Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Ayah Kandung Kaivan


__ADS_3

"Kaivan, kau sudah sampai level empat kan?" Rose yang sedang memamerkan tubuhnya yang utuh, menghampiri Kaivan.


Entah mengapa, Kaivan merasa tidak nyaman melihat Rose dalam tubuh sebesar itu. Ada debaran aneh yang kurang menyenangkan, tapi juga menyenangkan disaat bersamaan, dia tidak mengerti, yang pasti dia kurang nyaman melihat tubuh Rose.


Karena sudah mendapatkan 100% tubuhnya, peri itu bisa berubah menjadi besar dengan tubuh remaja. Masalahnya disini adalah tubuh Rose yang melekuk indah, seperti jam pasir atau gitar spanyol. Kaivan hanya remaja laki-laki biasa yang bisa berdebar karena melihat tubuh seperti itu.


Jika kalian bertanya, padahal Kaivan sudah sering melihat tubuh wanita, tentu itu berbeda. Melihat tubuh wanita lain yang tidak ada perasaan apapun, meski seseksi apapun, tidak akan terasa spesial. Paling tidak Kaivan begitu, jangan samakan dia dengan orang lain, tiap orang beda-beda. Lalu, Dania dan Dasha memiliki tubuh yang bagus, tapi terlalu kurus, kurang ada lekukan yang membuat lelaki berdebar.


Entahlah, bukan berarti Kaivan tidak suka, dia sendiri tidak mengerti dengan perasaan dia sendiri, itu sesuatu yang baru baginya.


"Me-memangnya kenapa?"


Rose terkikik melihat Kaivan yang kelihatan jelas sedang nervous.


"Tidak, ada beberapa hal yang bisa dicoba di level empat. Misalnya toko sistem bisa delivery dari negara lain, tapi pengiriman menggunakan sistem, kalau negara lain biayanya dua poin."


Kaivan buru-buru menoleh pada Rose, tidak menyangka biayanya akan semahal itu, dua poin itu artinya dua jutaan rupiah.


"Oke, lalu apa lagi keuntungan level empat?" Tanya Kaivan, berusaha mengalihkan perhatian pada hal lain, untuk menutupi keterkejutannya.


"Ada game baru yang bisa kamu coba, yaitu reality game! Kamu akan mendapat misi-misi penting, lalu mendapatkan hadiah, bukankah itu seru? Oh iya, kamu ada hadiah di rekening sistem, gak kamu lihat?"


Kaivan juga baru ingat dia punya hadiah karena mendengarkan curhatan dokter UKS.


"Aku melupakannya, ayo kita lihat - eum, kamu ngapain?" Kaivan berhenti menggerakkan jarinya saat Rose mendekat lalu duduk di pangkuannya. Kaivan sudah biasa jika Rose dalam tubuh anak kecil, tapi jika tubuh remaja ya mana bisa?


"Bukankah kita biasa begini? Aku nyaman duduk di pangkuan mu!"


"Aku yang gak nyaman!"


"Ih, kenapa sih?"


"Harus pakai tubuh 50% baru aku mau!"


"Ugh, pelit!"


Akhirnya Rose duduk di atas ranjang, menatap kesal pada Kaivan yang duduk nyaman di sofa.


Kaivan pun mengeluarkan hadiah dari rekening sistem, hadiahnya dibungkus kotak besar berwarna emas, tapi itu hanya kertas kado, bukan emas sungguhan.


Saat dibuka, ada beberapa dokumen usang di dalamnya.


"Ini apa?" Tanya Kaivan bingung, Rose pun mendekat lagi dan memeriksa berkas-berkas tersebut.

__ADS_1


"Oh! Itu adalah dokumen yang ibumu sembunyikan selama ini, sudah hampir dibakar tapi sistem menyelamatkannya, semua dokumen tentangmu kok, ayo dibaca saja!"


Meski ragu, Kaivan pun membuka salah satu berkas. Tertulis disana hasil tes DNA antara Kaivan dengan - "Apa ini? Kenapa aku dulu di tes DNA segala? Terlebih dengan Om Harlan, ini Om Harlan yang menolong ku kan?"


Rose mengangguk yakin, "tentu saja itu Harlan yang sama, Christiano Alvon Harlan, dia dipanggil Harlan karena dia adalah penerus keluarga, dulunya saat remaja dipanggil Chris atau Alvon."


"Tapi kenapa harus dengan Harlan? Apa ibuku gila? Mana mungkin aku anaknya Harlan coba!"


Rose memutar bola matanya malas, "udah, baca aja hasilnya!"


Dengan jantung berdebar keras, Kaivan mulai memberanikan diri untuk membaca hasil dari tes DNA tersebut.


"95% anak... Tunggu, ini tidak mungkin! Jadi aku selama ini -"


"Ayolah Kai, petunjuknya sudah banyak lho, ibumu dulu sekretaris ayahnya Harlan, dia sangat menyukai Harlan sampai terobsesi, padahal Harlan sudah memiliki kekasih, Harlan dan kekasihnya diam-diam menikah, karena tidak direstui oleh keluarganya, Harlan sangat depresi, lalu ibumu datang dan memanfaatkan keuntungan tersebut. Harlan hanya memaafkan perbuatan ibumu, memberi beberapa uang untuknya, asal ibumu tidak mengatakan apapun pada kekasihnya maupun keluarganya jika mereka pernah bermalam bersama, ibumu menyanggupinya.


Harlan sangat bahagia saat anaknya lahir, keluarga Harlan sudah ingin merestui pernikahan tersebut, namun ibumu datang dan mengatakan dia hamil, kamu yang ada di kandungannya waktu itu. Istri Harlan yang baru melahirkan sangat shock, dia sampai sakit lalu meninggal, dia sebenarnya juga baby blues, ditambah dengan pernyataan ibumu, jadi dia tidak kuat. Ibumu tentu diusir dari perusahaan juga, tapi ibumu mempertahankan kehamilannya agar bisa mendapatkan Harlan. Setelah kamu lahir, ibumu datang lagi dan membawamu pada keluarga Harlan, Harlan sendiri masih depresi atas kehilangan istrinya, dia mengamuk dan tidak percaya akan hal itu. Jadi keluarga Harlan meminta tes DNA, lalu setelah tes dan ternyata kamu sungguhan anak Harlan, mereka memberi ibumu uang yang banyak agar ibumu tidak mendekati Harlan. Ibumu sempat ingin membuang mu juga, tapi karena keluarga Harlan memberi uang bulanan, kamu tidak jadi dibuang."


Kaivan sudah lemas mendengarkan cerita Rose.


"Kau baik-baik saja, Kai? Aku tidak ingin menceritakan ini, tapi aku sudah tidak tahan lagi, kamu keras kepala dan terus menolak, padahal ku pikir lebih baik kamu tahu - Kai?"


Kaivan tidak menjawab, dia hanya menarik Rose, lalu memeluknya erat.


Malam itu Kaivan mengunci pintunya, saat ada yang ingin masuk, Dania misalnya, Kaivan hanya berkata dia baik-baik saja dan jangan hiraukan dia. Kaivan bodoh sekali, justru dia berkata seperti itu, orang rumah makin khawatir.


Awalnya Rose tidak terlalu khawatir, tapi Kaivan mengurung dirinya seharian penuh, dia tidak sekolah juga, tidak mandi, tidak makan. Orang rumah sangat khawatir dengan bocah itu, Dohyun dan kakaknya juga sampai datang, tapi Kaivan menolak bertemu.


"Kaivan... Kamu belum baikan? Aku harus apa agar kamu kembali lagi?" Tanya Rose, peri itu menangis sambil memeluk Kaivan yang tidak mau bergerak.


Beberapa saat kemudian, Rose berhenti menangis saat merasakan ibu jari Kaivan menghapus air matanya.


"Kai?"


"Kemarin, saat aku membantu Dania membawakan buku ke kantor guru, aku bertemu putra dari Harlan. Dia datang hanya ingin tahu aku yang ditolong ayahnya. Dia kelihatannya tidak terlalu menyukaiku."


"Kamu bertemu dia? Mungkin itu putra pertama Harlan."


Kaivan mengangguk, "iya, putra pertamanya, dia keliatan tampan, bersih, kulitnya pun putih pucat seperti ku, bedanya dia lebih bagus."


"Untuk apa kamu memedulikan tentang kulit! Kalian memiliki gen yang sama, kalian mendapat kulit itu dari ayah kalian!"


Kaivan kembali bicara, "dia kelihatannya cemburu ayahnya membantu aku yang bukan siapa-siapa. Lalu dia pergi begitu saja, ku rasa dia liburan disini."

__ADS_1


"Kai? Kamu harus keluar kamar, jangan mengurung diri terus, atau ambil kelas guru Sidarta lagi, oke? Atau ambil kelas guru lain? Ada kelas guru Alexander juga."


Kaivan menatap Rose bingung, "siapa guru Alexander?"


"Kamu tidak tahu? Dia seorang Raja yang dulu kekuasaannya sangat luas!"


"Tidak mau, kamu peluk aku aja..."


Rose memutar bola matanya malas, padahal dia sudah memeluk Kaivan bahkan saat tidur juga, tapi apa? Bocah itu tetap mengurung diri, tidak baikan.


Apa yang harus dia lakukan agar Kaivan kembali lagi?


"Kaivan! Mau membeli sesuatu di toko sistem? Kita bisa delivery sesuatu dari Indonesia juga lho!"


Untungnya bujukan itu berhasil, "oke... Aku lapar, mau nasi pecel atau nasi Padang."


Rose memeriksa ponsel pintar Kaivan, mengatur delivery agar bisa ke Indonesia juga.


"Oh ini ada nasi Padang yang masih buka! Di Indonesia sepertinya jarang yang buka 24 jam ya? Boleh aku yang pilihkan?"


"Boleh, aku belum pernah makan nasi Padang, bagiku itu makanan mewah, jadi sekarang aku ingin coba, aku akan mandi dulu ya?"


"Ikut!!"


"Ya udah, ayo!"


Rose mengernyitkan dahinya, sepertinya Kaivan belum sadar sepenuhnya, buktinya dia mau saja diajak mandi bersama. Biasanya Rose akan dilempar bantal jika meminta mandi bersama, bahkan meski Rose dalam bentuk anak kecil.


"Kau yakin?" Tanya Rose lagi.


"Hmm?"


"Tidak ada, kau mandi duluan aja, udah seharian gak mandi!"


"Oke!"


Rose menghela nafas lega saat Kaivan sudah masuk kamar mandi.


"Sepertinya tugasku untuk menjaganya itu akan sangat sulit, memang mental sulit disembuhkan, tapi dia sudah bagus karena bertahan sejauh ini" gumam Rose, sambil memilih menu di rumah makan Padang.


"Waduh gawat, semuanya kelihatan enak!"


.

__ADS_1


.


__ADS_2