
"Kaivan?"
Kaivan memeluk Dania dari belakang, dia juga terkejut karena berani melakukan itu.
"Kamu tidak akan meninggalkanku kan?" Gumam Kaivan.
Dania tersentak mendengarnya, dia merasakan jika Kaivan sungguhan tidak ingin dia pergi jauh. Sepertinya Dania tidak bisa memungkiri lagi, Kaivan menyukai dia juga, karena dia lah yang merawat Kaivan saat Kaivan terpuruk. Sebenarnya Dania tidak mau dikasihani karena hal itu, dia merawat juga tulus.
Tapi jika dipikir-pikir lagi, susah bagi Kaivan untuk tidak seperti itu. Kaivan tidak memiliki siapapun lagi yang dekat dengannya. Saat ini hanya Dania, Hanbin dan keluarga di rumah itu saja yang Kaivan punya.
Jika Dania pergi meninggalkan Kaivan, Dania bisa membayangkan betapa hancur hati Kaivan, ditinggal oleh seseorang yang dia sayang untuk kedua kalinya. Cukup ibunya yang sudah mengkhianati dia.
Dania melepaskan pelukan itu, lalu berbalik dan membalas pelukan itu.
"Aku tidak akan pergi, aku akan disini denganmu."
"Sungguh?"
"Iya... Aku hanya ingin ke kamar karena disini dingin" ucap Dania, dia berbohong, dia sebenarnya pergi karena terlalu berdebar dan dia tidak kuat.
"Baiklah, ayo ke kamar" Kaivan menyeret Dania ke kamar Dania.
"Eh? Tu-tunggu Kai!"
Mereka sudah ada di kamar Dania saja, Kaivan meminta Dania untuk duduk, dia juga duduk di tepi ranjang serba pink dan biru muda tersebut.
Dania terlalu fokus dengan Kaivan Sampai dia tidak sadar boneka sapi yang dia bawa terjatuh di karpet kamarnya.
"Kamu kedinginan? Mau ku ambilkan kopi hangat yang manis?" Tanya Kaivan.
Dania yang terpana dengan ketampanan Kaivan hanya bisa mengangguk. Kaivan yang tidak berdandan, seperti saat baru bangun, batu selesai mandi, itu membuat Dania berdebar tidak karuan. Kaivan sangat tampan! Atau setidaknya bagi Dania seperti itu.
Memang benar kata Vicky, tinggal dengan Kaivan saja sudah beruntung sekali baginya. Dia bisa melihat sosok Kaivan yang baru bangun, sosok Kaivan yang baru selesai olahraga, dan itu sangat tampan dan seksi.
"Dania suka kopi?"
"Iya... Aku bisa minum kopi kok, asal tidak pahit saja."
"Bagaimana dengan sarapannya?"
"Apapun yang Kaivan berikan, aku akan memakannya."
"Kalau begitu, tunggu disini ya?"
Dania mengangguk pelan, lalu Kaivan pun pergi. Dia kembali lagi sekitar dua menit kemudian, membawa nampan berisi satu gelas dan satu piring French toast. Gelas itu sungguhan berisi kopi, itu adalah kopi yang sama dengan Kaivan minum sebelumnya, dia membeli lagi kopi itu karena enak dan hangat.
"Makanlah, aku akan menunggumu disini."
Hmm? Apa ini? Kaivan bertingkah seperti Dania dulu saat merawatnya. Bedanya Dania tidak akan mengamuk dan menumpahkan makanan. Biasanya dulu jika Kaivan mengamuk dan makanan tumpah, Dania akan pergi dan membawakan yang baru. Sementara Kaivan makan, dia akan membersihkan makanan yang tumpah.
"Kamu tidak makan bersamaku?" Tanya Dania, Kaivan menggeleng, "aku nanti saja, belum lapar."
Kaivan sebenarnya sudah makan croissant saat main game, sambil minum kopi.
"Kaivan, aku tidak menyangka kamu akan tumbuh secepat ini. Aku pikir akan butuh waktu lama bagimu untuk sembuh, tapi aku selalu berdoa agar kamu sembuh setiap malam."
"Kamu berdoa untukku?"
__ADS_1
"Tentu saja! Aku dulu iba padamu, kamu kasihan sekali, lama-lama aku jadi suka padamu."
"Tidak masalah, perasaan iba, aku tidak masalah dengan itu, karena aku tahu kamu tulus melakukannya."
Dania kembali mendongak menatap Kaivan, dia pun berdiri lalu memeluk Kaivan.
"Kaivan, aku sungguh senang kamu sudah sembuh!"
Dania sudah ingin melepaskan pelukan itu, namun Kaivan menarik pinggang ramping gadis itu hingga duduk di pangkuannya. Dania berdebar tidak karuan, mereka sedekat itu! Mereka bisa merasakan debaran jantung masing-masing.
"Sebenarnya aku belum sembuh, tapi aku sedang berjuang untuk sembuh. Ini tidak mudah, tapi jika ada kamu di sisiku, mungkin semuanya akan terasa mudah."
Kaivan pikir, yang membuatnya mau berjuang adalah Dania yang selalu tulus merawatnya, Rose yang selalu menemaninya, dan juga sistem yang memberi kesempatan. Kaivan juga bersyukur terhadap keluarga Dania yang begitu baik menampungnya. Dengan begitu Kaivan bisa berjuang melawan traumanya, bertemu orang baik seperti Vicky, Dohyun... Tentu Kaivan bahagia.
Dia tidak ingin apa yang dia miliki saat ini hilang begitu saja. Kaivan tahu rasanya sendirian berjuang, itu sangat menyakitkan. Karena itu, saat sekarang ada orang-orang baik yang memberinya kesempatan, Kaivan akan berjuang sangat keras agar bisa membuat mereka bahagia.
"Dania tidak akan meninggalkanku kan? Tolong berjanjilah, aku tidak mau ditinggalkan lagi."
Dania menggeleng, "aku tidak akan pergi, tapi aku tidak bisa berjanji, bagaimana jika keadaan memaksaku pergi?"
"Kalau begitu, aku yang akan mengambil mu kembali, aku juga mau Dania menjadi milikku sendiri."
Dania, Sistem, Rose semuanya milik Kaivan, tidak boleh pergi meninggalkan dia.
***
[Anda berbuat baik pada Dohyun!]
[Anda mendapatkan hadiah!]
Saat itu Kaivan ada di UKS, dia merawat luka Dohyun, bocah itu ceroboh sekali. Dia jatuh dari tangga dan entah bagaimana kakinya bisa tergores cukup dalam.
Kaivan membersihkan luka itu dengan ramuan penyembuh tingkat rendah, lalu membungkus luka itu dengan kain kasa penyembuh yang dia beli dari toko sistem. Kasa itu bisa mengeringkan luka dengan cepat.
Sekarang Dohyun ketiduran. Mereka sial sekali karena dokter pengurus UKS sedang menangis di toilet karena patah hati.
Kaivan tidak bisa bereaksi saat sistemnya memberikan notifikasi. Tapi Rose bereaksi, peri itu terbang berputar-putar di kepala Kaivan, terlihat sangat bahagia, akhirnya dia memiliki 100% tubuhnya.
Dokter UKS datang lagi, dengan mata sembabnya.
"Oh, kamu sudah merawat luka temanmu? Terimakasih ya, Kamu ingin tetap disini atau kembali ke kelas?"
"Aku ingin disini dulu menjaga Dohyun."
Dokter UKS pun duduk di kursinya, "baiklah, kamu mau mendengarkan ceritaku? Kamu udah punya pacar belum?"
Pertanyaan dokter cantik itu membuat Kaivan berdebar, entah apa maksudnya. Dia takut untuk menyebut Dania pacarnya. Karena Dania sendiri takut dimarahi jika keluarganya tahu mereka berkencan.
Tapi akhirnya Kaivan mengangguk juga.
Dokter cantik pun mulai curhat. Entah apa wajah Kaivan itu wajah yang cocok untuk dicurhati atau bagaimana. Yang pasti, dokter cantik menceritakan masalahnya.
Dokter bernama Hana itu memiliki pacar yang seorang dokter spesialis. Pacar dokter tentu lumayan tampan, dia terkenal di rumah sakit. Beberapa dokter perempuan atau perawat perempuan suka menggodanya. Tapi pacarnya Hana selalu mengelak saat dituduh selingkuh, pacar Hanna itu romantis, suka memberi kejutan.
Intinya, Hana melihat sendiri pacarnya itu selingkuh dengan dokter baru yang cantik dan muda, bahkan dokter muda itu hamil satu bulan. Jelas Hanna hancur hatinya.
Kaivan bingung harus bagaimana setelah mendengar curhatan itu, dia kasihan juga.
__ADS_1
"Menurut saya, lepaskan pacar dokter, biarkan dia bertanggung jawab pada calon bayinya."
"Tapi! Aku mencintai dia! Lagipula yang perebut itu wanita sialan itu! Dia hamil karena salahnya sendiri, untuk apa pacarku yang tanggung jawab?"
Aduh, ini menjadi sangat rumit, kalau bucin sih ini sudah dalam taraf idiot. Memang bucin itu membuat akal sehat menghilang.
"Lalu ibu Hana tidak memikirkan nasib anak itu? Lagipula tidak ada jaminan pacar Bu Hana tidak selingkuh lagi. Jangan hancurkan masa depan Bu Hana demi lelaki seperti itu, Bu Hana itu cantik lho! Cari yang lain saja."
Kaivan sungguh kasihan dengan calon bayi yang tidak bersalah, takutnya menjadi seperti dia. Dia juga kasihan jika Hana masih mengejar lelaki itu.
"Apa aku sungguh cantik? Aku sangat sibuk sampai tidak bisa merawat diri..."
Memang meski cantik, Hana kelihatan agak cuek dengan penampilan dia.
"Begini saja, saya berikan sesuatu agar Bu Hana bisa menjadi cantik tanpa repot merawat diri, siapa tahu Bu Hana jadi lebih percaya diri setelahnya."
Kaivan memberikan sabun cair dan shampoo, kali ini varian vanilla. Aromanya cocok dengan Hana yang cantik dan lemah lembut.
"Kamu memberikan ini?"
"Iya, itu akan segera dijual di toko milik Vicky, ibu bisa membeli lagi disana, jika efeknya bagus, ibu bisa mempromosikan pada yang lain bukan?"
"Tentu saja! Ibu akan mempromosikan untukmu! Kamu baik sekali, ini kelihatan mahal!"
[Kamu berhasil membuat Hana kembali tenang!]
[Kamu mendapatkan hadiah spesial!]
[Lihat hadiah spesial di rekening sistem!]
Memang kadang sistem langsung memberitahukan hadiah, kadang juga dimasukkan rekening sistem dulu.
Nanti saja memeriksanya.
Setelah selesai dan Hanna menjadi lebih tenang, Kaivan pamit kembali ke kelas. Dia capek juga jika dijadikan tempat curhat.
"Kaivan!"
Dalam perjalanan, Kaivan bertemu dengan Dania. Dia tersenyum lalu mendekati Dania.
"Mau ku bantu? Kenapa kamu sendiri yang bawa ini?" Kaivan membawakan semua buku tugas yang Dania bawakan.
Semua buku itu akan dibawa ke kantor guru, mungkin Dania itu semacam dengan Dohyun yang suka sekali membantu guru.
"Habisnya anak di kelas tidak ada yang bisa diandalkan, ketua kelasnya itu Seon, aku wakil ketua."
Kaivan malas sekali mendengar nama itu.
"Kai, sebentar lagi ada ujian kenaikan kelas, ayo kita belajar yang giat! Mau belajar di kamarku?"
Kaivan hanya mengangguk dan tersenyum, Dania itu selalu fokus saat belajar, meski hanya berdua saja di kamar Dania. Jika anak lain mungkin akan berbuat yang iya iya. Karena itu Kaivan suka belajar dengan Dania, dia juga selalu menjelaskan apapun dengan baik.
"Hei kau!"
.
.
__ADS_1