
Tanpa terasa satu bulan berlalu, Kaivan sudah naik ke kelas dua SMA. Banyak hal yang terjadi padanya, seperti dia sudah memiliki banyak saham di berbagai perusahaan berbeda. Semua orang sudah tahu tentang hal itu, bahkan Harlan saja juga sudah mengetahuinya.
Kaivan selama satu bulan membiarkan sistemnya tetap pada level empat, tapi dia selalu mendapat poin dari game khusus seperti tap and be rich, royal farm, atau game misi khusus.
Untuk royal farm, itu adalah game perkebunan atau pertanian. Kaivan bisa mendapatkan uang setelah buah atau sayur yang dia tanam terkumpul, lalu ada pembeli yang membelinya. Itu game yang sangat santai, Kaivan bisa memilih untuk menjual atau diambil ke dunia nyata. Rasa sayur atau buahnya lebih enak dan ukurannya juga lebih besar dua kali lipat. Oh iya, pembeli yang dimaksud itu ada di dalam game. Biasanya satu hari ada sepuluh pembeli yang membeli sayur atau buah.
Namun, Kaivan tidak fokus pada game sama sekali, dia fokus pada ujian kenaikan kelas. Hingga akhirnya dia naik kelas dengan nilai tertinggi di tingkatnya, juara kedua adalah Vicky, lalu ketiga adalah Dania.
Tentang bisnis Vicky juga berjalan baik, karena Vicky menggaji banyak karyawan profesional. Kaivan sendiri sebagai investor mendapat banyak keuntungan dari kerjasama tersebut.
Intinya, uang yang Kaivan miliki sangat banyak, ada sekitar sepuluh miliar won lebih dalam rekening bank, dan sekitar 250 juta poin lebih dalam rekening sistem.
Karena itu, dia memutuskan untuk tinggal sendiri. Kaivan mendapatkan sebuah apartemen dari game misi khusus. Saat itu dia diberi misi menangkap pencopet di tempat umum.
Apartemen yang menjadi hadiah adalah apartemen yang cukup mewah, berada tidak jauh dari perumahan tempat keluarga Dania tinggal. Karenanya Kaivan diperbolehkan untuk tinggal disana sendiri, Hanbin sangat senang karena Kaivan sudah bisa hidup mandiri, bisa mencari uang sendiri dengan caranya.
Untuk identitas baru milik Kaivan juga sudah hampir selesai kata Harlan, beliau akan menemui Kaivan jika sudah tidak sibuk.
Sebenarnya Kaivan belum siap bertemu dengan Harlan, atau anaknya Harlan, atau siapapun keluarga mereka. Karena... Entahlah, mendengar cerita Rose tentang apa yang terjadi sebenarnya antara ibunya dengan keluarga itu, membuat Kaivan malas menjadi bagian keluarga mereka. Tapi Kaivan tidak bisa menyalahkan Harlan, karena dia juga korban, meski dia juga salah.
Kaivan sudah berencana untuk tidak mengatakan apapun tentang dirinya yang merupakan anak kandung Harlan pada siapapun.
"Apartemen ini bagus juga, aku boleh tinggal disini?" Tanya Dania.
"Coba saja tinggal disini, kau akan dimarahi mama dan papa habis-habisan!" Sahut Dasha.
Saat itu mereka membantu Kaivan pindah ke apartemen baru, mumpung sedang liburan kenaikan kelas juga. Saat itu sedang musim dingin, untungnya penghangat ruangan bekerja dengan baik, meski Kaivan masih merasakan dinginnya udara. Jadi dia membuatkan minuman hangat, berupa teh dengan serai. Kai mendapatkan teh itu dari toko online Indonesia, yang bisa dia akses sejak naik level empat, tentunya membayar biaya admin dua poin.
Yang membantu Kaivan pindahan ada Dania, Dasha, Dohyun dan Jihun. Vicky katanya mau datang, tapi belum sampai juga, sedangkan Junghyun sedang mager katanya, nanti akan datang jika sudah tidak mager.
"Kalo aku pasti boleh tinggal disini kan?" Tanya Dohyun, dia menghampiri Kaivan dan membantu Kaivan menuangkan teh di gelas-gelas.
"Boleh, biaya perbulan 100.000 won" sahut Kaivan.
"Mahal amat!" Protes Dohyun.
Mereka pun minum teh sambil mengobrol. Tidak terasa waktu cepat sekali berputar, sudah larut malam, Mereka harus pulang. Mereka memilih makan malam di rumah masing-masing, karena sudah janji dengan keluarga.
"Kai tidak mau makan dengan kami?" Tawar Dasha.
"Tidak apa, aku bisa makan sendirian."
"Aku akan menemani Kai disini, kakak pulang sendiri saja, kak Jihun anter kakakku ya?" Ucap Dania.
"Eh? Nanti pulang lho ya, jangan tinggal disini, gak baik!" Sahut Jihun.
"Oke!"
Mereka pun pulang kecuali Dania.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Kaivan.
"Apa aja boleh, asal makan sama kamu!" Dania memeluk lengan Kaivan, meski tinggal satu rumah, mereka tidak bisa bermesraan sampai Kaivan tidak yakin mereka berkencan. Habisnya mereka sebulan ini hanya fokus dengan belajar saja, mereka juga sangat diawasi oleh orang dewasa. Dania anaknya penurut, jadi dia tidak berani berbuat yang aneh-aneh, beda dengan Dasha yang cuek.
Oh iya, tidak ada yang tahu hubungan Kaivan dan Dania, kecuali Rose. Jadi, Dasha masih tetap menggoda Kaivan jika ada kesempatan, Kaivan sih tidak masalah dengan hal itu.
__ADS_1
"Kalau begitu, mau pesan saja? Misanya pizza, atau burger?" Tanya Kaivan.
"Pizza aja deh, beli satu aja, aku makannya gak banyak, lagi gak mood makan."
"Kenapa?"
Mereka duduk di sofa ruang tengah, menghadap televisi besar yang tidak dinyalakan.
Ada Rose yang tidak bisa dilihat Dania, duduk di sofa tunggal, menatap Dania tidak suka.
"Gak tau ya, lagi gak mood aja, bisnismu dengan Vicky masih berjalan?"
"Tentu aja, aku pesan pizza daging yang banyak kejunya, gak tau apa namanya tadi" ucap Kaivan.
"Oke! Aku dengar ada produk baru ya?"
Kaivan terdiam, memang ada produk baru, Kaivan baru menemukannya di toko sistem karena tidak sengaja. Awalnya Kaivan jaya mencari produk yang membuat kulit wajahnya tidak kering saja. Lalu dia menemukan krim wajah yang sejuk seperti es, sebenarnya cocok untuk musim panas, tapi musim dingin membuat kulit wajah Kaivan kering, jadi dia mengajukan produk itu pada Vicky untuk dijual juga.
"Itu produk krim wajah yang dingin, harusnya cocok untuk musim panas sih, kamu mau juga?"
Dania mengangguk pelan, "mau!"
Kaivan pun berdiri, berjalan ke kamarnya untuk mengambil krim wajah yang ada di laci. Seperti krim wajah pada umumnya, itu bermanfaat untuk melindungi dari sinar UV, mencerahkan, melembabkan kulit, dan lainya. Yang membedakan hanya krim itu lebih bagus dua kali lipat dari krim lainnya.
"Pemandangan dari kamar ini bagus juga ya?"
Kaivan terperanjat saat Dania tiba-tiba ada di belakangnya, dia duduk diatas ranjang king size milik Kaivan lalu memeluk satu-satunya boneka yang Kaivan punya, yaitu boneka sapi jumbo pemberian Dasha.
"Kamu ikut kesini kok gak bilang, aku kaget kan."
"Kaivan, kita gak pernah ciuman, kamu gak mau nyoba?" Tanya Dania.
Tentu saja Kaivan terkejut mendengarnya.
"Kaivan jangan mau! Ciuman pertama mu harus aku!" Rose pun protes, membuat Kaivan bingung harus bagaimana.
Kaivan sudah tidak trauma dengan adegan dewasa, jadi sepertinya dia sudah bisa - tapi... "it-itu...."
Karena Kaivan lama berpikir, Dania menarik kerah baju Kaivan, lalu menempelkan bibir mereka.
Kaivan segera melepaskannya karena teriakan Rose yang tidak terima.
"Maaf, kamu belum bisa melakukannya?" Tanya Dania, dia kelihatannya sedih.
"Bukan gitu, aku cuma -"
"Gak apa Kai, aku ngerti, maaf ya? Aku gak akan gitu lagi."
Setelahnya Dania keluar dari kamar Kaivan, meninggalkan Kaivan dan Rose disana, meski Dania tidak bisa melihat Rose.
Tiba-tiba saja Rose merengek sambil berguling-guling di ranjang. Kaivan yang bingung kemudian menyentil dahi peri itu.
"Kau ini! Kau membuatku dalam masalah!"
"Tapi aku cemburu!"
__ADS_1
"Kamu kan peri pemandu ku, mana bisa kita berhubungan seperti itu?" Bisik Kaivan, takut Dania mendengar.
"Kau lupa ya kita memiliki kontrak? Aku menyatukan darah kita, di dunia peri itu semacam penyatuan, ritual seperti itu juga ritual pernikahan."
"Pe-perni... Kau bercanda?"
Rose duduk tegak lalu menggeleng pelan, "aku serius, aku gak bilang ini karena takut kamu marah, tapi peri pemandu itu kan hadiah untukmu! Kamu mendapatkan ku dari hadiah kan? Itu artinya aku milikmu! Aku sedih saat kamu gak nganggep aku kayak kamu sama Dania, aku gak suka cewek itu! Padahal aku udah rela kamu duakan!"
Kaivan mengacak rambutnya karena frustasi.
"Itu gak masuk akal! Harusnya ngomong dari awal!"
"Kalo ngomong dari awal, kamu gak bakal suka sama Dania? Enggak kan?"
"Aku keluar dulu, kayaknya pizzanya udah dateng."
Kaivan pun pergi menemui Dania di luar.
"Huh, dia itu! Apa aku kurang cantik ya? Gak inget dia dulu gak bisa tidur kalo ga dipeluk, sekarang apa? Dasar!" Rose masih tinggal di kamar itu, sambil mengomel karena kesal.
Rose yang kesal pun ketiduran di kamar itu, sampai satu jam kemudian Kaivan datang lagi.
"Rose? Kamu tidur? Gak mau pizza?" Tanya Kaivan, dia mendekati Rose, lalu duduk di sampingnya.
Perlahan peri itu terbangun, "apa sih? Berduaan sama Dania aja sana!"
"Maaf, setelah ku pikirkan lagi, aku juga sangat menyukaimu, maaf kan aku ya?"
"Cium dulu!"
Tak!
Rose mengaduh kesakitan saat dahinya disentil, padahal dia baru saja duduk.
"Sakit! Huwaaaa!"
Kemudian Kaivan memeluknya erat, "maaf ya?"
"Aku ngambek, lepasin aku!"
"Kamu tuh ngambekan banget sih!"
"Gara-gara siapa aku kayak gini?"
Chup~
Rose pun terdiam saat Kaivan menempelkan bibir mereka, peri itu diam karena terkejut, dia baru sadar saat Kaivan menggerakkan bibirnya. Ciuman itu bertahan setengah menitan, sampai Rose tidak percaya dia dicium Kaivan, bocah yang dulunya takut melihat adegan ciuman di drama.
"Kai? Ini kamu kan? Bukan hantu?"
"Mau mu apa sih, Rose?"
.
.
__ADS_1