
"Hanna, ya? Dia berasal dari keluarga yang bisa dikatakan toxic, yang ku tahu dari kakakku, orangtuanya seperti sudah cerai, tapi tidak cerai, mereka sering ribut. Mungkin karena itu Hanna kurang perhatian, tapi - aku tidak tahu jika keluarga dia ada hubungannya dengan sindikat itu."
Saat itu Kaivan menemui Hanbin untuk membicarakan masalah Hanna, jadi Kaivan pergi ke kantor polisi.
"Tapi masalah itu masih di selidiki, kan? Akun sosmed yang menerorku itu menurut kak Jisung berasal dari Australia, Switzerland dan Korea Selatan. Jika Hanna adalah salah satunya, itu cukup cocok, dia dari Australia dan sekarang ada di Korea juga," ucap Kaivan.
Hanbin mengangguk setuju, "sepertinya masalah ini tidak bisa hanya diselidiki oleh kami, maksudku Korea, kamu tidak perlu memikirkan ini, Kai. Kamu cukup belajar saja yang rajin, ya? Jika kamu terus juara pertama, kami bisa mudah memasuki universitas manapun."
Kaivan tersenyum, lalu mengambil kue mochi untuk terakhir kalinya, "aku akan belajar dengan rajin."
"Kami ambil saja kuenya, tidak apa kok." Hanbin membungkus kan kue mochi. Hanbin mendapatkan kue itu dari membantu masalah ibu-ibu tadi pagi, karena Hanbin kurang suka mochi, jadi dia berikan saja pada Kaivan.
Hanbin sangat suka melihat bocah itu makan dengan lahap. Satu mochi biasanya dimakan dua atau tiga gigitan, tapi Kaivan memakannya langsung tidak perlu digigit.
"Makasih paman polisi, aku pergi dulu!"
Setelah Kaivan keluar dari kantor polisi, hari sudah sangat petang. Kaivan memang pergi sendiri, tidak mau ditemani siapapun.
Tapi Rose menyambutnya segera setelah keluar gedung, dalam bentuk peri kecil.
"Maaf karena tidak bisa banyak membantu, ya? Pesan dari atasanku, tidak boleh membantumu dalam masalah ini."
Kaivan tersenyum pada peri itu. Rose terlihat merasa sangat bersalah.
"Tidak apa, aku bisa mengerti, mungkin tidak asyik jika aku langsung tahu darimu. Aku harus bisa menyelesaikan masalah sendiri."
"Ugh! Tapi tetap saja, kan? Aku lebih dari mampu untuk mengetahui segala hal, tapi tidak bisa memberitahumu, aku merasa tidak berguna."
Kaivan mengerti perasaan Rose, jika Kaivan jadi dia juga pasti merasa seperti itu.
"Jangan berkata begitu, dengan kamu menemaniku saja, aku sudah merasa sangat terbantu. Ayo kita mencari makan!"
"Aku mau makan itu!"
Tumben sekali Rose menunjuk burger, biasanya dia lebih suka ayam. Tapi setelah Kaivan mendekati apa yang Rose tunjuk, rupanya itu burger ayam terbaru.
Kaivan membeli beberapa, lalu pulang naik taxi. Mereka akan makan di apartemen saja biar bebas.
Kaivan tidak terlalu suka makan di restoran, bukan karena dia sendirian. Entahlah, dia hanya tidak nyaman, lebih suka makan di rumah.
Mungkin Kaivan memang introvert akut.
"Kaivan, hei!"
Setelah Kaivan masuk lift, terlihat Yuna berlari ke arahnya. Jadi Kaivan menghentikan lift agar tidak tertutup, hingga Yuna masuk lift bersamanya.
"Kak Yuna baru pulang? Tumben."
"Hehe, aku hari ini pulang cepat, oh! Kamu membeli makanan sebanyak ini?" Tanya Yuna setelah melihat bawaan Kaivan. Memang Kaivan membeli beberapa burger sekaligus, total ada lima burger. Dia juga membeli minuman disana tiga.
Karena Kaivan makannya memang banyak, jadi sebenarnya itu porsi biasa saja. Mungkin karena Kaivan olahraga setiap hari secara rutin, jadi otomatis butuh banyak energi juga. Apalagi jika sudah menghadapi Hanna, butuh lebih banyak energi dari biasanya.
__ADS_1
Tapi karena ditanyai kakak cantik, Kaivan jadi malu juga.
"Aku tidak makan sendirian, ada seseorang di rumah juga. Kak Yuna mau makan bersama kami?" Tanya Kaivan.
"Kalau tidak merepotkan, aku akan makan disana, aku akan bawa sesuatu juga."
Sepertinya Yuna adalah tipe yang mudah bergaul, dia juga tidak sungkan dengan Kaivan sama sekali.
Kaivan dan Yuna pun berpisah, Yuna akan pulang dulu untuk ganti baju, baru pergi ke tempat Kaivan.
Rose sudah menatap Kaivan dengan tatapan tidak mengenakkan saat Kaivan sampai di apartemen.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Kaivan, pura-pura tidak peka.
"Aku udah nungguin disini lama, kamu malah enak-enakan ngobrol sama wanita mabuk itu!"
"Namanya kak Yuna, bukan wanita mabuk!"
"Cih, iya iya... Cantik banget emang ya? Sampe kamu suka banget sama dia?"
Kaivan meletakkan apa yang dia bawa di atas meja, kemudian baru melepaskan sepatu dan kaos kaki, menggantinya dengan sandal rumah.
"Kamu cemburu, ya?"
"Udah tahu, pake nanya lagi!"
Kaivan tersenyum jahil, "kalo aku suka kenapa?"
"Dia jauh lebih tua darimu, sadar dong!"
Rose berdecak malas, "tipe perempuan mu itu kayak gimana sih, Kai? Yang lebih tua, ya? Kayak Dasha sama Yuna? Kak Yerin juga jangan-jangan!"
Kaivan berdecak malas mendengar tuduhan Rose, walau tidak salah juga.
"Aku gak punya tipe, udahlah, aku mau ganti baju dulu, nanti kak Yuna kemari buat makan sama kita."
"Itu yang aku gak suka, ngapain ngajak dia makan segala? Jatah burgerku nanti berkurang!"
Ternyata itu yang membuat Rose kesal.
"Kau ini, jangan serakah dong!"
"Pokoknya dia makan jatahmu ya? Bukan jatahku!"
"Iya iya, berisik banget!"
Rose pun duduk, lalu menghela nafas panjang. Kaivan itu bukan orang yang bisa menolak kebaikan orang lain, dia akan baik jika orang itu duluan yang berbuat baik.
Tapi dalam kasus Kaivan, dia tidak mudah percaya orang, harusnya begitu. Tapi kali ini Kaivan malah baik sekali pada orang asing seperti Yuna.
"Dia kayaknya beneran suka yang lebih tua, apa karena lebih matang dan berpengalaman?" Gumam Rose.
__ADS_1
Kemudian terdengar suara bel berbunyi, Yuna datang.
Wanita itu sangat ramah, dia berkenalan dengan Rose dan selalu tersenyum meski Rose jutek padanya. Yuna juga masih tersenyum saat Rose mengatakan dia adalah kekasih Kaivan, meski Yuna bingung juga.
Saat di gym kemarin, Kaivan mengatakan pacarnya itu Dania, sekarang Rose. Yuna masih ingat wajah keduanya berbeda, jadi pasti dua orang berbeda juga.
"Jadi berapa pacarmu, Kai?" Tanya Yuna saat Rose pergi untuk mengambil susu di lemari pendingin.
"Hmm? Berapa ya? Kayaknya tiga deh."
"Tiga?"
"Eh, apa empat ya?"
"Yang bener kamu! Apa mereka semua tahu kalau kamu pacaran sama keempatnya?"
"Tahu dong kak, emang kenapa?"
Yuna hanya melongo, lalu menghabiskan makanannya sendiri, tidak habis pikir dengan kelakuan Kaivan.
"Kak Yuna kenapa? Apa aku salah?" Tanya Kaivan bingung saat Yuna masih melongo selama beberapa detik, wanita itu masih shock.
"Hah? Ya - gak apa-apa kok, hehe. Tapi kamu gak repot?"
"Repot apa? Mereka sendiri yang maksa kok, aku gak repot, aku sayang mereka semua."
"Jadi kamu dipaksa? Kamu paham gak sih konsep cinta? Kan biasanya -"
"Kak Yuna, cinta itu semu. Jangan percaya dengan cinta, orang yang awalnya saling mencintai dan berjanji setia, bukan berarti akan seperti itu selamanya, dia bisa mengkhianati kapan saja. Lebih baik, kakak pikirkan diri sendiri aja. Jangan memberikan segalanya pada orang lain, Jangan percaya orang lain. Keluarga juga bisa mengkhianati mu kok."
Yuna tertawa canggung mendengar ucapan Kaivan.
"Kau benar juga, aku sudah sedewasa ini harusnya tahu jika mengejar cinta itu hanyalah hal semu. Tapi bagaimana lagi, kita di doktrin dari kecil untuk percaya cinta, film Disney tentang cinta, drama Korea juga sama saja, isinya cinta. Cinta itu hanya khayalan kita."
Rose yang baru datang heran karena bahasan sudah berubah menjadi cinta saja.
"Bukan berarti cinta itu gak ada, kak Yuna jangan termakan ucapan Kaivan, dia dari kecil tidak mendapatkan cinta, jadi kurang percaya gituan. Dia bahkan belum mengerti konsep keluarga," ucap Rose.
"Aku ngerti kok!" Bantah Kaivan.
"Maksudnya gimana ya? Kaivan gak punya keluarga?" Tanya Yuna.
"Iya, jadi sekarang aku keluarganya," sahut Rose.
Yuna jadi semakin bingung dengan Rose dan Kaivan, kedua remaja ini aneh sekali, tapi yang lebih aneh dia jadi sangat tertarik.
"Kak Yuna jangan dengerin Rose ya? Dia memang agak aneh." Ucap Kaivan.
"Aku gak aneh, ya!"
"Kalian berdua tenanglah..."
__ADS_1
.
.