
Yang dimaksud tempat dewasa itu bukan club malam, pub, bar atau semacamnya. Tapi itu adalah semacam tempat nongkrong anak-anak kuliahan.
Dasha sudah tampil all out, dengan gaya girl crushnya yang menawan. Jujur saja, Kaivan selalu berpikir Dasha sangat cantik, apalagi tubuhnya yang indah dan seksi, putih mulus tanpa cela. Rambutnya yang diwarnai pirang juga membuatnya lebih bersinar. Dasha tidak pernah dandan berlebihan, tapi apapun yang gadis itu kenakan pasti selalu bisa menarik perhatian orang lain dengan mudah.
Saat di Indonesia kemarin saja, Dasha menjadi perhatian satu mall. Ada saja orang yang datang untuk berfoto dengannya karena dikira idol. Bahkan di Seoul yang semuanya modis dan kinclong pun, Dasha tetap saja bersinar.
Kaivan tidak percaya gadis seperti Dasha pernah dibully dan dikhianati pacarnya. Jadi, Dania pernah cerita. Di Korea itu banyak yang tidak suka keturunan asing, apalagi Dasha itu wajahnya sangat bule, jadi banyak yang tidak suka dan iri. Jadinya Dasha di SMA pernah mendapat bully-an, walau tidak parah.
Tapi kini Dasha sangat supel, punya banyak teman juga.
Lihat saja sekarang, gadis itu sibuk menyapa teman-temannya di tempat tongkrongan hits tersebut.
Itu semacam cafe-cafe yang bergabung dan menjadi tempat nongkrong. Kadang banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas disana. Memang tempatnya bagus sekali dan pemandangan juga bagus.
Teman-teman Dasha penasaran sekali dengan Kaivan, Dasha bilangnya Kaivan itu hanya teman, meski kenyataannya Dasha menggandeng lengan Kaivan erat, seolah mengatakan jika mereka tidak bisa mendekati Kaivan.
"Dia sangat tampan, ku pikir pacar barumu," ujar salah satu teman.
Mereka semua adalah teman Dasha yang tidak Kaivan kenali, sepertinya tidak pernah ke rumah Dasha juga.
"Bukan sih, tapi otw, doain aja! Dia ini masih SMA."
Mendengar itu, mereka semua tertawa.
"Apa kau gila!"
"Memacari anak SMA? Kamu pasti sudah kehilangan akal."
"Kamu cuma bakal diporoti lagi kayak sebelumnya."
Dasha berdecak malas, "kalian tahu apa sih? Kaivan ini banyak uangnya, kalian tahu supermarket Happyo yang terkenal dan ada dimana-mana itu? Kaivan memiliki 30% sahamnya!"
Mereka kembali tertawa, sampai orang-orang dari meja sebelah ikut mendengarkan karena mereka berisik.
"Jangan bercanda lah!"
"Kamu boleh membual, tapi ini sudah keterlaluan kan?"
Dasha memutar bola matanya, dia sudah jengah dengan teman-teman laknatnya itu, sebenarnya dia pergi ke tempat itu hanya karena terpaksa. Dasha membutuhkan mereka untuk sesuatu, tapi ternyata mereka bukan teman yang baik dan berisik.
Tahu begitu, Dasha tidak akan meladeni mereka. Dasha menyesal membawa Kaivan, tapi juga bersyukur, karena Kaivan pasti akan melindunginya jika terjadi sesuatu.
"Hei, jika dia punya saham sebanyak itu, maka aku punya seluruh saham Hyper entertainment!" Seru seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari mereka.
Itu sekumpulan mahasiswa yang nongkrong demi mencari perempuan saja, jadi mereka akan melakukan apapun untuk meninggikan diri mereka, agar terlihat keren di depan perempuan.
Di tempat Kaivan sebelumnya juga banyak yang seperti itu, hanya saja mereka ini lebih keren saja, nongkrongnya pun ditempat elit.
__ADS_1
Oh iya, Hyper entertainment itu adalah agensi musik terbesar saat ini di Korea Selatan. Mereka menghasilkan idol grup yang sedang naik daun semua. Itu adalah agensinya Kayden, rencananya Kayla akan dimasukkan sana juga. Kaivan kecewa sebenarnya, karena dia ingin Kayla membantu bisnisnya, tapi yah... Semua itu pilihan Kayla, tidak bisa dipaksakan.
"Kau pikir aku bohong, ya?" Ucap Dasha kesal pada lelaki itu.
"Jika memang benar, coba tunjukkan!"
"Iya, cepat tunjukkan!"
"Masa anak SMA punya saham sih? Yang bener aja!"
"Emangnya ini drama Korea apa?"
Kaivan yang mulai jengkel dengan ucapan tajam mereka pun akhirnya mengeluarkan ponselnya, mencari bukti jika dia memang memiliki saham di supermarket Happyo.
Saat Kaivan berhasil menunjukkan bukti tanpa banyak omong dan drama, mereka pun terkejut.
Lelaki yang tadi sok jagoan pun mengajak teman-temannya untuk pergi, karena dia malu.
"Sudahlah, Kaivan, ayo kita ke tempat yang diatap aja! Disini menyebalkan semua! Kamu mau pesan apa? Ice cream disini enak lho, kuenya juga enak!"
Teman-teman Dasha yang tadinya memandang Kaivan sebagai anak SMA rendahan pun melongo saat Dasha mengajak Kaivan pergi.
"Hei! Kalian disini aja, kami minta maaf!" Ujar salah satu teman Dasha.
Dasha berbalik menatap mereka malas, "gak ah, udah gak minat. Kalian seenaknya sendiri ngatain orang, gak pernah ngaca di rumah ya?"
Dia jadi berpikir, apa anak SMA serendah itu Dimata mereka? Apa hanya karena lebih muda saja? Padahal mereka juga lulusan SMA.
"Maaf ya Kai, ini emang tempatnya anak kuliahan nongkrong, biasanya aku ngerjain tugas sama temen disini." Ucap Dasha setelah mereka naik tangga untuk pergi tempat yang ada di atap. Disana cukup sepi, hanya ada beberapa orang saja.
"Gak masalah kak, tapi aku sedikit canggung karena disini banyak orang dewasa," sahut Kaivan.
Dasha terkekeh mendengarnya, "benar juga, aku kadang lupa lho kalo kamu masih SMA, tapi tempat ini bisa dikunjungi siapa aja sih, mungkin karena tempatnya dekat universitas. Udah, kamu mau pesen apa? Ada ramen yang terkenal juga disini, pemiliknya orang Jepang asli!"
Kaivan mulai tertarik dengan ramen yang Dasha bahas. Setelah Dasha memanggil pelayan dan mereka mendapatkan menu dari cafe ramen, Kaivan bisa melihat ada banyak jenis ramen disana.
"Aku suka ramen yang ini - oh, kau tidak suka daging babi ya? Sayang sekali, kalo gitu yang ini aja, seafood, yang ini ayam..." Dasha dengan sabar menjelaskan satu persatu jenis ramen yang unik tersebut.
Pada akhirnya Kaivan memesan ramen dengan kuah kental, memakai daging ayam juga. Sementara Dasha memesan ramen yang atasnya ada keju mozzarella. Untuk minuman, mereka memesan lemonade dingin, padahal masih musim dingin.
Entahlah, Kaivan pikir dirinya mulai seperti orang Korea kebanyakan, atau mungkin circlenya yang seperti itu. Dohyun misalnya, dia suka makan ice cream meski musim dingin. Jihun, Junghyun dan Vicky juga sama. Malah, Kaivan merasa aneh dengan Jaden, kakaknya itu saat cuaca panas, dia malah makan dan minum minuman panas.
Sekarang Kaivan sangat suka minuman dingin. Kalau musim panas di Korea, biasanya mereka memakan mie dingin, itu dingin karena memang dicampur es.
Setelah ramen datang, Kaivan mencobanya, ternyata memang sangat enak. Meski Kaivan tidak pernah makan ramen sebelumnya, tapi dia bisa tahu jika ramen tersebut bisa dikatakan terbaik.
"Kamu kan pinter masak, kira-kira bisa buat ramen gak?" Tanya Dasha, dia cepat sekali makan ramennya, mangkuknya sudah bersih saat Kaivan masih habis setengah.
__ADS_1
"Gak tau, mungkin bisa kalau dicoba, karena kuah ramen itu kan dibuatnya gak main-main, bisa seharian penuh hanya membuat kuahnya aja. Tapi kalo ramen instan mungkin bisa," jawab Kaivan.
"Kalo itu aku juga bisa!"
Dasha memanggil pelayan lagi, kali ini dia memesan shoufle pancake.
"Kamu masih kuat makan?" Tanya Kaivan.
"Kuat dong! Kamu sendiri masih bisa makan, kan? Aku pesan pancake dan wafle tadi, disini wafle enak banget, harus cobain pokoknya."
"Lihat siapa yang ada disini!"
Kaivan dan Dasha menoleh pada asal suara, ada tiga lelaki yang muncul, salah satunya adalah Seon, mantannya Dania. Dan yang tadi berkata adalah Seon.
Melihat ekspresi Dasha, sepertinya Dasha mengenal mereka semua.
"Mereka siapa?" Bisik Kaivan pada Dasha.
"Itu Seon, mantannya Dania, lalu yang lain sepupunya. Mereka memang sering nongkrong disini, bahkan aku pernah melihat si Seon itu ada di club malam, gak tahu lah, mereka suka gangguin aku dan temen-temen ku."
Kaivan kembali menatap Seon dan dua sepupunya, mereka bertingkah sok keren dan kuasa. Namun Kaivan diam saja, ingin tahu apa yang akan mereka lakukan setelahnya.
"Aku gak nyangka Dasha bakal jalan bareng bocah ingusan kayak gitu," ucap salah satu sepupu Seon, yang memakai jaket merah mahal.
"Bukan urusanmu ya!" Sahut Dasha jengkel.
"Gak cuma deketin Dania, kamu juga deketin kakaknya, emang bener-bener sampah!" Ucap Seon, dia mendekat lalu meraih minuman Kaivan yang tinggal setengah gelas.
Kaivan diam saja karena dia pikir Seon hanya akan meminumnya, tapi diluar dugaan. Seon menumpahkan isi minuman itu pada mangkuk ramen Kaivan yang belum dihabiskan, tinggal sedikit, tapi Kaivan suka dan ingin menghabiskannya.
Setelah melakukan itu, Seon dan dua sepupunya tertawa bahagia.
"Hei, makanan itu tidak bisa dibuat main-main!" Kaivan berdiri, menatap mereka dengan tatapan menyeramkan, lalu tanpa ba-bi-bu dia menarik kerah Seon lalu menghajarnya.
Bruk!
Sialnya, Kaivan melempar Seon ke sembarang arah, dia tidak tahu jika akan mengenai salah satu meja.
"Hei!" Pelanggan yang ada di meja itu pun marah pada Kaivan.
"Kau harus ganti rugi! Makanan kami tumpah!"
Mungkin hari itu memang hari sial bagi Kaivan.
.
.
__ADS_1