
"Hatchiimm!"
Kaivan tidak pernah menyangka dia akan mendapatkan flu keesokan hari padahal sebelumnya dia baik-baik saja. Tapi itu bisa saja terjadi karena pergantian udara, dari Jakarta yang hangat menjadi Seoul yang dingin. Bahkan skill penguatan tubuh tidak bisa mencegah flu tersebut menyerangnya.
Tapi Kaivan beruntung ada Dasha yang datang membawakan sup kimchi buatan ibunya. Meski Kaivan tidak terlalu suka kimchi, tapi kali ini dia menikmatinya.
Dania juga datang pagi itu, membuatkan sesuatu yang menurut dia bisa cepat menyembuhkan batuk pilek. Kaivan pikir itu semacam obat yang mungkin sangat pahit. Tapi setelah Dania selesai membuatnya, ternyata itu hanya buah pir.
Jadi buah pir itu di lubangi tengahnya, lalu dimasukkan jahe dan madu, kemudian di rebus sampai keluar airnya. Dan air rebusan pir itu yang akan Kaivan minum. Tentu saja rasanya enak.
"Kalau keadaanmu begini, memangnya bisa bertanding besok?" Tanya Dasha.
"Bertanding apa?" Dania yang belum tahu menyahuti.
"Oh kau belum tahu ya? Mantan pacarmu menantang Kaivan untuk bertanding game, kalau Kaivan kalah, dia akan merebut mu dari Kaivan" jawab Dasha, mbuat Dania melongo setelahnya.
"Astaga! Dia maksa banget, aku punya alasan kuat kenapa ingin putus darinya. Pertama, dia suka selingkuh di belakangku, kedua dia itu tukang bully, dia hanya pura-pura baik di depanku, gimana bisa aku punya pacar kayak gitu, dia hanya akan membuatku terlihat buruk juga."
"Uhuk! Bisakah kalian pergi? Aku ingin istirahat dengan nyaman..." Gumam Kaivan, dia tidak ingin mendengarkan apapun, karena kepalanya sangat pusing.
"Baiklah, kami akan pergi, jangan pikirkan pertandingan mu, jika Seon macam-macam, aku yang akan menghadapinya sendiri, okay? Istirahat lah." Dania mengecup kening Kaivan yang terasa lebih hangat dari sebelumnya, kemudian mengajak kakaknya pergi dari kamar itu.
"Sekarang, kakak katakan, kenapa kakak kemarin ada bersama Kaivan?" Tanya Dania, setelah meletakkan semua piring ke tempat cucian.
Dasha yang sedang duduk manis di sofa sambil memakan apelnya, kini menatap adiknya dengan tatapan malas, "apa aku salah? Kau sendiri mengabaikan Kaivan demi temanmu kan? Kaivan tidak boleh ditinggal sendirian!"
Dania menghela nafas berat, "Mau bagaimana lagi, Hanna merengek jika aku pergi, sekarang saja dia bilang aku harus datang lagi atau dia yang datang kemari."
"Biarkan dia datang kemari, siapa sih dia ngatur-ngatur? Memangnya kamu dayangnya? Aku gak terlalu suka si Hanna itu!"
Dania ikut duduk di sofa, menatap Dasha kesal, "Hanna itu gadis yang baik dan manis! Kenapa kamu gak suka?"
Dasha menggedikkan bahunya, "gak suka aja, kamu lebih milih dia daripada Kaivan, jangan salahkan aku jika aku merebutnya darimu!"
Dania berdiri dari duduknya, menatap kakaknya kesal, "kakak masih marah karena aku berkencan dengan Kaivan duluan? Aku lebih dulu menyukainya, maaf jika tidak mengatakannya padamu!"
Dasha sudah bersiap untuk membalas ucapan adiknya, tapi Dania pergi dengan cepat, kembali ke kamar Kaivan.
"Tsk! Memang aku salah jika cemburu? Dasar keras kepala!" Ucap Dasha, agak dikeraskan agar adiknya bisa mendengar ucapannya.
Sementara itu di dalam kamar Kaivan, Dania sudah tidak bisa mendengar ucapan kakaknya, dia sudah fokus dengan Kaivan. Dia masih ingat dulu Kaivan sering sakit seperti itu saat masih tinggal di rumahnya, dan Dania yang selalu merawat Kaivan. Meski Kaivan lebih sering menolak, menghancurkan berbagai barang, namun tak pernah sampai melukai Dania.
Dania duduk di tepi ranjang, sambil memandang wajah pucat Kaivan yang makin pucat saja. Mungkin Kaivan belum terbiasa dengan musim di Korea, karena suhu bisa mencapai suhu terdingin meski salju sudah tidak turun lagi. Pasti sangat berbeda dengan tempat asal Kaivan.
__ADS_1
Kaivan membuka kelopak matanya, menatap Dania dengan mata sayu, mata itu terlihat lesu dan capek.
"Kamu masih disini? Ku pikir kamu sudah pergi main sama Hanna," ucap Kaivan dengan suara lebih berat dan serak.
"Maafkan aku karena tidak peka dengan perasaanmu, harusnya kamu bilang kalo gak suka, Kai."
"Aku tidak ingin membuatmu merasa aku membatasi pertemanan mu, tapi aku kesal sekali saat kamu hanya membicarakan dia."
"Maaf, apa karena itu, kamu bersenang-senang dengan kakakku kemarin?"
Kaivan mengernyitkan dahinya, bersenang-senang bagaimana? Kaivan justru banyak mendapatkan kerepotan kemarin, seperti kejadian dengan Seon, setelah itu harus memikirkan pertandingan juga.
"Justru karena ada kakakmu, aku menjadi lebih tenang dan rileks... Kemarin aku bertemu Seon dan itu membuatku kesal, belum lagi anak-anak kuliahan yang meremehkan ku karena aku anak SMA, itu membuatku kesal. Tapi setelah tahu aku punya banyak uang, sikap mereka berubah, itu membuatku makin kesal saja. Aku tidak terlalu suka orang baik padaku hanya karena uangku."
Dania sedih mendengar itu, dia menyesal karena lebih memilih temannya daripada Kaivan. Masalahnya, Dania dan Hanna tidak melakukan apapun selain mengobrol di kamar Hanna, membicarakan apapun yang ingin Hanna bicarakan. Itu membosankan, tapi Dania tidak enakan dengan teman. Dasha benar, Hanna bukan teman yang baik, Hanna hanya baik jika ada maunya. Bisa jadi nanti disekolah jika sudah punya teman lain, Dania disingkirkan.
"Maaf ya, Kai, aku tidak akan melakukannya lagi kok, aku akan tinggal disini dan merawat mu, okay?" Dania mendekat lalu berbaring di sebelah Kaivan.
"Terimakasih, tapi tetaplah berteman dengannya, jangan memutuskan pertemanan hanya karena aku, kamu sudah kenal dia lebih lama dariku, kan?"
Dania sudah ingin menyahuti ucapan Kaivan, tapi sayang Kaivan sudah terlelap kembali. Dania tersenyum dan membiarkan Kaivan istirahat dengan nyaman.
Suara bel pintu apartemen berbunyi, membuat Kaivan terbangun dari tidurnya. Setelah dia duduk, dia baru sadar jika ada Dania dan Dasha di kamarnya. Dania ketiduran di sebelahnya, sedangkan Dasha ketiduran di sofa. Kaivan tidak tahu apa yang terjadi, namun dia sudah merasa lebih baik. Masih pusing, tapi dia sudah merasa lebih enteng dari sebelumnya.
"Siapa?" Tanya Kaivan.
Bukannya menjawab, gadis itu hanya terpana dengan penampilan Kaivan, yang sebenarnya masih berantakan. Namun, di mata gadis itu, Kaivan terlihat tampan dan seksi, apalagi dengan rambut berantakan itu.
"Disini dingin, cepat katakan kamu siapa dan perlu apa, aku sedang sakit," tambah Kaivan saat gadis itu hanya diam dan bukannya menjawab.
"Oh, maaf, aku Hanna, ini apartemen pacarnya Dania ya? Aku sudah pernah melihat fotomu, diberitahu Dania, tapi ternyata kamu makin tampan dilihat langsung ya?"
Ternyata gadis itu yang merebut perhatian Dania kemarin, dia juga sepertinya sudah tahu siapa Kaivan.
"Kamu nyari Dania ya? Maaf, dia sedang tidur, ku rasa dia capek karena merawatku - hei!"
Kaivan tidak bisa berbuat apapun selain merasa kesal saat Hanna masuk begitu saja ke apartemennya meski tidak dipersilahkan.
Semua orang kini mengetahui apartemennya, haruskah Kaivan pindah saja ke villa di Hannam-dong? Sepertinya itu lebih baik, karena Kaivan tidak akan diganggu siapapun, kekurangannya hanya Kaivan belum memberitahu siapapun dia memiliki villa disana, jadi tidak ada yang bisa menemukannya, bahkan Dania sekalipun.
"Dia capek merawatmu ya? Kamu kan cuma pacarnya, bukan suaminya, kenapa harus Dania yang merawatmu?" Tanya Hanna, setelah duduk seenaknya di sofa ruang tamu.
"Fyi, aku tidak meminta dia merawatku, tapi dia mau sendiri, lagipula itu bukan urusanmu!" Kaivan duduk di sofa yang berhadapan dengan gadis menyebalkan itu. Penampilannya saja yang menggemaskan, tapi kelakuannya jauh dari kata menggemaskan.
__ADS_1
"Kan kamu bisa menolaknya, dan biarkan dia bersamaku!"
"Memangnya kau tidak punya teman lain ya selain Dania?"
Ucapan Kaivan itu benar adanya, jadi Hanna merasa tertohok, dia mulai kesal dengan Kaivan, terlihat dari raut wajahnya.
"Aku baru pindah disini, jadi wajar dong aku belum punya temen!"
"Tapi tidak wajar untuk selalu meminta temanmu menemanimu setiap saat, temanmu juga memiliki kehidupan sendiri, dia berhak menolakmu juga kan?"
"Kau! Aku ini lebih dulu mengenal Dania, dan kau orang baru disini,"
Kaivan buru-buru menyahuti karena malas sekali mendengarkan ucapan tidak bermutu dari Hanna, "lalu kenapa? Orang lama bukan berarti segalanya. Jika ada keperluan yang sangat penting katakan saja, jika tidak penting, lebih baik kau pulang."
"Kau mengusirku? Gadis cantik seperti ku?"
Kaivan takjub melihat betapa percaya dirinya Hanna, tapi dia memang cantik, tapi... Bagaimana ya, dia terlalu percaya diri dan itu terdengar sombong, meski dia memang cantik.
"Iya, aku mengusir gadis cantik sepertimu, kenapa memangnya?"
"Aku tidak percaya ini, harusnya kau memberiku sesuatu sebelum pergi."
Kaivan berdiri dengan cepat, lalu meninggalkan gadis itu begitu saja di ruang tamu.
"Dia tidak sopan!" Hanna berdecak kesal, tidak menyangka Kaivan tidak tertarik sedikitpun dengannya, kurang cantik apa dia?
Tidak lama kemudian Kaivan kembali lagi, membawa tas tangan berisi buah-buahan segar yang dia ambil dari dapur dan setoples kecil kue nastar, oleh-oleh dari Jakarta.
"Ini aku bawakan sesuatu, jadi kamu bisa pergi, ini untuk ongkos pergi, maaf jika aku ketus, karena aku tidak menyukaimu."
Kaivan memberikan tas tangan itu dan uang seratus ribu won.
Hanna menatapi uang dan tas itu tidak percaya, Kaivan benar-benar memberinya sesuatu, tapi bukan itu yang dia inginkan.
"Kenapa? Masih kurang? Aku tambahin uangnya, sekarang pergilah, maaf ya, aku sedang sakit, gak bisa pura-pura baik sama orag asing."
Hanna berdecak kesal lalu mengambil tas tangan dan uang tiga ratus ribu won, dan pergi begitu saja.
Seperginya Hanna, Kaivan baru sadar jika dia jahat sekali, "aku gak ngerti kenapa aku gak suka dia."
.
.
__ADS_1