Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Menjebak dan dijebak


__ADS_3

Baru kali itu Jisung ditolong oleh orang asing. Kaivan baik sekali, dia mendapatkan sabun dan shampoo entah dari mana. Setelah itu Kaivan juga mendapat pakaian baru, dan itu bukan pakaian biasa. Ada kaos lengan panjang dari brand terkenal, celana juga dari brand yang sama. Harganya mungkin sekitar 500 ribu won satu potong, belum lagi sepatu yang Jisung kenal dengan baik. Itu sepatu yang sedang dibicarakan saat ini, harganya sekitar 20 juta won ke atas.


"Aku tidak bisa memakai sepatu itu, itu terlalu mahal!" Ucap Jisung.


Kaivan pikir sepatu yang selalu dipajang itu akan lebih berguna untuk orang yang mau kencan. Pasti pacarnya Jisung akan senang, begitu pikir Kaivan. Tapi Jisung sendiri ketakutan hanya untuk memakai sepatunya.


"Kalo gitu, kamu pake yang aku pakai aja, biar sepatu ini aku yang pakai," usul Kaivan.


"Baiklah, tapi dimana preman tadi?" Tanya Jisung.


"Oh, hehe, mereka pergi..." Kaivan tidak akan mengatakan jika Kaivan mengusir mereka sambil mengancam untuk tidak mengganggu Jisung lagi. Preman pengecut itu ketakutan dan lari terbirit-birit.


Kaivan juga sudah mendapatkan hadiah baru berkat menolong Jisung dari preman. Jika menolong orang dari inisiatif sendiri, bukan game misi, biasanya hadiah jauh lebih bagus.


"Tunggu, kekasihku menelfon, Halo?" Jisung menjauh sebentar untuk menerima telfon dari kekasihnya, sementara Kaivan memasukkan sabun dan shampoo ke rekening sistem. Semoga Jisung tidak sadar.


Setelah mandi, Jisung jauh lebih baik dan lebih tampan dari sebelumnya, jadi Kaivan puas. Maunya Kaivan berikan aja sabun dan shampoo itu, tapi takut Jisung semakin tidak enak hati.


"Jadi kita makan disini saja? Oh oke - aku belum memesan kok, apa? Kamu mengajak teman? Tapi - i iya, tidak apa...."


Jisung terlihat frustasi setelah menerima telfon.


"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Kaivan.


Jisung menggeleng pelan, "pacarku dan teman-temannya akan kemari. Awalnya dia bilang mau dibawakan makanan dari restoran ini, kau tahu kan makanan disini mahal? Ah, mungkin bagimu tidak mahal, tapi bagiku ini setara dengan uang saku ku selama seminggu, aku tidak masalah sama sekali asal dia senang, tapi dia malah kemari dengan temannya, aku - bagaimana aku membayar semuanya?"


[Game misi khusus telah terpicu!]


[Membantu Jung Jisung!]


Bagaimana bisa sistem memberi misi tapi tidak detail begitu, kan Kaivan jadi bingung harus membantu bagaimana.


"Tenang saja, biarkan mereka datang, kamu duduk di meja sebelah mejaku saja, ada aku jangan khawatir ya?"


Jisung menggeleng pelan, "kamu terlalu banyak membantuku, aku tidak ingin merepotkan lebih jauh."


"Jangan khawatir, sebagai manusia, kita harus membantu sesama, apalagi kamu dalam kesulitan, sebagai gantinya, kamu harus membantu saat aku kesulitan, bagaimana?"


Jisung menatap Kaivan tidak percaya, kenapa masih ada orang baik di dunia ini?


"Tapi aku tidak punya banyak uang."


"Bantuan bukan melulu soal uang, aku ini manusia biasa yang pasti punya kekurangan, suatu saat pasti butuh bantuan kan?"


"Kalau begitu, mohon bantu aku, aku janji akan membantumu!"


Kaivan menepuk bahu Jisung pelan, "oke! Ayo keluar!"

__ADS_1


Meski Kaivan tidak tahu harus membantu seperti apa, dia akan berusaha membantu semampunya. Tapi mungkin masalahnya hanya uang, itu yang Kaivan pikirkan.


Sampai tiba saatnya yang ditunggu datang, perempuan bernama Suha datang dengan seorang lelaki dan dua perempuan lain. Suha cantik sih, tapi Kaivan tidak mengerti kenapa Jisung bisa berkencan dengannya. Bahkan Kaivan yang tidak tahu banyak tentang dunia ini saja sudah bisa melihat dengan jelas jika perempuan itu hanya ingin mempermalukan Jisung saja. Memang apa salah Jisung?


"Darimana kamu dapat pakaian bagus begini? Apa kamu selama ini pura-pura miskin?" Tanya Suha, dia menatap Jisung penuh curiga.


"Oh, aku dipinjami temanku, Kaivan."


"Dia tampan juga ya?" Suha tersenyum menggoda pada Kaivan, Rose yang menatap dari kejauhan merasa kesal dibuatnya, tapi dia tidak boleh ikut campur.


Kaivan sudah mengatakan apa yang terjadi pada teman-temannya, jadi mereka sudah setuju untuk diam saja di meja mereka, yang letaknya tidak jauh dari sana.


"Kaivan masih dibawah umur, jangan menatapnya seperti itu...." Jisung bukannya marah karena pacarnya melirik lelaki lain, dia malah mengkhawatirkan Kaivan.


"Tidak apa kak Jisung, aku juga tidak suka perempuan seperti itu kok" sahut Kaivan, yang membuat Suha kesal. Jisung itu baru lulus SMA, seumuran dengan Wonbin kakaknya Vicky.


"Katanya kamu mau nraktir kan? Aku sudah sangat lapar!" Ucap lelaki yang dibawa Suha, kemudian Suha memeluk lengannya dan mengajaknya duduk.


"Kenapa kamu diam saja?" Bisik Kaivan pada Jisung.


Jisung menggeleng pelan, "mereka katanya sahabatan, jika aku marah, aku yang balik dimarahi," ucap Jisung, dia terdengar tidak berdaya, membuat Kaivan gemas dibuatnya. Gemas sampai ingin memukul seseorang.


"Itu sudah termasuk red flag kak, kenapa masih dipertahankan?" Bisik Kaivan lagi. Jisung hanya tersenyum kecil, "aku menyukai Suha."


Tapi si Suha itu tidak berhak kamu sukai! Saking jengkelnya Kaivan hanya diam lalu duduk di sebelah Jisung. Teman perempuan Suha berusaha menggoda Kaivan, tapi Kaivan memelototi mereka, membuat mereka takut.


"Gimana ini Kai, kenapa mereka pesan banyak banget ya?" Bisik Jisung, entah Jisung mengkhawatirkan uangnya kurang atau makanannya akan mubadzir.


"Tenang aja, makannya bisa dibawa pulang kok."


"Bukan itu...."


"Kenapa kalian bisik-bisik? Jangan-jangan gak ada uang ya?" Tanya Suha, dengan nada meremehkan.


Tidak lama kemudian pelayan berdatangan untuk membawakan makanan mereka. Sampai satu meja besar penuh dengan makanan, tidak ada cela sama sekali.


Suha dan teman-temannya sibuk sekali memotret semua makanan itu, mereka terlihat senang sampai kemudian Kaivan berdiri menghampiri salah satu pelayan.


"Maaf, karena uang teman saya hanya seratus ribu won, ku rasa kami tidak bisa membayar semuanya," ucap Kaivan.


Bukan hanya Suha, tapi Jisung saja jadi berkeringat dingin.


"Wah, makanan yang sudah diantarkan tidak bisa ditarik kembali, kecuali kami yang salah memberikan pesanan," ucap pelayan, yang juga ikutan panik. Jika pelanggan tidak bisa membayar, dia akan kena imbasnya juga nanti.


Kaivan pun menoleh pada Jisung, "gimana ini kak?"


"Sudah ku duga kamu hanya bisa mempermalukan ku!" Suha mendekati Jisung lalu menamparnya.

__ADS_1


"Suha, aku sudah memberikan apa yang aku punya untukmu, uang seratus ribu won yang Kaivan sebutkan saja uang makan ku selama satu Minggu! Aku rela dipukuli dan dipermalukan hanya untuk mempertahankan uang itu agar tidak diambil preman!"


"Itu kan salahmu karena kamu miskin! Aku tidak mau tahu, kita putus! Lagipula aku sebenarnya sudah berkencan dengan Daeyong, aku menerimamu hanya ingin melihatmu malu! Aku tidak ingin terlibat denganmu lagi, bayar saja semua dengan cuci piring!" Suha kembali memeluk lelaki yang hanya bisa tersenyum meremehkan tersebut. Lelaki itu mengeluarkan dompetnya lalu memberikan sebuah kartu pada pelayan.


"Tenang aja Suha sayang, aku itu kaya-raya, bayar kan semuanya dengan kartu itu!" Ucap lelaki bernama Daeyong.


Kaivan menoleh pada Rose dan teman-temannya yang malah asyik menonton mereka. Rose mengangguk pelan pada Kaivan, lalu menggerakkan tangannya diam-diam.


"Maaf tuan, kartu ini sudah limit, tidak bisa digunakan."


Daeyong berdecak kesal, mereka mulai panik, "tidak masalah karena masih ada kartu baru, ini."


Pelayan membawa kartu lain untuk diperiksa, "maaf, yang ini diblokir, mungkin anda punya kartu debit?"


"Aduh, gimana ini sayang?" Tanya Daeyong pada Suha.


"Ternyata Daeyong miskin juga ya?" Celetuk teman perempuan Suha.


"Kamu membuatku malu!" Teriak Suha pada Daeyong.


Mereka berhenti ribut saat mendengar suara tawa Kaivan, mereka pun menoleh pada Kaivan.


"Apa? Kenapa kalian menatapku? Kak Jisung, bayar makanannya lalu kita makan," ucap Kaivan pada Jisung, Kaivan sudah memberikan kartu debitnya pada Jisung.


Jisung tersenyum kecil lalu memberikan kartu itu pada pelayan.


"Orang miskin seperti kalian bisa membayar?" Tanya Suha.


"Kita lihat saja siapa yang miskin, Suha, jangan mendekatiku lagi hanya untuk membuat lelucon, ku pikir hatimu secantik wajahmu, ternyata busuk sekali," ucap Jisung, sepertinya dia sudah menarik kata-katanya yang sebelumnya mengucapkan masih menyukai Suha. Ternyata perempuan itu hanya bagus di wajahnya saja, Jisung salah menilainya.


"Jangan sombong kamu ya! Belum tentu kau bisa membayarnya juga!"


"Pembayaran berhasil tuan! Kami memberikan hadiah ini untuk pembayaran lebih dari lima ratus ribu won!" Pelayan memberikan kartu dan juga sebotol soju limited edition yang hanya dimiliki restoran tersebut.


Jihun dan Junghyun ribut di meja sebelah, sepertinya mereka menginginkan Soju tersebut.


"Terimakasih," ucap Jisung, lalu dia menoleh pada Suha dan yang lainnya.


"Kalian makan saja makanannya, daripada dibuang kan, sayang, kalian belum tentu bisa makan mahal lagi."


Suha kesal sekali dengan ucapan Jisung yang dia pikir merendahkannya, dia pun pergi dengan pacarnya, Daeyong. Sementara dua teman perempuan tinggal disana dan sudah memakan sebagian makanan dari sejak mereka ribut.


[Game misi khusus berhasil!]


[Periksa hadiah di rekening sistem.]


.

__ADS_1


.


__ADS_2