Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya

Bermain Game Santai Dan Menjadi Kaya
Drama hanya karangan


__ADS_3

"Tempat ini jadi sepi ya," gumam Kaivan, dia baru saja mengantar Vicky, Jihun dan Junghyun ke bandara bersama pamannya Jisung. Jadi sekarang hanya ada Kaivan, Dohyun, Jisung dan Rose saja. Oh iya, pak Pardi juga.


Kaivan duduk di kursi pantai yang ada payungnya, ada Dohyun yang duduk di bawahnya. Mereka berdua menatapi Rose dan Jisung yang memaksa untuk memancing di pantai dengan para nelayan.


"Gak juga ah, kamu aja yang ngrasa gitu. Ngomong-ngomong kemarin sama kak Jaden ngapain? Kamu pulang-pulang matamu sembab, aku kemaren udah mau nanya tapi lupa."


Kaivan mengumpat dalam hati, kenapa Dohyun masih ingat saja? Kenapa gak lupa terus?


"Ada masalah sebentar, kamu tidak perlu tahu."


"Jadi kamu ingin menyembunyikannya dariku?"


"Kau keberatan?"


Dohyun menggeleng, lalu meraih gelas berisi es degan miliknya, "enggak, aku cuma penasaran, bukan hal buruk, kan?"


"Bisa dikatakan buruk, bisa juga dikatakan baik, tenang saja... Bukan hal besar."


Kemudian pak Pardi datang membawakan satu keresek buah untuk Kaivan dan teman-temannya.


"Buah apa ini?" Tanya Dohyun setelah pak Pardi pergi.


Kaivan mengeluarkan buahnya dari keresek, buah itu hijau dengan bercak ungu. Buah itu sebenarnya sangat familiar bagi Kaivan, karena dulu di dekat rumahnya ada pohonnya sangat besar, katanya pohon itu angker. Meski begitu, sebagai anak kecil, tentu Kaivan penasaran dan berakhir mengambil buahnya. Apalagi daunnya berwarna emas, dia pikir emas itu bisa dijual, ternyata tidak.


"Ini apa ya namanya... Ada banyak nama yang digunakan orang sini, ada yang memanggil kenitu, ganitu, sawo susu, sawo ijo, durian sawo dan lainnya. Ini enak kok, tapi hati-hati dengan getahnya."


"Kenapa namanya banyak banget?"


"Ada banyak bahasa yang digunakan di Indonesia."


Kaivan membelah satu buah dengan tangannya, lalu menyendok buah dengan sendok, agar tidak kena getah.


"Permisi tuan... Ada telefon," pak Pardi memberikan ponsel milik Kaivan yang tadinya ditinggal di meja dekat kolam renang.


"Terimakasih pak - halo?"


Dohyun melihat ekspresi Kaivan berubah bingung setelah mendapat telfon itu, dia sih tidak banyak berpikir, lebih baik makan saja.


Kaivan buru-buru bangun dari duduknya setelah telfon selesai.


"Aku akan pergi sebentar, kamu disini aja ya? Ada yang seseorang yang harus ku jemput."


Belum juga Dohyun membuka mulut untuk menyahuti, Kaivan sudah melesat pergi.


"Kaivan kemana?" Tanya Rose, dia menenteng satu ikan ditangannya, membuat Dohyun terkejut.


"Dia pergi setelah mendapat telfon, kalian beneran dapet ikan?" Tanya Dohyun.


"Enggak, ini dikasih nelayan," sahut Jisung.


Rose hanya diam saja, tidak mengejar Kaivan sama sekali seolah tahu siapa yang Kaivan temui.


Kaivan tidak bisa menaiki motor atau mobil, dia hanya bisa menaiki sepeda saja, jadi dia mengayuh sepeda itu hingga sampai gerbang villa.


Disana sudah ada Dasha dan seorang lelaki berambut pirang, dan juga taxi yang menunggu dibayar.

__ADS_1


Kaivan membayar taxi tersebut, karena Dasha tidak punya uang rupiah.


"Kenapa kak Dasha disini? Bukannya harusnya di Australia ya?" Tanya Kaivan sambil melirik pada koper pink milik Dasha.


"Aku hamil, Kai" ucap Dasha dengan ekspresi datar saja, padahal Kaivan yang mendengar sangat terkejut.


"Aku harus bilang berapa kali, kamu gak hamil! Mereka cuma ngerjain kamu!" Ucap lelaki yang bersama dengan Dasha, membuat Kaivan makin bingung.


"Oke oke, kita ke tempatku dulu."


Kaivan pun menuntun sepedanya dan berjalan dengan mereka. Dasha menggandeng lengan Kaivan dengan manjanya.


Sepertinya ini bukan masalah hamil, pasti ada masalah lainnya. Lagian Kaivan saja paham jika hamil itu butuh 'proses' tidak tiba-tiba bisa hamil begitu saja.


"Wah, ini rumahmu? Pasti mahal kan? Uangmu gak habis buat beli rumah ini kan? Tunggu - kau akan tinggal disini setelah lulus sekolah?" Tanya Dasha bertubi-tubi, dia langsung ribut setelah melihat villa milik Kaivan.


"Tunggu, kita masuk dulu."


Setelah mereka masuk, Kaivan memerintahkan pak Pardi untuk membantu membawakan koper ke kamar tamu. Sementara Kaivan menyiapkan sendiri minuman untuk mereka, berupa teh dan madu yang segar. Kaivan juga menyediakan buah untuk mereka.


Setelah itu lelaki yang bersama Dasha menjelaskan, nama dia Jake dan dia masih sepupu dari Dasha dan Dania.


Ceritanya keluarga sudah tahu jika Dasha putus dari pacarnya dan mereka juga tahu kelakuan pacar Dasha. Jadinya mereka berencana menjodohkan Dasha dengan seorang lelaki yang baru lulus S1 dan sudah memulai bisnis yang bagus, tinggal di Melbourne.


Tentu Dasha menolak, dia tidak menyukai lelaki itu, dia lebih menyukai Kaivan meski Kaivan bahkan belum lulus SMA, meski Kaivan sudah berkencan dengan adiknya. Yang namanya perasaan tidak bisa dipaksa juga kan?


Lalu, sepupu perempuan lain bernama Chloe yang sebenarnya menyukai lelaki yang ingin dijodohkan dengan Dasha pun cemburu.


Chloe mengerjai Dasha dengan cerita yang aneh, kebetulan ada Drakor yang sedang viral. Di dalam drama itu, ada wanita yang belum pernah disentuh pria tapi bisa hamil karena kesalahan dokternya menyuntikkan sesuatu.


Singkat cerita hal itu membuat huru-hara, Dasha yang kesal pun pergi ke Indonesia, tidak mau kembali ke Korea. Berhubung Jake lumayan sering ke Indonesia, jadi dia yang mengantar.


"Jadi gitu ceritanya, Dasha gak hamil," ucap Jake, mengakhiri ceritanya.


Kaivan menoleh pada Dasha yang diam saja, dia terlihat cemberut.


"Syukurlah kak Dasha gak hamil ya, lagian cerita drama itu hanya karangan, tidak mungkin bisa begitu, kecuali jika yang disuntikkan itu sper -"


"Itu biasa aja terjadi! Aku juga udah tanya Junghyun!" Sahut Dasha.


"Oke, lalu dia bilang apa?"


"Aku terlalu mengada-ada."


"Tuh kan!" Sahut Jake, yang membuat Dasha melemparinya dengan bantal sofa.


"Padahal aku sudah siap untuk meminta Kaivan yang tanggung jawab."


"Kok aku?"


"Saat ini aku hanya ingin kamu yang jadi ayahnya anakku" ucap Dasha, sambil mengedip genit.


Jake hanya berdecak malas, dia tahu Dasha pasti begitu jika sudah menyukai seseorang, tapi kenapa harus anak SMA juga? Seperti tidak ada lelaki lain saja.


"Jadi kak Dasha akan tinggal disini? Aku masih disini untuk beberapa hari," ucap Kaivan, berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau membahas apapun tentang anak, karena dia masih menganggap belum siap membicarakan tentang itu. Pengalamannya menjadi seorang anak, membuatnya memiliki banyak kekhawatiran.

__ADS_1


"Iya! Aku tidur sama kamu ya?"


"Gak boleh!" Teriak Rose, dia datang dengan berkacak pinggang. Ekspresi Dasha berubah malas melihat Rose, pacar Kaivan yang lain.


"Ya udah sih, aku bercanda aja kok!"


Rose dan Dasha terlihat tidak terlalu akur, Kaivan jadi khawatir.


Akhirnya Kaivan melerai mereka dengan mengajak untuk makan malam diluar. Tapi hal itu malah menimbulkan pertengkaran lagi, karena Dasha mau makan masakan Padang, sedangkan Rose ngotot ingin ayam geprek.


"Gimana kalo kita makan bakso aja?" Usul Jisung.


Untungnya dengan usul itu, kedua gadis beda ras itu akhirnya tenang juga.


Mereka berangkat untuk makan ke tempat bakso yang sedang terkenal, diantar oleh pamannya Jisung. Sebenarnya Kaivan tidak enak dengan pria itu, tapi Kaivan sendiri tidak bisa menyetir mobil, begitupun pak Pardi. Lalu, Kaivan juga tidak ingin menghubungi Jaden.


Pasti Harlan dan Jaden juga butuh waktu untuk menerima Kaivan sebagai bagian keluarga mereka.


Bakso yang mereka datangi itu sedang viral, karena terkenal sangat enak dan variasinya banyak. Ada bakso mercon, bakso beranak, bakso isi mozzarella dan lainnya. Sebagai orang luar, tentu mereka senang mencoba makanan baru.


Tapi anehnya, tempat itu agak sepi untuk ukuran bakso yang sedang viral. Padahal rasa baksonya enak sekali. Memang tempat baru biasa jadi viral kemudian sepi, tapi pelanggan akan tetap makan disana jika makanan terbukti enak, jika tidak enak akan pergi dan sepi.


Namun, bakso disana memang enak.


[Game misi khusus terpicu!]


[Membantu menghabiskan jualan bakso untuk hari itu, dan berikan pada orang-orang yang membutuhkan.]


[Jika tidak mengerjakan atau gagal, hukuman berat akan menunggumu, atau bisa ditebus dengan lima juta poin sistem]


Kaivan melotot melihat notifikasi tersebut, jika tidak mengerjakan harus merelakan lima juta poin sistem? Padahal satu poin saja itu mahal sekali! Dia akan rugi banyak.


"Mau beli semuanya dan bagi pada anak-anak jalanan?" Tanya Rose.


Kaivan mengangguk "tentu saja, tapi mungkin masih sisa banyak, paman, disini ada panti asuhan gak?" Tanya Kaivan pada pamannya Jisung.


"Oh, ada dua panti disekitar sini, kenapa?"


"Aku akan memborong bakso disini dan memberikan pada mereka."


"Tumben banget, Kai," sahut Jisung. Dia benar, tumben sekali, Kaivan memang suka membantu tapi memborong makanan dan membagikannya itu sangat merepotkan.


"Kenapa gak mereka aja yang diundang kemari?" Sahut Jake yang kebetulan paham sedikit bahasa Indonesia.


"Ide bagus itu!" Sahut Rose.


Jake tersenyum malu-malu, sampai Kaivan curiga sepupu Dasha itu menyukai Rose.


Jadilah Kaivan menerima usulan Jake, dia sudah mengatakan pada pemilik bakso jika dia memborong semuanya dan akan mengundang anak-anak panti.


Betapa bahagianya pemilik bakso mendengar itu, beliau bercerita jika baksonya telah difitnah bahwa dia menggunakan daging tikus untuk baksonya, jadi banyak pelanggan yang pergi. Kaivan berharap jika bantuannya juga akan membantu pemilik bakso mendapatkan kembali kepercayaan pelanggan.


Kaivan juga berfoto disana dan mempromosikan tempat itu, siapa tahu bisa membantu kan? Buat apa media sosial pengikut banyak jika tidak berguna.


.

__ADS_1


.


__ADS_2