Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Menolong teman masa kecil


__ADS_3

Kaivan dan Jaden sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Tempat itu cukup ramai karena ada banyak kuliner disana, bisa dibilang itu tempat yang elit. Ada apartemen dan hotel mewah juga di dekat sana, tidak jauh dari sana juga ada perumahan elit yang harga satu unit rumah yang paling murah adalah sepuluh miliar rupiah.


Jaden memarkirkan mobilnya di salah satu parkiran depan hotel mewah, kata Jaden itu masih hotel milik keluarga Harlan. Kaivan belum hafal apa saja bisnis keluarga Harlan itu, lagipula keluarga Harlan juga banyak. Jaden memiliki dua bibi yang semuanya sudah menikah, belum lagi paman dari kakek dan nenek yang berbeda, cucu-cucu mereka juga... Itulah kenapa bisnis keluarga Harlan juga banyak.


Tapi yang paling dipercaya untuk mengurus perusahaan pusat itu ayahnya Jaden, Chris Harlan atau Alvon Harlan, yang sekarang lebih dikenal dengan nama Harlan saja.


Hotel yang dijadikan Jaden tempat parkir adalah hotel yang dijalankan suami dari salah satu bibinya Jaden. Bahkan menantu saja diberikan hotel oleh keluarga itu. Entah Kaivan harus iri atau bagaimana, karena dia yang keturunan kandung saja dibuang.


Jika dibilang benci, Kaivan benci dengan keluarga Harlan. Kecuali Chris Harlan dan Jaden Harlan saja, karena kedua lelaki itu tidak salah juga. Yah, meski Harlan mengecewakan Kaivan, karena tidak pernah kepo apakah Kaivan sungguhan anaknya atau bukan. Dia langsung menghakimi ibunya penipu.


Setelah parkir, Kaivan mengajak Jaden jalan-jalan di jalanan sana. Mencari siapa yang bisa dia tolong sekaligus cuci mata melihat jajanan yang dijual.


"Itu apa? Mie kangkung?" Tanya Kaivan, baru kali itu Kaivan tahu ada mie dicampur kangkung, mana pembelinya antri lagi.


Jaden menoleh pada arah yang Kaivan lihat, dia mengernyitkan dahinya, dia juga bingung karena baru kali itu melihat ada orang jualan mie kangkung.


"Mau beli?" Tanya Jaden.


"Hmm, boleh deh, tapi satu aja, kakak yang baik mau mengantri kan?" Kaivan tersenyum, terlihat sangat menyebalkan dimata Jaden. Sudah diantarkan ke tempat itu, Jaden pula yang disuruh mengantri.


"Udah ditolongin nglunjak ya?"


"Hitung-hitung permintaan maaf setelah mengerjai ku di pagi hari!"


Jaden berdecak malas, lalu akhirnya setuju untuk mengantri mie kangkung, dia pikir dia juga keterlaluan karena mengerjai Kaivan tadi pagi.


Kaivan sengaja membuat Jaden mengantri, agar dia bisa menjalankan misinya. Ada Rose yang membantu di rumah, dia yang menunjukkan dimana letak orang yang perlu ditolong itu. Rose mengirimkan lokasi, jadi Kaivan diam-diam pergi ke tempat itu.


Tidak jauh dari tempat mie kangkung tadi, hanya jalan lima menitan sudah sampai.


Di tempat itu sedang ada ramai-ramai orang mengerubungi sesuatu, jadi Kaivan datang mendekat.


Meski sudah diberitahu, dia tetap terkejut melihat teman kecilnya ada disana, yaitu Anesha putri. Gadis itu membungkus dirinya dengan selimut hotel dan menangis dalam diam.


Dia ditanyai banyak orang tapi dia memilih bungkam dan menangis, orang-orang mengusulkan untuk menelfon polisi tapi gadis itu melarang dan menangis semakin kencang.


Kaivan yang tidak tega pun datang mendekat, "Nes? Ini kamu kan?"


Gadis itu mendongak, melongo beberapa saat sambil menatap Kaivan tanpa berkedip, hingga beberapa saat kemudian dia sadar.

__ADS_1


"Kamu Kaivan? Iya kan?"


"Iya, ini aku, Kaivan."


Gadis itu berdiri lalu memeluk Kaivan tangisnya makin kencang saja.


Anesha tadinya duduk di warung bakso, penjual baksonya baik sekali, dia memberikan teh hangat gratis untuk Anesha.


"Nak, temanmu disuruh minum dulu tehnya," ucap bapak penjual bakso.


"Terimakasih pak, Nes minum ini dulu dan tenangkan dirimu, okay?"


Anesha pun berhenti menangis, kembali duduk dan meminum tehnya, sambil mengawasi Kaivan, mungkin takut Kaivan pergi.


Kaivan sabar saja menunggu Anesha minum dan menenangkan diri.


Setelah tenang, Kaivan pun membayarkan teh yang gadis itu minum, tapi penjualnya menolak dengan halus. Jadi Kaivan mengajak Anesha pergi.


Gadis itu ternyata memakai tank top ketat dan hot pants, mungkin karena itu dia menutupi tubuhnya dengan selimut.


Gadis itu diam dan terisak saja, sambil menggandeng erat lengan Kaivan.


Anesha sembunyi dibelakang tubuh besar Kaivan, seperti takut dengan Jaden dan pandangan orang lain.


"Kayaknya kita harus bicara di mobil, mienya udah kak?"


"Oh, udah sih... Ya udah ayo!"


Anesha sempat berontak saat Kaivan dan Jaden mengajaknya ke hotel, dia bilang tidak mau masuk. Tapi karena Kaivan bilang mobilnya ada di depan hotel jadi akhirnya dia menurut.


Gadis itu kembali menangis setelah sampai mobil, dia kembali memeluk Kaivan, membuat basah kaos hitam yang Kaivan kenakan tapi Kaivan pasrah saja.


"Aku... Hiks! Tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku terlalu percaya dengan Dista! Dia adalah sahabatku, dia yang selalu menenangkan ku saat aku terpuruk karena komentar jahat, dia juga yang pertama maju saat ada cowok yang godain aku dengan niat jelek, aku sayang banget sama sahabatku, aku pikir kita soulmate. Aku juga selalu membantu keuangan dia, saat dia bilang butuh sepuluh juta, lima juta sampai lima belas juta, aku gak pernah perhitungan kok! Aku pun gak pernah nagih hutang itu, tapi kenapa? Kenapa dia tega banget... Hiks! Dia bawa aku ke hotel ini, dia bilang kita harus senang-senang karena aku baru ditolak salah satu film yang benar-benar ku inginkan. Tapi apa? Dia malah meninggalkanku di kamar hotel, lalu pria hidung belang muncul, mengatakan Dista sudah dia beri bayaran agar pria itu bisa tidur denganku. Pria itu bahkan menunjukkan bukti pembayarannya padaku, uang dua ratus juta! Dan rekening itu sungguhan milik Dista! Aku kenal betul... Aku pun menangis dan lari dari pria itu. Aku juga sudah menghubungi Dista, dia bilang dia sangat membutuhkan uang dan bilang juga selama ini dia sangat membenciku, akun yang sering membenciku di sosmed juga akun dia yang lain. Aku - aku tidak tahu harus bagaimana.... Huwaaaaa!"


Kaivan dan Jaden mendengarkan cerita Anesha dengan seksama. Kaivan tidak percaya ada orang sejahat itu, tapi di satu sisi dia juga tidak terkejut. Jangankan sahabat, ibunya Kaivan saja menjual Kaivan kok. Tapi Dista itu juga sudah berada di level tidak tahu diri yang benar-benar tidak tahu diri.


Melihat dari penampilan Anesha, tidak heran jika sistem memberinya misi seperti ini. Anesha terlihat masih terguncang dengan apa yang dia alami.


Setelah gadis itu tenang, Jaden meminta semua bukti chat. Anesha pun mengirim bukti chat, dia juga punya bukti transfer itu, dia pun sudah memotret pria yang mengirim uang. Untungnya Anesha tidak gegabah dan ada ide memotret si pria.

__ADS_1


"Aku yang akan membantu untuk melaporkan temanmu itu, karena keluargaku memiliki koneksi pada kepolisian, kita juga memiliki pengacara terbaik, jangan khawatir."


"Kenapa kalian - hiks - baik sekali? Kaivan juga, dulu waktu kecil, aku tidak bisa menolong mu sama sekali dan hanya bisa diam, kenapa sekarang -" Anesha tidak meneruskan ucapannya, dia kembali menangis kencang.


Kaivan sih sudah maklum dengan perempuan yang sensitif, tapi mungkin Jaden tidak.


"Jangan nangis terus dong, aku capek dengernya..."


Dengan itu, Anesha mulai takut untuk menangis.


"Kak, jangan gitu lah, dia sedang terguncang, mentalnya gak stabil, wajar dia nangis kayak gini, gak apa-apa Nes, kamu nangis aja ya? Jangan dengerin kak Jaden. Aku membantumu karena kita teman, hitung-hitung ini balasan karena dulu kamu memberiku kue. Mungkin kamu pikir itu hal sepele, tapi bagiku sangat berarti besar, jadi tidak perlu sungkan. Kita ke tempatmu ya? Oh iya, barangmu ada di hotel?"


"Gak apa biarin gak usah diambil, cuma satu potong baju aja kok, dompet sama ponsel udah aku bawa, makasih ya, kalian berdua. Tapi aku tidak mau kembali ke tempatku, disana pasti ada Dista. Aku tinggal di apartemen, Dista numpang disana, orangtuaku ada di Surabaya semua sekarang, sedangkan manajerku kemarin mengundurkan diri, dia bilang tidak tahan dengan Dista, tapi bodohnya aku malah lebih percaya dengan Dista... Hiks!"


Jaden berdecak kesal, "itulah kalau kamu terlalu percaya orang lain. Bahkan keluarga aja gak boleh dipercayai 100% Kaivan setuju kan?" Ucap Jaden.


"Kak Jaden benar, jadikan ini pelajaran ya? Jangan percaya pada orang yang terlalu baik denganmu. Dengan dia meminjam uang tanpa tanggung jawab saja sudah redflag, lalu jika orang sekitarmu banyak yang tidak suka dia dan sudah memperingatkan mu, kamu harus segera cari tahu," Kaivan tersenyum kecil, berusaha menenangkan gadis itu.


"Benar itu salahku...."


"Mau ke tempat ku aja?" Tawar Kaivan.


Anesha mengangguk yakin, "iya, bawa aku kemana aja, ujung dunia juga boleh."


"Terlalu percaya pada orang yang baru ditemui juga tidak boleh, kamu beruntung bertemu aku dan Kaivan, orang lain belum tentu mau membantu tanpa balasan, bisa jadi dia hanya pura-pura baik dan ingin melecehkan mu di tempat sepi, kau tahu Kita berdua lelaki kan?" Peringatan Jaden itu bagus dan benar. Tapi Anesha yang mendengarnya jadi takut, dan Kaivan jadi tidak nyaman.


"Kak udah kak, kita jalan aja dulu..." Sahut Kaivan, dia tidak ingin mendengar tentang pelecehan atau apapun yang semacam itu.


"Lho, pizzanya?"


"Oh iya, kesana dulu gak masalah kan, Nes?"


"Iya... Boleh beliin pizza keju?"


"Tentu!"


.


.

__ADS_1


__ADS_2