Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Gadis itu berbahaya


__ADS_3

"Ehem!"


Kaivan membuang mukanya ke arah lain, kemana saja asal bukan ke arah Rose.


"Kamu apain kakak ini?"


"Enggak aku apa-apa in kok! Beneran deh!"


Rose menghela nafas panjang, lalu dengan sihirnya, dia kembalikan pakaian Yuna seperti semula. Kemudian Yuna tiba-tiba hilang begitu saja.


"Kok hilang?" Tanya Kaivan bingung.


"Aku balikin ke apartemennya lah! Udah, kamu gak usah macem-macem, sekarang tidur aja, udah malem ini."


Kaivan pun menurut dan kembali ke kamarnya. Rose sampai di apartemen sekitar jam sembilan malam lebih beberapa menit. Kaivan yang tidak berani menyentuh Yuna hanya membiarkan Yuna tiduran di sofa ruang tengah. Sementara Kaivan sendiri menyibukkan diri dengan mencari buku-buku yang masih ada kaitannya dengan arsitektur atau bahan-bahan bangunan, setelah ketemu, dia membelinya dengan delivery toko sistem.


Baru saat Kaivan mulai larut dalam bacaannya dan mulai mengantuk, Rose pulang. Kemudian yang terjadi seperti diatas.


Setelah sampai ranjang, malah Kaivan tidak bisa tidur. Akhirnya mengubah ponselnya menjadi tablet, mencoba menggambar sketsa bangunan istana yang tadi sudah roboh.


Kaivan pikir, gambarnya tidak buruk. Dia ingat dulu biasanya nilai untuk menggambar di sekolah tidak pernah kecil, pasti selalu bagus. Gurunya selalu memuji gambaran Kaivan, kadang teman sekelasnya sampai tidak percaya itu adalah gambaran Kaivan, membuat Kaivan kesal saja. Saat itu Kaivan yang masih kecil menangis karenanya.


Jika mengingat masa lalu, Kaivan merasa malu dan kesal juga.


Dia mulai menguap, kemudian tidur dengan masih menyalakan tabletnya.


Rose memasuki kamar Kaivan, dia mengenakan gaun tidur yang cantik dan hangat.


Rose berdecak melihat posisi tidur Kaivan yang tengkurap, itu tidak baik. Jadi dia membenarkan posisi Kaivan dengan sihirnya, tidak mungkin dia benarkan dengan tangannya yang mungil dan rapuh.


Setelah itu, Rose duduk di sebelah Kaivan sambil membelai rambut Kaivan yang sudah sedikit dipotong, masih agak panjang sih, soalnya Kaivan cocok dengan potongan rambut seperti itu, jadi rambutnya hanya dirapihkan sedikit saja.


Rose sudah tahu apa yang terjadi antara Kaivan dan Yuna, jadi tidak ada drama cemburu-cemburu tidak jelas. Meski Rose kesal sih, bisa-bisanya baru bertemu sudah melamar Kaivan segala. Meski Yuna terdengar bercanda, tapi sebenarnya serius.


"Ugh, sampai kapan kamu akan tebar pesona, sih? Tapi aku gak bisa marah juga, hhh."


Pagi harinya saat Kaivan terbangun, ada Rose dengan tubuh anak-anak, atau tubuh 50% tertidur disampingnya.


Menurut Rose, dalam tubuh kecil, dia bisa lebih menghemat energi.


Kaivan lebih suka Rose dalam bentuk anak-anak begitu, karena lucu sekali. Lalu, jika bentuknya begitu kan bisa meminimalisir perasaan aneh dan hasrat yang berbahaya.


***


Satu bungkus besar cookies muncul di depan Kaivan, itu adalah cookies biasa dan cookies coklat, dibungkus dengan plastik transparan dan diikat dengan pita merah muda yang lucu.


Kemudian Kaivan mendongak menatap Kayla yang memberinya cookies. Gadis itu membagikan cookies buatannya pada seluruh anak di kelas, tapi Kaivan tahu jika miliknya jauh lebih besar.


"Terimakasih, ada acara apa bagi-bagi kue begini?" Tanya Kaivan, dia membuka bungkusan itu dan memakan satu. Satu cookies nya besar sekali, seukuran telapak tangan Dohyun, lebih besar dari telapak tangan Dania, lebih kecil dari telapak tangan Kaivan. Pokoknya besar lah untuk ukuran cookies biasa.

__ADS_1


"Gak ada, lagi mood bikin aja, gimana, enak gak?" Tanya Kayla.


"Enak! Dalamnya lembut tapi luarnya renyah, kamu berbakat buat kue gini."


"Makasih, kamu lagi baca buku apa sih? Kelihatannya berat banget."


Kaivan menunduk menatap bukunya, memang bahasan didalamnya berat. Tapi Kaivan butuh agar bisa bermain game dengan mudah. Karena Kaivan ingin segera naik level juga, tapi level satu saja sulitnya minta ampun.


"Aku nyoba belajar bangunan, iseng aja kok."


"Kamu ada-ada aja yang dipelajari, semangat banget, ya?"


Kaivan tersenyum canggung, sebenarnya jika tidak terpaksa, Kaivan juga malas. Karena lebih menyenangkan rebahan dan tidak mengerjakan apapun. Tapi keadaan membuat Kaivan sulit untuk rebahan.


"Halo, Kaivan!"


Mereka berdua menoleh pada asal suara, lalu melihat Hanna datang sambil tersenyum lebar.


Beberapa siswa di kelas Kaivan menggoda gadis itu, tapi Hanna tidak menggubrisnya, dia langsung saja menghampiri Kaivan lalu duduk di depan Kaivan sambil menghadap Kaivan. Kayla merasa seperti transparan disana.


"Ngapain kamu kesini? Dania gak ada, dia ada urusan jadi gak masuk," ucap Kaivan.


"Yang nyari Dania juga siapa sih? Eh, ada kue - minta ya?"


Kayla membelalakkan matanya melihat Hanna mengambil satu cookiesnya lalu memakannya tanpa ragu.


"Aku belum bolehin lho!" Protes Kaivan.


"Masalahnya itu dari Kayla!"


Kemudian Hanna menoleh pada Kayla, kemudian berucap "Oh, terus?"


Kaivan tidak menjawab, dia hanya mengambil bungkusan cookies lalu menyimpannya di dalam tas ransel.


"Ada hubungan apa kalian berdua, kelihatannya deket banget, kamu pacarnya Dania kan, Kai?" Tanya Hanna, sambil menatap Kayla sinis, membuat Kayla kesal tapi dia memilih diam saja, kan kursinya memang disana, sebelah Kaivan.


"Bukan urusanmu, lagian Kayla itu temenku."


"Aku juga temenmu, lho."


"Sejak kapan?"


Hanna terkekeh, lalu dia mengulurkan tangannya yang lentik untuk mencubit pipi Kaivan gemas.


Sontak anak-anak perempuan di kelas maupun luar kelas yang melihat itu menatap Hanna sinis. Penggemar Kaivan diam-diam ada banyak. Meski Kaivan tidak sadar.


"Kamu lucu banget, sih? Mau selingkuh sama aku, gak?"


Kaivan menampik tangan Hanna agak kencang, tapi tidak sampai menyakiti gadis itu.

__ADS_1


"Aku gak tertarik, lebih baik kamu pergi."


Meski Kaivan sudah memasang wajah paling seram yang dia bisa lakukan, sampai yang melihat merinding semua, Hanna tetap tidak terpengaruh.


Setelah itu Hanna berdiri dari duduknya, dia tidak segera pergi, dia malah mendekati Kaivan, kemudian berdiri di belakang Kaivan. Tangan gadis itu menyentuh leher Kaivan, lalu doa menunduk kemudian berbisik di telinga kiri Kaivan.


"Jangan terlalu keras padaku, Kai, nanti kamu menyesal lho, aku bukan orang yang bisa sembarangan kamu singkirkan. Kamu ingat, kan? Aku dekat dengan Dania."


Setelah itu Hanna pergi begitu saja.


Kaivan tidak ambil pusing, tapi Kayla mengomel setelahnya, mengatakan betapa dia tidak menyukai gadis itu, tapi dia tidak bisa apa-apa karena Hanna kan teman baik Dania.


"Biarkan aja, mungkin dia cuma menggertak."


Begitu pikir Kaivan.


Sampai kemudian dia sudah pulang dan bertemu Rose yang sibuk di studionya.


Kaivan menceritakan tentang Hanna di sekolah. Rose berhenti merajut, lalu menatap Kaivan agak lama.


"Hanna?"


"Iya, kami tahu dia kan? Temennya Dania itu."


Rose diam sejenak, lalu merenung agak lama.


Kaivan sabar saja menunggu sambil melihat-lihat pekerjaan Rose. Sejauh ini Rose sudah membuat dia gaun yang cantik, gaunnya adalah gaun santai moderen yang cocok dipakai saat musim semi.


"Kaivan!"


Kaivan menoleh pada Rose, lalu kembali duduk di sampingnya.


"Jauhi Hanna, jangan dekat-dekat dia."


"Kenapa?"


Rose menggeleng pelan, "aku gak boleh ngasih spoiler sama atasanku. Kamu belum boleh tahu, tapi yang bisa aku katakan, dia memang berbahaya. Dia dari keluarga yang tidak biasa, tapi tidak banyak yang tahu tentang hal itu. Maaf, aku gak bisa nolong, kamu harus hadapi sendiri."


Kaivan berkedip-kedip bingung, "jadi aku harus gimana?"


"Tenang aja, dia gak bakal bisa ngapa-ngapain kamu sekarang, tapi lebih baik jauhi dia. Kalau bisa, buat Dania menjauhi dia juga, gak baik."


"Aku jadi penasaran!"


Rose menggeleng, "enggak, jangan penasaran, kamu belum cukup kuat untuk mendengar apapun tentang dia."


Namun, ucapan Rose malah membuatnya makin penasaran. Jika dari arah pembicaraan itu, Kaivan malah berpikir, jika Kaivan tahu sesuatu tentang Hanna, Kaivan bisa membuka traumanya.


Tapi apa itu mungkin?

__ADS_1


.


.


__ADS_2