
"Gimana, enak kan?" Tanya Jaden.
Saat itu sudah selesai sarapan, berupa nasi goreng campur udang tepung, ditambah dengan telur ceplok buatan Jaden. Jaden sendiri juga ikut makan, katanya yang lain sudah sarapan dengan nasi Padang kiriman pamannya Jisung.
Nasi Padang untuk Kaivan sebenarnya ada, tapi Jaden sudah memberikannya pada pak Pardi, pengurus villa. Kaivan kesal sekali karena Jaden seenaknya sendiri di rumahnya, tapi dia sudah tidak mempermasalahkan hal itu setelah Jaden memberinya es kopi setelah sarapan.
Dan yang Jaden tanyakan di atas itu adalah kopinya. Sudah jelas itu kopi dari brand starbak, bahkan gelasnya saja juga ada logo starbaknya.
"Ya enak aja sih, ini kopi mahal ya?" Tanya Kaivan balik, walaupun dia curiga pada Jaden. Gimana tidak curiga? Jaden menatapi Kaivan terus saat Kaivan mencoba kopinya, lalu dia juga memperlihatkan ekspresi yang aneh.
"Gak mahal kok, kurasa setokonya bisa aja ku beli - tapi bukan itu, itu beneran enak kah?"
Kaivan mengangguk pelan, masih dengan kecurigaannya.
Mereka sekarang berjalan menuju pantai, untuk menemui yang lainnya. Es kopi membuat mata Kaivan langsung terbuka lebar.
"Syukurlah kalau beneran enak, aku sedikit eksperimen tadi."
"Uhuk - apa?"
"Hehe, kau tahu ada vidio viral dimana dia mencampur kopi dengan kecap manis? Jadi aku melakukannya, ingin tahu enak apa enggak, syukur deh kalau enak."
Kaivan menatap gelas kopinya horror, ternyata manisnya itu dari kecap? Tapi kecap terbuat dari kedelai hitam, biasanya tanpa pemanis buatan karena sudah manis. Memang rasanya enak, ada manis gurihnya.
"Seharusnya kamu bilang dong!" Protes Kaivan, dia tidak terlalu marah karena kopinya memang enak. Dia tidak menyangka jika akan menyukai kopi starbak campur kecap, dan kenyataan itu membuatnya kesal.
"Hehe, maaf deh!"
Kaivan berjalan lebih cepat, karena dia kesal dengan Jaden, lelaki itu membuat emosi Kaivan meledak-ledak tidak karuan. Jadennya sendiri suka sekali mengerjainya.
Saat sarapan tadi juga Jaden mengatakan jika udang goreng tepungnya adalah kecoak goreng, itu setelah Kaivan menggigitnya.
Mungkin Jaden datang kesana hanya untuk membuat Kaivan kesal, tahu begitu dia tidak akan memperbolehkan Jaden datang.
"Kaivan! Kita lagi panen kelapa muda!" Teriak Jihun, dia sedang turun dari pohon kelapa.
Ada pak Pardi juga disana, mungkin dia yang mengajari Jihun untuk memanjat pohon dan mengambil kelapa muda.
Karena villanya memiliki hak atas pantai di belakang villa, itu artinya kelapa yang tumbuh jadi hak milik Kaivan juga kan? Tidak lucu jika ada yang menuntutnya nanti.
"Kamu yang mengambil semuanya?" Tanya Kaivan setelah Jihun turun dari pohon kelapa.
"Aku ambil dua aja sih, yang lainnya diambil pengurus villa" ucap Jihun.
Pak Pardi mengajari Junghyun dan Jisung untuk membuka kelapa mudanya, agar airnya bisa diminum, dan kedua pemuda itu terlihat kesulitan.
Akhirnya Jaden ikut membantu mereka, kalau Kaivan sih lebih baik duduk saja dan menghabiskan kopinya, sebagian dia bagi pada Jihun dan Jisung juga. Kaivan tidak akan berkata jika kopinya telah dicampur dengan kecap, takut mereka shock.
__ADS_1
Siang itu mereka hanya bermain di pantai, pak Pardi membawakan bola voli, mereka pun memainkan voli pantai. Tentu saja Kaivan tidak bisa pada awalnya, dia heran kenapa orang-orang langsung bisa main voli pantai, belajar dimana? Apa Kaivan saja yang tidak diajari voli pantai?
Tapi pada akhirnya Kaivan menang juga, dia belajar cepat dengan baik. Yah, mungkin karena tim Kaivan juga kuat-kuat, ada Jihun dan Rose, makanya bisa menang.
"Katanya kalian mau ke Ancol? Jadi gak sih?" Tanya Jaden, dia ternyata bisa bahasa Korea juga, walaupun masih belajar, tidak terlalu fasih tapi untuk percakapan sudah oke.
"Gak jadi kak, disini ada pantai juga," sahut Jisung.
"Jangan gitu, kita kan belum pernah kesana!" Timpal Junghyun tidak terima.
"Iya nih, aku kan penasaran!" Jihun ikutan menyahuti.
Jika kalian bingung, umur Kaivan, Vicky dan Rose itu 17 tahunan (Vicky 17,5 tahunan, kakak kelas Kaivan, jadi sekarang kelas tiga SMA). Sedangkan Jisung dan Wonbin (kakaknya Vicky) itu 19 tahunan, lalu Jihun, Junghyun dan Jaden itu 20 tahun. Karena Korea sangat ketat tentang umur, meski jarak cuma satu tahun, tetap memanggil kakak, atau Hyung.
"Ya udah sih, ayo kesana sekarang, tapi panas gak apa-apa?" Tanya Jaden, cuaca siang itu memang cukup terik.
"Aku gak masalah kok, tinggal pakai sun screen" ucap Vicky.
"Ku pikir kalian akan kaget, di Korea dingin, disini panas, meski ku pikir ini tidak terlalu panas daripada di tempatku dulu" sahut Kaivan.
"Kamu bukan dari Jakarta?" Jaden sepertinya belum tahu darimana asal Kaivan.
"Iya, aku dari Surabaya, kenapa?"
"Tapi ibumu kan orang sini, dia kenal ayah juga, ayah ku bercerita tentang ibumu."
"Apa yang dia ceritakan?" Tanya Rose, dia tidak peka sama sekali saat Kaivan menatapnya, mungkin Rose sedang menguji kesabaran Kaivan.
"Itu... Ayahku bilang dulu ibunya Kaivan kerja di perusahaan kami, lalu mengaku jika dia hamil anak ayahku, dia juga mengatakan ibuku meninggal karena hal itu. Ku rasa itu tidak benar, nenek bilang ibuku meninggal karena melahirkanku, jadi nenek selalu menyalahkan ku. Yah, mungkin aku seharusnya tidak lahir..."
Tentu saja Kaivan tersentak mendengarnya. Sebenarnya tidak aneh jika neneknya Jaden, atau ibunya Harlan berpikir seperti itu. Ibunya Jaden dan Harlan tidak direstui keluarga, setelah mereka mulai menyukai wanita itu, Jaden lahir. Bisa jadi nenek membenci Jaden dan ibunya, karena setelah wanita itu meninggal, Harlan sempat menjadi seperti orang gila.
Pasti butuh waktu lama untuk menyembuhkan sakit di hati Harlan, mungkin selama itu Jaden yang disalahkan.
"Kamu gak salah, sebenarnya ibuku yang salah kok, bagaimana jika kita menemui ibuku dan meminta dia menceritakan apa yang terjadi?" Usul Kaivan, dia sendiri ingin tahu kebenarannya dari ibu kandungnya.
Walaupun dia tidak ingin bertemu sama sekali, tapi Kaivan ingin tau kebenaran itu dari mulut ibunya sendiri.
Yang lain hanya bengong dan bingung kenapa suasana di sekitar Kaivan dan Jaden jadi buruk, karena keduanya menggunakan bahasa Indonesia, jadi mereka tidak paham.
"Apa kamu gak masalah? Ku pikir kamu masih membenci ibumu setelah kejadian itu, bukankah kamu dijual oleh ibumu pada sindikat itu?"
"Aku tidak masalah, karena jika tidak dihadapi, aku akan stuck dan tidak bisa berkembang, mungkin akan sulit, jadi berikan aku waktu untuk bertemu dia."
"Baiklah, lupakan itu dulu, lebih baik kita pergi ke Ancol saja, oke?"
Pada akhirnya mereka jadi pergi ke Ancol sekitar jam sebelas siang, saat mentari sudah berada di ubun-ubun, mereka sampai di tempat.
__ADS_1
Ternyata sangat ramai, maklumlah, sedang weekend.
Seperti ucapan Jisung, ternyata memang semua harga disana mahal. Tapi Kaivan tidak menyangka akan semahal itu. Memang di tempat wisata biasanya harga akan menjadi dua kali lipat.
Kaivan membeli minuman saja harganya jadi 22 ribu rupiah, dia pikir itu paling tidak harganya 10 ribu lah.
Tapi tidak apa, Kaivan sudah senang karena akhirnya pergi kesana. Dia menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan berfoto dengan Rose dan Vicky. Sedangkan yang lain mencoba berbagai wahana disana dengan ditemani Jaden.
"Kaivan, ayo upload foto yang ini!" Ucap Vicky, dia menunjukkan foto dia dan Kaivan di tepi pantai dengan patung Lumba-lumba.
"Gak gak! Yang ini aja!" Rose menunjukkan foto lain dirinya dengan Kaivan.
Kedua gadis beda spesies itu pun ribut, Kaivan yang lelah akhirnya memilih foto mereka bertiga saja. Tadi ada orang baik yang mau memfoto mereka dan hasilnya bagus sekali, imbalannya orang itu berfoto dengan Vicky dan Rose. Orangnya perempuan kok, makanya Kaivan mau saja.
"Ku upload foto ini saja lah!"
Kaivan pun membuka akun sosmednya yang hampir berdebu karena tidak pernah Kaivan buka sejak Rose membuatkan untuknya.
Betapa terkejutnya Kaivan karena pengikutnya sudah ada banyak.
"Ngapain satu juta orang gabut ini ngikutin akunku?" Gumam Kaivan bingung.
"Wah! Aku kalah nih, followers ku masih 900 ribuan!" Keluh Rose.
"Kayaknya mereka tahu tentang kamu deh Kai, itu lihat komentarnya di foto yang kamu upload sebelumnya."
Vicky menunjukkan beberapa komentar tentang Kaivan, yang sebenarnya adalah investor muda. Kebanyakan followers itu orang Korea, sebagian lagi dari negara lain. Mungkin belum ada yang tahu Kaivan dari negara mana.
Sebagian komentar lagi menyebutkan Kaivan adalah model baru, dan itu lumayan benar, karena Kaivan jadi model dadakan sebuah brand fashion.
Intinya mereka mengikuti Kaivan karena yakin Kaivan itu banyak uangnya dan berasal dari keluarga kaya raya.
"Kamu sudah sangat terkenal, anak-anak kelasmu juga banyak yang mengikutimu" ucap Rose.
Benar saja, banyak teman sekelas Kaivan DM ingin difollow balik. Mereka tentunya tahu karena Kaivan kan mengikuti Dohyun, dan Dohyun itu semuanya diikuti, sampai akun guru-guru juga dia ikuti.
"Tapi aku tidak ingin mengikuti mereka, mereka aja cuek sama aku di kelas" keluh Kaivan.
"Cuek apa segan sama kamu?" Tanya Vicky, bahkan Vicky dari kelas lain pun tahu jika kebanyakan teman sekelas Kaivan itu takut dengan Kaivan, padahal banyak dari mereka yang menyukai Kaivan.
Saat jam olahraga dan Kaivan terkena bola secara tidak sengaja saja, bolanya yang mereka salahkan, karena berani menabrak Kaivan. Tapi Kaivan seperti biasa, cuek sekali dengan mereka.
"Gak tau lah! Kita upload foto ini aja!" Kaivan tidak mau ambil pusing, dia hanya mengunggah foto bertiga, foto dengan Vicky, foto dengan Rose , lalu foto sendirian.
.
.
__ADS_1