
Acara penghargaan yang Kaivan datangi cukup bergengsi, dia merasa gugup. Dia datang bersama Vicky dan Wonbin, kedua kakak beradik itu sudah terbiasa dengan kamera. Jadi saat mereka harus berjalan di karpet biru, mereka tersenyum dan melambai pada kamera seakan itu hanyalah keseharian mereka.
Sedangkan Kaivan, dia hanya berjalan dengan kaku dan tanpa ekspresi. Herannya, para media itu malah senang dan mengatakan Kaivan sangat dingin seperti kutub utara. Padahal Kaivan hanya gugup. Yah, meski tidak gugup, dia akan tetap berekspresi dingin, sih. Apalagi tidak ada yang dia kenal disana selain Vicky dan Wonbin, semuanya asing.
Pertama-tama, mereka harus berpose di papan besar. Semua kamera itu menyorot dan membuat Kaivan hampir buta karena flash yang berlebihan. Tapi Kaivan berusaha menahannya, jika dia berkedip sedikit saja, hasil foto akan jelek dan semakin lama pula mereka ada disana. Tidak berhenti sampai situ, mereka juga diwawancarai segala.
Kebanyakan yang menjawab adalah Vicky, dia sudah terbiasa dengan semua itu. Kaivan hanya menjawab apabila pertanyaan itu untuknya, itupun dia jawab seadanya saja.
Setelah interview, Kaivan bisa lega karena mereka sudah bisa duduk manis.
Atau begitulah yang Kaivan pikirkan. Tapi ternyata beberapa pemilik brand lain datang dan menyapanya. Mereka mengajak berkenalan, sampai Kaivan pusing. Dia tidak bisa menghafal semua orang, jadi dia hanya tersenyum ramah pada mereka.
Yerin juga datang menyapa, dia langsung peka jika Kaivan gugup, jadi dia mengajak Kaivan untuk duduk.
Vicky dan Wonbin meladeni orang-orang, jadi tidak sempat memperhatikan Kaivan.
"Karena kamu baru disini, kamu pasti tidak nyaman, ya?" Tanya Yerin.
"Iya kak, aku gugup sekali."
"Sudahlah, kita foto saja berdua, yuk!"
Kemudian Yerin meminta tolong pada managernya untuk memotret mereka berdua.
Setelah itu Yerin diajak orang lain berfoto, Kaivan sendiri juga ada yang mengajak berfoto.
"Capek banget, Kai!" Keluh Vicky setelah akhirnya bisa duduk juga bersama Kaivan. Kaivan pun mengipasi gadis itu dengan kipas potable hello Kitty yang entah datang darimana.
Wonbin kemudian datang dan membawakan mereka minuman dingin.
Acara pun berlangsung.
Sepanjang acara, Kaivan tidak begitu menangkap apa yang mereka bicarakan, dia sebagai pemula bingung juga. Tapi Vicky menjelaskan tanpa perlu diminta.
Hingga pada akhirnya ada penghargaan brand pemula diumumkan nominasi dan pemenangnya.
Dan Berry beauty lah pemenangnya, yaitu brand dari Vicky dan Kaivan, jadi keduanya harus maju untuk menerima penghargaan. Kaivan tidak mengerti kenapa dia harus maju harusnya Wonbin saja, karena dia tidak tahu harus pidato apa. Untungnya pembawa acara tahu Kaivan berasal dari Indonesia, jadi dia meminta Kaivan bicara bahasa Indonesia saja. Kaivan pun berterimakasih dalam bahasa Indonesia, rata-rata tidak ada yang paham Kaivan bicara apa, tapi mereka bertepuk tangan dan bersorak untuknya.
Mereka maju dia kali untuk menerima penghargaan hari itu, yaitu penghargaan untuk brand pemula dan penghargaan untuk penjualan terbanyak tahun kemarin. Padahal Berry beauty hanya berdiri beberapa bulan saja tapi mampu menyaingi brand lain yang sudah terlebih dahulu.
Selesai acara sekitar jam tiga sore, tentu saja mereka capek sekali. Meski ada makanan disana, tapi Kaivan tak bisa makan dengan benar, dia hanya bisa minum dan makan camilan saja.
Akhirnya sampai rumah dia tepar di ranjangnya. Membuat Rose kasihan pada Kaivan.
"Aku pijitin deh, tapi abis ini makan ya?" Ucap Rose.
Kaivan hanya menggumam untuk mengiyakan.
Rose pun melepaskan sepatu yang masih Kaivan kenakan, kemudian kaos kaki dan sabuk kulit yang dia pakai.
"Duh, Manja banget kamu ya? Lepas sendiri harusnya!" Omel Rose, sambil melepaskan jas yang Kaivan kenakan.
__ADS_1
"Kan aku mager! Capek banget rasanya, energiku terkuras habis."
"Udah, aku pijitin dulu, yang mana yang sakit?"
"Semuanya!"
"Kau ini..."
Meski begitu, Rose tetap memijit Kaivan dengan telaten.
"Banyak cewe yang godain gak disana?" Tanya Rose.
Kaivan melirik peri itu dengan tatapan malas, "kau pikir aku ada waktu mikirin gituan, apa?"
Rose terkikik geli, "iya iya... Duh, gitu aja marah! Kamu makan ya? Aku pesenin makanan deh, mau apa?"
"Apa ya? Kepiting raja Alaska kali ya? Yang agak pedes gitu."
"Ide yang bagus!"
Tanpa terasa, Kaivan ketiduran setelah dipijit oleh Rose. Dia tidak tahu apa-apa sampai kemudian Rose membangunkan dia.
"Kaivan! Kaivan, gawat!"
Terpaksa Kaivan bangun, dia bangun dengan keringat bercucuran dari tubuhnya.
"Ada apa?"
Kaivan duduk terdiam, merasakan kepalanya yang pusing tujuh keliling. Sepertinya tadi dia mimpi, tapi dia lupa mimpi apa.
"Mandi dulu terus makan ya? Apa perlu ku mandiin?" Tanya Rose sambil berkedip genit.
"Mandiin deh, aku mager," ucap Kaivan, tapi Rose malah menggeplaknya, padahal tadi dia sendiri yang mengusulkan.
"Kok dipukul?"
"Mandi sendiri sana!"
Kaivan tidak paham dengan wanita, mereka aneh sekali.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Kaivan mencari Rose yang kemungkinan besar sedang menyiapkan makanan.
Benar saja, peri itu ada disana, tapi dia tidak sendiri, ada Dohyun dan Jisung juga.
"Kok ada kalian?" Tanya Kaivan.
"Kamu gak kangen aku, Kai?" Tanya Jisung.
"Enggak tuh."
"Jahat banget! Aku kesini soalnya Rose bilang ada yang neror kamu di sosmed, kamu kenapa gak langsung bilang sih?"
__ADS_1
Kaivan menoleh pada Rose meminta penjelasan.
"Kamu kan bilang terganggu dengan pesan itu, harusnya ada inisiatif nyari siapa pelakunya gitu, tapi kamu malah diem aja kan?"
Padahal Kaivan pikir lebih cepat jika Rose yang mencari tahu. Jika seperti itu, berarti memang Rose tidak boleh memberi tau secara langsung.
"Emang ada yang neror kamu, Kai?" Tanya Dohyun.
Kemudian Kaivan memberitahukan pesan yang terus menerus menerornya.
"Akan ku coba cari tahu nanti ya?" Ucap Jisung.
"Baiklah, sekarang makan dulu, ini apaa aja Rose, kok banyak?" Tanya Kaivan.
"Ini kepiting Alaska yang kamu minta, ini gajang gejang, terus ini udang!"
Kaivan yakin uang yang dia keluarkan untuk makan malam itu sudah lebih dari lima juta. Tapi Rose tidak merasa bersalah, dia hanya tersenyum manis saja.
"Kita kan makam berempat, jadi harus banyak!"
"Iya deh, iya... Ayo makan semuanya!"
Selesai makan, Jisung menepati janjinya untuk mencaritahu siapa yang mengirim pesan untuk Kaivan. Sementara itu, Dohyun hanya main game bersama Rose.
Kaivan dengan sabar melihat Jisung mengutak-atik laptopnya sendiri. Itu laptop baru yang Jisung beli dengan gajinya membantu Kaivan mengelola perusahaan game.
"Ini agak aneh, Kai. Sepertinya mereka juga memiliki pengaman yang kuat. Yah bisa ku ketahui hanyalah, pesan itu dikirim dari beberapa tempat. Yang pertama dari Australia, yang kedua dari Switzerland, yang ketiga dari Korea Selatan ini."
"Apa mereka orang yang sama?" Tanya Kaivan.
Jisung menggedikkan bahunya, "entah, bisa jadi orang yang sama, bisa jadi beberapa orang."
"Tapi kenapa mereka nglakuin itu?"
"Gak tahu, apa kamu punya musuh?"
Kaivan diam dan berpikir. Musuh, ya? Apa mungkin Kaivan punya musuh yang sampai segitunya?
Rasanya tidak mungkin - tunggu dulu! Sindikat yang dulu menangkap Kaivan itu hanya sebagian saja yang tertangkap, sebagian lain, terutama dalangnya, masih belum tertangkap juga.
Sekarang Kaivan sudah berani menampakkan diri di depan publik, bagaimana jika mereka bisa mengenali Kaivan?
Tiba-tiba Kaivan merasa merinding.
"Kamu kenapa, Kai?" Tanya Jisung.
Kaivan menggeleng, "enggak, aku baik-baik aja."
.
.
__ADS_1