pekerjaan itu susah sekali. Biasanya yang melamar boleh fresh graduate, tapi harus ada minimal pengalaman tujuh tahun. Benar-benar tidak masuk akal. Di Korea juga sama saja, tidak beda jauh. Hanya bedanya orang Korea lebih berambisi.
Mereka bahkan menyiapkan semuanya sejak anak masih sekolah SD, dengan memasukkan anak untuk les dan sebagainya. Sangat keras dan sulit, makanya banyak pelajar yang stress hingga mengakhiri hidup mereka.
__ADS_1
"Bukankah orangtuamu tidak terlalu keras padamu lagi? Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan," ucap Kaivan.
"Kalau begitu, aku ingin rebahan dan makan saja, andai aku perempuan, aku pasti sudah memaksa Kaivan menikahi ku, biar aku bisa hidup nyaman" kata Dohyun dengan entengnya, yang kemudian mendapat lemparan bantal dari Kaivan.
"Enak aja! Semua istriku harus bekerja juga, lagian masih muda, harus nyari banyak uang dulu, baru bisa rebahan di hari tua!" Balas Kaivan.
"Kamu kejam banget nyuruh istrimu kerja!" Sahut Jisung.
"Maksudnya bantuin aku, kan Bisnisku banyak... Mereka gak harus kerja kayak kantoran gitu, cukup bantu aku aja."
"Situ mau nikah apa nyari karyawan! Eh tunggu - semua istri? Mau nikah berapa kali hah? Emang bisa?" Tanya Dohyun.
"Bisa, aku bawa mereka semua kesini, bisa nikah banyak tapi dibatasi empat, ada syaratnya sih, tapi aku yakin bisa memenuhinya," jawab Kaivan.
"Memangnya mereka mau dinikahi sekaligus?" Tanya Jisung.
"Gak tau lah, aku cuma bercanda, kenapa kalian serius banget!"
Jisung dan Dohyun pun memukuli Kaivan dengan bantal, mereka sudah serius tapi ujungnya si Kaivan main-main.
"Kalian ngapain sih? Kayaknya seru banget!" Dasha muncul dengan pakaian tidur yang tipis dan rambut setengah basah, dia juga sambil mengeringkan rambut dengan pengering rambut portabel, entah dapat darimana.
"Kaivan bilang dia akan menikahi empat wanit - mmpphh!!" Kaivan buru-buru membekap mulut Dohyun sebelum menyebar fitnah.
"Kalau begitu, pastikan aku salah satunya ya?" Ucap Dasha sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kaivan ingin membalas tapi delivery datang, mau tak mau mereka harus membuka pintu karena delivery membawa banyak makanan.
Lupakan tentang pernikahan, karena Kaivan saja tidak siap untuk menikah. Dia masih terbayang traumanya nanti jika memiliki anak lalu dia tidak bisa menjaga anaknya dengan baik lalu berakhir seperti dia dulu. Lebih baik nikmati masa muda dahulu.
.
__ADS_1
.