
Kaivan tidak bisa tidur, perutnya penuh karena harus menghabiskan banyak makanan. Dia mengutuk Suha dan Daeyong dalam hati karena pergi begitu saja, minimal makan dulu kek. Karena makanan masih banyak, jadinya Kaivan dan Dohyun yang menghabiskan, walaupun lebih banyak Kaivan.
Tadinya memang enak makan banyak, tapi akhirnya perut Kaivan yang jadi korbannya. Meski sudah meminum ramuan yang menurut Rose bisa mengobati sakit perutnya dan melancarkan pencernaan, tapi Kaivan tetap merasa perutnya tidak enak.
Malam itu, Kaivan pun terpaksa bangun, pergi ke dapur untuk membuka kulkas. Dia mengambil satu botol yoghurt dingin, lalu meminumnya.
Karena belum bisa tidur, dia memilih untuk melihat dua hadiah hasil menolong Jisung. Oh iya, setelah mengobrol panjang lebar, ternyata Jisung itu asli dari Seoul, tapi ibunya orang Jakarta, Indonesia. Jisung pikir, karena dia ada keturunan Indonesia, makanya banyak yang tidak menyukainya dan meremehkan dia. Memang sih, keluarga Jisung sederhana saja, tidak kaya, tidak miskin dan beberapa orang Korea tidak suka dengan orang asing.
Setelah tahu Kaivan dari Indonesia juga, Jisung senang sekali, Jisung itu orang yang baik tapi aneh juga. Intinya dia bisa dipercaya, karena Rose bilang Jisung bisa dipercaya. Berhubung Kaivan ingin libur ke Indonesia, dan Jisung lebih tahu tentang Jakarta, karena dia SMP di Jakarta, jadi Kaivan ingin mengajaknya.
Bagaimanapun, jika tidak ada bantuan Harlan, Kaivan takut juga pergi ke Jakarta. Sebenarnya lebih aman pergi Surabaya karena Kaivan sudah tahu daerah itu, tapi Kaivan takut bertemu dengan kenalannya.
"Hmm? Aku dapat villa lagi ya - EEHH?" Kaivan membelalakkan matanya tidak percaya, dia tahu sistem selalu random memberikan hadiah. Tapi kadang hadiah itu malah sedang sangat Kaivan butuhkan.
Kaivan mendapatkan hadiah villa di daerah elit yang ada di sekitar Jakarta, itu villa besar yang memiliki pantai pribadi.
"Kebetulan banget, gak perlu beli lagi," Kaivan pun jadi semangat melihat hadiah kedua, tapi semangatnya dipatahkan setelah melihat apa hadiah itu.
Tas ransel hitam yang berasal dari brand terkenal, memiliki harga 30 jutaan rupiah.
"Yah, aku membutuhkannya untuk pergi ke bandara."
"Kaivan? Kamu gak tidur?" Dohyun muncul dari kamar tamu yang kemarin ditempati Vicky. Memang Dohyun menginap di apartemen Kaivan setelah kejadian Kaivan membiarkan Vicky menginap disana.
Kaivan diomeli Jihun, sudah seperti kakak sendiri - tidak, malah sudah seperti ayah yang overprotektif. Jihun bilang itu tidak baik menginap berduaan dengan perempuan, meskipun sudah jadi pacar. Pokoknya Kaivan diberi nasihat panjang lebar sampai Kaivan bosan mendengarnya.
Tapi disisi lain, Kaivan senang karena diperhatikan sampai seperti itu.
Hasilnya, Dohyun pun menginap di apartemennya.
Rose? Kaivan menyuruhnya pulang ke dunia peri saja.
"Perutmu baik-baik aja?" Tanya Kaivan, saat Dohyun juga membuka lemari pendingin untuk mengeluarkan yoghurt.
"Ku rasa memang berhenti makan sebelum kenyang itu benar adanya. Makanan diproses cukup lama, jadi kita merasa kenyang belakangan dan aku sudah berlebihan," keluh Dohyun, dia menghabiskan yoghurtnya dalam sekali teguk.
"Kau sudah minum ramu - maksudku obat tadi kan?" Tanya Kaivan lagi, dia juga memberi ramuan pada Dohyun.
"Udah, aku merasa lebih baik, tapi masih agak aneh, kamu gimana?"
"Sama."
__ADS_1
"Sudah ku duga, oh iya, kamu jadi beli villa atau ke hotel?"
Kaivan tersenyum lebar lalu menunjukkan hadiah villanya. Sistem selalu memberikan vidio setelah memberi hadiah properti, serta seluruh informasi tentang propertinya.
"Aku membeli villa ini, ini cocok sekali, kan? Ada pantai pribadi, villanya besar dan ada lima kamar, ada pengurus villanya juga, ada kolam renang, ada atap yang bisa digunakan untuk kumpul, mengadakan barbeque, akses jalan ke segala arah juga bagus. Di sekitar sana juga bisa menyewa kapal pesiar, ini villa yang bagus."
Dohyun mendongak menatap Kaivan yang begitu bersemangat menjelaskan villa yang baru dia beli sudah lengkap dengan perabotan.
"Oke, ini harganya berapa?"
"Hmm? Kalau 80 miliaran rupiah itu.... Sekitar 7 miliar won kali ya?"
Dohyun tidak bisa berkata-kata lagi mendengar harga yang Kaivan ucapkan.
"Sebenarnya uangmu itu ada berapa sih? Kok bisa kamu mendadak banyak uangnya? Ajari aku investasi juga!"
"Tinggal investasi aja sih, kamu ada tabungan berapa? Coba investasikan, tapi jangan harap hasilnya instan, harus sabar."
Kaivan berkata begitu seolah dia tahu banyak tentang investasi, padahal yang melakukan semuanya hanya sistem. Kaivan hanya tinggal pencet-pencet saja dan dapat uang.
"Yah, ku rasa itu tidak mudah juga."
"Tapi jika kamu takut dengan resikonya, dan kamu tidak mau bergerak, maka tidak akan dapat."
"Tentu bisa! Aku akan mengajarimu! Dan aku tahu saham mana saja yang bisa mendapatkan profit lebih cepat dari yang lain, yaitu saham perusahaan ini!"
Meski Kaivan tidak pernah sungguhan membeli saham, dia belajar juga tentang saham, agar jika ditanyai dia tidak bodoh.
Dohyun melihat pada ponsel Kaivan, bocah itu menunjuk pada sebuah perusahaan entertainment yang tidak terlalu besar.
"Unity entertainment? Ini hanya punya satu boygrup lho, kau yakin? Aku mendadak tidak percaya denganmu."
Kaivan berdecak kesal dengan ucapan sohibnya. Kaivan tahu perusahaan itu akan bagus karena tiba-tiba muncul di game tap and be rich, dan harganya masih murah, hanya dengan 500.000 poin saja bisa dibeli 30% sahamnya.
Semua perusahaan atau toko yang muncul di game tap and be rich itu memiliki profit lebih banyak dari yang lain. Sistem pasti sudah memilihnya agar Kaivan terus mendapat banyak uang.
"Kau sangat menyebalkan, aku ngambek!" Kaivan bertingkah seperti Rose saat ingin mendapatkan sesuatu.
"Duh, iya iya aku percaya padamu yang lebih ahli. Kau sudah sekaya ini, pasti tidak bohong kan? Aku beli sedikit saja dulu deh, 150 ribu won cukup kan ya?"
Kaivan tersenyum lebar lalu mengangguk semangat, "cukup! Lebih baik jika kamu rutin menabung saham. Aku tidak pelit ilmu kok, jika kita kaya raya bersama itu lebih baik, jadi aku bisa minta traktir."
__ADS_1
Dohyun menginjak kaki Kaivan karena kesal, "jadi gitu ya? Ternyata gak ikhlas nraktir selama ini."
"Aku tulus dan ikhlas kok! Tapi jangan melakukan kekerasan gini, kakiku sakit tahu!"
"Syukurin!"
Malam itu mereka berdua pun sibuk bercanda dan membahas saham apa yang wajib dibeli selanjutnya. Sampai jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, pada akhirnya mereka kalah oleh kantuk dan berakhir tidur bersama di kotatsu.
Kalian tahu kotatsu? Itu meja pemanas ala Jepang, Kaivan mendapatkan benda itu dari ayahnya Dania sejak musim gugur, karena khawatir Kaivan tidak bisa menahan dingin.
Kotatsu diletakkan di ruang tengah yang luas, dekat dapur memang. Sangat hangat dan nyaman disana.
Keesokan harinya, mereka berdua dibangunkan oleh suara berisik Rose. Peri itu kesal melihat kedua bujang itu malah tidur di kotatsu bukannya di dalam kamar. Padahal di kamar juga ada penghangat ruangan. Lantai disana juga dilengkapi penghangat, ternyata masih kurang juga.
"Maaf deh, jangan marah-marah, kita gak bisa tidur semaleman" keluh Dohyun, dia mengusap kedua matanya dengan punggung tangan.
Terlihat lucu dan menggemaskan di mata Rose, jadi peri itu luluh begitu saja.
"Baiklah karena kalian berdua anak yang manis, tidak sombong dan rajin menabung, aku bawakan sesuatu yang spesial untuk kalian! Aku buatin dulu ya? Duduk disitu aja gak apa-apa."
Rose pun bergegas pergi ke dapur, dengan gaun maid merah muda ala-ala kerajaan. Kaivan senyum-senyum saja karena Rose lucu dan cantik dengan gaun itu.
"Jangan tidur lagi!" Rose datang kembali, meletakkan nampan berisi tiga gelas minuman dan setumpuk roti, ada juga satu jar yang entah isinya apa.
Rose menjewer telinga Kaivan dan Dohyun yang malah kembali tidur sambil melipat tangan di atas meja.
"Aku membuatkan minuman spesial, di musim dingin ini enak diminum hangat, yaitu nektar dari bunga - pokoknya ini semacam madu bunga lah, dicampur dengan teh bunga Arteria, ini akan membuat perut kalian nyaman, kalian mengeluh perut tidak enak setelah makan banyak kan? Lalu ini orange marmalade, terbuat dari jeruk khusus yang tumbuh di sekitar Flouden, jeruknya manis dan segar, itu juga bisa membuat perut nyaman dan hangat, cukup oleskan dengan roti seperti selai, cobalah!"
Selama Rose menjelaskan, dia sudah cekatan mengoleskan orange marmalade pada roti, dia bagikan pada Kaivan dan Dohyun.
"Wah! Ini enak!" Ucap Dohyun setelah meminum sedikit minuman yang dia sudah lupa apa itu, seingat dia madu bunga campur teh bunga.
"Rose, makasih ya?" Ucap Kaivan, dia semakin bersyukur ada Rose yang perhatian.
"Kaivan, Rose buat aku aja ya? Kan kamu udah ada Dania sama Vicky!"
"Enak aja! Rose punyaku ya!"
Rose tersenyum lebar melihat Kaivan mempertahankan dirinya.
.
__ADS_1
.